Hardy tak berdaya melihat Bening yang sedang sakit. Ia hanya bisa mondar–mandir sambil menyugar rambutnya. Perlahan Bening membuka mata, tubuhnya masih lemas dan kepalanya masih berat. Memandang kakaknya dengan tatapan sayu. Memejamkan mata sebentar, ia kembali membuka mata sambil berusaha duduk. “Bening, sebaiknya kamu tetap tidur.” Hardy mendorong kedua pundak Bening, membuat gadis itu mendorongnya. “Kakak apaan sih. Tentang saja kali. Ini sudah biasa kok,” ujar Bening sambil kembali duduk. “Tasku mana?” tanya Bening sambil melihat ke sekelilingnya. Ari yang masih berada di dekat pintu segera mengambil tas yang ia letakkan di meja. Bening segera mengacak–acak isi tasnya untuk mencari kotak obat. Segera mengambil obat demam dan obat yang memang sudah saatnya ia minum. Ari segera k

