BAB 18

1353 Kata
            Sarah menenggak kopinya yang mendingin. Suasana hatinya tidak baik sejak David menikah dengan Lanna, tepatnya sejak kemarin. Harusnya dia tidak datang di pesta pernikahan David dan Lanna. Harusnya dia tetap di kantornya. Harusnya dia menghabiskan waktu untuk bisnisnya. Bukan malah memperjelas penderitaannya.             Sarah membuka foto-foto David yang dia simpan di layar laptopnya. Foto mereka berdua ketika mereka liburan di Bali. David mengenakan kacamata dengan bertelanjang d**a dan dirinya mengenakan dress motif bunga-bunga. Mereka memasang senyum lebar di foto itu. Dan sangat terasa betapa sesaknya d**a Sarah saat ini. Pandangan matanya mulai mengabur karena air mata yang menggenang.             Bisakah aku merebut David kembali dari Lanna?                      Lalu Sarah menggeleng. Menghapus pikiran negatifnya. David sudah milik orang lain. Aku nggak boleh merusak rumah tangga David dan Lanna. Tapi hasrat untuk memiliki David begitu besar di dadanya. Dan penyesalan terbesarnya saat ini adalah dia pernah menolak David yang serius dan tulus mencintainya. Dia kehilangan seseorang yang begitu menginginkannya hingga tak butuh waktu lama untuk David menyatakan keseriusannya. Tapi apa yang David dapatkan tidak sesuai dengan harapannya. Sarah menolaknya dengan alasan karir. Karirnya sedang meroket. Gaun rancangannya diminati banyak orang-orang penting di negeri ini. David mundur dan akhirnya menikahi Lanna. Sarah tak tahu kalau pernikahan David dan Lanna hanyalah kebohongan semata. Apabila Sarah tahu, dia akan kembali merebut David. Secepat harimau menerkam mangsanya. Semoga Sarah tak kan pernah tahu soal itu. ***             “Nggak bisa!” tolak David saat Lanna meminta David tidur di sofa luar kamarnya. “Jangan gila deh, Lann.” Dia menatap tajam istrinya.             “Aku nggak mau satu ranjang sama kamu.” Lanna tak kalah tajam menatap David.             “Hei, kita suami-istri, apa kata orang rumah kalau aku harus tidur di luar kamar?” David melipat kedua tangannya di depan perut.             Inilah Lanna yang—menurut David menyebalkan. Dia suka menyuruh-nyuruh David seenaknya saja. Padahal dulu itu kan kebiasaan David untuk menyuruh-nyuruh Lanna seenak jidatnya.             “Aku nggak nyentuh kamu sama sekali, Lann.” Kata David menyerah.             “Ya, tapi kamu kalau tidur suka nyenggol-nyenggol aku.” Lanna menatap David dengan tatapan menyipit. Mengingat kemarin malam saat mereka tidur David terus-terusan menyenggolnya hingga dia nyaris terjatuh dari ranjang.             Bayangan tidur kemarin malam itu... rasanya sangat menyebalkan. Beberapa kali juga David memeluk Lanna dari belakang hingga membuat Lanna sesak napas karena lengan pria itu berada tepat di lehernya. Menekan lehernya. Entah itu disengaja atau tidak, Lanna tidak suka. Tidur seranjang dengan David sama saja dengan menyiksa diri sendiri.             “Suka meluk juga dari belakang.”             “Hah?”             “Iya kamu beberapa kali meluk aku.”             “Aku nggak ngerasa meluk kamu.”             “Ya, kamu kan tidur. Dikira aku bantal guling apa.” Lanna kesal dan dia meletakkan bantal guling di tengah ranjang. “Itu batas tempat tidur kita.” Lanna menunjuk letak bantal guling yang pasrah itu.             “Hemm, oke!” seru David. Dia melemparkan diri di atas ranjang dan menggeser sedikit bantal guling ke arah tempat tidur Lanna agar tempat tidurnya lebih lebar dari Lanna.             “Egois banget sih!” gerutu Lanna sebal.             “Tidur. Jangan ngomel mulu.” David memeluk bantal guling yang di tengah itu dan dia memejamkan mata.             Lanna semakin kesal. Kenapa setelah menjadi suaminya David malah jadi begini sih? Aneh. Lanna memandang jam dinding bermotif London Bridge. Pukul 00.31. Merasa dehidrasi karena berdebat dengan David, Lanna memilih mengambil air minum di dapur.             Lanna melihat Ramon duduk sendirian menikmati secangkir teh dan kue nastar.             Malam-malam begini masih aja makan. Gumam Lanna.             “Hei, Lann.” Sapa Ramon yang melihat Lanna berdiam diri di dekat dinding.             “Ngeteh, Lann.” Tawarnya.             “Kak Ramon ini sudah malam lho, malah ngeteh sama makan lagi.” Kata Lanna seraya berjalan mendekat. Dia mengambil gelas dan mengisi gelas dengan air dari dispenser.             “Ya, namanya juga orang hobi makan. Kamu sendiri malam-malam begini keluyuruan.”             Lanna mengernyit. “Keluyuran? Aku kan di dalam rumah, Kak.”             “Iya, maksudnya keluyuruan di dalam rumah begitu.” Ramon nyengir. “Kamu habis gituan sama David ya, sampai haus gitu.” Ramon menatap gelas yang diisi air putih penuh.             Lanna terdiam beberapa saat karena dia bingung harus berkomentar apa dengan perkataan Ramon. Dia memilih diam saja dan menenggak air minumnya.             “Kak Ramon akan ke Singapura?” tanya Lanna mulai serius.             Ramon menggigit bagian terakhir kue nastarnya. Dia mengangguk sedih. “Itu perintah Kakek, Lann.”             “Tapi Kak Ramon masih ingin di sini ya?”             Ramon menatap kosong taman kecil milik ibunya lewat jendela dapur yang gordennya terbuka. “Aku nggak punya alasan untuk tetap di sini.” Jawabnya seraya memandang hampa jendela.             Meskipun suka melucu, Lanna bisa tahu kalau Ramon sebenarnya merasa kesepian. Dan Lanna ingin menjadi teman kakak iparnya itu. ***               Esoknya, David mendapatkan undangan pesta dari salah satu selebriti tanah air. Dia mengadakan pesta dansa untuk memeriahkan ulang tahunnya yang ke 32 tahun. Lanna memperhatikan undangan pesta dengan warna emas glamour tersebut.             “Undangannya buat ntar malam ya. Mendadak banget sih.” Gerutunya sebal.             “Bukan, itu ada di kantor undangannya. Udah dua hari yang lalu.” Kata David. Dia mengambil jas abu-abu dan memakainya seraya berkaca.             “Kita langsung berangkat ke kantor ya. Aku udah bilang sama Ramon kalau kita mau sarapan di luar.”             Lanna yang sudah siap dengan kemeja motif garis-garisnya berdiri patuh. “Kenapa aku harus di bawa ke kantor sih.”             “Di sana ada Ron.”             “Jadi tugasku nemenin Ron?” Lanna bertanya dengan wajah dimiringkan.             “Nemenin akulah, ngapain kamu nemenin Ron?”             “Kamu bilang kan di sana ada Ron.”             “Ya, maksudku di sana ada Ron. Bukan berarti aku bawa kamu ke kantor karena kamu harus nemenin Ron.” Kata David putus asa.             “Yaudah sih nggak usah sewot.” Lanna membuang muka.             David menghela napas berat. Dia yakin saat ini berat badannya turun beberapa kilo. ***             Ron terus bercerita soal mantan-mantan kekasihnya. Dia bilang ada yang mirip Barbie karena operasi plastik, ada yang mirip Elizabeth Taylor ada yang mirip Marylin Monroe dan lain-lainnya hingga Lanna bosan dan ingin sekali berteriak, “Persetan dengan mantan-mantan kekasihmu, Ron! Aku nggak peduli!” Tapi demi menjaga hubungan dia berusaha menjadi pendengar yang baik tapi tidak terlalu baik juga. Pendengar yang sedang-sedang saja.             “Sekarang aku jomblo, Lann.” Kata Ron menenggak minuman kalengnya. David menatap layar laptopnya dan sesekali menatap Lanna dan Ron secara bergantian. Seakan dia mengawasi mereka berdua dalam diam.             “Aku turut berduka cita, Ron.” Kata Lanna formal dengan mimik berpura-pura sedih. Itu ekspresi terbaik yang bisa diperlihatkan pada orang yang jomblo ketika mereka berkata dirinya sedang jomblo.             “Makasih, Lanna.”             David menggigit bibir bawahnya untuk menahan tawa. Seorang playboy sedang jomblo.             “Lann, menurut kamu, David bisa jatuh cinta sama kamu nggak?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari daun bibir Ramon. Lanna terbengong lalu dia menatap David yang juga sedang menatapnya.             “Kalau nanya jangan soal kami dong.” Kata David dengan tatapan menegur.             “Kenapa? Aku berhak bertanya apa aja sama Lanna. Ya, kan, Lann.” Ron meminta pembelaan dari Lanna. Yang diminta pembelaan hanya terdiam saja.             Lanna menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Kenapa kamu nanya gitu sih, Ron?”             “Ya, kamu pikir deh, gimana kamu nggak jatuh cinta sama orang yang akan hidup sama kamu beberapa bulan ke depan nanti. Kamu sama dia dari dia bangun tidur dan tidur lagi.”             “Kenapa pertanyaannya nggak dibalik, seharusnya pertanyaan itu ditujukan untuk David dong. Masa untuk aku.”             Kali ini Ron yang kebingungan. Oke, Ron memilih diam sementara. “Kenapa aku harus mempertanyakan itu pada David?”             Ron dan Lanna saling memandang heran satu sama lain. “Ya, lebih cocok ditanyakan pada seorang pria, aku rasa.” Kata Lanna yang juga tidak mengerti kenapa pertanyaan yang dilontarkan Ron seharusnya ditanyakan pada David.             “Ini pertanda,” unkap Ron secara misterius.             “Pertanda apa?” tanya Lanna serius.             David menatap Ron serius. Semua mendadak serius. Sofa, vas bunga, meja dan file-file di kantor semuanya serius.             “Pertanda kalau kalian akan saling jatuh cinta.” Lalu Ron terbahak senang.             Lanna memberengut kesal dengan melipat kedua tangannya di depan perut.             David hanya menggeleng. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN