Bab 18 - The West Forest 2

1039 Kata
Hutan barat dikenal sebagai hutan yang spesial. Dalam setiap tanah, batu dan pohon yang ada dalam hutan itu penuh dengan energi spiritual. Udara yang bersih, air yang jernih dan tenang, deretan pohon yang sejuk menambah daya tarik hutan. Ketenangan yang dihembuskan hutan membuat pikiran jernih. Kehangatan yang diberikan merilekskan tubuh. Rasa dingin dalam air dan batunya menyegarkan otot dan indera. Dengan semua keuntungan seperti ini, pemerintah membuat banyak aturan. Orang yang masuk ke hutan akan dibatasi dan dikontrol. Para pertapa, mage ataupun master pedang harus mendaftar untuk masuk ke sana. Siang dan malam para penjaga hutan akan berpatroli rutin. Demi menjaga kemurnian energi, ada beberapa aturan wajib yang harus dituruti semua pendatang. Salah satunya aturan dilarang membunuh, baik itu makhluk yang tinggal di hutan, pohon-pohon dan orang yang sedang berada di sana. Leonio tidak asing dengan cerita tentang hutan barat. Orang-orang yang ingin masuk ke sana akan di skrinning datanya oleh departemen magus. Kemudian saat hari mereka dijadwalkan untuk masuk, mereka tetap akan disaring lagi oleh pelindung hutan. Hanya orang-orang tanpa niat jahat yang bisa masuk ke sini. Setelah orang berhasil masuk dan bertapa selama beberapa bulan, kekuatannya akan meningkat pesat, terutama kekuatan sihir. Itu yang dia dengar. Sebagai seorang hunter, Leonio tidak ada kepentingan untuk masuk ke hutan barat. Pekerjaannya tidak jauh-jauh dari membunuh. Jadi dia tidak tertarik untuk mencoba peruntungan menambah kekuatan di hutan barat. Dia sadar diri, dengan tangan berlumur darah, tidak akan mungkin hutan barat menerimanya. Tempat ini begitu tenang dan jauh dari urusan duniawi. Kedamaian yang diciptakan selalu membuat orang terlena. Tidak pernah sedikitpun terlintas akan ada masalah yang menyentuh kedamaian hutan barat. Sampai kembang api peringatan muncul di langit cerah. Kembang api berbentuk lili merah untuk meminta bantuan. Semua orang yang melihatnya tertegun. Para penjaga hutan yang berjaga di menara pemantau panik. Terlalu lama dalam keadaan damai membuat para penjaga hutan mengalami kepanikan. Mereka tidak tahu harus melakukan apa dan bergegas untuk melompat masuk ke hutan. Namun pelindung hutan malah menolak mereka masuk. Semua orang semakin panik. Sampai akhirnya seorang tetua menenangkan mereka. Dia menyuruh satu orang memanggil pasukan militer terdekat. Leonio saat itu baru saja menyelesaikan tugas membunuh monster yang mengganggu desa Dauni di pinggiran hutan barat. Kepala desa berjalan kepadanya untuk menyerahkan upah. Saat kembang api itu menyala, seluruh bulu kuduknya berdiri. Dia berlari menuju pelindung hutan untuk masuk ke sana. Dia bahkan belum menerima bayaran dari kepala desa. Dia tidak memikirkan apapun saat melewati pelindung hutan. Saat sudah sepuluh langkah di dalam hutan, dia melihat ke belakang, ke dinding tebal transparan yang baru dilewatinya. Dia sempat terkejut beberapa saat. 'Hutan barat mengizinkanku masuk?' pikirannya berputar mencari penjelasan. 'Tidak, jangan pikirkan itu sekarang. Yang terpenting mencari sumber kembang api itu. Orang yang menembakkannya pasti dalam bahaya besar.' pikirnya berusaha tenang. Kesempatan langka bisa masuk ke hutan barat dengan mudah. Kesempatan langka yang muncul karena ada masalah di dalam. Hutan barat terkenal dengan pelindungnya. Jika ada masalah seharusnya hutan itu otomatis menguatkan pelindungnya agar pelakunya tidak kabur. Suara lembut dan halus seakan menuntun jalannya. Semua pohon bergerak mempermudah langkahnya. Hutan barat tidak hanya mengizinkannya masuk. Tapi juga membuka jalur untuknya agar lebih cepat tiba. Hingga dia bertemu seseorang dengan pakaian putih hijau berlambang bunga lili putih, pakaian khusus penjaga hutan. Kemudian semuanya terjadi dengan cepat, pisau besar, gua dengan asap hitam smoke veins, sampai bantuan yang sebenarnya datang. "Jendral! Yang ada di kamar ini sudah meninggal!" teriak salah satu anak buat Jendral Kan. Leonio bergegas ikut ke ruang pertama dalam gua yang ditemui. Pertapa pertama dengan jubah biru klan Gi duduk seperti dalam kondisi meditasi. Sayangnya dengan d**a yang berlubang, semua orang tahu kalau dia sudah meninggal. Jendral Kan mendekat untuk melihat lebih jelas. Dia bisa mendengar suara stres dari para penjaga hutan yang ikut dibelakangnya. Mereka terlalu murni untuk melihat kejahatan ini. 'Hutan barat bisa dikatakan hutan suci. Pelindungnya juga sangat ketat. Orang yang bisa melakukan kejahatan seperti bukan orang biasa.' "Berapa orang pertapa yang ada di gua ini?" Seorang penjaga hutan, yang sejak awal bersama Leonio membuka suara. "Setiap gua di hutan ini hanya bisa diisi dua sampai tiga orang. Gua yang kita tempati sekarang berisi dua orang daro klan Gi." Tidak lama suara bawahan Jendral Kan terdengar lagi mengonfirmasi bahwa ada satu pertapa lagi yang mati. Suara sedih para penjaga hutan memenuhi lorong gua. Mereka mengucapkan sesuatu seperti kemarahan spirit hutan juga kemarahan dewi. Kesialan akan mendatangi mereka. "Benar-benar tak termaafkan. Tidak hanya mencoreng hutan barat. Kejadian ini juga mencoreng nama Cyrille!" Selagi Jendral Kan marah-marah, Leonio mengecek kondisi mayat. Tubuhnya sudah dingin berarti sudah lama dibunuh. Lubang di dadanya juga dalam kondisi rapi seperti luka bedah oleh profesional. Tidak ada tanda-tanda perlawanan seakan mereka tak sadar ada penyerang. Kondisi kamar hutan lain juga sama, semua rapi tanpa ada kerusakan. Leonio menatap sisa-sisa tawon yang dia lepaskan. Banyak yang sudah menjadi remahan di lantai gua, mereka bertarung sengit. Ada dua tawon yang bertengger di batu masih hidup. Leonio segera memasukkannya ke dalam kotak sebelum dilihat Jendral Kan. Dia berjalan sebentar melihat lorong gua. Beberapa rajah mantra ada yang dihapus, berarti bukan serangan tanpa rencana. "Lord Iris Sabre, bagaimana menurut Anda yang sebenarnya terjadi di sini? Siapa yang bisa membuat kekacauan ini?" Jendral Kan bertanya. Telinga kucing Leonio terasa gatal mendengar panggilan norak itu. Entah siapa yang memulainya, tapi banyak orang di militer suka menggunakan kata itu untuk memanggilnya. Kalau boleh dia jujur, dia jijik mendengarnya. Kadang bahkan ingin mencakar orang yang memanggilnya seperti itu. Tapi otaknya masih waras untuk tidak melakukannya pada Jendral muda ini. "Penyerang pertapa dan penyerang penjaga hutan mungkin orang yang sama. Namun hal yang membunuh mereka berbeda." "Berbeda? Maksud anda tuan?" wajah cemas Reaf si penjaga hutan. "Rekan anda pasti bertemu sesuatu. Kemungkinan smoke veins dan mencoba melawannya. Dia bertarung di luar dan diseret ke sini. Pakaiannya kotor di bagian belakang dan lehernya seperti bekas cekikan. Kalau kalian melihat lebih dekat, ada tato merah menjalar di tangan kanan rekan anda. Dalam pengetahuanku yang sedikit mengenai sistem tato penjaga hutan, aku yakin tato itu bukan tato pelindung biasa." "Benar tuan. Jika tato itu berwarna kuning, maka itu peringatan. Jika tato berwarna merah, maka itu untuk menyerang. Rekan kami mungkin berpikir mengaktifkan tato merah untuk menyelamatkan diri." Leonio menggeleng. "Tidak kalian salah. Dia mencoba melindungi gua ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN