PART 8

2929 Kata
Kamu begitu kuat menyembunyikan luka. Hanya dengan tertawa, semua orang percaya kalau kamu tidak apa-apa. Tapi, aku tidak. Aku selalu merasakan luka di balik tawamu itu, Deeka. ***   Seminggu menunggu, akhirnya hasil pemeriksaan Deeka hari ini keluar. Deeka sangat gugup, takut, dan ragu untuk mendengar hasilnya. Bahkan, semalam ia tidak bisa tidur. Ia baru tidur pukul dua pagi, dan kembali bangun jam empat pagi untuk salat subuh. Saat selesai salat subuh tadi, Deeka berdoa agar dirinya baik-baik saja. Jika harus sakit, ia harap penyakitnya tidak menular dan membuat orang lain menderita.                 Deeka menuruni tangga, lagi-lagi hampir saja jatuh jika ia tidak berpegangan. Deeka melanjutkan langkahnya dengan lebih lambat, lalu menyapa seluruh keluarganya dengan ceria. Keluarganya tidak tahu, di dalam benak Deeka, ia sangat ketakutan. “Selamat pagi, Mama dan Abang-abangku sayang!”                 “Pagi, Sayang,” balas Mama sambil menerima pelukan Deeka yang hangat. “Kamu keliatan bahagia banget pagi ini, ada apa?”                 “Dia lagi jatuh cinta, Ma,” celetuk Andra, lantas mendapat jitakan dari Deeka. Kurang ajar, memang. “Eh, gue cuma berusaha menebak, Dee! Memangnya bukan karena itu?”                 “Bukan. Jangan sok tahu, Bang.” Deeka menjulurkan lidah, mengejek Andra yang menghela napas lelah. Lalu, Deeka duduk di sebelah Indra, mengambil roti tawar dan mengolesinya dengan mentega. Ia melirik Indra sedikit takut. Namun, Deeka tetap bertanya, “Hari ini hasil pemeriksaannya keluar, kan?”                 Indra mengangguk, terus memakan roti dengan ekspresi yang sulit terbaca. “Kenapa?”                 “Nggak, gue cuma… nggak sabar, Bang.” Deeka terkekeh, kemudian menggigit roti di tangannya dengan semangat. Walau ia tidak nafsu makan, tapi ia harus terlihat seperti biasanya. Tidak boleh terlihat berbeda karena Mama pasti akan langsung mengetahuinya.                 “You’ll be fine,” gumam Indra sebelum meminum kopi.                 “I hope so.”                 Hari ini, Deeka ke sekolah diantar oleh Indra. Katanya, hari ini motor Deeka mau dibawa ke bengkel oleh Indra. Lecet di motor Deeka harus dihilangkan karena sangat mengganggu mata Indra. Walau itu  motor Deeka, Indra punya kenangan cukup banyak dengan motor itu.                 Sesampainya di sekolah, Deeka membuka pintu lalu menoleh ke abangnya yang menaikan satu alis. “Bang, nanti nggak usah jemput. Gue pulang bareng Roni aja.”                 “Siapa juga yang mau jemput lo?” balas Indra mendengus. “Udah, sana belajar yang benar. Nanti malam gue kasih tahu hasil pemeriksaannya. Sore nanti lo ada ekskul futsal, ‘kan? Lo nggak bisa ikut gue ke rumah sakit.”                 “Oke, Bang.”                 Setelah Deeka turun dari mobil, terlihat berlari memasuki gerbang—Indra hanya bisa tersenyum miris. Sejujurnya, Indra sangat gugup. Sore nanti, ia harus ke rumah sakit untuk mendengar hasil pemeriksaan Deeka. Akan seperti apa hasilnya? Sebenarnya apa penyakit yang adik bungsunya itu derita?   ***   Jam sepuluh pagi, ketika bel istrahat berbunyi, Deeka meminta izin pulang pada guru piket. Ia beralasan tidak enak badan. Akting Deeka yang cukup baik dan mengingat betapa sering Deeka pingsan saat upacara, sehingga ia berhasil meyakinkan guru piket. Setelah mengucapkan terima kasih, Deeka berjalan ke kelas untuk mengambil tas. Roni tentu saja menatapnya penuh tanya. Namun, Deeka hanya tertawa dan berkata ada urusan keluarga.                 Saat Deeka hampir melewati meja Nara, cewek itu tiba-tiba menahannya. “Lo mau ke mana? Kenapa pulang duluan?” tanya Nara cukup datar.                 “Gue ada urusan,” jawab Deeka tertawa. “Kenapa? Lo takut kesepian kalau gue pulang, ya?”                 Nara menggeleng. “Gue cuma curiga, lo pulang duluan karena pengin tidur. Astaga, mata lo kenapa hari ini kayak panda?”                 “Begadang nonton bola, Ra. Namanya juga cowok. Udah, ah. Gue pulang, ya!” Deeka mengacak rambut Nara sebelum ia berlari kabur.                 Nara tidak bodoh. Ia tahu Deeka menyembunyikan sesuatu, dan kata-kata Deeka tadi adalah kebohongan. Terlihat jelas dari tawa cowok itu yang terdengar tidak setulus biasanya. Satu kata; mencurigakan.                 Deeka terus berlari, menunjukkan surat dari guru piket pada satpam agar membukakan gerbang untuk dirinya. Deeka langsung memberhentikan taksi, lalu memberitahu tempat tujuannya; rumah sakit. Iya, Deeka mau ke rumah sakit untuk mendahului Bang Indra. Perasaan Deeka sungguh tidak enak, karena tadi pagi ia muntah-muntah. Untung saja tidak ada yang melihat dan ia buru-buru masuk ke toilet. Deeka jadi berpikir keras karena dirinya memang merasa jarang muntah-muntah seperti hari ini.Ditambah lagi kepalanya terasa sangat pusing—rasanya menyakitkan.Ia jadi semakin curiga tentang penyakitnya bukanlah penyakit yang ringan. Oleh karena itu,Deeka ingin mendengar hasil pemeriksaan lebih cepat, dan melakukan satu hal yang mungkin akan membuat Indra lebih tenang.                 Setelah membayar taksi yang mengantar Deeka ke rumah sakit, ia berlari memasuki rumah sakit. Tidak peduli badannya berkali-kali terhuyung dan hampir jatuh—ia harus cepat sampai dan bertemu Dokter. Ketika menemukan ruangan Dokter Hermawan, Deeka mengetuk pintu beberapa kali, kemudian masuk setelah menerima jawaban dari dalam. Napas Deeka terengah, ia menyeka keringat di dahinya, lalu duduk di hadapan Dokter Hermawan.                 “Kenapa kamu datang lebih cepat? Saya kira, Abang kamu yang akan datang hari ini. Kamu bukannya harus sekolah?” tanya Dokter Hermawan cukup heran.                 Deeka memejamkan mata sejenak, lalu menaruh kedua tangannya di atas meja. “Dok, saya ingin tahu soal penyakit saya sekarang. Saya mohon, biarkan saya tahu lebih dulu walau tidak didampingi Abang ataupun keluarga saya. Sebenarnya, saya merasa takut selama menunggu hasil pemeriksaan hari ini. Saya sakit apa? Saya ingin tahu, walau saya yakin penyakit saya bukanlah penyakit yang ringan. Gejala-gejala yang saya alami, itu sedikit aneh, Dok. Jadi, tolong, izinkan saya tahu soal penyakit saya sekarang juga. Keluarga saya bisa menunggu, tapi, saya tidak.”                 “Kamu yakin? Apa Abang kamu tidak akan marah?”                 “Tidak, dia sangat baik hati, Dok.Kalau dia marah, biar saya yang tanggung jawab.”                 “Tapi, hasil pemeriksaan ini seharusnya diketahui juga oleh salah satu anggota keluarga. Tidak bisa hanya pasien seorang diri karena kamu belum cukup dewasa.”                 “Saya cukup dewasa untuk menerima kenyataan, kok. Sikap Dokter membuat saya semakin curiga. Apa penyakit saya separah itu? Saya mohon, saya hanya ingin mengetahuinya lebih dulu daripada Abang saya. Apa itu salah?”                 Dokter Hermawan terlihat bimbang, dengan perasaan ragu-ragu, akhirnya sang Dokter menuruti perkataan Deeka. Dokter Hermawan mengangguk pelan, memberikan map hasil pemeriksaan Deeka tempo hari. Mengingat ayah Deeka adalah sahabatnya membuat ia merasa tidak enak menolak permintaan Deeka. Apalagi setelah melihat tatapan Deeka yang putus asa. Semoga keputusannya kali ini tidak membuatnya menyesal.  “Sebelumnya, saya mau kamu kuat. Jangan menyerah, kami akan membantu kamu semaksimal mungkin, Deeka.” Kata-kata Dokter Hermawan malah membuat Deeka semakin takut. Perlahan, ia membuka map itu dan melihat gambar hasil pemeriksaan otaknya dan data-data yang Dokter tuliskan di sana. Deeka mengernyit, napasnya terasa tercekat. “Acquaired Ataxia? Penyakit macam apa itu, Dok?” “Gejala yang kamu alami sangat persis dengan penderita acquaire ataxia, atau Ataksia Akuisita. Setelah kita melakukan pemeriksaan lebih lanjut, ternyata penyebab gejala ataksia yang kamu alami adalah karena trauma dan ada tumor di otak kecil kamu. Itulah yang membuat sistem koordinasi gerak kamu lumayan terganggu. Karena tumor ada di bagian otak kecil, kamu akan mengalami kecacatan secara perlahan, tergantung dengan seberapa ganas tumor itu. Kamu akan kesulitan berjalan, menulis, membaca, bahkan… berbicara.”                 Deeka sempat membeku di tempatnya setelah mendengar penjelasan Dokter. Semua pertanyaan yang menghantuinya beberapa bulan ini akhirnya terjawab. Namun, bukannya lega, Deeka malah merasa terluka. “Lalu… bagaimana cara mengobatinya, Dok?”                 Dokter Hermawan terlihat menghela napas cukup berat. “Satu-satunya jalan adalah melakukan operasi. Tumor itu harus diangkat, sebelum berkembang semakin ganas.”                 “Apa setelah operasi, saya akan sembuh total?” tanya Deeka menahan cairan bening di pelupuk matanya. “Apa hanya itu cara untuk sembuh? Kenapa terdengar sangat menakutkan, Dok? Umur saya baru enam belas tahun.”                 “Deeka, saya mengerti. Untuk melakukan operasi memang butuh keberanian yang luar biasa. Wajar jika kamu takut. Tapi, pikirkan kesehatan kamu. Tidak ada cara lain, selain operasi. Walau setelah operasi, saya tidak bisa menjamin kamu bisa sembuh seratus persen karenasampai saat ini, para peneliti memang belum bisa menemukan pengobatan yang efektif sehingga menyebabkan kesulitan dalam proses penyembuhannya. Di sini, kami para Dokter akan membantumu semaksimal mungkin.” Dokter Hermawan memandang Deeka prihatin. Deeka benci tatapan semacam itu.                 Tangan Deeka gemetar, ia mengepalkan tangannya sekuat tenaga. “Oh, jadi begitu.” Deeka menarik napas sejenak. “Jadi, kesimpulannya, saya mustahil untuk sembuh walau tumornya sudah diangkat? Kalau seperti itu, saya menolak untuk operasi. Saya belum siap dan saya perlu memikirkannya matang-matang, bukan?”                 “Deeka, saya tahu kamu kaget mendengar informasi ini. Tapi, jangan menyerah. Tuhan maha adil, Tuhan tidak mungkin memberi cobaan di luar batas kemampuan umatnya. Kamu harus tetap semangat. Pikirkan lagi soal operasi. Itu satu-satunya cara--                 “Iya, saya tahu, akan saya pikirkan soal operasi. Beri saya waktu.” ucap Deeka lirih. Ia menggigit bibirnyahingga hampir berdarah. Kemudian. ia kembali memandang Dokter Hermawan dengan lurus. “Boleh saya minta satu permintaan?”                 “Tentu.”                 “Rahasiakan penyakit saya dari Abang saya. Tolong, bilang ke dia kalau saya baik-baik saja, tanpa penyakit apa pun. Saya mohon….”                 “Deeka, saya tidak bisa melakukan itu—”                 “Saya mohon, Dokter. Saya belum siap membuat keluarga saya bersedih. Beri saya waktu, biar saya yang akan memberitahu mereka nanti.”                 Dengan berat hati, melihat perasaan Deeka yang terlihat kacau, Dokter Hermawan merasakasihan. Akhirnya, Dokter Hermawan mengangguk. “Saya akan memberikanmu waktu untuk memberi tahu keluargamu. Tapi, jangan terlalu lama. Beritahu mereka secepatnya, sebelum penyakit kamu semakin parah, Nak.”                 Deeka hanya mengangguk lemah sebagai jawaban.   ***   Setelah dari rumah sakit, Deeka berjalan tidak tentu arah. Ia bahkan bingung harus ke mana setelah ini. Apa ia kembali ke sekolah saja? Astaga, itu tidak lucu. Kebohongan apa lagi yang harus ia bilang ke guru piket, Roni, dan Nara?                 Akhirnya, Deeka memilih beristirahat di kursi taman favoritnya. Ia berbaring, memejamkan mata sejenak sambil merasakan hangatnya sinar matahari menerpa wajah dan tubuhnya. ia melepas jaket hijau tuanya dan menutupi wajahnya karena merasa silau.Gelapdantenang. Itu yang Deeka rasakan saat wajahnya tertutup jaket. Apakah kematian akan seperti itu? Deeka tidak mengerti, bahkan jarang memikirkan hal itu. Namun, mulai detik ini, mungkin Deeka akan lebih sering memikirkannya.                 Deeka tanpa sadar sudah direngkuh ke dunia mimpi karena dirinya kelelahan dan kurang tidur. Ia bermimpi sangat indah, sampai membuatnya tidak sadar telah tidur selama berjam-jam. Untung saja ada seseorang yang mengambil jaket yang menutupi wajah Deeka, lalu mengguncang badan Deeka cukup keras. Mata Deeka kembali terbuka, melihat langit yang kini berwarna jingga. Ternyata Deeka sudah tidur lama sekali. Kemudian, ia melirik seseorang yang berdiri sambil melipat kedua tangan. Dari ekspresinya, Deeka yakin kalau orang itu sedang kesal.                 “Hey, Ron,” sapa Deeka sambil berusaha bangkit untuk duduk. “Udah lama kita nggak ketemu, ya?”                 “Kata lo, tadi lo ada urusan keluarga. Terus? Kenapa gue bisa nemuin lo tidur di sini kayak gelandangan, hah?” tanya Roni berusaha untuk tidak memukul kepala sahabatnya.                 Deeka menelan salivanya. “Iya, gue sebenernya bolos. Lagian gue ngantuk banget karena semalem begadang nonton bola. Please, jangan laporin gue ke nyokap gue, ya?”                 Roni mengembuskan napas gusar, lalu duduk di sebelah Deeka. “Oke, gue akan laporin ke Bang Indra aja.”                 “Ron!” Deeka melotot. “Bang Indra lebih galak dari nyokap gue, kok lo tega banget sama gue?!”                 “Iya, iya. Rahasia lo aman.” Roni memutar bola matanya. Ia tadi hanya bercanda. Ia tidak akantega melaporkan sahabat baiknya yang terkadang bertingkah seenaknya itu.                 “Ron, gue boleh nebeng? Gue nggak bawa motor.”                 “Ayo, tapi lo harus traktir gue makan.”                 Deeka tertawa, mengangguk lalu merangkul sahabat baiknya itu. Sebelum pulang, mereka mampir di restoran cepat saji, memakan burger dan makanan tidak sehat lainnya. Deeka merasa sangat lapar karena terakhir ia makan pada saat sarapan.  Selesai makan, Roni kembali mengantar Deeka pulang.                 “Thanks, Bro.” Deeka memeluk Roni singkat setelah ia turun dari motor. “Lo memang sahabat terbaik gue. Pokoknya, gue beruntung punya sahabat kayak lo.”                 Roni merasa merinding mendengar kata-kata Deeka yang tiba-tiba terdengar menggelikan. “Ngomong apa, sih, lo? Buruan masuk sana! Jangan bikin gue makin geli!”                 Deeka tertawa, melambaikan tangan ketika motor Roni berlalu pergi. Dalam benak Deeka, ia penasaran tentang reaksi Roni jika mengetahui penyakit yang ia derita. Akankah Roni menangis? Memeluk Deeka, mungkin? Ah, tapi, Deeka tidak tahu ia sanggup atau tidak memberitahu sahabatnya itu. Ketika Deeka memasuki rumah, ia mendengar suara Mama yang terdengar begitu bahagia. Membuat batin Deeka meringis bersalah.                 “Deeka sehat seratus persen, Ndra? Alhamdulillah….”                 Deeka berjalan mendekati Mama yang sedang menggenggam telepon rumah. Mama langsung menutup telepon dengan buru-buru, menghambur memeluk Deeka. “Kamu sehat, sayang. Syukurlah dugaan Abang kamu salah. Mama dari tadi cemas menunggu hasilnya.”                 Deeka berusaha terkekeh. “Iya, Ma! Lihat, kan? Udah Deeka bilang dari awal, Deeka baik-baik aja!”                 “Iya, Mama harus ngasih tahu Papa, nih! Oh, iya. Kamu udah makan? Kenapa baru pulang?”                 “Tadi Deeka habis belajar bareng Roni. Udah makan, kok,” jawab Deeka, “Deeka mau ke kamar aja. Capek, Ma.”                 “Oke, sayang.”                 Di kamar, Deeka mengempaskan tubuhnya ke ranjang sambil mengembuskan napas. Ia harap, ini semua hanya mimpi buruk. Ia tidak sakit, ‘kan? Saat ia terbangun… ia akan baik-baik saja, bukan?   ***   Makan malam Deeka dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang sangat ia rindukan. Sudah lebih dari tiga bulan ia tidak bertemu dengan Papa. Pria itu memang sangat sibuk dengan kantor penerbitannya, hingga pulang pun hanya satu kali dalam sebulan. Namun tiga bulan yang lalu, Papa Deeka memang ada kesibukan berkeliling kota untuk menemui rekan bisnis dan penulis yang berkerjasama dengannya. Ada satu penulis terkenal yang lumayan dekat dengan Papa yang mengajak pria itu liburan, hingga harus meninggalkan keluarga. Papa Deeka memang sulit menolak ajakan untuk travelling karena papanyasangat mencintai alam. Memang berbanding terbalik dengan pekerjaannya, maka dari itu, ia sangat mengambil kesempatan emas untuk travelling bersama teman baiknya. Membuat Deeka sedikit kecewa, sebenarnya.                 Papa membawakan bakpia untuk Deeka, dan beberapa oleh-oleh untuk yang lain. Andra bahkan mengernyit mendapatkan oleh-oleh dari papanya. Buku? Sejak kapan Andra suka membaca buku? Andra curiga, Papa memberikan buku itu karena buku tersebut tidak laku.                 “Buku Panduan untuk Menjadi Playboy Sejati? Pa, Andra udah berhenti.” Andra mendengus tidak terima menaruh buku itu di meja, yang otomatis langsung diambil oleh Deeka.                 “Buat gue aja, ya, Bang?” tanya Deeka polos, membaca blurb belakang buku tersebut.                 Indra dengan cepat merebut buku itu, mengembalikannya pada Papa. “Pa, ngapain bawa buku begini pulang? Kalau Deeka baca, otaknya bisa tercemar.”                 Papa yang diomeli oleh putra pertamanya itu hanya bisa meringis, memasukkan buku tersebut ke dalam tas. “Maaf, Papa dikasih teman. Kirain Papa, Andra mau kembali menjadi playboy—” Papa menarik napas sejenak, “serius, Papa lebih suka Andra jadi playboy, daripada jadi jomlo dan pengangguran begini. Bikin sakit mata Papa aja, sih, An!”                 “Astaga, Deeka juga jomlo! Tapi, kenapa dia nggak diomelin, Pa? Nggak adil!”                 Merasa terpanggil, Deeka menyugar rambutnya dengan gaya sombong. “Astaga, Bang Andra. Lo meragukan kegantengan gue.”                 “Hey, siapa pacar lo? Nara? Jangan mimpi, dia pasti lebih milih cowok yang lebih waras, Dee!”                 “Sok tahu! Dia walau keliatan polos, tipenya itu ya… yang ganteng menggemaskan kayak gue, Bang!”                 “Ngarang banget bocah,” cibir Andra mengunyah bakpia milik Deeka.                 Suara batuk seorang wanita menghentikan perdebatan kakak beradik itu. “Nara? Siapa itu Nara? Ada yang mau kasih tahu Mama?”                 Deeka tersedak bakpia ketika mendengar pertanyaan Mama yang tersirat penasaran luar biasa. Habislah riwayat Deeka. “Aduh, Deeka ngantuk, Ma!”                 “Heh, jangan kabur. Cepat jawab pertanyaan Mama.” Andra mendelik ke arah Deeka yang bangkit berdiri. “Duduk.”                 Deeka pasrah, ia kembali duduk, memandang Mama dengan matanya yang berbinar. “Nara itu cuma teman sekelas Deeka. Mama nggak perlu khawatir, Mama tetap wanita nomor satu di hati Deeka. I swear!” seru Deeka mengacungkan jari tengah dan telunjuknya.                 Melihat tingkah dan ucapan putra bungsu mereka yang dramatis, Mama dan Papa tentu saja hanya tertawa. Papa bahkan malah memberikan potongan ayam dan daging untuk Deeka agar putra kesayangannya itu sehat. “Makan, makan. Kamu kayaknya makin kurus aja.”                 “Nggak tahu, nih. Padahal makan Deeka udah banyak, Pa!”                 “Berarti mulai sekarang, harus lebih banyak lagi. Ayo, apa mau Papa suapi?”                 “Nggak, ah. Entar Bang Andra dan Bang Indra cemburu.”                 Indra dan Andra jelas langsung memelotot. Cemburu, kata Deeka? Jujur saja, mereka bahkan tidak tahan melihat kemesraan Papa dan anak yang selalu bertingkah berlebihan jika sudah bersama. Indra tidak iri, apalagi cemburu. Umurnya sudah dua puluh enam tahun, cukup dewasa, bahkan bersyukur karena Papa tidak memperlakukannya seperti Deeka. Sedangkan Andra, ia juga tidak jauh berbeda dengan Indra. Ia bahkan lupa, kapan terakhir kalinya memeluk Papa. Ia malu memeluk Papa, ada ego yang besar hingga ia berinteraksi sewajarnya saja dengan Papa yang terbilang humoris itu. Jadi, mereka dengan senang hati membiarkan Deeka mendapat kasih sayang yang begitu banyak dari Papa. Silakan saja, mereka tidak akan iri.                 Setelah makanannya habis, Deeka menguap cukup lebar, bahkan mulutnya sampai ditutup Andra karena katanya bisa mencemari udara. “Sana tidur, besok sekolah, kan?”                 “Hari Sabtu tuh libur, Bang. Nggak pernah sekolah, ya? Lahir-lahir langsung skripsi gitu?”                 Andra sungguh ingin mengumpat, tapi adik kecilnya yang menyebalkan itu sudah kabur menaiki tangga menuju kamar. Setelah Deeka pergi, ia melirik Indra yang terlihat melamun, mengaduk makanannya dengan garpu. Ada yang tidak beres dengan abangnya. Andra dilanda ingin tahu yang begitu besar. “Bang Indra mikirin apa? Makanannya kok nggak dimakan?”                 Indra sedikit tersentak, sebelum kembali memasang wajah dinginnya lagi. “Nggak, ini gue makan, kok.”                 Bagaimana Indra bisa makan, jika pikirannya terasa begitu kalut? Ia harus pura-pura dan membohongi keluarganya soal kondisi Deeka. Ia harus berkata ‘Deeka sangat sehat’ di saat ia tahu kalau kondisi Deeka adalah sebaliknya.  Dokter Hermawan sudah menceritakan kelakuan Deeka sebelum Indra datang. Jujur, Indra terkejut. Ia tidak menyangka adiknya menyuruh seorang dokter berbohong tentang penyakitnya. Berani sekali. Atau mungkin, Deeka merasa sangat takut akan membuat keluarganya sedih, hingga ia senekad itu. Indra mengerti. Namun, jika dalam tiga hari Deeka belum juga jujur tentang penyakitnya, Indra yang akan memberitahu keluarganya. Ia tidak akan berpihak pada adiknya lagi.                 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN