Raungan terakhir Cronos terdengar menyedihkan hingga telinga Rhea dan Matheus yang telah berjalan jauh dari istana di tengah salju dingin yang mulai turun dari langit.
Rhea menghentikan langkahnya, dan dia melihat ke arah istana. Dia merasakan apa yang terjadi pada suaminya, Raja Cronos. Begitu juga Matheus. "Rajaku?" Kata Rhea, melangkah mundur.
"Matheus, cepat bawa aku kembali ke istana, aku ingin membantu suamiku membunuh semua para vampir-vampir itu!" Ratu Rhea berkata sambil menahan tangisnya, sambil melangkah kembali ke istana. Tapi Matheus menahannya. Ia tidak mau melihat Ratu Rhea sedih dan ikut terbunuh oleh para vampir yang sedang menguasai istana manusia serigala.
"Jangan bodoh, Yang Mulia! Terlalu berbahaya di sana, aku yakin para vampir itu sedang memburu kita setelah mereka tidak menemukan kita di istana," seru Matheus, melihat asap hitam membumbung tinggi ke awan.
"Apakah kamu tuli, Matheus? Suamiku melolong kesakitan, dia pasti kewalahan menghadapi vampir!" Ratu Rhea memekik ke Matheus, dia memeluk Hermes erat-erat. Matanya menatap tajam tapi menyimpan kesedihan yang memilukan. Ia baru saja melahirkan seorang bayi yang lucu, imut, dan tampan, namun ia harus kehilangan suaminya di saat ia masih membutuhkan cinta suaminya.
"Saya tahu itu, Yang Mulia! Tapi saya dipercaya oleh Raja Cronos untuk melindungi Anda dan pangeran Hermes!" Kata Matheus menatap serius Raja Cronos. "Percayalah pada kekuatan Raja Cronos, Yang Mulia! Jangan kecewakan Raja Cronos, Ratu Rhea, dia pasti akan bisa mengalahkan semua vampir-vampir itu," katanya melihat wajah Ratu Rhea yang sangat khawatir dengan suaminya yang sedang berperang di istana.
Ratu Rhea terdiam, dia pikir kata-kata Matheus ada benarnya. Ini demi keselamatan dirinya dan juga Hermes, anaknya. Hadiah terindah yang diberikan Raja Cronos padanya. "Kita harus segera pergi dari sini, Yang Mulia! Terlalu berbahaya bagi Anda dan pangeran jika kita masih terlalu lama tinggal di sini," kata Matheus. Ratu Rhea mengabaikan kata-kata Matheus sejenak. Diam sambil memandangi istana yang sudah dipenuhi asap hitam. Dia menghela nafas, berbalik, dan mulai mengikuti langkah Matheus yang menunggunya di depan.
Kakinya terus menapaki jejak di atas salju putih, menatap Hermes yang masih tertidur di pelukan Rhea. Wajah polos itu, tidak peduli apa yang terjadi pada kerajaan, ayahnya, dan juga keluarga yang telah dirusak oleh para vampir.
Tapi di istana,
Bersamaan dengan teriakan Cronos, jantung sudah ada di tangan Argos setelah ia berhasil merobek d**a Cronos. Darah itu terus mengalir dari luka-luka di sekujur tubuh Cronos dan luka di dadanya. Argos terlihat sangat senang dengan tatapan merendahkan ke arah Cronos.
Tangan itu mencengkeram lengan Argos sampai merobek jubah kerajaannya. Tubuh secara berlahan-lahan beringsut jatuh, duduk, tatapan Cronos terlihat menaruh dendam pada Argos, sahabatnya yang dulu ia percayai. Sangat luka dan sakit hati terhadap Argos yang mengkhianati perjanjian yang ia sepakati, dendam itu sangat pada hidup Cronos yang sebentar lagi berakhir. Tapi Argos tidak peduli dengan kebencian Cronos terhadapnya. Bagi Argos, kehidupan dan kerajaan Cronos sudah dalam genggamannya dan berada di ambang kehancuran. Ia sangat senang telah berhasil merebut kerajaan Cronos yang ia anggap sangat kuat dan susah ditaklukan.
Cronos lalu jatuh, tergeletak di lantai dengan darah yang terus keluar dari luka di dadanya, luka akibat robekan tangan Argos yang sangat kejam. Luka itu telihat sangat lebar.
Dan betapa gilanya Argos, dia sangat senang melihat sahabat menderitanya, senang saat Cronos barada dalam ambang kematian, melihat detik-detik nyawa Cronos merenggang dari tubuhnya pelan-pelan. Senyumnya sangat lebar dan darah di tangannya dijilat sampai habis. Dia tidak lagi peduli dengan kesepakatan itu. Baginya, menguasai daerah kekuasaan dan makanan adalah hal yang paling penting untuk dirinya dan orang-orang di kerajaannya tanpa harus peduli dengan persahabatan.
Dia menekuk lututnya, lalu.
"Sekarang, aku akan menjadikan istri dan anak-anakmu sebagai makanan penutupku, Cronos!" Ucap Argos sambil menepuk pipi Cronos yang sudah tidak bernyawa lagi. Argos kemudian memerintahkan anak buahnya untuk mencari Ratu Rhea dan Pangeran Hermes di istana. Para pria dan pengawal Argos yang tersisa sibuk mematuhi perintah Argos, untuk menemukan anak dan istri Cronos juga manusia serigala lain yang masih hidup. Argos menginginkan semua klan serigala mati tanpa tersisa satupun.
Mereka mulai berburu, mencari di semua tempat di istana tetapi vampir-vampir itu tidak menemukan Ratu Rhea, Pangeran Hermes dan tidak menemukan satupun manusia serigala yang masih hidup, para vampir itu hanya mendapati keadaan yang sangat kacau dan juga mayat-mayat yang tergeletak di lantai seluruh istana. Dari rakyat jelata, orang tua renta, anak-anak kecil, wanita-wanita, hingga pengawal terhebat Cronos yang berusaha melindungi istana dan rakyat dari serangan Argos dan anak buahnya harus mati mengenaskan.
Namun, pencarian mereka tidak membuahkan hasil. Tidak menemukan keberadaan Ratu Rhea dan Pangeran Hermes. Di mana-mana tidak ada jejak mereka di dalam istana. "Maaf Yang Mulia, kami belum menemukan putra dan istri raja Cronos di mana pun di istana ini," kata salah satu anak buah Argos, tampak takut menyampaikan pesan yang tidak pernah Argos dengar alasannya.
"APA?" Mata Argos melotot. "Lalu kalian mau diam saja dan menyerah begitu saja mencari mereka? Cepat kalian cari kemanapun dia dan anaknya pergi, temukan mereka lalu bawa ke sini!!" Perintah Argos murka. Anak buahnya mengangguk dan kemudian perlahan mundur.
Carilah dan patuhi Argos yang marah dan kesal. Anak buahnya tidak ingin Argos sangat marah, karena semua orang bisa mati jika Raja Argos sudah mulai marah. Kali ini, mereka mencari ke luar istana sesuai perintah Argos. Mencari jejak Ratu Rhea, Pangeran Hermes dan Matheus di salju putih yang turun. Tidak peduli bila udara semakin dingin.
Dan kemudian, mereka mulai mendapati jejak kaki yang mereka kenal meskipun salju yang turun mulai menutupi jejak itu. Para vampir bergerak mengikuti setiap jejak yang membekas di salju putih. Para vampir tersenyum. "Kalian berpencar!!" Teriak salah satu Pengawal Argos terkuat diantara yang lain. Mereka mengikuti perintahnya.
Pengawal itu bergegas mengejar Rhea, Hermes, dan Matheus. Dia tidak akan membiarkan anak, istri, dan pengawal Cronos lolos begitu saja. Jejak yang hampir hilang ditelan oleh kepingan salju terus diamati kemana Matheus dan Rhea menuju.
Matheus dan Ratu Rhea terus berjalan di tengah salju yang turun. Angin mulai bertiup kencang. Ratu Rhea berjalan di belakang Matheus sambil terus memeluk Hermes agar tidak kedinginan. Kemudian Matheus melangkah maju di depan Rhea, memimpin, dan mengamati situasi sekitar dari serangan dadakan para Vampir yang mungkin saja mereka temukan jejak Matheus dan Ratu Rhea. Dia melihat ke belakang sejenak, memastikan bahwa Ratu Rhea dan pangeran Hermes baik-baik saja. Namun, dia melihat wajah Ratunya semakin kedinginan dan membiru, Matheus juga khawatir Hermes terlalu muda untuk melanjutkan perjalanannya.
"Yang Mulia, bagaimana kalau kita mencari tempat peristirahatan sebentar?" Matheus berkata, langkahnya terhenti di depan Ratu Rhea.
Ratu Rhea menoleh, menatap wajah pengawal suaminya. Matheus sebenarnya bukanlah darah murni dari ras werewolf, darah werewolf mengalir dari darah ayahnya. Ia ditemukan oleh ayah Raja Cronos, kakek Pangeran Hermes yang sedang berburu makanan di hutan. Kemudian Matheus dibawa ke istana dan dirawat sebagai pengawal pribadi Cronos kecil.
"Ya, aku juga mengkhawatirkan Hermes. Dan kurasa dia sudah mulai lapar," kata Ratu Rhea sambil membelai pipi putranya.
"Aku akan menemukan tempat yang aman untuk kalian!" Kata Matheus dengan sangat percaya diri. Dia dan Ratu Rhea mulai melanjutkan langkah mereka untuk mencari tempat peristirahatan sementara.
Namun, saat dia dan Rhea belum pergi jauh. Matheus sudah dikejutkan oleh salah satu anak buah Argos yang menghadang mereka bertiga.
"Akhirnya, aku menemukanmu, Matheus, Ratu Rhea!" Kata pengawal Argos, tersenyum sinis.
"Sial, apakah mereka mulai menemukan kami?" kata Matheus, mulai menjaga ratu dan pangerannya. Mengangkat pedangnya dan memelototi pengawal Argos.
****
Bersambung...