Hermes menunggu Matheus di luar, hari sudah menjelang sore kala pengawal pribadinya tidak kunjung pulang. Tidak biasanya Matheus pergi tanpa bilang dang mengabaikan dirinya dan rumah. Hermes kuatir, dan ia tidak pernah sekuatir ini pada laki-laki yang sudah merawat dan mengajari ia banyak hal. Dan ini pertama kalinya Matheus pergi tanpa pamit. Mata Hermes terus menatap luar, berharap Matheus pulang. Matanya membulat saat seseorang melintas di depannya yang tertutup pembatas gedung dan dunia luar. Namun bukan Matheus, ia membuat ia kecewa. Ia berjalan mondar-mandir, tidak bisa diam maupun tenang. Benar-benar tidak tenang, Matheus sudah seperti ayah baginya. Bukan hanya itu saja, ia bahkan sudah seperti saudara maupun layaknya kakaknya buatnya. Kakak yang sangat bawel dan sering mengomel.

