PART 10

3192 Kata
Deeka masih terdiam, bahkan ketika Mama menyentuh pipinya.Deeka kehabisan kata. Napasnya terasa sesak, menyekik dirinya dalam diam. Ia bahkan tidak berani menatap mata indah wanita yang sangat ia sayangi itu. Ia takut, sangat takut melihat kesedihan di mata sang Mama. Deeka tidak siap melihatnya. Entah kapan ia akan siap, yang pasti bukan sekarang. Bukan detik ini. Deeka terus menunduk, mengusap air matanya yang hampir jatuh membasahi pipi. Tubuhnya gemetar, lalu kemudian beku ketika Mama memeluknya erat.                 “Mama di sini, kamu jangan takut.”                  “Ma… maafin Deeka,” lirih Deeka pelan.                 Risa memeluk putranya semakin erat, mengusap kepala Deeka penuh sayang. “Kenapa kamu mau sembunyiin penyakit itu dari Mama dan yang lain? Kenapa kamu mau nyimpan semua rasa sakit itu sendirian?”                 “Deeka takut Mama sedih.”                 “Mama akan lebih takut kalau kamu terluka lebih parah, Deeka.”                 “Ma, Deeka akan cacat. Deeka nggak mau cacat, Ma.” Deeka akhirnya membalas pelukan Mama, membasahi baju Mama dengan air matanya.                 “Kamu akan sembuh. Mama, Papa, dan kedua Abang kamu akan berusaha agar kamu bisa sembuh, sayang. Mama akan bilang ke dokter, kamu harus segera dioperasi.”                 “Jangan, Ma. Maksud Deeka, jangan terlalu cepat. Deeka butuh waktu.” Deeka sebenarnya meragukan operasi bisa membuatnya sembuh. Jika gagal, Deeka harus kehilangan semuanya.                 .Deeka sudah mencari banyak informasi tentang penyakitnya di internet dan faktanya, penyakit Deeka sulit disembuhkan. Semua penderita ataksia akan berakhir tidak berdaya di tempat tidur. Lalu untuk melakukan operasi juga tidaklah murah. Deeka tidak ingin membebani ayahnya, karena ia tahu ayahnya sedang ada masalah di kantor, Untuk saat ini, Deeka hanya ingin memperlambat perkembangan penyakitnya. Mungkin sampai ia merasa lelah. Risa perlahan melepas pelukannya, menghapus air mata putranya dengan ibu jari. “Kamu anak mama yang paling kuat. Jangan menangis, ya.”                 Deeka tersenyum kecil, ikut menghapus air mata Mama yang membasahi pipi. “Mama juga jangan nangis. Masa cuma Deeka yang nggak boleh nangis? Itu curang.”                 Risa mencium dahi Deeka, seolah mengatakan,“semua akan baik-baik saja, Deeka tidak sendirian”. Sejenak, Deeka merasa beruntung memiliki Mama yang sangat menyayanginya dan perhatian..Ia selalu berharap, bisa membuat Mama bangga memiliki anak sepertinya. Namun, harapan itu kini terasa sulit untuk diwujudkan. Ataksia sudah menghancurkan harapan-harapan tinggi Deeka soal hidup. Perlahan, ia akan cacat. Hidupnya tidak akan sama lagi mulai detik ini.   ***   Nara bertopang dagu mendengarkan gurunya menjelaskan materi. Ia tidak bisa fokus mendengarkan. Pikirannya kali ini tertuju kepada seorang cowok yang memiliki senyum yang paling manis. Kata wali kelasnya, Deeka tidak akan masuk selama seminggu. Nara sebenarnya heran karena cara jatuh Deeka begitu aneh. Deeka terhuyung tiba-tiba dan kepalanya langsung menghantam lantai begitu saja, tanpa tangan yang menahan. Baru pertama kali Nara melihat orang yang jatuh seperti Deeka sehingga dirinya menjadi takut.                 Sandra menepuk bahu Nara beberapa kali, hingga Nara tersadar dari lamunannya. Nara menatap Sandra penuh tanya, lalu sadar bahwa Sandra hanya tidak ingin Nara melamun lagi. Nara mencatat materi yang ada di papan tulis dengan lemas, mengembuskan napas beberapa kali. Seketika Nara jadi ingat kata-kata Deeka kemarin. Jangan mengembuskan napas. Nara berusaha menghilangkan kebiasaan tersebut. Benarkah itu sama saja melepas seribu kebahagiaan? Atau, jangan-jangan itu hanya karangan Deeka? Pikir Nara sambil menggeleng menghilangkan kecurigaannya.                 Bel istirahat berbunyi, seluruh murid berbondong-bondong ke luar kelas, kecuali Nara. Sandra sudah membujuk Nara untuk ikut ke kantin, tapi Nara berkata ia tidak lapar. Ketika Nara duduk tenang sambil membaca novel, seorang cewek duduk di hadapannya sambil meletakkan sekotak s**u cokelat di meja. Nara mengernyit. “Kenapa, Siska?”                 “Gue mau nanya soal Deeka. Sebagai bayarannya, s**u cokelat ini buat lo,” ujar Siska begitu santai. “Apa bener dua hari yang lalu Deeka jatuh sampai kepalanya berdarah?”                 Nara mengangguk, “Iya, dia bikin semua orang kaget.”                 “Menurut lo, apa itu nggak aneh? Gue lihat video saat Deeka jatuh di konser itu. Ada teman gue yang kebetulan merekam di dekat panggung. Tanpa sengaja, kejadian Deeka jatuh itu juga jadi ikut terekam.” Siska mengeluarkan ponselnya, menunjukkan video itu ke Nara. “Well, gue sebenarnya mau jambak lo karena berani berdiri sedekat itu sama Deeka. Tapi, hal ini lebih penting. Lo lihat? Jatuhnya Deeka tuh nggak wajar.” Siska menyodorkan ponselnya, menyetel video yang ia maksud.                 Nara memang merasa cara terjatuh Deeka cukup aneh, tapi ia tidak berani menyimpulkan apa pun. “Terus, apa? Lo mau bilang apa soal Deeka, Sis?”                 “Deeka pasti punya penyakit yang aneh, Ra. Apa lo nggak takut?” Siska tersenyum miring. “Menurut gue, lebih baik lo nyerah aja dan cari cowok yang lain.”                 Nara mendengus geli. “Lo mau suruh gue jauhin Deeka dengan cara nuduh Deeka punya penyakit aneh? Sis, itu lucu banget. Lo segitu sukanya ya sama Deeka?”                 Siska meletakkan kedua tangannya di meja. “Ah, iya. Gue suka banget sama Deeka. Apa lo baru tahu, hah?”                 “Lo sinting,” gumam Nara datar. “Gue nggak akan percaya dengan tuduhan lo itu. Deeka cuma kurang sehat, makanya dia jatuh tiba-tiba kayak gitu.”                 “Gue nggak nuduh, gue cuma curiga. Deeka nggak baik-baik aja, Nara. Jauhin dia, sebelum lo menyesal karena jatuh terlalu dalam.” Siska bangkit berdiri, meninggalkan sekotak s**u cokelat di meja Nara. “Jangan lupa diminum, biar lo tambah gemuk dan jelek.”                 Nara berdecak, memasukkan sekotak s**u cokelat itu ke dalam tas. Ia tidak berminat meminumnya karena tidak suka dengan kata-kata Siska. Baginya omongan Siska hanyalah omong kosong. Nara jadi semakin peduli pada Deeka dan khawatir dengan keadaannya sekarang. Apa ia sudah minum obat? Sudah istirahat? Sudah jatuh cinta dengan Nara?Ah, pikir apa sih aku ini. Nara mulai melantur karena memikirkan Deeka.   ***   Deeka benar-benar merasa tidak kuat. Ia memejamkan mata, berpura-pura tidur ketika keluarganya sedang berbincang serius soal penyakit Deeka. Papa bahkan berkata akan ke luar negeri untuk mencari tahu pengobatan paling efektif bagi penderita Ataksia. Andra dan Indra bahkan begadang membaca buku-buku tentang Ataksia. Mereka menjelaskan beberapa hal yang baru Deeka tahu.                 “Andra takut, Deeka akan ninggalin kita. Ataksia memang nggak membunuh secara langsung. Tapi, itu menyerang syaraf secara perlahan. Melumpuhkan dan mematikan secara perlahan. Umur Deeka nggak akan panjang. Frekuensi umur bagi penderita Ataksia itu beragam. Tapi, kebanyakan, hanya bertahan sepuluh tahun,” jelas Andra terdengar menahan tangis. d**a Deeka semakin sesak. Ia tidak kuat mendengarnya. Tolong, hentikan.                 “Deeka akan berakhir di tempat tidur, tanpa bisa melakukan apa pun. Astaga, Indra nggak bisa membayangkan hal itu terjadi. Deeka terlalu muda. Kenapa bukan Indra aja yang sakit, sih?” Kini Indra yang bersuara. Suaranya begitu datar tanpa emosi. Namun, entah mengapa Deeka bisa merasakan luka di balik nada bicara abangnya yang galak itu.                 “Indra….” Mama terdengar begitu sedih. “Deeka pasti sembuh. Mama yakin!”                 “Udah, lebih baik kita jangan ganggu istirahat Deeka.” Papa terdengar lelah. “Dia membutuhkan istirahat yang cukup.Jadi, biarkan dia tidur tanpa gangguan. Oke?”                 Beberapa menit kemudian, setelah hening yang terasa begitu mencekam, Deeka akhirnya berani membuka mata. Ia bangkit duduk, menguap sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Selamat pagi, semua. Aduh, tidur Deeka nyenyak banget.”                  Andra membalas sapaan Deeka dengan ceria. “Ini udah siang, woy.”                 “Masa, sih?” Deeka terkekeh. Lalu memandang wajah keluarganya satu persatu. “Kenapa wajah kalian pada kusut? Ayolah, Deeka masih merasa sehat. Penyakit itu nggak akan ngalahin fisik Deeka yang sekuat baja.”                 Semua otomatis tersenyum, kemudian Indra menyeletuk, “Terus? Kenapa ada perban di kepala lo? Sekuat baja apanya, hah?”                 “Ih, ini cuma luka kecil. Sebentar lagi juga sembuh!”                 Semuanya merasa begitu miris. Deeka masih terlihat sangat ceria dan penuh semangat, berbeda dengan mereka yang malah merasa ketakutan. Mama sampai tidak kuat menahan air matanya, ia memilih keluar dari kamar rawat dan menangis di depan pintu ditemani Papa. Andra masih berpura-pura santai, ia mengacak rambut Deeka sambil tersenyum jail. “Tadi Nara nanyain keadaan lo, lho.” “Terus? Lo jawab apa, Bang?” tanya Deeka dengan wajah menahan malu. “Gue bilang, lo masih tidur. Terus dia ngatain lo kayak kerbau.” Deeka terkekeh pelan. “Ah, dasar,Beruang.” Indra tiba-tiba berdeham, merusak suasana hati Deeka yang sempat berbunga untuk beberapa detik. “Lo akan di rumah sakit selama seminggu. Nanti, lo harus rehabilitasi sama Dokter. Rehabilitasi bisa membuat badan lo nggak cepat… kaku. Mengerti?” Deeka mengangguk, lalu duduk di tepi ranjang rawatnya. “Bang, kalau nanti teman-teman gue dateng, tolong jangan beritahu mereka soal penyakit gue. Bilang aja, gue ada sedikit gangguan motorik. Gue akan sembuh secepatnya. Please?” Indra dan Andra mengangguk kompak. Mereka mengerti perasaan Deeka. Adiknya itu pasti tidak ingin membuat teman-temannya khawatir dan menangis. Indra baru sadar, ternyata Deeka adalah tipe orang yang lebih baik menyimpan luka sendirian, daripada harus membuat orang lain ikut terluka. Begitu baik, hingga Indra merasa Deeka tidak layak menderita penyakit semengerikan Ataksia. Baginya, masa depan Deeka masih panjang, umurnya masih terlalu muda.                 Setelah mandi dan memakai baju pasien berwarna biru, Deeka diantar oleh seorang suster ke ruang rehabilitasi. Mata Deeka terkesiap ketika melihat ruangan itu cukup ramai oleh orang-orang yang berusia lanjut. Ia sempat mengira dirinya salah ruangan, tapi kemudian Dokter Hermawan melambaikan tangan ke arah Deeka. Ternyata memang di sinilah tempatnya. Deeka berjalan lambat menghampiri Dokter Hermawan. Melirik dua orang asing di dekat Dokter Hermawan, membuat Deeka mengernyit. Siapa mereka?                 “Deeka, mereka adalah perawat neurologi kamu. Mulai sekarang, rehabilitasi kamu akan diurus dan ditemani oleh mereka,” ujar Dokter Hermawan memperkenalkan.                 “Saya Tonny, dan perawat ini Raya,” ujar seorang perawat pria yang terlihat lumayan muda, mengulurkan tangan. Deeka menyambutnya dengan canggung. Deeka lalu melirik perawat satu lagi yang terlihat lebih muda dari yang bernama Tonny. “Raya memang cantik dan muda, tapi dia tetap lebih tua dari kamu, Deeka.”                 Deeka tertawa mendengar candaan dari Tonny yang terlihat lebih tua sedikit dari Bang Indra. “Saya tahu, Pak. Saya cuma heran aja karena ada perawat secantik ini.”                 “Aish, saya belum setua itu sampai dipanggil Bapak. Panggil ‘kak’ aja, ya?” balas Tonny ramah.                 Raya tersenyum, sedikit mendengus geli. “Mohon kerja samanya, Deeka. Panggil saya Suster Raya aja.”                 Deeka beralih mengulurkan tangan ke Raya. “Salam kenal, Suster Raya aja. Semoga Suster bisa kuat menangani pasien seperti saya.”                 “Hahaha. Kamu lucu juga. Akan saya usahakan,” ujar Raya menyambut tangan Deeka.                 “Baiklah, cukup perkenalannya. Silakan dimulai rehabilitasinya.” Suara Dokter Hermawan memecahkan suasana, membuat tautan tangan Deeka dan Raya terlepas.                 Deeka kemudian diajak ke sudut ruangan yang sepi, untuk memulai rehabilitasinya. Namun, Deeka tetap tidak bisa fokus. Matanya terus terarah ke orang-orang yang berada di sekitarnya. Umur mereka mungkin lebih tua dari orangtua Deeka dan sekarang mereka terlihat kesulitan berjalan. Dalam benaknya, Deeka jadi berpikir, dibandingkan dengan dirinya, orang-orang itu beruntung sekali karena kesulitan berjalan ketika sudah tua.                 “Deeka, fokus. Cepat sentuh lutut kamu sampai ujung kaki dengan telapak kaki secara bergantian, ” ucap Tonny pada Deeka yang sudah duduk dengan kaki diluruskan.                 “Hah?” Deeka tidak mengerti dengan apa yang baru saja Kak Tonny perintahkan. Kak Tonny ikut duduk di sebelah Deeka, memberikan contoh. “Oh, kayak gitu doang?” ucap Deeka sambil mulai menggerakkan kakinya sesuai arahan. Kak Tonny tersenyum dan mencatat sesuatu di sebuah kertas. “Bagus, apa kamu merasa kesulitan?”                 “Nggak, mungkin belum.” Deeka tersenyum masam dan terus menggerakkan kakinya berulang kali. “Apa saya belum parah?”                 Tonny mengangguk pelan. “Kamu beruntung. Sepertinya penyakit kamu belum separah yang saya kira. Kalau kamu rajin melakukan rehabilitasi, saya yakin kamu akan merasa lebih baik.”                 “Baik, saya akan rehabilitasi setiap hari.”                 “Ti-tidak, seminggu dua kali sudah cukup, Deeka.”                 “Oke, saya ulang. Saya akan rehabilitasi seminggu dua kali,” ujar Deeka sambil mengepalkan tangan di depan dadanya.                 “Itu baru yang namanya semangat. Bagus sekali.” Tonny mengusap kepala Deeka. Ia merasa senang dengan pasien yang memiliki semangat untuk hidup. Para pasien penderita Ataksia yang Tonny tangani biasanya terlihat putus asa dan mudah menyerah ketika terjatuh. Namun, syukurlah Deeka berbeda. Tugasnya tidak akan terlalu berat. “Sekarang, luruskan tangan kamu ke depan, lalu balik telapak tangan kamu berulang kali.”                 “Apa saya akan cacat lebih lambat kalau saya melakukan semua ini?” tanya Deeka sambil mulai menggerakkan tangan sesuai arahan. “Atau, gerakan ini hanya untuk membuat saya ‘merasa lebih baik’?”                 Tonny sempat terdiam, ia menepuk bahu Deeka. “Kita semua berharap rehabilitasi bisa memperlambat proses tahapan penyakit kamu. Tapi, itu semua bersifat tidak pasti karena kami belum tahu secepat apa penyakit kamu menyerang. Yang jelas, kita di sini hanya bisa berusaha. Tolong, jangan menyerah. Bukan hanya kamu yang berusaha, tapi kami dan keluargamu akan turut membantu”                 “Apa ada pasien lain yang menderita Ataksia di rumah sakit ini?” tanya Deeka, matanya terlihat sangat penasaran.                 “Ada, umurnya lebih muda dari kamu. Mau bertemu dengan dia? Namanya Alex.” Deeka mengangguk semangat. “Tapi, kamu harus selesaikan rehabilitasi hari ini dulu,” lanjut Tonny.                 “Siap, Bos! Ayo, apa gerakan selanjutnya?” tanya Deeka terlihat sangat bersemangat, membuat Tonny dan Raya tersenyum cukup haru. ‘Semangat’ memang sangat dibutuhkan para pasien untuk sembuh. Meskipun Deeka menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan, ia terlihat memiliki semangat yang mungkin tidak dimiliki pasien lain. Namun, yang terlihat di luar belum tentu sama seperti yang dipikirkan.                 Deeka sangat takut tidak bisa bertahan dengan penyakit yang ia derita. Ia takut membuat keluarganya bersedih. Deeka merasa khawatir saat membayangkan teman-temannya mejenguknya ke rumah dan melihat keluarganya yang bersedih. Namun, yang bisa Deeka lakukan hanyalah terus tersenyum palsu. Ia paling tidak suka terlihat lemah di depan orang lain. Apalagi orang yang baru saja Deeka kenal. Ia tidak mau terlihat menyedihkan dan berakhir dikasihani oleh banyak orang. Deeka tidak mau seperti itu.   ***   Setelah rehabilitasi, Deeka benar-benar diantar ke ruang rawat seorang anak bernama Alex. Ketika pintu terbuka, Deeka berkedip beberapa kali untuk memastikan matanya tidak salah lihat. Alex ternyata jauh lebih muda dari bayangan Deeka. Anak itu terlihat begitu kurus dan kecil, berbaring di ranjang rawat yang cukup besar. Seketika, lutut Deeka terasa begitu lemas. Mengapa takdir begitu jahat pada anak itu?                 Deeka berjalan perlahan, tersenyum menatap anak kecil yang memandangnya penasaran. Ia mengulurkan tangan, mengajak anak itu berkenalan. “Halo, nama kamu Alex, ya? Nama saya Deeka.Salam kenal, Sobat kecil.”                 Alex terlihat mengangkat tangannya dengan susah payah dan gemetar. “Ha-halo, Kak.”                 Deeka mengernyit mendengar suara anak itu yang terdengar tidak jelas. “Umur kamu berapa, Alex?”                 “Se-se-puluh ta… hun. Ka-kalau Kakak?”                 Deeka menggigit bibir bawahnya ketika sadar ternyata tahap penyakit Alex sudah cukup parah. Anak itu sudah kesulitan bicara. “Enam belas tahun.”                 “Ke-kenapa Ka-kakak ke sini?”  Tonny merangkul Deeka, tersenyum hangat pada Alex. “Dia mau kenalan sama kamu, Alex. Gimana? Apa Kak Deeka… menurut kamu ganteng?”                 Alex mengangguk pelan. “Ta-tapi, Al-Alex lebih gan… teng.”                 Deeka dan Tonny terkekeh. Deeka bahkan mengangguk setuju. “Iya, Alex lebih ganteng. Tapi, Kak Deeka tetap lebih keren,” ujar Deeka menaruh ibu jari dan telunjuknya di bawah dagu sambil tersenyum sombong.                 “Kak Dee… ka, apa Kakak bi-bisa main bo… la?” tanya Alex, membuat Deeka menurunkan tangannya dari dagu. “Ka-kalau bisa, Alex ma-mau lihat.”                 Deeka tersenyum tipis, mengusap kepala Alex. “Bisa, Kakak ini kapten sepak bola, Lex.”                 Alex kemudian melirik Tonny penuh harap. “Bo-boleh Alex li-lihat Kak Dee-ka main bo… la?”                  Tonny mengangguk. “Tapi, jangan lama-lama, ya.”                 Kemudian, Tonny menggendong Alex dan memindahkannya ke kursi roda, lalu meminta Deeka mengambil bola yang ada di sofa. Alex sangat menyukai sepak bola, ia selalu membawa bola kesayangannya setiap melakukan rehabilitasi. Ia juga selalu meminta waktu sepuluh menit untuk bermain sepak bola sendrian di taman. Tentu saja saat dirinya belum separah sekarang Sesampainya di taman belakang rumah sakit, Alex tetap duduk di kursi roda di bawah pohon yang rindang. Ia tersenyum saat melihat Deeka mulai melakukan beberapa atraksi dengan bola kesayangannya. Deeka terlihat begitu jago, ia menggiring bola bolak-balik di hadapan Alex sambil tersenyum lebar. Sedikit pamer, ia menendang bola cukup jauh hingga membuat Alex bertepuk tangan pelan dengan susah payah. Alex pun tertawa ketika Deeka harus berlari mengambil bola yang ditendang jauh. Selagi Deeka mengambil bola, Alex menoleh ke sosokTonny yang berdiri di sebelahnya. “Ka-Kak Deeka sa-kit apa, Paman?” Tonny meringis, berlutut di sebelah Alex agar tinggi mereka sejajar. “Kak Deeka… memiliki penyakit yang sama kayak kamu, Alex.” Mulut Alex sedikit terbuka, lalu kembali melihat Deeka yang berjalan ke arahnya sambil menggiring bola. “Ja-jadi, nanti Kak Dee-ka nggak bi-bisa main bola ju… ga? Kayak Al-Alex?” “Iya.Loh, kenapa kamu nangis, Alex?” tanya Tonny mengusap pipi Alex. “Kasihan… Kak Dee-Deeka.” Deeka berlari pelan menghapiri Alex ketika melihat wajah anak itu sedih. Ia ikut berlutut seperti Dokter Tonny di hadapan Alex. “Kok Alex nangis? Kenapa? Apa Kakak payah main bolanya?” Alex menggeleng, ia lalu memeluk leher Deeka dan menepuk punggung Deeka dengan pelan beberapa kali. “Ka-Kakak harus kuat. Kata Mama Alex, dunia be-belum be-rakhir walau ki-kita nggak bi-bisa main bola la-lagi.” Deeka hampir lupa dengan penyakitnya ketika ia bermain bola. Ia akhirnya mengangguk, membalas pelukan Alex. Ia sadar, cepat atau lambat… ia tidak akan bisa bermain sepak bola lagi. Bahkan, ia mungkin harus mengubur cita-citanya untuk menjadi pemain sepak bola kebanggaan Indonesia. Deeka harus tahu,cita-citanya tidak mungkin bisa terwujud. Deeka harus mengorbankan cita-citanya karena sekarang yang terpenting adalah… bertahan untuk hidup. “Terima kasih, Alex.” Deeka melepas pelukan anak itu lalu menyeka air matanya. “Kak Deeka akan kuat, seperti Alex.” “Jangan. Kak Dee-Deeka ha… rus lebih ku-kuat dari Alex. Janji?” Deeka mengusap kepala Alex sambil tersenyum lebar, matanya masih berkaca-kaca. “Janji. Dan mulai sekarang… kita berteman, setuju?” “Se-setuju.” Melihat senyum Alex yang begitu polos, Deeka jadi merasa sangat malu. Beberapa waktu yang lalu, ia sempat merasa sial karena menerima penyakit Ataksia di usia enam belas tahun. Namun, ternyata ada yang lebih kurang beruntung dibandingkan dengan dirinya. Tuhan, kenapa penyakit itu memilih Alex? Deeka mendorong kursi roda Alex kembali ke kamar rawat. Sebenarnya, Alex tidak boleh keluar kamar terlalu lama. Setelah mengantarkan Alex, Deeka menutup pintu kamar rawat anak itu lalu bersandar dengan lemas. Ia memejamkan mata sesaat, sampai akhirnya sebuah tepukan di bahu membuatnya membuka mata. “Dua tahun yang lalu, Alex masih terlihat sehat. Namun, ternyata tahapan penyakitnya berkembang sangat cepat. Kami pun tidak bisa menemukan penyebab Alex menderita ataksia. Ayahnya sudah meninggal sejak dia berumur tiga tahun, dan ibunya seorang guru. Percayalah… walau Alex sakit parah, dia sudah memberikan banyak pelajaran bagi para dokter dan perawat yang menjaganya. Dia anak yang luar biasa.” “Saya percaya,” jawab Deeka lalu berdiri dengan tegap. “Mulai detik ini, saya tidak akan kalah dari bocah itu. Saya akan berusaha menerima takdir saya dan berjuang untuk sembuh.” Tuhan pasti sudah menentukan takdir terbaik bagi umat-Nya. Tuhan tidak kejam. Tuhan itu baik. Deeka yakin, pasti ada hikmah di balik takdirnya yang menyedihkan….  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN