Sienna tertawa hampa mendengar ucapan Galen yang seakan tak berperasaan. Ia berusaha meyakinkan dirinya jika lelaki itu hanya sedang asal bicara. “Apa masalahnya kalau kita punya anak? Toh pernikahan kita juga sah di mata hukum,” lanjut Galen. Sienna menggeleng. “Enggak. Nggak ada salahnya. Kalau kita sudah berdamai dengan permasalahan kita.” Galen menoleh kaget mendengar kalimat kedua Sienna. Ia semakin mengeratkan genggamannya pada kemudi mobilnya. Ia tak lagi bicara. Hanya fokus pada jalanan di hadapannya, hingga akhirnya mereka tiba di kediaman mereka. Sienna tampak begitu santai menanggapi Galen yang kini tampak uring-uringan sendiri. Meski, ketika Galen sudah menghilang masuk ke kamarnya, Sienna hanya bisa menatap hampa ke ujung tangga di atas sana, tempat terakhir kali ia meliha

