Begitu menutup sambungan telepon dari Hardy, Yanto melangkah lebar sambil menyambar kunci yang ada di atas meja. Ia tidak terima kalau Bening tidak pulang. Lebih baik gadis itu malam dini hari daripada tidak pulang sama sekali. Rudi segera berdiri dan menarik tangan yanto. “Kamu mau kemana?” tanyanya dengan mata menyipit. “Saya mau menjemput Bening!” Yanto menarik tangannya dari cekalan Rudi. “Apa aku harus mengulang ucapanku? Biarkan dia menginap disana satu dua malam.” Rudi menatap tajam Yanto yang sudah tak mampu meredam emosi. Yanto memandang pintu seakan pintu akan tertutup rapat jika ia tidak bergegas keluar. Kedua tangannya terkepal erat dan napasnya masih memburu. “Bening butuh bertemu dengan orang dari masa lalunya.” “Bagaimana kalau dia tidak mau kembali kesini?” “Kupas

