Hari ini benar-benar hari yang sangat indah. Bening sudah tidak ngambek dan dagangan mereka habis dalam waktu singkat. Sore hari yang sangat cerah, secerah wajah dua anak manusia yang saling menyayangi. Berjalan bersama melintasi rumah-rumah yang cukup padat.
Hardy menenteng timba kosong sementara Bening melompat-lompat kecil, membuat rambut panjangnya bergoyang-goyang indah. Sesekali Bening memandang kakaknya, sekedar berbagi senyum sarat makna.
Seorang wanita berdiri di depan rumahnya, memandang Hardy yang melintas di depannya tanpa menoleh seperti biasanya. Wanita itu pun berjalan beberapa langkah, sekedar agar suaranya bisa terdengar oleh Hardy tanpa berteriak. “Hardy. Ikannya masih ada tidak?” tanyanya.
Hardy menghentikan langkah, sesaat memandang wanita yang menjadi salah satu langganannya. Wanita yang dikenal dengan nama Bu Timbul. “Sudah habis, Bu,” sahut Hardy.
Bu Timbul kecewa, ikan yang dijual Hardy berharga cukup miring. Inilah mengapa ia suka menunggu Hardy lewat. “Lain kali, jual ikanmu kepadaku, Har. Ibu pasti membelinya.” Nada kecewa keluar dari mulut wanita berbadan gemuk tersebut.
Hardy tersenyum, senang karena telah memiliki pelanggan tetap. “Maafkan saya, Bu. Tadi ada bapak-bapak yang membeli ikan saya di jalan.” Hardy menunjuk ke arah jalan yang ia maksud.
“Ya sudah. Besok kamu mencari ikan lagi kan?”
“Iya, Bu.”
“Besok jangan dijual ke siapapun. Ibu akan membelinya,” ucapan wanita itu memberi angin segar bagi Hardy.
“Iya, Bu. Permisi.” Hardy tidak mau berlama-lama, ia ingin segera pulang untuk berbagi kebahagiaan bersama ibunya. Pasti Ibu senang jika tahu dagangannya laku keras, berjualan ikan jauh lebih menguntungkan ketimbang jualan kue. Hardy sudah memutuskan akan terus mencari ikan di sungai dan menjualnya.
Hardy mempercepat langkah, membuat Bening harus setengah berlari untuk mengimbanginya. Meski demikian, Bening tidak mengatakan sesuatu, gadis itu sendiri ingin secepatnya sampai ke rumah untuk mandi. Badannya sudah sangat lengket oleh keringat, apalagi bau badannya, sudah sama persis dengan bau ikan mujair.
Sampai rumah, Bening segera berlari ke kamar mandi, ia tidak mau membuang waktu lagi. Sementara itu, Hardy segera mencari sang ibu. Ia ingin menyerahkan hasil kerjanya. “Ibu ... Ibu.” Hardy berteriak sambil mencari di kamar, namun wanita itu tidak ada disana.
Hardy segera ke dapur, mungkin saja wanita itu ada disana. Namun sekali lagi Hardy harus merasa kecewa karena sang ibu pun tidak ditemukan.
Kemana Ibu pergi? tanya Hardy dalam hati.
Hardy meletakkan timba di dekat rak piring. Haus yang menyiksa seharian harus segera dihilangkan, ia pun mengambil gelas dan mengambil air dari dalam ceret. Meneguk dengan tergesa-gesa lalu meletakkan gelas kosong ke atas meja.
Membuka tudung saji, Hardy memandang nasi yang masih mengepul, sambal tomat dan beberapa potong tempe goreng. Ia sudah tidak sabar untuk menyantap makanan tersebut. Tanpa menunggu lama, ia segera mengambil piring dan mengisi perut dengan makanan yang sangat lezat.
