Pekerjaan Baru, Harapan Baru

1616 Kata
Beberapa lama waktu seolah berhenti, dua anak manusia saling memandang dalam kebisuan. Pria yang memiliki tatapan tajam memandang seorang gadis bermata lebar namun terlihat kosong dan sangat menyedihkan. Ada debaran jantung aneh yang masuk ke relung hati keduanya, perasaan apakah ini? Hardy menarik napas dalam, sesaat ia merasa terhipnotis oleh gadis berwajah cantik bak bidadari turun dari langit tersebut. Perasaan apa ini? Hardy belum pernah merasakan perasaan aneh ini. Hardy kembali memandang gadis yang masih duduk terpaku di dalam mobil, memandangnya lekat tanpa berkedip. Apa dia manusia atau dia manekin? Bening belum pernah merasakan perasaan aneh ini, bahkan terhadap Ari pun tidak. Hanya dengan memandang pria itu, ia merasa tenang. Bening ingin menemuinya, tapi harga diri menahannya, ia bukan wanita seperti Sherly. Hardy mengetuk kaca mobil, ia harus segera pergi atau pekerjaannya akan tertunda. Gadis itu masih memandangnya namun masih bergeming. Ia pasti masih mengira gadis itu adalah manekin bila saja ia tidak bergerak perlahan, mirip seperti sebuah robot. Oh Tuhan, gadis macam apa dia? *** Bowo baru saja menyelesaikan tugasnya, ia menyerahkan Sherly kepada pelanggan pertamanya. Bowo tersenyum, ini pertama kalinya ia melakukan transaksi semacam ini. Ternyata melakukan hal semacam ini cukup mudah. Memilih tempat umum sebagai tempat transaksi memberinya lonjakan adrenalin luar biasa sekaligus menjadi kamuflase terbaik. Restoran bintang lima dengan sedikit pengunjung lebih terlihat alami ketimbang di sebuah hotel atau tempat lain yang sifatnya lebih privat. Bowo memandang Sherly sekali lagi sebelum ia meninggalkan tempat itu. Bowo berjalan menuju mobilnya. Saat mencapai tempat parkir restoran tersebut, ia terkejut saat melihat seorang pria berdiri di sebelah mobilnya. Tidak perlu menjadi pintar jika hanya untuk berpikir bahwa pria itu sedang memandang Bening. Gadis itu memiliki pesona, memiliki semacam veromon yang bisa membuat lelaki manapun mendekat. Tapi gadis itu bukan sebuah properti, ia seorang gadis lugu yang ia besarkan, setidaknya dibesarkan dengan menggunakan uangnya. Gadis itu, anaknya. “Ehm-ehm. Permisi!” Bowo berdehem untuk meminta perhatian pria itu. Hardy terkejut hingga ia memutar badan dengan cepat. Pandangan pertamanya tertumbuk pada kumis tebal yang, wow. Hardy terkekeh, ia mengusap tengkuknya sambil tersenyum kikuk. Ia menyadari kelakuannya kurang sopan, sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak meledak. Bowo melirik Hardy penuh selidik. Dasar lelaki hidung belang, melihat yang bening sedikit aja langsung siap menerkam. Bowo memindai seluruh tubuh Hardy, mulai dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Pria ini memiliki tubuh terpahat sempurna dan dinilai dari jenis pakaian yang ia kenakan, Bowo yakin pria ini memiliki kekayaan cukup tinggi untuk membeli beberapa anak gadisnya. “Permisi!” Bowo tidak punya waktu lebih untuk memerhatikan pria seperti pria yang ada di depannya. Ia bergerak maju sehingga Hardy harus menggeser badannya. Sesaat Hardy kembali memandang gadis yang ada di dalam mobil, gadis itu pun masih menatapnya lekat. Desir perasaan itu kembali muncul, membuat Hardy menyentuh dadanya sendiri. Perlahan mobil bergerak mundur, namun baru tiga meter mobil itu kembali berhenti. Hardy masih terpaku di tempatnya, ia menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Bowo tidak mau Bening duduk di belakang, ia serasa seperti seorang sopir daripada seorang bos. “Bening, pindah ke depan!” Bening segera membuka pintu, ia keluar namun saat melihat pria tadi masih berdiri di tempatnya. Bening kembali menatap pria itu lekat-lekat, ada desir aneh yang ia rasakan. Tanpa sadar, ia meletakkan tangan kanan yang terkepal di depan dadanya. Bening berusaha meredam desir aneh itu dari hatinya. Pertemuan dua anak manusia yang tidak pernah diduga sebelumnya. Lima belas tahun telah merubah ciri fisik mereka. Gadis cilik imut dengan pipi gembul kini berubah menjadi gadis cantik berwajah melankolis. Sementara Hardy yang dulu tinggi langsing kini berubah menjadi pria dewasa dengan tubuh tinggi dan ideal, jauh lebih berisi dari saat masih kanak-kanak. *** Bowo mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ia ingin pergi ke sebuah cafe dimana Bening bisa bekerja disana. Meski sebenarnya ia ingin Bening tidak melakukan hal-hal semacam itu, namun ia tidak ingin terlihat pilih kasih walaupun sebenarnya ia memang telah melakukannya. “Kenapa Sherly ditinggal, Om?” Bening mengernyit, tadi pagi Sherly tidak mengatakan apapun sehingga Bening merasa heran dengan perempuan itu. Tidak biasanya Sherly berbuat demikian. “Dia sudah menjadi milik orang lain.” Seharusnya jawaban itu tidak membuat Bening terkejut, namun karena kedekatannya dengan Sherly, ia tetap saja terkejut dan menyesal sekali karena ia tidak mengetahuinya. “Aku tidak akan melakukan itu kepadamu, Bening. Kamu tenang saja!” Seakan mengerti apa yang dipikirkan Bening, entah mengapa ia tidak ingin Bening merasa takut kepadanya. Ia boleh melakukan banyak hal tetapi satu hal yang pasti, ia akan melindungi Bening seperti seorang ayah melindungi anaknya. “Bening, apa kamu masih suka mendengarkan lagu-lagu pop Indonesia?” Bowo ingin merubah topik pembicaraan, ia tidak ingin Bening berlarut-larut dengan pikirannya. “Iya, Om.” Bening kembali memandang Bowo sambil mengernyit, ia tidak tahu mengapa pria itu membahas lagu pop, padahal Bowo adalah seorang pemimpin orkes musik dangdut. “Siapkan satu lagu! Aku sudah mencarikan pekerjaan yang pas untukmu.” Bowo memutar kemudi, tidak lama kemudian mobil masuk ke pelataran sebuah restoran yang cukup ramai. Mobil berhenti di halaman restoran tersebut, sebuah restoran dengan aksitektur minimalis namun terlihat asri dengan banyaknya pohon mangga yang tidak terlalu tinggi dengan meja kursi yang ditata di bawahnya. Sebuah air terjun buatan ada di sebelah kanan restoran tersebut memberi sentuhan alami dan begitu menenangkan. Bening berjalan di belakang Bowo, ia bertanya-tanya mengapa pria itu mengajak kemari? Oh, tentu saja ia akan bernyanyi di tempat ini. Bening menepuk kepalanya sendiri, ia merasa bodoh sejak ... lama. *** Andra sedang menikmati istirahat dengan berjalan di sekekitar restoran. Ia sedang mengencangkan otot yang kaku setelah seharian bekerja, tatapannya tiba-tiba menangkap sosok perempuan bak bidadari turun dari langit. Seolah terkena sihir, ia berdiri terpaku memandang seorang gadis yang sedang masuk ke restoran. “Bos, aku jadi koki terbaik disini.” Sekonyong-konyong Andra kembali ke dapur setelah menyaksikan gadis secantik manekin tadi. Andra membuat sang bos terkejut, tidak biasanya lelaki itu bertahan di dapur jika jam istirahatnya datang. “Kamu mau makan?” sang bos melirik penuh selidik ke arah Andra. Andra terkekeh, ia garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Bukan begitu, Bos...” “Bos, ada yang mau ketemu.” Seorang pramusaji hampir ketawa saat melihat tingkah laku Andra yang selalu bisa dibaca setiap kali ada perempuan cantik datang. “Pantas saja....” Pria pemilik restoran tersebut hanya bisa menggeleng sambil melepas apronnya. *** Bening duduk di kursi yang ada di tengah-tengah restoran tersebut, berhadapan dengan Bowo yang sedang sibuk membaca daftar menu. Ia memandang sekeliling restoran, bagian dalam restoran tersebut sama nyamannya dengan bagian luar. “Pakde Bowo. Lama tidak jumpa.” Pria pemilik restoran tersebut tertawa dan segera membuka kedua lengan untuk menyambut seorang pria yang dulu pernah menjadi tetangganya sewaktu tinggal di desa, sebelum Bowo memutuskan merantau ke kota. “Oh, Arjuna. Astaga. Senang sekali bisa ketemu kamu.” Bowo segera memeluk Arjuna, keduanya bertukar senyum sebelum Arjuna memandang Bening. “Siapa dia?” Arjuna memandang lekat-lekat kepada Bening sebelum ia kembali memandang Bowo. “Dia Sinta, anakku. Jangan tanya macam-macam! Dia anakku.” Arjuna mengerti maksud Bowo, ia tertawa terbahak-bahak sambil menepuk pundak Bowo. Arjuna mempersilahkan Bowo kembali duduk, ia sendiri duduk diantara Bowo dan Bening. Pria itu memandang Bening sekali lagi, ia cantik tapi masih sangat muda. Itulah kesan pertama yang didapat Arjuna dari Bening. “Pakde, lama tidak bertemu. Dengar-dengar, Pakde punya orkes musik?” Arjuna membuka pembicaraan yang sangat tepat sasaran. Bowo menyeringai, pertanyaan Arjuna memberinya angin segar. Bowo menghela napas berat sambil melirik Arjuna untuk melihat tanggapan Arjuna dari tarikan napasnya. “Ada masalah apa, Pakde? Cerita sama saya!” Bingo! Inilah yang membuat suka dengan Arjuna. Pria itu sangat perhatian terhadap orang lain, membuatnya merasa tidak salah tempat. Ia yakin, Arjuna bisa menjaga Bening. “Orkesku bangkrut, Arjuna.” Bowo mendesah, ia mengusap dahi dan menarik bibirnya ke bawah. Arjuna terkejut, terakhir kali yang ia dengar dari tetangga desa. Orkes musik milik Bowo sedang naik daun. “Apa yang bisa saya bantu, Pakde?” Arjuna tentu saja tidak bisa mengabaikan pria yang selalu baik kepadanya. Pria yang telah membantunya dengan memberi modal usaha dan membuatnya menjadi seperti sekarang. Bowo menggaruk dahinya, “Ehm ... begini. Aku mau titip putriku disini. Dia butuh pekerjaan, tapi aku tidak mau dia dijadikan pelayan. Kamu tahu kan?” Arjuna mengangguk, ia tentu saja mengerti. Seorang ayah tentu saja tidak ingin anaknya berada di tempat yang tidak nyaman. Menjadi pelayan bukanlah impian setiap orang tentu saja. “Masalahnya...” Bowo memindai restoran dari tempatnya duduk, “disini belum ada musiknya ya? Arjuna, restoran apa kok tidak diberi hiburan?” Bowo melirik Arjuna. Pria itui sedang menahan tawa geli, namun itulah yang diinginkan Bowo. “Aku tahu. Tapi aku belum punya alat musik.” Arjuna merasa geli sendiri. Bowo paling bisa mengambil hatinya. Bahkan tanpa rayuan maut pun Arjuna pasti memberikan semua yang diinginkan Bowo. Bowo tertawa, senang sekali Arjuna dengan mudah menerima keinginannya. “Tenang saja! Aku bawa sendiri. Bening bisa bernyanyi sambil main keyboard. Kamu tidak perlu repot-repot. Hanya beri dia pekerjaan sebagai penghibur disini. Kamu tahu kan?” Bowo memainkan dua alisnya, kontan Arjuna tertawa terbahak-bahak. “Saya bisa main keyboard. Saya bisa jadi pengiringnya, kalau Bos membolehkan.” Entah sejak kapan, tiba-tiba Andra sudah hadir di tengah mereka dengan satu piring ayam bakar. Arjuna menoleh, anak buahnya yang satu ini selalu saja suka seenaknya. Seandainya Andra tidak dibekali kemampuan memasak yang luar biasa, pasti sudah dipecat oleh Arjuna. “Dasar!” Arjuna melirik Andra, pria itu hanya terkekeh sambil memandang bosnya. “Sinta, ambil keyboard di mobil!” Bowo menyerahkan kunci mobil kepada Bening atau kini ia harus membiasakan diri disebut Sinta. Andra dengan gerakan cepat mendekati Bening, pria itu segera melangkah saat Bening mulai mengayun kakinya. Arjuna hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah anak buahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN