Setelah selesai bertarung di kastil tersebut mereka berlima pergi ke rumah kepala desa.
Nampaknya kakek Astra sudah di makamkan di dekat rumah kepala desa.
"Kau kenapa kau kesini!!" Tegas Kades ketika melihat ZA.
"Iya mengapa penjahat ini kau ajak kesini?" Protes beberapa warga yang berada di sana.
ZA hanya diam karena menyesali semua perbuatannya.
"Diam!!!" Teriak Taka yang akhirnya membuat semua warga terdiam.
"Dia bukanlah yang seperti kalian kira ia hanya orang yang tersesat jalan hidupnya" Lanjut Taka.
"Lantas kemana kau akan pergi hari ini?" Tanya Danan.
Taka menurunkan Astra yang ia gendong.
"Rawatlah dia pak kades, kita akan berangkat setelah ia siuman" Ucap Taka kepada Kades.
"Mungkin aku akan mendaftar ke Prajurit Nusantara, Lagipula aku baru menjadi anak buah Aswa mungkin namaku belum se jelek Aswa" Terang ZA.
Tiba-tiba Asmi Muncul dari dalam rumah yang membuat Danan kaget seketika.
"Aku ikut denganmu ZA mendaftar ke Prajurit Nusantara" Terang Asmi.
"Untuk mayat Aswa sebaiknya kita apakan?" Tanya kades.
"Jika kalian ingin membangun desa ini lagi maka serahkan mayat itu ke Pemerintahan Nusantara. Kalian akan mendapat imbalan karena berhasil menangkap atau menghilangkan DPO" Terang Danan.
"Kalau tidak salah hadiah DPO Aswa adalah 70 juta GN" Ucap salah seorang warga.
"Baiklah aku akan mengambil mayatnya di kastil" Ucap Danan yang kemudian berjalan pergi dari rumah kades menuju kastil.
Sesampainya di gerbang kastil betapa terkejutnya ia melihat Aswa sedang duduk.
"s****n bagaimana mungkin ia masih hidup" Ucap Danan berjalan mendekat ke arah Aswa sambil mengarahkan panahnya.
"Apa kau terkejut?" Ucap Aswa.
"Tidak usah banyak bicara" Jawab Danan yang kemudian mengikat tangan dan Kaki Aswa, Ia kemudian membawa Aswa ke rumah kades.
Sesampainya di rumah kades para warga heran melihat kejadian itu dimana orang yang sudah mati bisa bangkit lagi.
"Apakah kita akan membunuhnya?" Ucap salah seorang warga ke kades.
"Kita tidak boleh membunuhnya. Aswa adalah s*****a agar Asmi dan ZA di terima di Prajurit Nusantara" Jawab Taka.
Tak lama kemudian Astra tersadar dari pingsannya ia langsung keluar dan bertanya kepada orang-orang yang berada di sana.
"Dimana kakek?" Tanya Astra secara terus menerus kepada seluruh warga.
Hingga ia melihat sebuah makam lalu ia mendekatinya sambil menangis yang kemudian Taka menepuk pundaknya.
"Kalian tidak boleh lama-lama disini di gerbang desa ada Prajurit Nusantara yang sedang menuju kesini" Ucap salah seorang warga yang baru saja datang.
"Baiklah ayo Astra" Ucap Taka.
Dengan berat hati iapun meninggalkan makam itu melalui wilayah hutan desa.
-Prajurit Nusantara pun sampai di rumah kades-
"Hey bagaimana cara kalian menangkap orang ini?" Tanya R Brawijaya VII kepada semua warga.
"Kita yang menangkapnya" Jawab Asmi.
"Baiklah sesuai dengan kesepakatan kalian akan menerima uang DPO" Jawab Brawijaya sambil mengambil buku yang ia bawa di saku jasnya.
"Bawalah ini ke MN (Money Nusantara)" Lanjut Brawijaya sambil menyobekkan sebuah catatan lalu memberikannya ke Asmi dan ZA.
Namun Asmi memberikan sobekan itu ke Kades.
"Apakah kami berdua bisa bergabung di PN?" Tanya ZA ke Brawijaya.
"Bisa nampaknya kalian cukup berpotensi" Jawab Brawijaya.
"Baiklah kawan-kawan bawa DPO ini" Ucap Brawijaya kepada pasukannya.
Asmi dan ZA pun ikut dengan pasukan Brawijaya.
-Perjalanan Taka, Danan serta Astra-
Mereka terus berjalan ke arah Timur melewati jalan setapak Hingga sampai di sebuah warung kecil.
Akhirnya pun mereka membeli makan di warung kecil itu.
-selesai makan-
Di warung itu kebetulan ada seorang pengembara yang duduk tepat di samping Taka.
Posisi duduk:
Kiri: Taka.
Tengah: Danan.
Kanan: Astra.
"Hey Astra sebenarnya kau ini siapa?" Tanya Danan pada Astra.
"Aku tidak akan bercerita tentang masa lalu ku pada anggota Cakra sepertimu" Jawab Astra dengan wajah kesal.
Mereka berdua saling menatap seperti akan bertarung sedangkan Taka terus makan.
Tiba-tiba pengembara yang duduk di pojok kanan mendekati Mereka bertiga dan duduk di samping Astra.
"Hey nak coba ku lihat telapak tanganmu" Ucap kakek itu pada Astra.
"Memangnya mau apa mbah?" Jawab Astra sambil menjulurkan tangan kanannya pada kakek itu.
Kakek tersebut kemudian merapalkan ajian lalu meniupkannya kepada tangan Astra.
"Kau adalah salah satu keturunan murni Harimau nak Berhati-hatilah dalam menjaga kekuatan ini nak, Simpan bulu perindu ini kelak kita akan bertemu lagi" Ucap kakek itu yang kemudian pergi meninggalkan warung tersebut ke arah hutan yang berada di timur.
-Bulu Perindu adalah salah satu cara termudah untuk menemukan orang, Bulu ini memiliki dua sisi. Satu sisi hitam yang berartikan menunjukan arah orang itu.
Sisi lain yaitu berwarna putih artinya apabila warna putih itu hilang maka pemilik bulu perindu itu telah meninggal-
"Bu berapa total semuanya?" Tanya Taka kepada Pemilik warung.
"100 ribu GN nak" Jawab Pemilik Warung.
"Nih bu, makasih yah" Jawab Taka sambil memberikan uang.
Hari saat itu sudah mulai malam.
"Apakah kita akan berangkat sekarang?" Tanya Astra.
"Hey nak kalian akan pergi kemana? Timur?" Tanya Pemilik warung.
"Iya bu" Jawab Taka yang kemudian berdiri.
"Nak sebaiknya kalian diam di sini. Karena beberapa ratus meter lagi kalian sudah memasuki hutan larangan" Terang ibu itu.
"Memangnya kenapa bu?" Tanya Taka.
"Apakah kau tidak tahu Taka? Hutan larangan adalah salah satu hutan yang berbahaya" Terang Danan.
Setelah mereka pergi dari warung itu merekapun sampai di depan Hutan larangan itu.
"Hey anak muda kalian hendak kemana?" Tanya seorang kakek yang sedang bermeditasi di sebuah batu.
Taka, Danan, dan Astra mendekati kakek itu lalu Taka menjawab.
"Kita ingin menuju kerajaan Minang Kek" Jawab Taka.
"Sebaiknya kalian memasuki hutan ini esok pagi saja karena hutan larangan adalah salah satu tempat berbahaya di malam hari" Jawab Kakek itu.
"Tidak kami mau sekarang" Jawab Taka.
"Baiklah jika itu mau kalian aku tidak bisa memaksakan takdir" Jawab kakek itu yang kemudian berdiri.
Setelah ia berdiri iapun menyuruh Mereka bertiga itu berjajar.
"Aku akan memberikan kalian ajian penghalang agar kalian tidak mudah di ketahui oleh Geunteut serta Orang Hutan" Ucap kakek itu lalu merapalkan sebuah mantra setelah itu ia menjulurkan tangannya ke masing-masing tangan mereka bertiga.
"Baiklah sudah cukup, Aku harap kalian selamat silahkan pergi" Lanjut kakek itu yang kemudian melanjutkan semedi nya.
"Taka apakah kau yakin?" Tanya Astra.
"Hutan larangan adalah satu dari banyak rintangan yang akan kita hadapi" Jawab Taka yang kemudian memasuki hutan itu di susul oleh Danan serta Astra.
Di dalam hutan larangan
Aura kegelapan menguasai hutan itu seakan banyak hal yang melihat mereka berjalan.
Seakan banyak orang yang mengikuti mereka berjalan.
Hingga satu waktu mereka tidak sengaja bertemu dengan Orang Hutan
-Orang Hutan adalah salah satu hantu berbahaya biasanya ia tanpa segan akan menyerang orang-orang yang melewati tempat ia tinggal-.
"Hey taka, apakah kau melihat orang yang berjalan di depan kita?" Tanya Danan pada Taka.
"Biar ku panggil" Jawab Taka.
"Hey paman sedang apa kau disini" Teriak Taka pada orang itu.
Orang itu menoleh ke arah mereka dengan mata merah menyala dan langsung menyerang mereka.
