BAB 17

1908 Kata
            David menghubungi Sarah ketika Lanna memberitahunya kalau Sarah menelponnya. Saat ditelpon Sarah hanya bilang tidak apa dan dia tidak mau mengganggu waktu David bersama Lanna.             “Apa katanya?” tanya Lanna.             David menggeleng enggan. “Besok kita foto prewedding ya.” Kata David menatap Lanna.             “Hah? Mendadak sekali.”             “Mamah yang minta.”             “Pakai konsep apa?”                          “Mamah minta konsep ala negeri dongeng gitu.”             Dalam hati Lanna bergumam, sebenarnya yang mau menikah itu dirinya apa mamahnya David?             “Memangnya kamu mau konsep prewedding yang gimana?”             “Berpose di antara tumpkan buku perpustakaan tua.”             Sebelah alis David melengkung. “Buku?”             Lanna mengangguk antusias dengan mata berbinar.             “Nggak sekalian di atas tumpukan es krim, bunga lavender sama kopi?” ejek David.             Lanna menyilangkan kedua tangannya di atas perut. “Terserahlah!” ucapnya sebal seraya duduk kembali di atas sofa krem dengan gaya amburadul.             “Kenapa nggak setuju sama konsep mamah saja sih yang ala-ala negeri dongeng gitu kan lebih—“ David memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Dia agak malu mengatakan sesuatu...             “Lebih... romantis.” Lanjutnya yang membuat Lanna mendongak menatap wajahnya dan Lanna tidak bisa menahan bibirnya agar tidak tersenyum.             “Kenapa senyum-senyum gitu?” Lanna melihat wajah David memerah. Dan Lanna akhirnya tertawa.             Karena merasa malu, David memilih masuk ke kamarnya dan mencuci wajahnya. Dia menatap wajahnya yang sudah basah karena air. Dia masih malu karena baru saja mengatakan hal yang tidak semestinya dia katakan. Romantis? Seharusnya Lanna dong yang meminta poto prewedding-nya yang romantis kenapa malah David?             “Aku kenapa sih?” gumamnya seraya menyapu wajahnya dengan handuk kecil.             David kembali ke ruang televisi dan masih mendapati Lanna yang menahan tawa. “Jangan ketawa!” protesnya.             Bukannya diam, Lanna malah menyemburkan tawanya.             “Lanna!” pekik David yang tidak diindahkan Lanna.             Karena kesal akhirnya David melepari Lanna dengan bantal sofa. Lanna lari ke arah dapur. Dan mereka saling mengejar di sekitar apartemen David. David terus melempari Lanna dengan bantal sofa yang jatuh dan dipungut lagi. Sampai Lanna tertangkap dari belakang oleh David. Dan adegan itu seperti pelukan dari belakang.             Tubuh Lanna yang dilingkari tangan David membeku. Dia menoleh ke arah wajah David dan mereka saling bersitatap untuk beberapa saat. Refleks David melepaskan pelukannya dari Lanna.             “Ma’af,” ujarnya membuang wajah untuk menghindari tatapan Lanna.             Lanna bergeming. ***             Pemotretan dilakukan di sebuah hutan pinus di daerah Bogor. Lanna mengenakan gaun ala princess disney. Gaun itu berwarna biru  muda dengan bling-bling di sepanjang gaunnya. Rambutnya dicepol menyerupai kelopak bunga mawar. Seorang MUA berusia sekitar 33 tahun memolesinya dengan blush on warna pink.             “Serius kamu beruntung sekali nikah sama David. Huh, kalau aku masih muda dan seumuran David aku pasti bakal gaet dia. Sebenarnya aku juga naksir sama Ramon tapi, Ramon nggak naksir sama aku.” Ekspresi wanita itu membuat Lanna tertawa kecil.             “Aku lucu ya?” tanya wanita berusia 33 tahun itu.             “Lucu sama kaya Ramon.”             “Iya, Ramon memang lucu. Tapi dia itu kalau soal wanita seleranya tinggi. Tahu kan mantan istrinya Ramon cantiknya kaya apa. Aku nggak ada apa-apanya.”             Lanna senang mendapat MUA yang punya ekspresi wajah datar tapi nada bicaranya selalu melucu.             “Ayo dipercepat dong make-upnya, fotografer sama David udah nunggu ribuan abad tuh!” seru Ramon yang duduk di kursi kosong sebelah Lanna.             “Iya ini juga mau selesai kok.” Kata MUA itu santai.             Ramon menatap Lanna agak lama hingga Lanna yang menyadari tatapan Ramon menjadi malu dan memilih untuk berpura-pura tidak tahu hingga MUA itu berkata, “Jangan dilihat seperti itu, Ramon, dia calon adik iparmu.”             Ramon terkesiap. “Aku hanya kagum, Betty.”             Refleks, Lanna menoleh dan mata mereka saling bertemu. “Luar biasa!” seru Ramon. Dia mengalihkan pandangan pada Betty. “Betty memang hebat. Lann, kamu mirip banget sama—“ Ramon berhenti sejenak untuk berpikir. “Sama pemain film disney. Duh siapa ya lupa.”             “Ya, intinya aku berhasil membuat dia seperti wanita-wanita dalam negeri dongeng.” Kata Betty.             Lanna tersenyum.             Ramon tersenyum pada Lanna yang menatap Betty.             Dan Lanna merasa tidak nyaman dengan kebersamaan ini. Dia takut apa yang ditakutkannya akan terjadi. ***               Hari yang mendebarkan bagi Lanna. Hari yang indah namun tak seindah warna langit. Hari yang—menurut Lanna akan menjerumuskannya pada sesuatu yang absurd dengan berpura-pura mencintai David, menjadi istri David dan akan menjadi ibu dari anak-anak David. Itu kalau terjadi kecelakaan yang mungkin disengaja.             Semua pesta pernikahan ini dikonsep sedemikian rupa oleh mamah. Agaknya mamah memang tidak suka David bekerja sama dengan Sarah. Dia meminta David membatalkan semuanya—termasuk gaun yang dibuat Sarah. Menurutnya, gaun Sarah memang bagus tapi tidak cocok untuk Lanna. Lanna lebih cocok dengan gaun-gaun desainer senior yang sudah jelas bagi mamah. Sebenarnya mamah sudah tahu soal David dan Sarah. Dia hanya tidak ingin David bekerja sama dengan Sarah meskipun hanya untuk gaun Lanna.             Lanna berganti gaun lebih dari empat kali. Pertama adalah gaun berwarna putih minimalis, kedua gaun bling-bling berwarna biru muda yang membuat wajahnya cerah dan sangat cantik, ketiga adalah gaun warna peach soft dan yang keempat adalah gaun malam berwarna putih dengan yang bagian bawahnya melebar indah.             Kirana menjadi salah satu pengiring pengantin Lanna. Dia mengenakan kebaya ungu modern. Wajahnya cantik tanpa kacamata. Dia melepas kacamata dan menggantinya dengan softlent minus berwarna hitam. Kirana tidak suka neko-neko. Kirana agak sedih karena harus kehilangan Lanna yang menjadi istri David. Tapi toh mereka tidak akan lama, karena perceraian itu pasti terjadi. Dan Kirana tentu sedih meskipun dirinya sedih karena kehilangan Lanna tapi dia lebih sedih lagi kalau Lanna akan menyandang status sebagai janda. Mungkin lucu kalau dia punya ponakan dari Lanna dan David. Pikir Kirana.             “Capai ya?” tanya David saat gedung pernikahan mulai sepi.             Lanna hanya mengangguk. Dia mengambil es krim rasa stroberi di samping tempat duduknya dan melahap es krim yang mendinginkan suasana.             “Mau es krim?” Lanna menawari David, tanpa Lanna duga David mengiyakan.             “Ini,” Lanna menyerahkan cup es krim.             David menggeleng.                                                                “Katanya mau?”             “Suapin.” Pinta David yang membuat wajah Lanna memerah seketika. Pupilnya melebar. Dia menatap sekeliling.             “Nggak usah takut gitu, Lann. Nggak ada yang salah kalau istri nyuapin suaminya.”             Lanna menatap David masih dengan pupil melebar.             “Cepetan nanti es krimnya keburu mencair.”             Akhirnya Lanna menyuapi David dan di seberang sana Sarah yang datang mengenakan gaun dengan bahan borkat menatap adegan romantis yang sedikit kaku itu. Menyesakkan d**a rasanya melihat seseorang yang diinginkan bersanding dengan wanita lain dan mereka kini sah menjadi suami-istri. Tapi ekspresi datar Sarah selalu berhasil membuatnya terlihat baik-baik saja. Ron tanpa sengaja memandang Sarah dan tertegun. Dia tersenyum sinis.             “Udah ah, malu.” Kata Lanna yang memilih menghabiskan sendiri es krimnya.             David menggigit bibir bagian dalam untuk menahan tawa. Rasanya lucu juga melihat Lanna yang wajahnya kemerahan hanya karena David meminta dia menyuapi es krim ke mulut David. Saat itu juga David ingin sekali mencubit pipi Lanna dengan gemas. Tapi sisi menyebalkan wanita itu masih tersisa di mata David. ***             Kemarin adalah hari paling capai dalam hidup Lanna. Sekarang dia menikmati hari sebagai Nyoya di rumah megah milik orang tua David. Ya, dan David meminta agar orang tuanya mengizinkan dirinya dan Lanna pindah ke apartemen pribadi miliknya. Orang tua David menyetujui permintaan anaknya tapi kakek agaknya masih belum merelakan cucunya itu memboyong istrinya pergi dari rumah yang dibangun kakek ini.             “Kakek akan pensiun dari bisnis.” Ujarnya setelah selesai sarapan pagi. Semua mata tertuju pada kakek termasuk Ramon yang sedang menggigit buah pir.             “Aku sudah merencanakan ini setelah yakin bahwa Ramon bisa menghandle perusahaan-perusahaanku di Singapura. Aku akan tinggal di rumah ini menikmati masa tuaku. Aku udah sangat tua dan pikun.”             Semua masih diam hingga papah akhirnya berkata, “Ya, itu sudah seharusnya Ayah. Ayah sudah berusia hampir 70 tahun. Tinggalah di sini bersama kami.”             “Dan Ramon,” kakek menatap Ramon. “Urus bisnisku di Singapura. Dan semoga kamu segera menyusul David.” Harap Kakek.             “Oh, siap!” seru Ramon semangat seperti biasa.             Lanna menoleh pada Ramon. Kalau Ramon harus mengurus bisnis kakek di Singapura itu artinya Ramon akan pergi dari Indonesia dan menetap di Singapura. Tanpa sengaja Ramon melirik Lanna yang sedang menatapnya kosong.             Untuk beberapa saat mereka kembali bersitatap hingga Lanna terkesiap dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Lalu perasaan kikuk menyelubungi keduanya.             Kenapa aku begini sih? Batin Lanna. ***             Bukannya menikmati masa sebagai pengantin baru, Lanna malah pergi ke apartemen Kirana. David hari ini ada janji temu dengan klien besar dari Jepang. Tanpa peduli soal cuti, David memilih menemui kliennya dan Lanna memilih menghabiskan waktunya di apartemen Kirana.             Karena bosan di apartemen sendirian, Lanna menelpon Kirana.             “Jangan berpikrian macam-macam, Kirana. Aku dan David nggak ngapa-ngapain semalam.”             “Masa?” goda Kirana terkikik geli.             “Iya, tapi nggak tahu kalau nanti sampai terjadi.”             “Hah?”             “Eh—“ Lanna terkesiap dari ucapan asal-asalannya. “Maksudnya, nggak akan terjadilah antara aku dan David. Haha. Nggak!”             “Dasar istri durhaka!” Kirana terkikik geli di seberang sana.             “Kiranaaaa!” pekik Lanna sebal dan memilih untuk mematikan ponselnya.             Lanna terdiam beberapa saat dan tatapan mata Ramon kembali mengusiknya. Kakak iparnya itu memiliki selera humor tinggi, baik dan... manis. Tentu saja. Tapi jangan sampai Lanna jatuh cinta pada Ramon karena ini jelas di luar skenario antara dirinya dan David. Dan Ron.             “Mau roti eclaire dari Perancis?” suara seorang pria mengejutkan Lanna. Dia menoleh cepat.             Pupilnya melebar dan rahangnya terbuka. “Kak Ramon? Dari mana Kak Ramon tahu kode apartemen Kirana?” tanya Lanna agak gugup.             Ya ampun dia baru saja memikirkan Ramon dan tiba-tiba pria itu datang tanpa diduga.             “Kirana yang ngasih tahu.” Jawab Ramon jujur. Dia kembali menawarkan roti eclaire yang dibelinya dari toko roti. “Enggak seenak yang di Perancis sih tapi rasanya lumayanlah.”             Lanna menolak. “Aku masih kenyang, Kak.”             “Jadi, kamu mau bulan madu kemana sama David?” tanya Ramon duduk di sofa tanpa disuruh.             “Nggak tahu.” Jawab Lanna polos.             “Lah, memangnya kalian nggak ngobrol soal bulan madu kemana kek kemana gitu?”             Lanna nyaris saja menggeleng tapi dia segera mendapatkan jawaban kebohongan. Jangan sampai pernikahan pura-pura ini dicurigai Ramon.             “Iya sih Cuma—“             “Perancis cocok lho buat bulan madu. Tapi kalau dilihat lagi tampang David yang jutek gitu kalian mungkin cocok bulan madu di pulau-pulau tak bernama gitu.”             Dan Ramon tertawa disusul Lanna yang tertawa karena membayangkan pernyataan Ramon yang ada benarnya juga.             “Kalau aku jadi David aku ajak kamu berpetualang, Lann. Jadi, bulan madu itu bukan untuk kesenangan doang. Aku mau ajak kamu naik gunung Everest, misalnya. Atau ya kita pergi ke suatu tempat baru yang asing. Sunyi, sepi dan tanpa koneksi internet. Itu pasti akan menjadi bulan madu terenak.”             Ramon berkata seakan-akan Lanna bisa menjadi istrinya.             Lanna terdiam. Dia tidak tahu harus berkomentar apa.             “Seharusnya Kak Ramon segera menyusul David dan aku. Di luar sana banyak yang naksir Kakak. Betty juga naksir Kakak.”             “Betty?” Ramon terbahak. Penata rias prewedding Lanna itu lumayan cantik tapi untuk dijadikan istri rasanya Betty tidak cocok dengan Ramon.             “Kenapa dengan Betty?” tanya Lanna heran.             “Daripada aku dengan Betty masih mending aku sama—“ Ramon memutar bola matanya. “Kirana.”             Deg! Lanna membeku sesaat.             Apakah Ramon naksir Kirana? Lalu apa tanda dari setiap tatapan matanya kepada Lanna? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN