Lanna mengenakan dress brokat warna abu-abu dengan bagian bahu terbuka. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan bantuan pencatok rambut, Lanna berhasil membuat rambutnya curly di bagian bawah. Heels yang tidak terlalu tinggi dan berwarna senada dengan dressnya. Malam ini, untuk pertama kalinya Lanna datang di sebuah pesta dansa yang diadakan di sebuah klub. Klub? Mendengar namanya saja Lanna merinding. Rokok, minuman alkohol dan cewek-cewek seksi? Tapi mau bagaimana lagi, masa dia tidak mau menemani David.
“Apa yang kurang dari penampilanku?” tanya Lanna. David menatap Lanna dari atas sampai bawah dan atas lagi.
“Nggak ada yang kurang.” Jawabnya sembari diam-diam mengaggumi penampilan Lanna yang tidak berlebihan.
“Apa dressnya perlu aku ganti ya?” dia bertanya.
“Nggak usah udah cocok kok.”
Lanna kembali menatap dirinya di atas cermin. Menatap pantulan dirinya beberapa lama hingga dia yakin dia sudah cocok dengan penampilannya.
Setelah sampai di klub yang tertera di undangan, Lanna dan David masuk. Musik berdengung keras membuat Lanna sesekali merinding dan ketakutan. Terkadang dia juga menggenggam lengan David erat. Dia takut terseret orang-orang gila di sekitarnya yang berjoget – joget mengikuti alunan musik seperti orang gila pada umumnya.
“Aww!!” Lanna terlonjak seraya memekik.
“Kenapa, Lann?”
Bukannya menjawab pertanyaan David, Lanna malah menatap kesal seorang pria setengah mabuk yang berada di sampingnya.
“David, dia meremas bokongku!” adunya pada David.
Seketika wajah David memerah. Tanpa bertanya lagi, dia menonjok pria muda yang setengah mabuk itu. Keributan terjadi. David dan pria muda itu menjadi pusat perhatian menyadari David sudah menonjok pria itu berkali-kali, Lanna menarik lengan David.
“Udah, Vid!”
David membersihkan tangannya yang terkena darah pria setengah mabuk itu.
Lalu beberapa sekuriti datang hendak membawa David keluar dari pesta ulang tahun k*****t ini.
“Jangan! Bawa aja pria itu. Dia mabuk. Dia yang bawa masalah.” Ujar seorang wanita cantik yang berkulit putih seputih s**u.
David menyapa temannya yang seorang aktris. Dia tersenyum ramah pada Lanna dan Lanna membalas senyuman itu. Wanita itu memiliki bibir tebal—sepertinya difiller, pikir Lanna. Alisnya disulam dan mungkin wajahnya juga di kasih benang-benang untuk menutupi keriput-keriputnya.
“Ma’af, aku bikin keributan. Pria sinting itu meremas b****g istriku. Aku nggak terima.”
“Oh ya, nggak papa, Vid. Itu semacam kriminal yang seksi.” Dahi Lanna dan David mengernyit tidak mengerti. “Kriminal yang seksi?” Wanita berbibir tebal itu buru-buru membereskan kalimatnya. “Maksudku, apa yang David lakukan itu termasuk kriminal tapi kriminal yang seksi karena dia membela istrinya.” Wanita itu tersenyum.
“Aku pikir kamu mau ngadain pesta dansa tahunya Cuma kaya gini di klub.” Gerutu David.
“Ada sessionnya, Vid. Nanti pesta dansa setelah acara joget-joget selesai.” Katanya.
“Silakan dinikmati pestanya, aku ke sana dulu ya.” Dia berkata dengan cerah ceria seakan tidak punya beban hidup sama sekali. Ya, wajar memang karena dia sedang ulang tahun dan sebagai tuan rumah harus ceria tapi Lanna menangkap hal lain. Sepertinya emang hidupnya tidak ada beban.
David menyomot wine dari gelas seorang pelayan yang menawarinya minuman. “Kamu mau ini?” tanya David pada Lanna. Lanna menggeleng.
David meminumnya dan menghabiskan satu gelas. “Apa rasanya?” tanya Lanna polos.
“Kalau mau tahu kamu harus nyoba.”
“Enggak mau.”
“Hemm, yaudah jangan nanya rasanya.”
“Apa salahnya bertanya.”
“Jangan berdebat di sini.”
“Aku tidak berdebat.”
Mereka saling pandang beberapa saat hingga suara lembut yang dingin menyapa mereka. Sarah.
David terdiam beberapa saat sampai dia menyadari kalau Sarah tersenyum padanya.
“Apa kabar kalian?” tanya Sarah basa-basi.
