Bening merasa lebih baik setelah tidur beberapa jam. Masih demam namun sudah turun hingg mendekati normal. Ia segera meninggalkan kamar untuk menuju lantai satu. Suara riuh tawa membuatnya penasaran apa yang sedang terjadi. Dengan langkah perlahan, ia menuruni tangga granit dengan motif kayu. Tawa itu kembali memenuhi ruangan, membuatnya ingin cepat melihat siapa saja yang sedang tertawa seheboh itu. “Bening, Sayang.” Suara wanita yang begitu lembut membuat Bening harus memutar badan. Ia meringis sambil melihat empat orang yang sedang memperhatikannya. Empat oranmg itu, Hardy, Ari, Bimo dan Arini tadi berada di ruang tamu. Tapi setelah melihat Bening, mereka berempat segera mendekati gadis itu bahkan sebelum sampai ujung tangga. “Mereka Om Bimo dan Tante Arini,” kata Hardy, memperkena