Mereka bertiga dengan sigap melompat ke ranting pohon.
"s****n kau Taka hampir saja aku terbunuh!!" Keluh Astra pada Taka.
"Kenapa kau begitu bodoh Taka!!" Ucap Danan.
"Kita harus menyerangnya secara bersama-sama" Lanjut Danan memberikan perintah.
"Ya aku dan Taka akan menyerangnya dari jarak dekat kau harus menyiapkan sebuah jaring, Ayo Taka!" Teriak Astra yang kemudian melompat bersama Taka.
Ketika mereka berdua bertarung tiba-tiba tanah yang mereka injak mulai bergetar seperti terkena gempa bumi.
Orang hutan yang sedang bertarung dengan mereka memilih untuk kabur ketika memiliki kesempatan sedangkan mereka bertiga hanya diam karena tidak tahu apa sebabnya.
Tiba-tiba dari arah timur muncul sebuah Sosok tinggi besar yang hanya terlihat kakinya saja.
Sosok itu tingginya kurang lebih 10 Meter.
"Apa yang sudah kalian lakukan di tempat ini, Kalian Merusak tempat ini kalian harus tinggal disini" Ucap sosok itu yang hanya terdengar suaranya saja.
"Jangan-jangan ini adalah Geunteut" Ucap Astra.
Geunteut kemudian melakukan ilmu ilusi yang membuat Danan, Astra terpengaruh kecuali Taka karena Taka di bekali oleh mantra yang Kakek tadi berikan.
"Hey kalian sadarlah ini hanya ilusi" Ucap Taka sambil menampar-nampar wajah Danan serta wajah Astra juga.
"Kalian Tidak akan bisa keluar dari Hutan ini" Terang Geunteut.
"Baiklah tidak ada pilihan selain melawanmu" Ucap Taka sambil mengeluarkan pedang besar.
"Nampaknya kau ingin mati manusia" Jawab Geunteut.
Taka saat itu hanya bisa menyerang kakinya saja.
"Apakah kau Tahu Manusia hanya ada 4 orang yang bisa mengalahkan kaumku" Terang Geunteut.
Setelah itu ia melanjutkan omongannya. "Yaitu Ki Dewo, Ki Ageng, Rangga, dan Ki Braja" Lanjut Geunteut.
Ketika Taka sedang menyadarkan teman-temannya Sebuah Ayunan pedang hampir saja mengenainya, Namun berhasil di hadang oleh seorang kakek yang berpakaian serba hitam dan membawa tas dari anyaman.
"Geunteut sebaiknya kau pergi" Ucap Kakek tersebut dengan nada tegas.
Namun sosok tinggi tersebut tidak mau menurut perintah si kakek.
"Aku tidak akan pergi dari sini karena ini adalah tempatku" Jawab Sosok tinggi itu.
Sambil terus menahan ayunan pedang menggunakan tongkat yang ia bawa si Kakek terus membujuk sosok tersebut pergi.
Hingga akhirnya sosok itupun pergi dari tempat itu.
Setelah sosok itu pergi kakek tersebut langsung menepuk pundak Danan dan Astra Mereka berdua pun langsung pingsan.
"Jika kau ingin aman hari ini ikutlah bersamaku" Ucap Kakek itu.
"Sungguh hebat kakek ini bisa menahan serangan dari sosok setinggi itu" Jawab Taka dengan terkagum-kagum.
"Sadarkanlah teman-temanmu setelah itu kalian boleh ikut denganku menuju gubuk ku" Ucap Kakek itu.
Taka langsung menyadarkan mereka berdua setelah berhasil sadar mereka berdua langsung bertanya-tanya.
"Dimana aku?" Ucap Danan.
"Kenapa disini lagi?" Ucap Astra.
"Kalian berdua ayo bangun kita mendapatkan tumpangan" Ucap Taka kepada Danan dan Astra.
Merekapun akhirnya mengikuti kakek tersebut menuju gubuk kakek itu.
"Ini adalah gubuk ku" ucap kakek itu sambil menunjukkan gubuk tempat ia tinggal
Danan yang berada di samping kiri Taka bertanya padanya. "Bagaimana bisa kau bertahan di tempat seperti ini?" Tanya Danan.
Kakek itu tidak langsung menjawab pertanyaan Danan, Namun ia Menyuruh mereka masuk. "Kalian masuklah aku akan membentengi Gubuk ini dengan pertahanan Ghaib. Aku merasakan aura berbeda malam ini" Ucapnya sambil membaca mantra.
Taka, Danan serta Astra pun memasuki Gubuk itu di susul oleh kakek tersebut.