Apa yang diharapkan Elysia yang akan terjadi di restoran tidak benar-benar terjadi dan Elysia hanya bisa tersenyum masam mengingat pikirannya yang sudah terlalu percaya diri. Sekarang Elysia tetap di jalan pulang di mana Andrew akan langsung mengantarnya pulang ke rumah. Tidak perlu malam jadi tidak perlu khawatir mamanya akan memarahinya jika pulang terlalu larut.
Saat mobil berhenti tepat di depan Rumah Elysia, lihat Andrew dengan pandangan sendu. Dia kira Andrew selama di dalam teater akan mengantarkannya ke cinta lelaki itu tapi ternyata Elysia salah.
"Terima kasih untuk hari ini." Walau begitu ucapkan Elysia yang ini adalah ketulusannya karena Andrew mau menerima yang berhasil.
"Aku yang harusnya mengatakan itu."
Elysia mengangguk. "Sampai jumpa di kampus." Baru saja Elysia akan membuka pintu mobil.
"Elysia, aku mencintaimu."
Tubuh Elysia seketika kaku saat itu juga. Dia yang mendengar pernyataan cinta itu tentu saja kaget karena dia berharap bahwa Andrew akan menyatakan cintanya saat di restoran tadi. Elysia jelas terlihat tak bisa mempermudah keterkejutannya.
"Kamu bercandakan?" Tanya Elysia memastikan.
Andrew menggeleng. “Aku serius, aku menyukaimu. Bagaimana denganmu? Apa kamu juga menyukaiku? ”
Elysia diam dengan lembut dia menganggukkan diluncurkan. Saat itu juga Andraw memeluk Elysia yang membuat jantung dia berpacu dengan cepatnya. Elysia tak menyangka Andrew akan menyatakan perasaannya di dalam mobil di depan rumah seperti halnya Elysia sangat senang sekali dia dan Andrew saat ini resmi berpacaran.
"Bolehkah?" tanya Andrew saat tangan lelaki berada di depan pipinya.
Elysia benar-benar tak menyangka bahwa Andrew akan meminta itu di saat seperti ini. Elysia tentu saja tidak siap tetapi jika menolah Andrew seperti ini dia tidak enak. Lebih baik ini lebih murah daripada ciumannya untuk lelaki ini bukan apa-apakan? Elysia akhirnya mengangguk, dia terlalu malu untuk mengatakan iya, dia takut jika suara yang dikeluarkannya akan terdengar sangat aneh di telinga Andrew.
Baru saja Andrew mendapat lampu hijau untuk mencium Elysia, saat dia mendekatkan suara berat itu terdengar berteriak membuat sudah terbangun itu buyar. Elysia terpranjat kaget dan mencoba melepaskan biasa saja begitu pula dengan Andrew.
"Elysia ...!"
Elysia memperhatikan Andrew. “Maaf, sepertinya lain kali. Aku harus pulang. ”
Tanpa menunggu jawaban Andrew, Elysia keluar dari mobil itu dan menghampiri papanya yang beridiri di ambang pintu masuk. Saat mobil Andrew meninggalkan rumah, Elysia tersenyum salah tingkah saat melihat papanya yang memandangnya dengan penuh rasa ingin tahu.
“Pulang dengan dandanan seperti ini, kencan? Kenapa tidak mengenalkannya pada papa? ”
Elysia menggandeng tangan papanya dan menyandarkannya di bahu yang walau sudah tetap terasa kuat itu. “Kami baru berkencan dan papa sudah meminta dikenalkan? Bagaimana jika dia kabur. "
"Kenapa dia harus kabur?"
Elysia mengecup pipi papanya dengan cepat kemudian berucap, "Karena papa terlalu tampan."
Setelah itu Elysia lari meninggalkan Tom untuk masuk ke kamarnya. Dia terlalu malu untuk berlama-lama dengan papanya itu karena bisa-bisa dia meminta yang lebih jauh bertanya bagaimana dia bisa di mobil cukup lama, apa yang mereka lakukan di sana dan sebagainya.
Sesampainya di kamar Elysia melemparkan di atas tempat tidur. Hari ini dia senang sekali semua keinginnya terkabul dan Elysia harap bahwa Andrew adalah cinta sejatinya. Elysia benar-benar berharap kebahagiaan ini tidak sirna begitu saja. Karena telalu lelah seharian Elysiapun memutuskan untuk tidur lebih cepat, dia benar-benar tidak sabaran untuk memulihkan hari esok.
**
Elysia melangkahkan pembicaraan dengan cepat, bukan karena ada Hellen yang mengejarnya di belakang tapi karena dia telat bangun. Mimpinya yang terlalu indah untuk dia sampai lupa hari ini dia ada di kelas pagi sampai sore hari. Dia tidak ingin bolos sama sekali karena bisa-bisa mamanya tahu apa bolosnya itu dan dia tidak ingin membuat mamanya kecewa dengan apa yang dia perbuat.
Langkah kaki Elysia semakin cepat mengambil kala dia melihat jam yang melingkar di perpindahan dipindahkan. Tinggal dua menit lagi kelas akan dimulai, biasanya dosennya sudah ada di kelas tapi kalau dia telat dosen ini tidak segan-segan mengusirnya. Hanya tinggal satu menit Elysia bisa menginjakan dikembalikan di dalam kelas. Hellen, Ruby dan Tiyas duduk jauh jadi Elysia tak punya pilihan lain untuk duduk berjauhan dari mereka.
Di tengah proses pembelajaran yang sedang diproses, Elysia mendapat pesan dari Hellen yang menceritakan kisahnya. Tanpa di mintapun Elysia akan membahas kabar baik itu pada sahabat-sahabatnya sekalian hari ini dia berencana meneraktik ketiganya untuk makan siang di luar kafetaria kampus. Sudah cukup lama mereka tidak keluar makan di luar kampus
Mata kuliah pertama di hari inipun selesai dan semuanya datang menghampiri Elysia yang tengah memasukkan alat tulisnya.
"Seneng ya tadi malem, sampai-sampai tidak melihat obrolan grup." Goda Ruby.
"Namanya kencan pasti kita akan di nomer sekiankan dulu." Balas Tiyas.
Hellen berdecak tinggi saat Elysia tersenyum ke arahnya. "Kamu berhutang cerita."
Elysia mengangguk mengiyakan. "Aku juga berhutang traktiran pada kalian."
Ruby dan Tiyas saling memandang dengan sangat gembira. Hellen tampak sedikit tidak percaya dengan Elysia yang akan meneraktir mereka namun tersadar itu bisa saja kemarin terjadi sesuatu yang sangat menyenangkan hingga Elysia ingin meneraktir mereka.
"Jangan biarkan terjadi seperti pikiranku?" Tanya Hellen memastikan.
Seakan mereka bisa saling membaca pikiran satu sama lain Elysia mengangguk dan berucap, “Sayangnya memang seperti yang kamu pikirkan.”
“Kamu harus menceritakan semuanya, semuanya.” Kata Ruby.
“Tenang saja, semuanya aku akan menceritakannya.”
Hanya dua puluh menit waktu mereka istirahat sebelum kembali melanjutkan kegiatan belajar mereka namun kali ini mereka harus ke laboratorium yang berada tak jauh dari gedung yang mereka tempati sekarang. Mereka berempat jalan beriringan dengan menggosipkan hal-hal yang tengah viral di forum kampus. Saat mereka melewati jalan yang menghubungkan gedung utama fakultas mereka untuk ke gedung laboratorium mereka tak sengaja berpapasan dengan Andrew dan teman-temannya.
Andrew yang saat itu bersama teman-temannya tak ragu mencegat langkah Elysia dan teman-temannya. Hellen, Ruby dan Tiyas menjauh dari sosok Andrew dan Elysia namun jarak mereka cukup jelas hanya untuk menguping pembicaraan dua orang itu. Dengan keberanian Andrew yang terang-terangan mendekati Elysia di depan teman-temannya membuat Hellen berpikir bahwa Andrew tidak hanya sekedar berani di belakang saja.
“Habis kelas ini kamu masih ada kelas yang lain?” tanya Andrew.
Elysia tampak mengingat-ingat jadwalnya kemudian berucap, “sekitar dua jam setelah kelas ini ada kelas yang lain.”
“Aku akan menunggumu di bawah.” setelah mengucapkan itu Andrew mencubit pipi Elysia lalu pergi.
Setelah obrolan singkat itu Elysia menghampiri teman-temannya dan mengajak mereka semua untuk melanjutkan perjalanan mereka tanpa memperdulikan ketiga temannya itu menggoda dirinya. Untuk gadis seperti dirinya, Elysia merasa beruntung dapat berpacaran dengan seorang yang populer seperti Andrew. Andrew lelaki yang aktif di kampus karena mengikuti banyak kegiatan sehingga bisa dikatakan dia tak hanya dikenal di jurusannya saja tapi di luar jurusannya juga. Saat berhadapan dengan Andrew seperti itu saja Elysia dapat merasakan banyak yang memperhatikannya terutama gadis-gadis yang melewati mereka.
Seperti yang Andrew janjikan saat berpapasan tadi, saat Elysia menuju loby gedung laboratorium dia melihat Andrew yang tampak santai duduk dengan mendengarkan sesuatu di earphonenya. Elysia sadar bahwa Andrew tak sadar akan keberadaannya yang membuat Elysia diam-diam mengendap mendekati Andrew dan mencoba mengagetkan kekasihnya itu. Belum sempat bagi Elysia untuk mengagetkan Andrew lelaki itu keburu berbalik dan tersenyum manis kepadanya.
“Astaga padahal aku sudah bersusah payah,” Ujar Elysia dengan wajah merajuknya.
“Kamu mau mengulangnya? Baik.” saat itu juga Andrew berbalik memunggungi Elysia lagi yang membuat Elysia sontak memukul bahu lelaki itu, Andrew sontak tertawa melihat wajah cemberut Elysia. Andrew menarik pergelangan tangan Elysia agar Elysia duduk di sampingnya. Setelah Elysia duduk di sampingnya Andrew mengeyampingkan tubuhnya dan memandang Elysia dengan bertopang dagu.
“Babe, kamu cantik.”
Elysia tak bisa menyembunyikan tawanya melihat wajah Andrew yang seserius itu mengatakan cantik dan untuk pertama kalinya Andrew mengatakan cinta padanya juga.
“Astaga kamu gombal banget.”
“Aku tidak gombal Elys, aku serius.”
“Ok, terima kasih….”
Andrew terlihat menunggu Elysia melanjutkan ucapannya namun Elysia hanya tersenyum. Andrew terkekeh, “Baby…” Ucap Andrew dengan lambat-lambat.
“Ya?” Elysia terlihat pura-pura bingung saat itu juga.
“Panggil aku dengan sebutan itu.” Jelas Andrew dengan gemasnya.
“Ba….”
Perkataan Elysia terpotong saat dua orang gadis datang menghampiri Andrew. Dua gadis itu berbicara cukup serius dengan Andrew dan mengajak Andrew untuk mengikutinya. Elysia yang ditatap oleh Andrew untuk meminta ijin hanya mengangguk membiarkan kekasihnya itu pergi.
“maaf ya aku kira bisa lebih lama denganmu.” Elusan lembut Andrew berikan dan Elysia hanya bisa memandangi kepergian Andrew dengan dua gadis yang dia tidak tahu siapa itu.
Sepeninggal Andrew, Elysia mendesah lelah. Sekarang dia sendirian, sedangkan ketiga sahabatnya tengah pergi berbelanja untuk meningkamati waktu senggang mereka sebelum kembali berkutat dengan pelajaran. Elysia tidak ada tujuan lain selain pergi ke kafetaria dan ke perpustakaan. Tak biasanya Elysia seorang diri pergi ke kafetaria dan dengan berat hati Elysia melakulannya karena dia sangat lapar hari ini.
Entah atau hanya perasaannya saja, Elysia meresa dirinya tengah diawasi. Di tengah keramaian mahasiswa lainnya yang berlalu-lalang dan Elysia merasakan dirinya merasa diawasi, apakah karena Elysia berpacaran dengan Andrew? Elysia hanya bisa membiarkan perasaan itu karena bukankah ini resiko karena dirinya menjalin hubungan dengan seorang yang populer seperti Andrew?
Setelah sampai di kafetaria dan mendapatkan makananya, Elysia menyantapnya dalam dia. Dia memilih untuk duduk di pojokan untuk menghindari tatapan mata yang terasa menusuk di belakang punggungnya. Walau duduk di pojokan seperti ini, Elysia tetap saja merasa dirinya diawasi tapi tak tahu siapa yang mengawasinya karena suasana kafetaria yang gaduh.
Untuk mengusir rasa tak nyaman itu Elysia memilih untuk mendengarkan lagu di earphonenya karena biasanya setelah mendengarkan lagu-lagu itu Elysia merasa jauh lebih baik dan tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Santap siang Elysia yang sedikit telat akhirnya selesai. Seperti rencananya Elysia bergegas menuju perpustakaan, dia tak ada pilihan lain selain tempat itu, di sana tenang dan Elysia bisa menghabiskan waktunya dengan sekedar membaca buku atau sebagainya.
Perpustakaan ternyata sepi hanya segelintir mahasiswa yang terlihat tengah membaca buku. Biasanya perpustakaan akan sangat ramai oleh mahasiswa yang banyak mengerjakan tugasnya di sini. Elysia mencoba mencari beberapa buku yang bisa dia jadikan untuk referensi mengerjakan tugasnya. Daripada dia hanya diam saja lebih baik dia sekalian mengerjakan beberapa tugas dosennya bukan.
Rasa diawasi itu Elysia kembali rasakan. Dia bisa merasakan seakan ada yang tengah menatapnya dari belakang, saat Elysia menoleh ke belakang punggungnya dia tidak melihat apa-apa. Bagian materi yang akan dicarinya ternyata tidak ada di lantai satu. Bergegas Elysia naik ke lantai dua. Dia mendengar langkah kaki yang mengikutinya dari belakang, Elysia sudah siap ingin memaki seorang yang sedari tadi mengikutinya tapi ternyata dugaan Elysia terpatahkan saat melihat dua orang melewatinya begitu saja.
Sejenak Elysia termenung dan berpikir bahwa apa yang dia rasakan saat ini karena efek dia berpacaran dengan Andrew, lelaki populer dan perasaan selalu merasa diikuti juga karena hal itu, di kampus yang besar seperti ini dengan mahasiswa yang banyak bukankah wajar memiliki satu tujuan jika melewati jalan yang sama. Elysia mencoba untuk kembali berpikir positif dengan semua kemungkinan-kemungkinan itu.