Rahmadi tidak bisa melepaskan pandangan dari Bening, wanita itu luar biasa cantik dan sulit untuk diabaikan. Sesaat ia terpaku, seolah waktu menghentikan semuanya namun ternyata hanya ia sendiri yang tidak mampu bergerak. Hipnotis apa yang dipakai gadis itu hingga membuatnya tak berdaya seperti ini?
“Pak Rahmadi, anda pesan apa?” Arjuna memecah suasana. Ia tidak suka cara Rahmadi memandang Sinta, putri angkat Bowo, pria yang dulu pernah menjadi tetangganya.
Rahmadi jelas menunjukkan tatapan terpesona, entah mengapa hal ini membuat sebagian hati Arjuna merasa tersakiti. Arjuna menggeleng, membuyarkan pikirannya yang melantur kemana-mana.
Saat melihat Bening berjalan mendekati meja mereka, Arjuna spontan berdiri, ia merasa harus menarik kursi untuk Bening agar gadis itu lebih mudah untuk duduk. Tetapi rupanya Rahmadi bergerak cepat, entah sejak kapan pria itu sudah berada di belakang kursi dimana Bening kini akan duduk di kursi itu.
Bowo yang hanya memerhatikan tingkah dua pria dewasa tersebut hanya bisa menghela napas. Apakah keputusannya membawa Bening ke tempat ini adalah pilihan yang bijaksana? Jika kepada gadis-gadis lain, Bowo akan tertawa senang mendapati dua pria berebut salah satunya. Hari ini Bowo merasa ingin meledak, menyaksikan anak kesayangannya seperti sekuntum bunga diperebutkan dua ekor lebah.
“Ben ... Sinta. Sebaiknya sering-seringlah bernyanyi! Suaramu pitchy di sana-sini,” ucap Bowo.
“Maaf...” Bening menjadi kikuk, diperkenalkan sebagai anak apakah Bening harus memanggil Bowo dengan panggilan ayah atau Om seperti biasanya?
“Papamu ini sudah tua, tapi bukan berarti tidak bisa mendengar kekuranganmu.” Bowo harus membiasakan Bening memanggilnya dengan sebutan Papa. Ehm, sebaiknya semua anak-anaknya mulai memanggilnya dengan panggilan yang sama agar tidak ada menimbulkan kecurigaan.
Bening mengangguk sebelum ia menunduk. Ia enggan menjawab ucapan Bowo karena Bening memang tidak pernah mendebat ucapan pria itu.
Melihat bagaimana Bening begitu rapuh, alarm melindungi dalam diri Rahmadi menyala keras, tetapi sayang sekali ia belum memperkenalkan dirinya kepada gadis yang telah mengambil hatinya.
“Sudahlah Bening, kamu ini bawahanku. Menurutku bagus, ucapan orang lain tidak perlu kamu dengar.” Arjuna melirik Bowo, membuat pria itu terkejut dengan sikap frontal yang baru saja diperlihatkan oleh Arjuna.
Persaingan sedang dimulai rupanya. “Apa dia akan baik-baik saja disini?” Tanpa sadar, Bowo menggumamkan kata-kata tersebut.
Arjuna tidak bisa mendengarkan apa yang sedang diucapkan oleh Bowo, tetapi ia merasa kepercayaan pria itu melemah sejak kehadiran Rahmadi. Arjuna sendiri merasa pasti Rahmadi juga menaruh hati kepada Sinta. Tapi hei, yang benar saja. Ia baru berkenalan dengan Sinta. Tidak mungkin ia merasa cemburu kepada pria lain yang mendekati gadis yang tidak berhubungan apapun dengannya.
Andai saja Arjuna tidak sedang duduk dengan Rahmadi, Sinta dan ayah angkatnya. Arjuna pasti menempeleng kepalanya sendiri karena kesal dengan apa yang ada di pikirannya. Otak dan hatinya sedang melantur kemana-mana.
Rahmadi senang karena ia duduk di sebelah Bening. Gadis itu duduk dengan dua tangan bertaut di atas pangkuannya sendiri. Rahmadi berpikir bahwa gadis itu sedang merasa tidak nyaman, tentu saja karena kehadiran dua orang pria dewasa membuat gadis selugu itu akan merasa tidak nyaman.
“Perkenalkan. Aku Rahmadi. Senang bisa bertemu wanita yang memiliki suara indah sepertimu.” Rahmadi mengulurkan tangan namun Bening hanya memandang telapak tangan besar dengan bulu-bulu halus menghiasi tangan tersebut tanpa ada keinginan membalasnya.
“Sinta.” Bowo membuat Bening memandang pria itu. Bowo ingin Bening mulai membuka diri. Gadis itu tidak boleh terlalu lama terkurung dalam penjara yang dibuatnya sendiri.
Perlahan Bening mengulurkan tangan hingga akhirnya kulitnya bersentuhan dengan Rahmadi. Tangan pria itu kasar, seperti pekerja kasar. Tangan pria itu meremas tangan Bening, membuat dua alisnya mengerut dan lirikan tajam dihadiahkan kepada Rahmadi.
Melihat ekspresi Bening, membuat dua alis Rahmadi terangkat. Gadis itu sedang tidak nyaman dan melihat kedua alisnya bertaut, mungkin gadis itu sedang menyumpahnya. Meski berat, dengan terpaksa Rahmadi melepaskan tangan Bening.
Dasar p****************g, apa kamu pikir aku tidak bisa membaca gerak-gerikmu? Ish.
Bening membuang muka, ia memandang Bowo sambil berharap pria itu mengerti bahwa ia sedang tidak nyaman. Akan tetapi nyatanya Bowo sedang asyik bernostalgia dengan Arjuna, membuatnya menghela napas berat. Bening mengambil gelas es jeruknya, namun kesembronoan membuat gelas itu justru terjatuh dan sebagian airnya tumpah di pangkuan Bening. Sontak gadis itu berdiri lalu menepuk celananya yang basah.
Mengetahui insiden kecil itu, Rahmadi dan Arjuna spontan berdiri secara bersamaan sambil mengulurkan sebuah sapu tangan kepada Bening. Gadis itu terkejut saat melihat dua sapu tangan berada di hadapannya.
“Kamu ini, ceroboh!” Bowo menyerahkan sapu tangannya. Ia memandang dua pria yang kembali duduk dengan raut wajah kecewa, sudah jelas karena bantuan kecil mereka ditolak oleh Bening.
“Maaf ... Pak Arjuna, dimana toiletnya?” Bening ingin membersihkan celananya.
Arjuna tersenyum, ini angin segar baginya. Ia bersiap mengantar Bening ke toilet yang ada di belakang restoran, bukan toilet yang ada di dalam restoran.
“Itu toiletnya.” Sayangnya Bowo justru menunjukkan letak toilet yang ada di sisi kiri restoran. Arjuna hanya bisa menghela napas berat. Hilang sudah kesempatan untuk mendapatkan momen berjalan berdua dengan Sinta, walau hanya beberapa meter saja.
Bening segera menuju toilet, sendirian. Gadis itu mengibaskan celana dari kulit yang mulai merasakan lengket. Bening ingin membersihkan celana sesegera mungkin, lalu pulang dan berganti pakaian. Tanpa kejadian tumpahnya es jeruk, pasti sekarang ia sudah kembali pulang.
Bowo hanya bisa geleng-geleng, kejadian barusan benar-benar menggelikan. Dua pria sukses memperebutkan Bening. Jangan-jangan istri Sardi titisan dewi sehingga bisa melahirkan anak sejelita Bening.
“Jun, aku mau pulang saja. Sinta paling tidak suka pakaian basah. Bisa ngambek dia kalau aku maksa lama-lama disini.” Bowo menggunakan momentum ini untuk pulang. Meski ucapannya hanya sebuah karangan, namun toh baik Arjuna maupun Rahmadi sepertinya percaya dengan ucapannya.
“Oke, Pakde. Jangan lupa besok pagi ya!” Arjuna melirik Rahmadi, iya merasa menang satu langkah darinya. Sial, apa ia benar-benar sedang cemburu kepada pria yang ada di sebelahnya?
Rahmadi menepuk sandaran kursi secara perlahan, ia ikut bangkit lalu mengulurkan tangan kepada Bowo. “Senang berkenalan dengan anda. Jika kendaraan anda butuh bantuan ... jangan segan-segan menghubungi saya.” Rahmadi perlahan meremas tangan Bowo, memberi penekanan bahwa ia berkata sebenarnya.
Bowo memandang lekat Rahmadi, pria ini memiliki tampang arogan dan tampak jelas memiliki sikap proteksi tinggi. Rahangnya yang kuat dan sepasang mata dengan tatapan kelam, menjelaskan hal ini kepadanya. Tetapi apa yang ada di dalam pikirannya, bisa saja salah. Bisa jadi Rahmadi, pria baik yang memang berkarakter tenang ... sepertinya.
Bening baru saja keluar dari toilet, ia masih mengusap celana jins yang masih basah setelah terkena air tadi. Bening mendekati Bowo, pria itu sudah siap meninggalkan restoran. Bening bersyukur akhirnya ia bisa kembali ke kediaman mereka.
Arjuna dan Rahmadi mengantarkan kepergian Bowo serta Bening. Keduanya berjalan beriringan di belakang Bowo dan Bening, namun sudah jelas mata keduanya tertumbuk pada sosok Dewi Afrodit yang sudah mencuri hati mereka semudah membalikkan telapak tangan.
Bowo berhenti tepat di depan mobilnya. Ia segera memutar badan dan lagi-lagi ia memergoki dua pria dewasa sedang memandang Bening. Kumis Bowo bergerak perlahan saat bibirnya mengerut. Ia sempat sebal, namun bukan salah dua pria itu jika mereka merasa tertarik kepada Bening. Gadis itu pun tidak bisa disalahkan karena memiliki hormon penebar pesona –seandainya hormon itu benar-benar ada, pasti Bowo menyebutnya demikian—.
“Kami pergi dulu. Terima kasih bantuanmu, Arjuna.” Bowo menjabat tangan Arjuna namun Arjuna menariknya hingga tubuhnya jatuh ke dalam pelukan pria itu. Sialan ini bocah!
Arjuna senang sekali karena Bowo membawa seseorang yang ia yakini dapat menjadi sumber kebahagiaannya. Mungkin terdengar konyol, akan tetapi itulah yang dirasakan Arjuna kepada Bening.
Rahmadi menyeringai, ia tahu Arjuna merasa memiliki angin segar mengingat hubungan baiknya dengan ayah wanita yang sangat diinginkannya. Wanita berwajah melankolis, lugu namun memiliki tatapan mata yang tajam. “Sinta, senang berjumpa denganmu,” ucapnya.
Sinta hanya memandang Rahmadi lekat, ia malas menanggapi ucapan pria itu. Selalu saja ada pria-pria pengganggu dalam hidupnya. Selain Hardy, tidak ada pria baik di dunia ini. Semua lelaki menginginkan sesuatu yang lebih. Seperti ayahnya kepada mendiang ibunya, seperti itulah laki-laki di mata Bening.
Bening membuang muka, ia segera masuk ke mobil tanpa bicara sepatah katapun. Setelah di dalam mobil, ia baru sadar jika belum berpamitan dengan Arjuna. Gadis itu menghela napas berat, Rahmadi sudah membuatnya bersikap tidak sopan.
Bening memandang Rahmadi dari dalam mobil, di sini ia berani mendengus, menyipitkan mata sambil menyumpahi pria itu. Ia berharap ini adalah pertemuannya yang pertama dan yang terakhir.
***
“Kalau kamu keberatan, tidak masalah jika kamu menolak pekerjaan ini. Om, akan mencarikan pekerjaan lain. Tapi yang pasti, kamu harus memiliki pekerjaan karena aku tidak suka melihat anak-anakku suka seenaknya. Hanya karena kamu titipan Rena, bukan berarti kamu bisa seenaknya.” Bowo masih berkeras tidak ingin membuat Bening merasa di-anak emaskan meskipun sebenarnya memang demikian.
Bening mengerti, ia tidak enak hati jika menolak tawaran Bowo. Kapan lagi ia mendapat kesempatan baik, bisa bekerja diluar dunia yang diciptakan Bowo, bersama ayahnya yang bisa bersikap layaknya seekor anjing yang membuat Bening jijik memiliki ayah sepertinya.
“Saya tidak apa-apa, Om. Saya lebih baik bekerja dengan Pak Arjuna.” Bening memandang keluar jendela, ia membayangkan hari-hari indah bekerja disana.
Bowo mengangguk, meski Arjuna memperlihatkan ketertarikan kepada Bening, namun ia yakin pria itu tidak bertindak ceroboh dengan menyakiti Bening, misalnya. Tetapi bagaimana dengan Rahmadi? Pria itu pasti menjadi masalah tersendiri. Bowo mengingatkan pada dirinya, ia tidak menjual Bening untuk alasan apapun. Gadis itu adalah anak dan seorang ayah tidak akan menjual anaknya sendiri. Tiba-tiba ada rasa bangga muncul di dalam hati Bowo. Sebuah rasa baru yang ternyata begitu manis. Menjadi ayah tidak harus menunggu bibit dari tubuhnya membuahi sel telur wanita bukan? Bowo mengiyakan pertanyaan yang ia buat sendiri.
“Bagaimana dengan Rahmadi? Kupikir dia pasti akan mengganggumu.” Bowo mengingatkan Bening.
Bening menoleh, memandang Bowo saksama. Tentu saja keberadaan Rahmadi akan sedikit menyulitkannya, tetapi Bening yakin bisa menghadapi pria itu.
“Saya pasti bisa mengatasinya.”
Bagaimana kisah selanjutnya?