“Baik.” Jawab Lanna dengan nada secerah matahari pagi.
“Oh ya, aku harus ke sana dulu. Ada temenku di sana.” Sarah menunjuk perkumpulan cewek-cewek seksi.
David mengangguk dan melempar senyum tipis yang sedih.
Lanna menatap David ketika Sarah pergi. Mendadak sosok di sampingnya itu terdiam dengan wajah pucat dan agak sendu. “Kenapa?” tanya Lanna pura-pura tak mengerti.
“Kenapa apanya?” jawab David nyolot. Lanna kembali kesal.
Musik berhenti. Semua orang yang berjoget-joget kaya orang gila berhenti. Lalu suara bising orang-orang mengobrol mengganggu telinga Lanna hingga suara piano klasik dari Chopin membeku seluruh ruangan. Satu per satu orang mulai perpasang-pasangan untuk berdansa. Musiknya romantis dan sedih.
“Ayo!” ajak David menarik tangan Lanna.
David menempelkan tangannya pada pinggang Lanna dan Lanna dengan hati-hati melingkarkan tangannya di leher David. Mereka saling bersitatap dan membiarkan suara piano klasik Chopin memainkan perasaan mereka.
Kalau seperti ini terus aku bisa jatuh cinta dengan David.
Di ujung sana, Sarah memperhatikan David dan Lanna yang sedang bedansa. Mereka berdua, berpasangan sedangkan dirinya di sini sendiri. Tanpa pendamping. Sarah memejamkan mata perlahan dan untuk beberapa detik hingga dia siap untuk kembali menatap David dan Lanna. Menatap kembali pria yang diinginkannya.
***
Lanna menguap lebar. Dia sangat lelah berada di kerumunan banyak orang yang nyaris semuanya bau alkohol kecuali dirinya. David juga bau alkohol. Lanna sebenarnya tidak suka bau alkohol, sangat tidak suka. Tapi untuk David—dia suka bau alkohol yang keluar dari napas David. Entah kenapa. Rasa dan baunya agak beda. Dan Lanna suka. Aneh memang tapi memang begitu adanya.
Dua puluh menit Lanna dan David menghabiskan waktu dengan berdansa dengan musik klasik. Oke, club berubah romantis. Lebih baik daripada musik keras dan orang-orang berjingkat absurd, konyol dan memalukan. Lanna merasa jijik. Apalagi melihat cewek-cewek dengan pakaian minim mempertontonkan lekuk tubuhnya. Beberapa kali Lanna menangkap David melihat cewek-cewek seksi itu, dan entah kenapa Lanna ingin sekali menutupi mata David. Rasanya tidak rela. Apakah ini semacam cemburu atau memang cemburu?
“Aku mau tidur. Aku capai banget.” Ujarnya langsung melompat ke atas ranjang tanpa berniat mencuci muka dan mengganti dress abu-abunya.
David tidak protes seperti biasa. Dia hanya diam. Dia juga capai tapi pikirannya masih tertuju pada Sarah. Dia menatap layar ponselnya beberapa kali berharap ada pesan masuk dari Sarah. Tapi dia malah melihat Lanna bangkit dengan wajah ngantuk berat.
“Katanya mau tidur.”
“Haus.”
Lanna keluar kamar dan melangkah menuju dapur dengan wajah dan rambut berantakan. Dia kembali mendapati Ramon duduk di meja makan dapur dengan secangkir teh dan kue kering.
“Hai, Lann.” Sapa Ramon dengan senyum khasnya yang ceria nan manis.
“Hai, Kak.”
“Abis dari pesta ya?”
Lanna mengangguk.
“Kamu cantik juga kalau lagi berantakan gitu.”
“Hah?” Lanna menatap Ramon tidak mengerti.
“Eh—“ Ramon berpikir sejenak. Ngomong apa sih aku?
“Tadi Kak Ramon bilang apa?”
“Kamu cantik.” Ramon menatap Lanna tanpa dosa.
Lanna tahu wajahnya sudah memerah. David tidak pernah memujinya. Jangankan memuji, memperlakukannya sebagai istri saja tidak pernah. Suaminya itu hanya berlaku manis saat di depan orang lain saja. Tuhan memang menciptakan manusia berbeda-beda tapi kenapa David dan Ramon begitu jauh dalam hal sikap.
“Lann, besok aku di suruh kakek beli barang antik di pinggiran Kota Jakarta. Mau ikut nggak?” ajak Ramon mengalihkan topik pembicaraan.
“Mau,” sahut Lanna tanpa berpikir terlebih dahulu.
“Enggak boleh!”
Mereka berdua menoleh pada sumber suara yang nyaring itu.
David.
***