Pria itu berdiri tegak, menatap ke arah sekitar dengan wajah diam dan tatapan mata yang tidak percaya. Ia masih belum paham kondisi dirinya saat ini, ia .asih belum dapat menerka apa yabg terjadi secara runtun. Si lelaki sadar betul jika beberapa jam lalu ia yang terbaring setengah sadar di sudut sana, di balik tumpukan salju dan sibuk menahan darah yang keluar. Si lelaki secara nyata merasakan kematian telah mendekatinya, merasa jika kematian telah ada di hadapannya. Kini keadaan berbalik, kini ia berdiri tegak di antara gelimpangan mayat-mayat yang berserakan, seperti sampah. Si lelaki menatap pada tangannya: sebuah Assault Riffle yang entah datang dari mana, sebuah senjata yang sudah memuntahkan banyak peluru dan menghujani orang-orang di sana. Yang lelaki itu ingat hanyalah mengiyakan

