Bening membuka pintu bagasi, ia hendak mengambil keyboard namun Andra dengan cepat mengambilnya. Bening terkejut, ia menatap Andra beberapa saat. “Ini berat. Tidak baik perempuan sepertimu membawa barang-barang berat.” Andra memeluk keyboard lalu menggerakkan bahunya, membuat Bening tersenyum.
Indahnya dunia, setelah satu tahun restoran ini dihiasi lima gadis pramusaji yang bagi Andra biasa saja. Kini ada bidadari yang akan memberi warna pelangi di sini, setidaknya bagi Andra.
Bening memutar badan, ia melangkah kembali ke restoran. Langkahnya kecil namun cukup cepat, membuat Andra menghela napas. Ia tidak ingin cepat-cepat kembali. Ia masih ingin berlama-lama dengan Bening. “Sinta. Air terjun buatan itu, aku yang buat.” Andra menunjuk air terjun buatan dengan menggunakan kepalanya.
Bening menoleh, ia memandang sebuah air terjun buatan setinggi satu meter dengan kolam di bawahnya. Beberapa ikan nila sedang asyik berenang sambil berebutan makanan. Bening hanya mengangguk namun tidak menghentikan langkahnya.
Andra mengumpat dalam hati, sial! Aku dicuekin.
Bening telah berada di depan Bowo, ia mengembalikan kunci dan kembali duduk di tempatnya. Segelas es jeruk sudah berada di atas meja, ia memandang es itu namun tidak berani mengambilnya. Bowo mengamati Bening, apakah gadis itu selama ini selalu seperti ini? Bowo geleng-geleng, dua belas tahun ini ia kemana saja sampai tidak tahu menahu apapun tentang Bening. “Minumlah!” Bowo menggerakkan dagu, meminta Bening meminum es jeruknya.
Bening mengambil gelas es jeruknya, ia menikmati kesegaran serta manisnya es yang memanjakan tenggorokannya. Setelah menghabiskan seperempat gelas es jeruk, Bening mengembalikan gelas tersebut ke atas meja.
“Jadi, Sinta diterima sekarang?” Bowo memandang Arjuna. Tentu saja Bening diterima dengan mudah, memangnya Arjuna memiliki pilihan lain? Hanya saja, ia memang harus berbasa-basi seperti ini.
“Apa aku punya pilihan lain?” Arjuna tertawa, diikuti Bowo yang ikut tertawa terbahak-bahak. “Tapi gajinya sedikit, tidak apa-apa kan, Sinta?” Arjuna memandang Bening. Gadis itu terkejut karena pertanyaan tersebut, matanya kian membulat membuat Arjuna gemas kepada gadis itu.
Bening malah memandang Bowo untuk meminta persetujuan. Bowo mengangguk pelan, pertanda ia ingin Bening setuju dengan yang dikatakan Arjuna. Arjuna melihat bagaimana Bening begitu bergantung kepada Bowo, membuatnya mengamati setiap inci tubuh Bening yang terlihat di lapang pandangnya. Gadis ini benar-benar pendiam atau sedang sariawan? “Sinta, tidak apa-apa kan. Kalau aku menggajimu kecil? Kalau pendapatan restoran meningkat, gajimu ikut naik. Kamu tenang saja!” Arjuna menjadi penasaran dengan suara Bening.
Bening mengangguk, ia tersenyum kecil kepada Arjuna. Senyum kecil yang begitu menyenangkan hati. Sebuah gerakan sederhana yang membuat detak jantung Arjuna tiba-tiba berdetak cepat. Perasaan apa ini? Baru sekali ini aku merasakannya, Tanya Arjuna dalam hati.
“Baguslah, berarti kita deal ya. Kapan dia mulai bisa kerja?” Bowo sangat antusias, ia merasa tenang jika Bening ditinggalkan di tempat yang seaman tempat Arjuna.
“Besok, bagaimana? Ngomong-ngomong, berapa umur Sinta? Apa dia tidak terlalu muda, Pakde?” Arjuna memperkirakan usia Bening mungkin sekitar pertengahan belasan tahun. Terlalu muda untuk dipekerjakan disini. Terlalu muda untuk dianggap sebagai wanita dewasa. Oh sial, apakah otaknya benar-benar waras? Menyukai anak-anak bukan bagian dari rencana hidupnya.
“Tenang saja! Dia sudah cukup umur. Kamu tidak perlu takut sama KPAI. Dia bukan anak-anak.” Seolah tahu pikiran Arjuna, Bowo melontarkan candaan garing yang membuat bibir Arjuna mengerut.
“Saya dua-dua tahun, Pak.” Suara Bening begitu lembut dan enak didengar. Suara yang selembut gula-gula kapas dan semanis permen lolly itu memanjakan pendengaran Arjuna.
Demi Tuhan, Arjuna baru saja mendengar seorang bidadari berbicara. Arjuna yakin bisa tahan duduk seharian hanya untuk mendengarkan suara Bening yang begitu ... bening. Arjuna mengangguk beberapa kali, bukan untuk mengiyakan ucapan Bening melainkan mengiyakan kata hatinya sendiri. “Nyanyikan beberapa lagu sekarang! Tidak apa-apa kan, Pakde?” Arjuna meminta persetujuan dari Bowo.
Dengan gerakan tangan, Bowo meminta Bening berdiri. Gadis itu segera menuruti Bowo, ia bangkit lalu mendekati keyboard yang sedang disiapkan oleh Andra. Bening berpikir ingin menyanyikan lagu yang sangat ia suka selain lagu muara kasih bunda. Selama menuju ke ujung ruangan dimana Andra sudah berdiri menunggunya, Bening memikirkan lagu apa yang akan ia nyanyikan.
“Biarkan aku jadi pengiringmu!” Andra tersenyum lebar, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Melihat sosok Andra, membuat Bening tersenyum. Pria berbadan tinggi, kurus namun berkulit putih khas orang China tersebut terlihat jelas sedang berusaha mendekatinya. Bening boleh terlihat lugu, tetapi dunia malam mengajarinya untuk membaca setiap tindakan yang dilakukan pria kepada perempuan.
“Mau nyanyi lagu apa?” Andra dengan penuh percaya diri, siap untuk mengiringi lagu apapun yang ingin dinyanyikan Bening.
“Laila canggung?” Bening berpikir lagu dangdut yang sarat dengan keceriaan akan sangat pas dinyanyikan siang hari ini.
Andra berpikir, apakah ada lagu dengan judul seperti itu? Namun melihat Bening, ia jadi yakin memang ada lagu seperti itu. Dengan terpaksa ia menggeleng.
“Cindai.” Lagu dari Siti Nur Halizah tersebut akan membuat Bening dapat memamerkan kemampuan bernyanyinya.
Lagu apa lagi itu? Andra menggeleng beberapa kali.
Bening mengernyit, mungkin Andra tidak mengenal lagu dangdut. “Melodi.” Jawaban Andra kembali berupa gelengan pelan. Semua tembang lawas membuat Andra menggeleng. “Lagu apapun dari Raisa.” Bening mulai jengkel karena sekali lagi Andra menggeleng. “Lagu apa yang kamu bisa?” Akhirnya Bening memilih Andra yang memutuskan lagu yang ia bisa.
“Sempurna, Andra and the backbone.” Bening segera mengangguk, ia tahu lagu itu dan ia juga bisa menyanyikannya bahkan sambil memainkan alat musik.
Andra puas, ia segera duduk di depan keyboard. Ia akan membuktikan kemampuannya dalam memainkan keyboard, Andra bahkan berani menyombongkan diri dengan menciptakan intro yang rumit sehingga ke sepuluh jarinya harus bergerak cepat namun menimbulkan rangkaian suara nan indah. Ia tersenyum lebar ke arah penonton yang hanya ada Bowo, Arjuna dan para pegawai restoran.
Bening pun bersiap, ia berdiri sambil memegang mikropon. Ia memandang seluruh ruangan, mengamati penontonnya satu persatu sambil menunggu intro musik yang panjang berakhir. Bening beberapa kali menarik napas, ia pikir intro sudah selesai namun kenyataannya intro memakan waktu beberapa menit membuat Bening kesal dan Arjuna mendelik karena Andra benar-benar membuatnya kesal.
Andra tersenyum kikuk, ia sadar telah melakukan sesuatu yang berlebihan. Tetapi Bening memang pantas mendapatkan sebuah penghargaan dengan mendengarkan kehebatan permainan musiknya bukan?
Andra memberi kode kepada Bening untuk mulai bernyanyi. Gadis itu mengangguk perlahan dan ia mulai mengeluarkan suaranya.
Kau begitu sempurna
Di mataku, kau begitu indah
Kau membuat diriku akan slalu memujamu
Di setiap langkahku
Ku kan slalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu
Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu kuhadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Demi sang ibu, baru sekali ini Arjuna mendengarkan suara seindah Bening. Gadis itu luar biasa, wajahnya cantik dan suaranya bisa melelehkan es yang disimpan di kulkas. Arjuna terbengong-bengong, matanya tidak berkedip seolah takut jika ia berkedip, Bening akan hilang.
Bowo tersenyum, ia tahu suara Bening pasti bisa menghipnotis siapapun. Ah, seandainya ia mau melakukannya. Bisa saja ia membuat Bening menjadi bintang di TV, namun itu terlalu berlebihan. Ia tidak ingin Bening menjadi sorotan media, ia lebih suka menjadikan Bening sebagai mutiara di laut. Tidak banyak orang yang akan bisa menikmati keindahan mutiara, seperti itulah Bening.
***
Rahmadi telah selesai melakukan pekerjaannya, ia teringat Arjuna yang memiliki restoran yang tidak jauh dari bengkelnya. Tidak perlu membawa mobil, karena berjalan beberapa meter lalu menyeberang jalan maka sudah sampai di restoran tersebut.
Langkah kaki pria itu lebar-lebar namun sangat santai, tidak diburu waktu namun cukup cepat sampai di depan restoran. Suara Bening menyambut kehadirannya, membuat Rahmadi terhenyak oleh kelembutan dan kemerduan suara wanita. Ia bergegas masuk ke restoran, ia sangat penasaran siapa wanita yang membuat hatinya bergejolak hanya karena sedang mendengarkan suaranya.
Rahmadi memandang seorang gadis dengan perasaan berbunga-bunga. Dia bukan perempuan biasa, dia Dewi Afrodsit yang terkenal akan kecantikan dan daya seksualitasnya. Rahmadi tidak mampu melepas perasaan yang tiba-tiba menghangat. Gadis cantik itu, harus menjadi milikku, katanya dalam hati.
Melihat tetangga barunya bergeming di pintu, Arjuna tersenyum lalu segera berdiri dan segera menyambutnya. “Pak Rahmadi ... selamat datang.” Arjuna menjabat tangan Rahmadi dengan erat.
Rahmadi tersenyum, ia senang dengan sambutan hangat tersebut. “Selamat siang, Pak Arjuna.” Rahmadi menepuk pundak Arjuna.
“Saat yang tepat. Saya sedang mengaudisi penyanyi baru restoran saya.” Arjuna tergelak, mungkin suatu saat ia bisa benar-benar melakukan audisi untuk menjadi penyanyi di restoran ini, bergantian dengan Bening.
"Suaranya enak.” Dan cantik. Seolah terkena sihir, Rahmadi tidak dapat mengacuhkan sosok Bening walau sedetik saja.
Arjuna menepuk pundak Rahmadi untuk meminta perhatian pria tersebut. Ia mengajak Rahmadi untuk duduk bersama Bowo. Ia memperkenalkan Rahmadi kepada Bowo. “Pak Rahmadi, ini Pak Bowo. Mantan tetangga saya ... Pak Bowo, ini Pak Rahmadi. Tetangga baru saya,” ucapnya.
Rahmadi menjabat tangan Bowo sekian detik saja sebelum pandangannya tertuju kepada Bening. “Dia anakku. Sinta.” Seolah tahu apa yang ingin diketahui Rahmadi. Bowo memperkenalkan Sinta dari jauh, ia tidak ingin Rahmadi berkenalan sendiri dengan Sinta. Entah mengapa, Bowo merasa pria yang ada di depannya memiliki aura kelam. Ia tidak ingin Rahmadi ada di dekat Bening dan Arjuna harus tahu hal itu.
Bening masih menyanyikan lagu saat tiga pria tersebut duduk dalam satu meja. Baik Arjuna maupun Rahmadi tidak ingin kehilangan momen mendengarkan suara itu, seolah tidak ada hari esok bagi mereka berdua.
Bowo menghela napas, ia berpikir jangan-jangan Arjuna juga kena imbas veromon yang tanpa sengaja ditebar oleh Bening. Gadis itu benar-benar! Tanpa melakukan apapun, gadis itu ibarat sekuntum bunga yang wangi dan indah.
Bening baru saja menyelesaikan lagu yang ia bawakan. Ia meletakkan mikropon ke tempatnya lalu melangkah mendekati Bowo. Pria itu sedang duduk dengan seorang pria yang mengingatkannya kepada pria yang tadi bertatap muka dengannya saat ia berada di dalam mobil.
Siapakah pria itu? Bening bertanya-tanya dalam hati.