Sejak kejadian tadi, Harzi tidak banyak bicara dan dia juga tidak menanyakan tentang seseorang tadi, seseorang yang dengan kurang ajar mengajakku pulang bareng padahal dia tahu jika aku sudah memiliki pacar? Apa ucapanku terlalu jahat? Tapi, bukankah perbuatannya padaku lebih jahat? Ibnu, aku tak tahu kenapa dia harus muncul di saat-saat seperti ini, saat-saat aku sedang meyakinkan pilihanku yang memang tidak salah yaitu menjadikan Harzi sebagai pacarku. "Tadi, namanya Ibnu." aku berkata ragu-ragu sambil memandang Harzi yang sedang menyetir. "Iya." "Kok iya?" "Coba ulang." "Tadi, namanya Ibnu." aku mengikutinya saja. "Bukan." "Eh." aku memincingkan sebelah alisku menatap Harzi heran. "Iya, aku tahu itu Ibnu kan pernah ketemu di rumah kamu, makannya aku jawab iya aja." Ucapnya. "Iy

