BAB 6

2137 Kata
Selama pertandingan basket berlangsung Elysia benar-benar mengerahkan tenaganya untuk mendukung Andrew. Dia sangat bersemangat, tetapi beruntungnya Elysia tak sendirian terlihat sangat bersemangat karena semua penonton sama bersemangatnya karena pertandingan yang berlangsung benar-benar menegangkan sehingga semuanya tak ingin kelah, baik dari pertandingan basket maupun dari sorak-sorai pendukung yang mendukung jagoan masing-masing. Pertandingan yang berlangsung dengan sengit itu berakhir dengan kemenangan dari jurusan ilmu. Skor yang di dapatkan memang tak berbeda jauh dari skor jurusan kimia, namun dengan menang saja mereka sudah sangat senang. Saat para pemain pergi dari lapangan, penontonpun mulai berhamburan keluar. Elysia dan yang lainnya masih duduk diam menunggu keadaan sepi baru pergi dari sana. “Untung saja dewi Fortuna berpihak pada kita. Yang ku dengar-dengar gengsi dari pertandingan ini sangat tinggi.” Ujar Hellen yang tampak fokus dengan ponselnya.  Tiyas mengangguk setuju. “Pertandingan yang mempertaruhkan nama baik jurusan. Beruntungnya di babak penyisihan jurusan kita tidak langsung tersisih.”  Elysia mengangguk setuju, walau dia hanya datang untuk menonton Andrew tapi dia tak lupa untuk mendukung anak jurusannya yang lain karena yang dia baca di forum kampus bahwa pertandingan ini sangat penting dan dengar-dengar jurusannya terkadang kalah di awal-awal babak penyisihan, sangat menyedihkan. Pertandingan kali inipun sebenarnya tak terlalu di harapkan, namun banyak junior yang mengambil alih dan hanya beberapa senior inti seperti Andrew yang ikut terlibat.  Sesaat setelah keluar dari gedung olahraga Elysia mendapat pesan dari Andrew yang membuat Elysia mematung seketika. Langkah Hellen, Tiyas dan Rubypun sontak terhenti dan berbalik menatap Elysia dengan bingung.  “Ada apa?” tanya Tiyas.  “Kamu tidak apa-apakan Elys?” Ruby tampak khawatir yang melihat Elysia diam seperti patung.  Bibir Elysia yang awalnya biasa saja perlahan terangkat yang dilihat sangat jelas oleh Hellen dan lainnya. Hellen terkekeh melihat itu, dia sudah menduga ini sebelumnya.  “Andrew mengirim pesan.” Tebak Hellen yang langsung dijawab oleh anggukan Elysia. Sebuah anggukan yang terlihat sangat antusias.  Elysia benar-benar tak percaya dengan apa yang dia baca hingga membuat dirinya mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah. Kulit putih Elysia membuat rona merah di wajahnya terlihat sangat jelas. Rasa senang yang berlebihan akan membuat pipi Elysia memerah dengan alami.  “Dia menembakmu?” Tebak Tiyas yang semakin penasaran karena reaksi Elysia yang seperti itu. Elysia menggeleng karena Andrew tidak tengah menyatakan cintanya, apalagi dengan mengirimnya pesan, bukankah itu seperti pecundang?  “Aaah, aku tahu, dia mengajakmu kencan.” Tebak Ruby yang dijawab dengan anggukan dan mata berbinar dari Elysia. “Aku harus bagaimana sekarang?” tanya Elysia dengan wajah bingungnya. Dia tidak pernah berkencan sebelumnnya, dia memang beberapa kali menyukai seseorang tapi hanya sebatas menyukai tanpa berani mengambil tindakan seperti ini. “Kapan kencan kalian akan berlangsung” Tanya Hellen penasaran. “Nanti sore, bagaimana ini?” “Tenang Elys, apa gunanya kita jika tidak bisa membantumu.” Ucap Tiyas dengan membanggakan dirinya. “Kamu tahu tangan ini sudah sering berlatih make up.” sambungnya lagi dengan tak kalah bangganya. “Mulai lagi.” Ucap kompak Hellen dan Ruby yang melihat tingkah Tiyas yang sangat percaya diri akan kemahirannya dalam make up. Tapi memang tak bisa diragukan lagi, mereka semua mengakui bahwa Tiyas yang setiap hari menonton beauty vlogger itu sekarang sudah sangat mahir dalam memakai make up. “Kalian harus benar-benar membantuku sekarang.” Semuanya hanya mengangguk-angguk setuju. Walau Hellen tidak terlalu suka dengan Andrew tapi untuk kesenangan sahabatnya dia tidak ingin menganggunya, selama Elysia senang dan dirugikan. Hellen sudah terlihat seperti seorang ibu yang protektif sekarang. Acara kencan yang akan dilakukan Elysia masih memiliki waktu yang cukup untuk Elysia sekedar berdandan dan memakai baju yang menurutnya terbaik. Tentu saja di kencan pertama Elysia harus melakukannya dengan semaksimal mungkin. Dia tidak ingin kesan di kencan pertamanya dengan Andrew jelek yang akhirnya membuat lelaki itu menjauhinya. Kelas yang seharusnya Elysia dan yang lainnya akan datangi setelah pertandingan selesai mereka batalkan hanya untuk memake over Elysia. Mereka semua kompak tidak masuk hanya untuk membantu kelancaran kencan Elysia. “Jika kencanmu berhasil, kamu harus meneraktir kami yang rela absen hanya karena membantumu.” ucap Ruby yang tengah mengendarai mobilnya menuju apartemen Hellen yang tak jauh dari area kampus. “Tenang aku tidak akan lupa bantuan kalian.” Balas Elysia. Hellen menggenggam tangan Elysia dan dengan wajah dibuat imut dia berucap, “Mau yang mahal ma, mau yang mahal.” rengeknya saat itu juga yang membuat seisi mobil tertawa. “Aku akan meneraktrik kalian tapi tergantung dengan hasil kencanku ya.” “Memangnya ingin hasil kencan yang seperti apa?” tanya Tiyas. “Jadian.” Jawab tanpa malu Elysia. Sontak Ruby dan Tiyas memekik dan tertawa. Mereka tidak pernah melihat Elysia yang seperti ini. Elysia yang blak-blakan dan sangat-sangat percaya diri. Hellen yang melihat reaksi “Kalian kaget, aku sudah melihat ini di kelas tadi.” “Aku ketularan kalian.” Bela Elysia. Lirikan mata Ruby terlihat dari kaca mobil, dia terkekeh pelan. “Jadi sifat-sifat negatif kita sudah menyebar ke anak yang paling polos ini.” katanya saat tak sengaja matanya saling berpandangan dengan Elysia yang dibalas oleh tawa Elysia. Merekapun sampai di apartemen Hellen. Apartemen itu memiliki enam lantai dan kamar Hellen tepat berada di lantai enam. Saat malam pemandangan dari kamar Hellen akan terlihat sangat indah. Kerlap-kerlip lampu kota terlihat sangat jelas di sini dan bagian atapnya bisa dipakai untuk bersantai sambil melihat pemandangan kota juga. “Pilihlah sesuka hatimu sayang.” Kata Hellen sesaat setelah teman-temannya sampai di dalam kamarnya. “Aku tidak bisa memilih, aku menyerahkannya pada kalian yang ahli.” Tunjuk Elysia pada sosok Tiyas dan Ruby. Ruby segera membuka lemari Hellen yang penuh dengan baju-baju dari yang pernah dipakai hingga belum. “Kamu ingin yang seperti apa?” tanya Ruby. “Seperti gadis baik-baik.” Hellen yang merebahkan dirinya tak pernah bisa tidak tertawa dengan jawaban-jawaban Elysia hari ini. Ternyata memang benar jatuh cinta akan membuat seseorang menjadi orang lain dan bisa membuat seseorang jadi bodoh. “Baiklah kita akan membuatmu seperti bidadari surga.” selanjutnya Ruby sibuk mencari pakaian yang cocok dengan image itu. Tiyaspun sedari tadi sibuk dengan peralatan make-upnya. Setelah persiapannya selesai dia memanggil Elysia untuk memulai mendandani gadis itu. Elysiapun langsung menurut dan mempercayakan wajahnya pada Tiyas. Tiyas dengan mahir mulai mendandani Elysia. Dia akan membuat Elysia tampak cantik dengan make up yang sangat simpel dan tidak bold, riasan ringan seakan tidak menggunakannya. Sapuhan eyeshadow peach dan bluss on yang senada pula Tiyas berikan. Rubypun sudah mendapatkan dress selutut yang cocok dipakai Elysia. Sebuah dress berwarna putih dan tidak mengembang yang akan memperlihatkan lekuk tubuh Elysia. Saat Elysia sudah selesai di make up oleh Tiyas dan bagian rambutnya selesai ditata oleh Hellen, Elysia bergegas mengganti pakaiannya. Tak lama bagi Elysia mengganti pakaiannya dan saat dia keluar dari kamar mandi semuanya terpana melihat sosok Elysia yang benar-benar terlihat sangat cantik dengan kesederhanaannya. Benar-benar terlihat seperti bidadari yang baru saja turun ke bumi. “Kamu tidak pantas secantik ini hanya untuk menemui Andrew!” pekik Hellen tak terima. Elysia berjalan menuju kaca dan melihat penampilan dirinya. Dia sendiri terpana dengan sosoknya yang terlihat sangat cantik dengan make-up yang Tiyas pakaikan untuknya. “Aku memang harus menggunakan bakatku ini sesering mungkin.” Gumam Tiyas melihat hasil yang dibuat. Kecantikan alami Elysia dengan make-up ringan yang dibuatnya sangat pas. Biasanya dia yang selalu membuat bold make up, namun untuk Elysia, Tiyas tidak melakukan itu karena benar-benar tidak cocok. “Tapi kamu tampak biasa saja tu.” gumam Ruby yang dapat di dengar oleh Tiyas dan saat itu juga Tiyas melempar bantal ke arah wajah Ruby. “Aku berbicara fakta.” Senyum Ruby mengejek yang membuat Tiyas mendengus kesal. Elysia mengambil tas yang senada dengan pakaiannya dan tersenyum senang setelah melihat semuanya tampak sempurna. Elysia memeluk ketiga sahabatnya itu bergantian. “Aku sayang kalian.” katanya “Dia sudah menjemputmu?” Tanya Ruby penasaran. Baru saja Ruby bertanya ponsel Elysia bergetar menampilkan nama Andrew di layar ponselnya. Andrew mengirimnya pesan dan mengatakan bahwa dia ada di depan apartemen Hellen. Tadi selama di make-up oleh Tiyas, Elysia memberikan alamat apartemen Hellen sehingga lelaki itu bisa menjemputnya di sini. “Doakan aku.” Kata Elysia sebelum pergi meninggalkan ketiga sahabatnya itu. Jantung Elysia berpacu lebih cepat dari biasanya. Di dalam lift dia tak henti-henti berdoa agar semuanya berjalan dengan lancar. Ini kencan pertamanya dan Elysia sangat gugup. Saat pintu lift terbuka di lantai utama Elysia tak henti-henti meremas tangannya. Dia benar-benar gugup dan saat pintu loby terbuka Elysia melihat sosok Andrew yang menyandarkan tubuh di mobil. Bergegas Elysia mendekati Andrew dengan perasaan campur aduk. Saat Elysia berjalan mendekati Andrew, lelaki itu tersadar akan sosok Elysia yang perlahan mendekatinya. Sosok Elysia yang berjalan bagai slow motion membuat Andrew terpana. Elysia sangat cantik dan Andrew tidak bisa berpaling dari wajah yang terlihat gugup itu, senyum Andrew seketika tercetak dengan jelasnya. “Hai….” Sapa Elysia saat tepat berada di depan Andrew. Sontak Andrew membenarkan posisinya, entah kenapa dia juga menjadi gugup saat melihat Elysia dengan sedekat ini. “Hai, sudah siap?” tanya Andrew yang mencoba berbasa-basi yang dijawab anggukan Elysia. Mobil Andrew berjalan membelah jalan kota yang ramai. Di dalam mobil terdengar alunan merdu lagu-lagu cinta yang diputar Andrew. Di saat berdua dengan Andrew seperti ini Elysia tidak memiliki keberanian untuk memulai pembicaraan sebagaimana mereka lakukan saat berchating. “Bagaimana jika hari ini kita pergi menonton, kamu maukan?” Suara Andrew membuat Elysia terlonjak kaget, dia terlalu tegang sehingga saat dia menoleh ke arah Andrew, Elysia hanya bisa menganggukkan kepalanya. Andrew yang melihat tingkah kaku Elysia terkekeh geli namun sebelah tangannya mengusap rambut Elysia sehingga siempunya hanya bisa memerah mendapat perlakuan seperti itu. “Jangan tegang.” bisik Andrew. “Aku akan mencobanya.” Cicit Elysia. Setelah beberapa puluh menit akhirnya mereka sampai di sebuah mall. Saat akan keluar dari mobil Andrew membukankan pintu mobil, percis seperti yang lelaki itu lakukan saat Elysia masuk ke mobilnya. Elysia yang mendapat perlakuan seperti itu tentu saja senang, terlihat sepele tapi berkesan bagi Elysia. Mereka jalan beriringan menuju ke bioskop yang terdapat di lantai tiga mall. Elysia menggenggam tasnya dengan erat karena terlalu gugup yang membuat Andrew yang sedari tadi memperhatikan Elysia mendesah pasrah. Tangan itu Andrew ingin sekali genggam. “Bagaimana jika setelah menonton kita makan?” “Boleh, selama kamu tidak ada acara.” jawab Elysia. Tentu saja ajakan Andrew tidak akan Elysia lewatkan. Kesempatan langka seperti ini harus dia gunakan sebaik-baiknya karena bisa saja tidak ada kesempatan lain. Namun sesaat kemudian Elysia tersadar, di kencan pertama mereka sudah pergi makan malam dan bagaimana jika saat makan Andrew akan melihat dirinya yang rakus itu. Seketika Elysia meneguk ludahnya, pikiran negatif sekarang menghantuinya. Mereka akhirnya memilih film yang akan tayang beberapa saat lagi, Andrew tidak ingin menunggu terlalu lama dan dia sepertinya juga tidak benar-benar menyiapkan list yang akan mereka tonton jadi hanya asal mengambil film yang sudah akan diputar. Elysia tak masalah dengan itu tapi saat dia melihat poster film yang akan mereka tonton mata Elysia terbelak kaget. Apakah perfilman sekarang sangat suka dengan genre percintaan manusia dengan manusia jadi-jadian? Dengan ekor matanya Elysia melirik Andrew yang sangat santai membicarakan film yang akan mereka tonton. Film yang mereka tonton adalah film yang tengah hype di kalangan anak muda karena kisah percintaan antara manusia dan manusia serigala. Elysia hanya tertawa miris mendengar penjelasan itu. Dalam hati Elysia mengutuk siapapun yang membuat film tentang itu, bagaimana bisa mereka memiliki ide untuk membuat kisah seperti itu. Saat duduk di dalam teater yang mulai menggelap, Andrew tiba-tiba mengenggam tangan Elysia yang membuat Elysia melirik ke arah tangannya. Saat itu juga Elysia senang tentu saja, dia menikmati genggaman tangan Andrew yang terasa sedikit hangat. Beruntung bagi Elysia Andrew tidak melihat bagaimana wajahnya sekarang memanas karena genggaman tangan Andrew. Rasa senang itu hanya berlangsung sebentar bagi Elysia karena dia mau tidak mau harus menonton film yang menceritakan kaum manusia serigala terkutuk itu. Suara auman dan transformasi dari bentuk manusia ke sosok serigala besar itu membuat Elysia bergeming. Dia sangat tidak nyaman dengan apa yang ditontonnya itu bukan karena film itu salah mengambil refrensi, tapi hanya saja rasanya Elysia tidak suka dengan sosok serigala. Seperti ada api di dalam tubuhnya yang semakin bergejolak jika melihat sosok terkutuk itu. Selama dua jam Elysia menahan semua rasa yang membelenggunya. Setelah keluar dari bioskop Elysia akhirnya bisa benar-benar bernapas dengan lega. Jika dia akan pergi menonton dengan Andrew lagi, Elysia akan merekomendasikan saja filmnya daripada harus memilih random seperti ini. “Bagaimana jika kita makan di restoran Jepang? Di sini ada yang sangat bagus, pasti kamu akan suka.” Jelas Andre. “Selama kamu yang merekomendasikannya aku akan ikut.” Senyum Andrew mengembang mendengarnya. “Ayo….” Elysia tak menyangka di mall seperti ini memiliki sebuah restoran Jepang yang sangat memanjakan mata. Restoran jepang ini memiliki area indor yang berada di lantai teratas mall dan kerlap-kerlip lampu yang terpasang membuat area indoor sangat memanjakan mata. Elysia belum pernah sekalipun ke sini dan ini benar-benar sangat romantis. Suasana malam dan lampu yang berwarna indah itu bukankah ini benar-benar sangar romantis. Pikiran itu membuat Elysia benar-benar berpikir bahwa Andrew akan menembaknya di sini. Memikirkan itu membuat Elysia tidak bisa menahan gugupnya.  Entah ini karena gugup menunggu Andrew menyatakan cintanya atau karena hal yang lain, tiba-tiba Elysia merasa tidak nyaman dengan perasaannya. Ada sesuatu yang terasa mengganjal di hatinya yang membuat jantung Elysia berdebar dengan cepatnya saat itu juga. Dia tidak mengerti dengan perasaannya.  Tidak hanya Elysia yang merasakan perasaan itu, tapi ada seorang berjas hitam yang sedari tadi menatap sosok Elysia yang duduk cukup jauh darinya. Sejak Elysia datang dan berjalan melewatinya dia merasakan perasaan itu, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya, sebuah perasaan ingin memiliki itu dan rasa amarah pada satu saat yang sama saat melihat kedekatan Elysia dengan Andrew.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN