Dulu, aku selalu berusaha untuk tidak jatuh cinta.
Namun, sekeras apa pun aku berusaha, akhirnya aku kalah juga.
***
Nara masih memakai piyama bergambar beruangnya ketika Sandra datang mengetuk pintu, menyodorkan poster band yang tidak terlalu Nara kenal. Nara tidak bersemangat memandang poster itu. Sampai akhirnya,saat Sandra menyebutkan nama Deeka, Nara barulah memeluk poster itu dan berkata ia akan bersiap-siap. Aneh sekali, Nara mengakuinya. Ia merasa begitu semangat hanya karena mendengar nama cowokmenyebalkan itu. Nara memang mulai sadar Deeka sudah sangat menarik perhatiannya. Namun, Nara masih terlalu takut memberitahu perasaannya kepada siapa pun. Termasuk pada Sandra; sahabat satu-satunya.
Sandra sudah sering sekali memancing Nara mengaku menyukai Deeka, tapi gadis itu sangat pintar berpura-pura kesal dan malah memarahi Sandra karena sudah menuduhnya. Nara memang sangat berhati-hati agar perasaannya tidak tercium ke permukaan. Jangankan Deeka, Sandra pun tidak boleh tahu. Nara sudah bisa membayangkan apa yang bisa sahabat baiknya itu lakukan, misalnya berteriak heboh di kelas, mungkin. Atau bahkan Sandra akan memasang pengumuman di mading bahwa Nara menyukai Deeka. Astaga, Nara memang senang sekali memikirkan hal yang terburuk terjadi. Padahal, belum tentu Sandra akan seperti itu. Seorang sahabat pasti mau menjaga rahasia sahabatnya. Namun, tetap saja Nara ragu. Prinsip Nara, lebih baik berjaga-jaga.
Nara mandi kurang lebih sepuluh menit, lalu bersiap-siap dengan mengenakan dress selutut berwarna peach—hadiah dari ayahnya. Nara sangat ingat, dulu ayahnya selalu memuji Nara cantik setiap memakai dress itu. Sekarang, setiap ia mengenakan dress pemberian ayahnya, Nara selalu merasa ayahnya berada sangat dekat dengannya. Memujinya seperti biasa, tapi Nara tidak bisa mendengarnya. Setelah memilih pakaian, ia tidak lupa sedikit memoles wajahnya yang pucat karena semalam ia belajar hingga sangat larut. Semalam, Nara terlalu bosan hingga memutuskan untuk belajar saja.Nara yang sudah rapi memutar tubuhnya di hadapan Sandra, memamerkan penampilannya hari ini yang cukup manis.
“Gimana? Gimana?” tanyanya.
“Cantik, lah. Deeka pasti terpesona!”
Nara menekuk wajahnya, menutupi wajahnya yang terasa panas. “Apa, sih? Kok jadi Deeka? Memangnya tuh cowok beneran dateng ke konser band itu?”
Sandra mengangguk yakin. “Ini band favorit Roni, jadi, Deeka pasti diajak. Berhubung mereka berdua bagaikan sepasang roda motor.”
“Malik and d’essentials? Apa Deeka juga suka? Atau, hanya Roni?”
“Nggak tahu, deh. Gue cuma tahu kesukaannya Roni, bukan Deeka, duh.” Sandra tertawa jail, merangkul sahabatnya yang masih saja malu mengakui perasaannya.
Nara mendengus, kemudian melepas rangkulan Sandra tiba-tiba. Ia teringat, ia harus memberi makan Simba dulu sebelum pergi. Ia memanggil kucing gembulnya itu, memberikan ikan dan semangkuk s**u agar kucingnya selalu sehat. Setelah menyelesaikan kewajibannya, ia mengelus bulu kucingnya dengan lembut kemudian menoleh ke Sandra. “Ini kucing dari Deeka, namanya Simba.”
“Hmm, dia tahu dari mana lo suka kucing?” tanya Sandra menyipit.
“Hah? Bukannya… dari lo, San?”
Sandra sedikit terbahak. “Dia cuma pernah nanya alamat lo ke gue. Soal kucing, dia nggak nanya ke gue, tuh.”
Nara mengernyit bingung. Bagaimana bisa Deeka mengetahui hewan kesukaan Nara? Seingatnya, Nara tidak pernah cerita apa-apa soal itu ke Deeka. Ia juga jarang berinteraksi dengan kucing di sekolah. Seingat Nara, hanya saat… hari pertama MOS? Nara menggeleng cepat, tidak mungkin Deeka melihatnya saat mengobrol dengan kucing waktu itu. Nara yakin, ia saat itu hanya sendirian di lapangan. Tidak ada Deeka. Andai pun ada, Nara pasti akan mendengar suara tawa cowok itu karena mentertawakan Nara yang bicara dengan kucing. Deeka kan menyebalkan!
“Mikir apa, sih? Ayo, berangkat!” Sandra menarik tangan Nara yang ternyata bau ikan. “Ih! Cuci tangan dulu sana!”
Nara tertawa puas. “Lo juga kayaknya harus cuci tangan, deh.”
“Ah, sial. Lo bener juga!”
***
Deeka dan Roni menempati barisan paling depan. Mereka tidak mau kehilangan kesempatan melihat band favorit mereka dari dekat. Deeka bahkan sudah memegang kamera untuk memotret dan merekam pertunjukan band kesukaannya sejak… kapan, ya? Deeka tidak terlalu ingat, yang pasti, saat itu ia sudah mengenal Roni. Iya, ia menyukai band itu karena sering diseret Roni untuk menonton mini konser band tersebut. Di tengah hiruk-pikuk, pendengaran Deeka sempat hening beberapa saat, berdengung hingga ia harus memegang kepalanya. Deeka berpikir ia hanya kelelahan karena belajar hingga larut. Mungkin hal itu cukup mengejutkan bagi siapa pun yang mendengarnya, tapi Deeka serius. Ia sangat ingin memperbaiki nilainya. Ia tidak ingin malas lagi dan membuang-buang waktunya yang berharga.
Setelah pendengarannya kembali normal, ia menoleh ke Roni yang bertanya, “Menurut lo gimana, Dee?”
Deeka berkedip dua kali. “Gimana? Gimana apanya, Ron?”
“Bagus, lo nggak dengerin omongan dari mulut gue yang hampir berbusa.” Roni berdecak tidak senang. Siapa pula orang yang senang diabaikan?
Deeka terkekeh hambar, menepuk bahu Roni beberapa kali. “Sorry, bisa diulang? Tadi gue terlalu fokus mengagumi panggung yang terlihat elegan.”
Roni mengembuskan napas dengan berat. “Singkatnya, gue nanya soal reaksi lo kalau Nara dateng juga ke konser ini. Gimana?”
“NARA datang ke sini? Serius?” mata Deeka nyaris keluar, saking terkejutnya.
“Nggak, misalnya aja.”
Deeka meninju lengan Roni cukup keras, ia mengira Nara akan benar-benar datang. Ia bisa kaget sekali jika bertemu gadis manis tersebut hari ini. Karena sebenarnya, Deeka hari ini hanya memakai kaus hitam, celana denim robek-robek, dan sepatu kanvas yang lumayan dekil. Penampilan Deeka jauh dari kata rapi. Deeka sedikit malu bertemu Nara dalam kondisi berantakan. Setidaknya, jangan saat Deeka memakai celana yang robek-robek. Nara bisa-bisa mengira Deeka anak metal. Padahal sudah jelas, Deeka itu anak Mama dan Papa.
“Ron!”
Roni menoleh, mendapati Sandra yang benar-benar membawa Nara bersamanya. Sesuai rencana. Tidak sia-sia ia membalas puluhan chat Sandra semalam. “Hey, di sini!” Roni mengangkat satu tangannya, membalas panggilan Sandra. Ia lalu menyikut lengan Deeka cukup keras. “Lihat siapa yang dateng, tuh.”
Deeka menolehkan kepalanya, mata cowok itu reflek melebar ketika melihat cewek yang ia suka sedang berjalan menghampirinya. “Mampus, gue lagi pakai celana gembel begini, Ron.”
“Lo tetap keren, kok.” Roni mengacungkan satu jempolnya sambil menahan geli.
“Ini semua salah lo. Lo yang suruh gue biar pakai pakaian yang santai aja!”
“Lah? Memangnya kenapa? Lo tetap keren, sumpah.”
“Lo lagi nggak pakai kacamata, Ron. Gue nggak yakin sama penilaian lo saat ini.”
Beberapa detik kemudian, Nara dan Sandra sudah ada di sebelah Deeka, menyapa cowok itu dengan hangat. Jauh berbeda dengan penampilan Deeka yang terlewat santai, Nara hari ini tampil sederhana, tapi sangat anggun. Sangat pas, membuat Deeka tidak berkedip beberapa detik.
Tanpa Deeka sadari, Nara juga memperhatikan penampilan Deeka hari ini. Sangat santai, tapi herannya, Deeka masih tetap terlihat keren dan memesona. Celana robek-robek yang Deeka pakai bahkan membuat Nara tersenyum tidak jelas. Entah, Nara merasa salah kostum hari ini. Seharusnya, Narabisa memakai pakaian yang lebih santai. Sandra tidak memberitahunya, sih.
“Lo cantik.”
“Lo keren.”
Deeka dan Nara sama-sama tertawa setelah mengucapkan satu pujian yang bersamaan dalam satu waktu.
“Tumben banget lo muji gue,” ejek Deeka membuat pipi Nara sedikit merona.
“Sorry, khilaf. Kalau lo?” balas Nara menahan gugup.
“Nggak, gue nggak khilaf. Cuma… pujian gue nggak gratis.”
Nara memiringkan kapalanya, menatap Deeka geli. “Bayar? Ah, tarik aja pujian lo kalau gitu.”
“Bayar pakai nonton film minggu depan, gimana? Maksud gue, gue yang bayarin lo nonton. Lo cuma perlu—” Deeka bingung mencari kata-kata yang tepat. Ia menggaruk belakang kepalanya dengan canggung.
“Sandra sama Roni ikut?”
Sandra dan Roni yang diam-diam menguping, hanya bisa menahan tawa. Nara benar-benar tidak mengerti maksud Deeka yang sebenarnya. Sangat tidak peka.
Deeka meringis. Apa? Kenapa Nara mengira, ia akan mengajak dua orang itu juga? Tidak jadi romantis, dong! Tapi, Deeka terlalu malu untuk menggeleng. “I-iya, mereka ikut. Ha-ha.”
“Oke, gue mau. Pasti seru!”
“Wih, asyik ditraktir nonton sama Deeka,” sahut Sandra dengan senyum mengejeknya ke arahDeeka.
“Kapan lagi coba Deeka mau traktir gue nonton? Ini rasanya kayak keajaiban. Terima kasih, Dee!” Roni ikut mengejek, merangkul Deeka sambil tersenyum geli.
Deeka berusaha tertawa hambar, lalu band yang ia tunggu-tunggu akhirnya muncul. Deeka langsung mengarahkan kameranya untuk memotret. Satu kali, dua kali, pandangan lensa mulai mengabur. Oh, bukan lensa kameranya. Namun, pandangan mata Deeka yang mengabur. Deeka menurunkan kamera yang tergantung di lehernya, berusaha menikmati lagu kesukaannya yang mulai mengalun merdu, walau pandangannya mengabur beberapa kali.
Ketika… kurasakan sudah
Ada ruang di hatiku yang kau sentuh
Dan ketika… kusadari sudah
Tak selalu indah cinta yang ada
Mungkin memang ku yang harus mengerti
Bilaku… bukan yang ingin kau miliki
Salahkah kubila… kaulah yang ada di hatiku
Adakah ku singgah di hatimu
Mungkinkah kau rindukan adaku
Adakah ku sedikit di hatimu?
Bilakah ku mengganggu harimu
Mungkinkah kau tak inginkan adaku
Akankah ku sedikit di hatimu….
Nara sedikit menegang di tempatnya ketika jemari Deeka tidak sengaja menyentuh tangannya beberapa kali. Suara cowok itu juga terdengar cukup merdu bernyanyi di sebelah Nara. Nara sedikit menunduk menatap sepatunya, tapi langsung terangkat lagi ketika tangan Deeka benar-benar menggenggamnya erat. Wajah cowok itu masih begitu tenang, bahkan bernyanyi sambil terkekeh pelan. Deeka berhasil membuat jantung Nara meletup-letup seperti kembang api.
Di sisi lain, Deeka sadar betul tangan kurang ajarnya sudah menggenggam tangan Nara. Namun, Deeka terpaksa. Kepalanya berdenyut semakin keras, hingga kaki dan tubuhnya terasa sangat lemas. Ia takut sekali terjatuh. Jika memang ia harus jatuh, ia harap Nara tidak akan membiarkannya. Ia terus menggenggam tangan kecil Nara dengan erat, keringat dingin mulai membasahi pelipis dan telapak tangannya. “Gue suka banget… lagu ini, Ra.”
“I-iya, lagunya memang bagus—”
Brukk
Mata Nara melebar ketika Deeka tiba-tiba jatuh terhuyung ke depan hingga menghantam lantai yang dingin. Ada cairan merah berwarna pekat saat Nara menghampiri dan memeriksa kepala Deeka. Napas Nara tercekat, ia sangat panik melihat darah sebanyak itu. Nara, Roni, dan Sandra otomatis berteriak memanggil nama Deeka. Nara memangku kepala Deeka. Deeka masih sadar, ia meringis kesakitan. Konser yang harusnya meriah, mendadak menjadi hening. Semua orang terkejut.
“Siapa pun, panggil ambulans!” teriak Nara frustrasi, tubuhnya bergetar hebat melihat darah yang ada di pelipis Deeka. Tidak seharusnya tadi ia melepas genggaman tangan Deeka.
***
Ketika mata Deeka terbuka, ia mendesah lemah ketika menyadari dirinya sedang berada di rumah sakit. Matanya melirik ke pintu yang tertutup. Tidak ada siapa pun di ruang rawatnya. Deeka berusaha duduk, lalu memegangi kepalanya yang diperban. Ia memejamkan mata sejenak ketika kepalanya kembali berdenyut, membuatnya pusing. Benturan tadi sepertinya sangat keras. Astaga, ia tidak bisa menopang tubuhnya saat terjatuh tadi. Memalukan sekali. Semua orang pasti panik dan berpikir Deeka sangat aneh.
Namun, Deeka yakin, keluarganya pasti yang paling panik ketika tahu dirinya masuk rumah sakit. Apalagi alasannya… karena terjatuh lagi. Mungkin, Mama dan Papa akan bosan mendengarnya. Andra akan menghela napas panjang, sedangkan Indra akan memelotot menahan kesal. Deeka berdecak, memandang tangannya yang tadi menggenggam tangan Nara. Seandainya genggamannya tidak terlepas, mungkin ia tidak akan jatuh.
Pintu ruang rawatnya terbuka, Dokter Hermawan masuk dan tersenyum hangat. “Akhirnya kamu sadar. Bagaimana rasanya tidur sehari penuh?”
“Hah?” Mata Deeka rasanya hampir keluar. “Satu hari? Kok bisa?!”
“Kamu kurang istirahat, lalu terbentur cukup keras. Badan kamu pasti sangat lelah.. Itu wajar.” Dokter Hermawan menarik kursi dan duduk di dekat ranjang rawat Deeka. “Kemarin teman-teman kamu menangis saat membawa kamu ke rumah sakit. Kamu beruntung memiliki teman seperti mereka.”
Deeka mengangguk, termenung sejenak. “Hari ini… mereka belum dateng, Dok? Keluarga saya gimana?”
“Belum. Kalau keluarga kamu, mereka akan datang sebentar lagi. Tadi mereka pulang karena mau istirahat. Mereka nggak bisa tidur jagain kamu semalam.”
Deeka jadi merasa bersalah. Ia begitu merepotkan keluarganya. “Dok, apa keluarga saya belum tahu soal penyakit saya?”
“Maaf, mereka sudah tahu.”
Deg.
“Dok! Kenapa?! Dokter sudah janji—”
“Saya hanya melakukan tugas sebagai Dokter. Mereka berhak tahu, Deeka. Lagipula, Indra sudah saya beritahu lebih dulu. Dia juga berkata akan memberi kamu waktu untuk jujur. Namun, lihat? Keadaan kamu semakin memburuk. Kita tidak punya pilihan lain.”
Deeka kembali berbaring, menarik selimutnya. Ia sungguh kesal, sekaligus takut. Ia tidak siap melihat ekspresi keluarganya nanti. “Saya mau sendiri, Dok.”
Dokter Hermawan pergi setelah mengusap kepala Deeka. Ia sudah sering menangani pasien yang keras kepala seperti Deeka. Bahkan banyak yang lebih parah.
Deeka menatap langit-langit ruangan dengan tatapan kosong. Matanya berair, ia menggigit bibirnya untuk menahan isak tangis. Ia tidak mengerti, mengapa ia harus menderita penyakit semengerikan itu.Namun, yang paling menyedihkan, bagaimana ia harus menghadapi keluarganya tanpa merasa bersalah? Ia merasa bersalah karena tidak jujur soal penyakitnya. Ia takut, semuanya akan bersedih. Namun, sekarang ia malah yang membuat keadaannya semakin menyedihkan.
Ketika Deeka memejamkan mata, pintu ruang rawatnya kembali terbuka. Ia dengan cepat menyeka air matanya ketika menyadari siapa yang datang. Deeka mulai memasang senyum lebar menyambut kehadiran tiga orang yang masuk dengan bunga dan buah-buahan. “Eh, halo!”
Roni menepuk paha Deeka, kemudian meletakkan buah-buahan yang ia bawa di meja. “Lo kapan sadar? Sumpah, kemarin lo kok bisa jatuh sampai kayak gitu, sih? Bikin kaget aja!”
“Gue baru sadar. Aduh, gue kayaknya kemarin lupa sarapan.” Deeka menyengir tidak jelas, membuat Roni semakin gemas memukulnya.
“Lo harus banyak makan, Dee. Kayaknya lo semakin kurus,” ujar Sandra dengan mata menyipit. “Lo diet? Gimana caranya biar bisa kurus gitu, hmm? Gue juga mau.”
Deeka tertawa, bingung menjawab pertanyaan Sandra. Deeka juga tidak sadar berat badannya berkurang. Mungkin karena penyakitnya. Namun,masa iya Deeka harus menyuruh Sandra sakit dulu agar kurus?
“Maaf, harusnya kemarin gue bisa cegah lo biar nggak jatuh.” Nara tiba-tiba bersuara, dengan kepala yang menunduk dan tangan yang saling meremas. “Maaf, Deeka.”
“Hei, santai. Itu bukan salah lo. Memang gue aja yang terlalu lemah,” tukas Deeka terkekeh. “Gue harusnya nggak lupa sarapan kemarin.”
Nara mengangkat kepalanya, memandang Deeka sedih. “Sekarang gimana kepala lo? Masih sakit?”
Deeka menggeleng cepat. “Nggak, kok. Gue udah baik-baik aja.”
“Syukurlah.” Nara mengembuskan napas lega.
Dua jam berlalu dengan tawa dan canda. Deeka mengobrol cukup banyak dengan Nara, sedangkan Roni dan Sandra hanya menyahut beberapa kali. Roni menjadi cukup pendiam ketika ada Sandra.Deeka mengiraRoni menyukai Sandra, makanya ia terus mengejek mereka tanpa menyadari Roni yang mulai merasa tidak nyaman.
“Ah, lo berisik. Gue mau ke toilet aja.” Roni mendengus, berjalan keluar dari ruang rawat. Namun, ia tidak menyangka Sandra malah mengikutinya.
“Gue ikut! Maksud gue, gue mau ke toilet cewek. Tenang, Ron!”
“Iya, terserah.”
Jadilah tersisa Deeka dan Nara. Mereka sama-sama terlihat canggung, bingung mengucapkan kata. Sampai akhirnya, terdengar helaan napas Nara. Deeka terkekeh pelan. “Jangan menghela napas.”
“Kenapa?” tanya Nara.
“Mengembuskan napas itu sama aja kayak melepas seribu kebahagiaan. Sayang banget, kan?” Deeka tersenyum sambil memiringkan kepalanya, menatap Nara yang sedikit menunduk. “Daripada ngeliatan semut, mendingan ngeliatin gue, Ra.”
“Nggak mau.” Nara tidak mau jantungnya meledak jika melihat Deeka terlalu lama.
Deeka tertawa. “Awas, nanti menyesal, lho.”
“Nggak akan,” balas Nara membuang muka, kemudian mereka berdua tiba-tiba tertawa tanpa alasan yang jelas.
Pintu terbuka, seorang wanita paruh baya berparas anggun masuk dengan mata yang sembab. Ia berusaha tersenyum memandang Deeka dan Nara. Nara heran melihat mata wanita sembab seperti habis menangis. Nara membalas senyum wanita itu dengan ramah. Ia bisa menebak, wanita itu pasti mamanya Deeka. Mata mereka mirip.
“Siang, Tante,” sapa Nara ramah.
“Siang, Nara.”
Mata Nara sedikit menyipit. “Tante kok tahu nama saya?”
“Cuma menebak.” Mama Deeka tertawa, sangat anggun dan terlihat tulus. “Boleh tinggalin kami berdua sebentar, Nara? Tante mau marahin anak Tante yang nakal ini.”
Nara sejenak melirik Deeka yang malah terdiam tanpa ekspresi. “Baik, Tante.”
Nara keluar dengan langkah berat karena sebenarnya ia belum mau meninggalkan Deeka. Setelah menutup pintu, Nara melihat ekspresi Deeka yang menegang dari kaca yang ada di pintu. Nara bingung melihat ekspresi Deeka yang terlihat takut. Namun, tiba-tiba Nara merasa bersalah karena seharusnya ia tidak mengintip Deeka dan mamanya, Nara akhirnya memilih duduk di kursi dekat ruang rawat Deeka, menunggu Roni dan Sandra kembali….