Pertarungan Terakhir Ratu Rhea

953 Kata
"Akhirnya, aku menemukanmu, Matheus, Ratu Rhea!" Kata pengawal Argos, tersenyum sinis. Ia melangkah mendekati Matheus yang sedang bersikap waspada padanya. "Sial, apakah mereka mulai menemukan kami?" kata Matheus, mulai menjaga ratu dan pangerannya. Mengangkat pedangnya dan memelototi pengawal Argos. Matanya tidak pernah berhenti mengikuti pergerakan vampir di hadapannya itu. Matheus menatap tajam kearah salah satu pengawal Argos yang bernama Bernandus. Matheus sangat hafal dengan sikap dan sifat Bernandus. Bukan hanya rajanya saja yang licik, tetapi Bernandus juga sangat licik dan haus jabatan. Ia akan melakukan apapun untuk menjatuhkan lawan sampai tujuannya berhasil dan tercapai. Tak heran bila Matheus sangat waspada saat ia tau Bernandus lah yang menemukannya. Ia mengacungkan pedang itu kearah Bernandus, dan mengikutinya kemana Bernardus bergerak. "Dengarkan aku Bernardus, aku tidak akan membiarkan kamu menyentuh sedikitpun Ratu dan Pangeran dari kerajaan klan serigala!" kata Matheus memberi peringatan. "Wow, tenang dulu kawan! Kenapa kamu selalu saja berpikiran buruk padaku? Padahal kita ini kawan lama, Matheus," kata Bernandus, ia mencoba mengulur waktu. Tepatnya mencari celah atau kelengahan Matheus hingga mempermudahkannya menangkap Ratu Rhea dan anaknya, Hermes. Dengan begitu ia akan sangat mudah menyerahkannya pada Argos. Berserta jabatan yang akan ia terima dari rajanya vampire itu. "Jangan terlalu banyak berbasa basi, Bernandus! Aku tau apa yang ada di otak kamu itu!" Serunya, semakin waspada. Bernandus tertawa sangat keras. "Ternyata instingmu itu tidak pernah berubah, Matheus? Aku salut sama kamu, dan pantas saja kamu sangat cepat naik jabatan di kerajaan Cronos, si raja bodoh yang doyan darah hewan," umpat Bernandus memancing emosi Matheus lebih dalam lagi. Kakinya melangkah selangkah demi selangkah, sambil memperhatikan Matheus. "Jangan pernah kamu hina rajaku dengan mulut sampahmu itu, Bernandus! Lebih baik sekarang kamu bersiaplah buat mati!!" Teriak Matheus terpancing ucapan Bernandus. Ia sangat geram saat kata demi kata masuk kedalam telinganya. Dan rasanya ia sangat ingin merobek mulut Bernandus itu. Lagi, Bernandus tertawa. Kali ini terdengar sangat meremehkan Matheus. "Baiklah kalau begitu! Tapi sebelum itu, aku akan berbaik hati memberimu pilihan," kata Bernandus semakin mendekat dan Matheus semakin waspada dengan gerak gerik Bernandus yang kapan saja bisa menyerangnya. "Satu, serahkan ratumu beserta anaknya dan kamu akan selamat. Pilihan kedua, kamu memang suka kekerasan dulu lalu setelah itu menyerahkannya padaku?" "Lupakan tawaran bodohmu itu, Bernardus! Sekarang aku akan menghabisi kamu!!" Teriak Matheus berlari, ia mulai mengayunkan pedangnya. Menyerang Bernardus. Bernardus hanya tersenyum, bersikap santai tanpa terburu-buru membalas serangan Matheus yang di bakar emosi dan amarah. Memperhatikan gerakan Matheus yang kecepatannya sudah lumayan. Sebab, bangsa werewolf di kenal sedikit lambat dalam bergerak walau mereka tidak pernah kenal lelah. Ia segera memghindar serangan Matheus saat matanya melihat kearah mana pedang itu hendak melukai dirinya. Bernardus memiringkan tubuhnya agar tidak kena pedang Matheus. Dengan sangat cepat, Bernardus menangkap tangan Matheus. Lalu mempelintir tangan Matheus hingga ia berteriak kesakitan. Ratu Rhea yang melihat pertarungan dan mendengar teriakan Matheus sangat iba. Ia sangat ingin menolong pengawal kerajaannya itu. Tetapi apa ada ia masih terlalu lemah pasca melahiran dua bulan lalu. Apalagi, ia harus tetap menjaga kehangatan Hermes di udara yang sangat dingin seperti saat ini. Salju putih terus turun, udara dingin semakin terasa menusuk tulang. Rhea memperhatikan pertarungan itu, walau kekuatiran di hatinya melebihi apapun, namun ia sangat yakin Metheus bisa dengan mudah melawan vampir itu. Bernardus kini yang menyerang Matheus dari udara. Ia menukik layaknya elang yang hendak mengancam keselamatan mangsanya. Ia sangat cepat, tetapi mata serigala Rhea mampu melihat apa yang hendak Bernardus lakukan pada Matheus. Kuku-kuku itu meruncing siap untuk menembus punggung Matheus yang belum siap untuk menerima serangan itu. "Matilah kau Matheus!!" Teriaknya lantang. Jaraknya sudah sangat dekat saat Matheus menoleh kearah Bernerdus. "Gawat, Matheus bisa terbunuh kalau begitu!" Pikir Rhea sangat mengkhawatirkan pengawalnya itu. Tanpa pikir panjang Rhea bergerak secepat mungkin menabrakan diri pada tubuh Bernardus agar serangan itu tidak melukai Matheus. Tubuh Bernardus terpental. Rupanya dorongan tubuh Rhea sangat kuat hingga membuat tubuh Bernardus beradu kencang ke pohon besar dan meruntuhkan salju. Menutupi Bernardus. "Ayo kita pergi dari sini sebelum vampire itu bangun, Matheus!" Ajak Rhea membantu Matheus berdiri. Matheus mengikuti apa yang ratunya perintahkan. Ia segera bangun dan mengambil kembali pedangnya. Mereka mulai melangkah, menjauh dari tempat pertarungan itu. Namun di tumpukan salju yang menutupi Bernardus, ia mulai tersadar tanpa menunggu waktu yang lama. Ia pun berontak, membebaskan diri dari tumpukan salju yang menindih tubuhnya. "Arrrgh..!" Teriaknya sekeras mungkin. "Sial, siapa yang menganggu kesenangan gue?" Katanya sangat kesal, ia melihat keseluruh tempat ia dan Matheus bertarung. Tetapi, sudah tidak ada siapapun di sekitarnya itu. "Kemana larinya Matheus?" Gumamnya melotot, gigi-giginya bergemerutuk. Beradu sama lainnya. Bernardus melihat kedepan, ia seolah bisa melihat ribuan mill jauhnya. Lalu senyumnya mengembang.. "Ternyata ratu Rhea yang menolong kamu, Matheus!!" Katanya, ia langsung melesat cepat memgejar Matheus dan Ratu Rhea. "Kali ini aku gak akan membiarkan kalian hidup, Matheus, Ratu Rhea!!" Gumamnya terus mengejar mereka. Tak seberapa lama, mata Bernardus sudah melihat apa yang ia cari. Ratu Rhea dan Matheus sudah dalam jangkauan pengelihatannya. Dalam radius yang sangat dekat. "Mampus kau, Matheus!" Teriaknya mempercepat kecepatan terbangnya. Kuku runcingnya siap untuk menembus tubuh Matheus maupun Ratu Rhea. Matheus dan Ratu Rhea menoleh bebarengan. Mata mereka melotot. Ratu Rhea lihat gerakan Bernardus, rupanya ia tetap mengincar Matheus dan menginginkannya mati. Ratu para werewolf itu bergerak cepat, mendekati tempat Matheus dan Bernardus berada. "Matheus awaaaass!!" Teriak Ratu Rhea. Ia membalikan tubuhnya dan mendorong Matheus. Jleb Senyum Bernardus semakin mengembang. Ia sangat senang telah membunuh salah satu diantara mereka, dengan harapan Raja Argos memberikan ia imbalan yang sangat besar. Bahkan, harapan yang ada di otak Bernardus begitu tinggi, menginginkan jabatan sebagai penasehat Raja Argos. Darah mengalir deras dari luka yang melebar dari kuku-kuku runcing Bernardus. Matheus melotot, dadanya berdegub sangat kencang. Apa yang akan terjadi selanjutnya, sebenarnya siapa yang sudah di bunuh oleh Bernardus? Rhea atau Matheus? **** Bersambung..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN