Kelereng cahaya menyinari area kecil gelap di bawah lantai mereka. Tempat itu seperti ruang jebakan dengan dinding semen yang tidak bisa dipanjat. Kedalamannya mungkin mencapai enam meter. Tempat seperti ini mirip dengan jebakan di benteng-benteng milik kolonial belanda yang dibuat agar para tahanan tidak bisa melarikan diri. Bentuknya tidak luas, namun dalam sehingga sulit untuk memanjat.
Seseorang dengan pakaian yang teramat kotor berada di sana. Dia menatap ke atas dengan wajah teramat kotor. Rambutnya panjang jadi kemungkinan perempuan. Namun yang paling mencolok, dia punya empat mata. Dia mengais-ngais tangannya ke atas. Kelihatan ingin berdiri tapi tidak bisa.
"Dia..." Leonio terlihat menggertakan gigi.
"Tuan hunter, apa kau kenal dia?"
"Ckckck. Malam-malam bukannya beristirahat malah berbuat kerusakan. Anak muda zaman sekarang sudah tak tahu sopan santun ternyata."
Suara kakek-kakek mengagetkan mereka. Keduanya menoleh ke arah pintu. Berdiri di sana si kakek resepsionis yang menunjukan kamar mereka. Tudungnya dipakai menutupi sebagian besar wajah.
"Maaf atas gangguan yang kami buat. Kami hanya merasa terganggu dengan suara dari tempat ini." Leonio mengatakannya dengan tenang. Tapi tangannya meraba bagian sabuknya.
"Oh tentu saja. Aku akan memaafkan kalian jika kalian masuk ke dalam!"
Kakek resepsionis melesat dengan kecepatan tidak wajar. Seakan dia bukan kakek tua yang mengantar mereka dengan langkah lambatnya. Dia menerjang ke arah Leonio dengan martil di tangan. Leonio menahan ayunan pukulan martil dengan satu tangan.
Kakek mengayunkan tangan kirinya yang memegang pahat. Leonio menguncinya dengan dengan tangan lain. Kedua tangan mereka saling terkunci. Tidak selesai sampai sana, kakek meniupkan sebuah jarum dari mulutnya. Mata Leonio menyempit. Dia terpaksa melompat jauh ke belakang kakek untuk menghindar.
Leonio menyadari kesalahannya. Dia memberikan akses untuk kakek menyerang Reine.
"Tidak!"
Kakek mengubah pijakannya untuk menerjang Reine. Satu tangannya bersiap mengayunkan martil. Reine menghindar sebisanya. Dia mendorong Milko menjauh agar tidak terkena serangan. Suaranya tercekat saat martil berat itu hampir menghantam kepalanya.
Milko, anak kecil yang takut Reine terluka, melemparkan lampu minyak di meja. Lemparannya berhasil kena kepala si kakek. Laki-laki tua itu oleng dan memegangi kepalanya yang sakit. Di saat itu Reine berusaha lari menjauh. Kakek itu kembali mengejar Reine.
'Orang ini terus mengejar manusia itu. Dia bahkan tidak berniat melihat ke arah bocah calico yang menimpuknya.' batin Leonio. 'Aku tidak bisa menggunakan pedang di sini. Cahayanya terlalu menarik perhatian.'
Dia mengeluarkan tonfa dari sabuknya. Tonfa adalah tongkat T terbuat dari kayu yang cukup tebal. Tongkat itu di dunia manusia lebih terkenal sebagai tongkat security. Leonio menggunakan dua berwarna hitam. Dia kembali maju menerjang kakek.
Satu gerakan cepat Leonio memblokir serangan. Tonfa berada di siku. Martil beradu dengan keras. Tapi tonfa Leonio juga tidak mudah dihancurkan. Kakek kembali mengayunkan pahat. Leonio sigap menghalaunya. Mereka berdua bertarung dengan sengit.
Reine berlari cepat ke arah Milko. Dia menariknya ke tempat mereka menyimpan tas. Dengan tergesa dia membukanya mencari sesuatu.
'Pasti ada sesuatu yang bisa menghentikannya.'
Matanya membelalak saat menemukan sesuatu di kantong makanan.
'Bubuk cabe!'
Dia menuangkannya ke tangan. Reine berlari ke arah Leonio.
"Leonio menunduk!"
"!" Leonio reflek menunduk.
Fuuuh
"ARGH! MATAKU!"
Kakek berteriak dengan mata perih karena bubuk cabe. Dia mengusapnya dengan kasar. Langkahnya mundur ke belakang. Leonio mengambil kesempatan menendang perutnya. Orang itu terpental jauh ke belakang.
Tidak selesai di sana, Leonio menotok titik-titik akupunturnya agar orang itu tidak bisa bergerak. Pahat dan martilnya ditendang jauh dari tangannya.
"Su.. sudah aman?" tanya Reine takut.
"Mn."
Leonio mengeluarkan tali dari sabuknya. Dia mengikat kakek tadi dalam posisi duduk. Tudung jubahnya ditarik agar wajahnya terlihat jelas. Wajah kakek itu terkelupas separuh. Warnanya kulit luar dan kulit dalam berbeda satu tone kulit. Reine tiba-tiba teringat episode Naru*to saat Orochimaru bertarung dengan di hutan dengan sasuke saat ujian chunin hingga topengnya rusak.
"Topeng? Dia pakai topeng?"
Leonio merobek kulit yang terkelupas. Wajah orang itu bukan lagi kakek-kakek. Tapi seperti seorang pria berumur tiga puluhan. Matanya masih memejam dan air mata karena bubuk cabe tadi. Dia mungkin tidak akan bisa membukanya selama beberapa waktu.
"Di mana Pak Tua Mong?"
Dia tertawa dengan maniak. Kepalanya bahkan sambil dilemparkan ke belakang seakan dia mendengar lelucon yang amat lucu.
"Kenapa aku harus mengatakannya padamu? Tanyakan saja pada makhluk di bawah sana. Hahaha."
Leonio mengerutkan alisnya.
"Jadi kau yang menangkap anak laba-laba di bawah?"
"WHAT?! LABA-LABA!" jerit Reine. Dia langsung mendapat tatapan tajam dari Leonio. Buru-buru dia membekap mulutnya.
"Ahahaha, jangan terlalu cepat menuduh tuan. Aku tidak segila itu untuk masuk ke lembah hanya untuk mencuri makhluk berbahaya. Pak tua itu yang melakukannya."
Pria paruh baya itu mulai bercerita. Sejak setahun yang lalu, orang-orang yang memesan batu nisan di desa mereka mulai berkurang. Awalnya mereka pikir hanya masalah sesaat seperti akses jalan dan promosi. Jadi warga desa bahu membahu memperbaiki jalan dengan bahan seadanya. Tapi ternyata masalahnya berasal dari ibu kota. Menteri yang berasal dari kota Biefel dibunuh orang jahat. Menteri penggantinya tidak lagi peduli pada desa Pierre Tombale. Mereka mengalihkan pemesanan batu nisan pada para pemilik perusahaan besar. Masih ada yang memesan, tetapi jumlahnya sangat sedikit.
Orang desa mulai merantau ke kota. Tapi kemampuan mereka terbatas pada memahat batu dan pekerjaan kasar lain. Jadi tidak banyak tempat yang menerima mereka dengan gaji baik. Karena mereka butuh pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan, mereka tetap mengambilnya.
Para hunter masih suka datang. Mereka mengobrol satu sama lain tentang mendapatkan keuntungan besar dari berburu di lembah Archanimia. Warga desa tertarik dan banyak bertanya. Para hunter dengan senang hati memberi tahu komoditi apa saja yang paling dicari dan kemana menjualnya.
Walau desa Pierre Tombale cukup dekat dengan lembah Archanimia. Mereka bukan pemburu yang punya keahlian bertarung dan menggunakan senjata. Masuk ke dalam lembah sudah sulit. Keluarnya lebih sulit lagi. Banyak yang terluka dan sekarat saat kembali ke desa. Namun jika mereka berhasil membawa komoditas berharga. Benda itu bisa mencukupi kebutuhan hidup sampai beberapa bulan berikutnya.
Suatu hari seorang warga desa berhasil mendapatkan satu buah telur laba-laba Metonimia. Dia menjadi kaya seketika setelah menjualnya pada seorang Master Mage. Pak tua Mong pemilik hotel ini langsung tertarik. Tapi berbeda dengan werecat lainnya, dia punya pikiran lain. Jika satu telur bisa membuatnya kaya, kenapa tidak sekalian saja mengembangbiakannya agar dia tidak perlu lagi mengurus hotel kecil ini.
Maka dia membuat rencana.