Bohong. Satu kata itu tercetus begitu saja di dalam benakku saat aku membaca pesan dari Ibnu. Ibu tidak akan mencariku jika ia punya nomor teleponku, bukankah menghubungiku lebih baik ketimbang bertanya pada seseorang yang, ah, aku tak tahu harus menyebutnya apa. "Pulang?" Kafka memincingkan sebelah alisnya. "Nanti, lu duluan aja." kataku sambil meminum gelas kedua greentea milikku. "Ngga! Lu berangkat sama gue, ya pulang juga sama gue." "Gue bisa bilang Harzi buat jemput gue di sini." kilahku, sejujurnya aku memang tak ingin pulang dalam waktu dekat karena mungkin saja Ibnu sedang menungguku di rumah hingga dia mengirimkanku pesan seperti itu. “Atau ngesot juga bisa lah gue mah, gampang.” Kataku dan tanpa aba-aba Kafka langsung menjitak dahiku. "Yaudah, gue tungguin sampai Harzi dat