Hardy menikmati makanannya dengan sangat lahap. Dalam waktu singkat sepiring nasi sudah masuk ke dalam perutnya. Hardy tidak beranjak dari tempatnya, ia kembali mengambil secentong nasi, sepotong tempe goreng dan sesendok sambal tomat. Masakan sederhana tapi sangat nikmat bagi Hardy, mulutnya tidak berhenti mengunyah hingga tanpa terasa piring sudah hampir kosong kembali.
Bening baru saja selesai mandi, rambutnya masih basah, ia menggosoknya dengan handuk berwarna merah muda. Melewati ruang tengah, Bening melihat Hardy sedang asyik makan dengan lahap. Bening menggeleng beberapa kali, ia mencibir sang kakak yang dianggapnya sangat jorok.
Bening mendekati Hardy dan duduk bersila di sebelah Hardy. “Kakak, jorok!” cibirnya.
Hardy hanya menatapnya sekilas, ia kembali memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Hardy makan terlalu cepat hingga akhirnya ia tersedak. Bening berdiri, mengambil segelas air dan segera menyerahkannya kepada Hardy.
“Kalau makan pelan-pelan, Kak. Tidak ada yang akan merebut tempemu.” Meski berkata demikian, mata Bening tertumbuk pada potongan tempe yang ada di atas piring Hardy. Melihatnya, sang kakak memutar badan, membuat Bening kembali mencibirnya.
Bening celingukan, rumah sangat sepi. “Kak Ibu dimana?” tanyanya heran.
“Aku tidak tahu. Sana pergi! Jangan ganggu aku!” Hardy ingin makan dengan tenang tanpa gangguan apalagi dari Bening.
***
Di sebuah warung sederhana, terbuat dari anyaman bambu. Tampak seorang wanita dengan memakai daster berwarna biru sedang berdiri di hadapan wanita yang memakai kebaya sederhana.
Indah menatap Mbok Pah dengan pandangan tidak percaya. Suaminya sudah berhutang cukup besar. Dua ratus ribu rupiah hanya untuk membeli rokok selama seminggu penuh. Entah berapa batang yang dihabiskannya setiap hari sampai bisa menghabiskan uang dua ratus ribu rupiah.
“Bu Indah tidak percaya?” Wajah Mbok Pah menunjukkan keseriusannya. Ia mencatat semua transaksi yang dilakukan Sardi kepadanya. Pria itu setiap hari mengambil sebungkus rokok setiap pagi dan sore hari, terkadang pria itu juga membeli keperluan lain.
Indah menatap nanar buku yang ditunjukkan Mbok Pah kepadanya. Ia menggigit bibir bawah, emosi meledak dalam hati dan kepalanya namun wajah dan gerak-geriknya tetap terlihat tenang. Ia mengembalikan buku tersebut kepada Mbok Pah. Uang dua ratus ribu rupiah yang hendak ia bayar untuk menutupi hutang dirinya sendiri pada akhirnya harus dibayarkan untuk hutang sang suami.
“Saya bayar dua ratus ribu dulu ya, Bu.” Indah menyerahkan dua lembar uangnya seratusan ribu kepada Mbok Pah dengan rasa berat hati. Sebetulnya Indah ingin membayar hutangnya sendiri, sekitar seratus sembilan puluh ribu rupiah lalu hendak menghutang beras, minyak dan telur setengah kilo gram. Namun mengingat hutang masih cukup banyak, ia mengurungkan niat.
Mbok Pah merasa iba, Indah adalah wanita yang sangat santun dan baik. Hanya saja takdir membuatnya terjebak pernikahan dengan pria yang hanya merupakan salah satu sampah masyarakat di kampung tersebut. “Bu Indah, ini hanya antara kita berdua saja.” Mbok Pah tidak sampai hati bila harus melihat wanita itu pulang tanpa membawa apapun.
“Ada apa, Mbok?” Indah melangkah mendekat, sangat dekat hingga dadanya menempel pada etalase toko Mbok Pah.
“Kamu kesini mau beli apa? Aku kasih. Tapi bulan depan kamu bayar ya!” tawar Mbok Pah.
Indah sangat terkejut, Mbok Pah memang wanita baik namun memberinya hutang sementara hutangnya yang lalu belum lunas, ini benar-benar kejutan luar biasa. “Memangnya boleh begitu, Mbok?” Indah masih belum bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi.
Mbok Pah menyipitkan mata, “tapi ini antara kita saja. Jangan sampai ada yang tahu. Apalagi suamimu.” Wanita bertubuh kurus dan tinggi tersebut berbicara setengah berbisik, seolah-olah ada seseorang disana.
“Pasti, Mbok. Ini akan jadi rahasia kita.” Indah sangat bersyukur, akhirnya ia dapat membeli kebutuhan pokok keluarganya.
Mbok Pah tersenyum, ia seorang janda yang ditinggal mati suaminya beberapa tahun lalu. Melihat kondisi Indah dan anak-anaknya, ia merasa bersyukur karena tidak melewati hidup sesulit Indah. Mendiang suaminya sangat baik hati dan kini menjadi janda jauh lebih baik daripada harus bersuami seorang pria seperti Sardi.
Indah menyebutkan semua barang yang ia butuhkan. Dengan tangkas, Mbok Pah menimbang beras, minyak goreng serta telur sesuai yang diinginkan Indah. Mbok Pah tidak lupa mencatat semua hutang Indah, memperpanjang daftar hutang yang harus Indah bayarkan.
Namun hal ini bukan masalah besar, yang terpenting ia dapat memberi makan anak-anaknya dan membayar hutang saat ia sudah memiliki cukup uang.
***
Dengan perasaan senang, Indah pulang ke rumah. Ia menenteng belanjaannya dan tidak sabar ingin segera sampai rumah. Bertemu dengan anak-anak dan menghabiskan waktu sampai malam adalah waktu yang selalu membahagiakannya.
Sampai di depan rumah, ia tahu dua anaknya sudah pulang hanya dengan melihat pintu yang terbuka lebar. Wanita tersebut segera menghambur masuk, memandang kedua anaknya sedang menikmati makanan buatannya. “Assalamu alaikum,” sapanya.
“Waalaikum salam. Ibu....” Bening segera bangkit, mendekati sang ibu dan merebut belanjaannya. Membawa kantong yang cukup berat tersebut ke dapur.
Indah mengamati putrinya sambil mendekati putranya. Anak lelakinya sudah selesai makan saat ia duduk, sementara piring lain masih terdapat setengah porsi nasi, tempe goreng serta sedikit sambal tomat di ujung piring.
“Kenapa kalian tidak menunggu Ibu? Ibu baru saja mau membuatkan kalian telur mata sapi,” ujar Indah.
“Tidak apa-apa, Bu. Aku sangat lapar. Seandainya tadi hanya ada nasi. Aku tetap memakannya.” Hardy bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Bening telah meletakkan belanjaan ibunya di dapur, ia kembali mendekati keluarganya, duduk diantara ibu dan kakaknya. “Aku mau telur mata sapi, Bu.” Bening menyerahkan piringnya kepada Indah.
“Tunggu sebentar ya. Ibu buatkan telur mata sapi paling enak sedunia,” kelakar sang ibu.
“Tentu saja. Masakan Ibu juara.” Bening menunjukkan dua jempolnya. Indah memang seorang ibu luar biasa. Bening bahagia memiliki Indah, sebahagia memiliki Hardy sebagai kakak kandungnya.
“Ih, kamu ini. Kalau ada maunya saja.” Indah tertawa kecil, senang mendapat pujian dari sang putri.
“Bening-Bening.” Hardy menggeleng pelan, melirik sang adik dengan sudut matanya.
“Aku cantik kan?” Bening mengedipkan mata beberapa kali, memasang senyum paling menawan.
“Masih cantikan si mona,” desis Hardy. Membandingkan mona, kucing kampung peliharaan Mbok Pah dengan Bening. Keduanya sama-sama sok imut dan suka mencari perhatian.
“Maksud Kakak, mona kucingnya Mbok Pah?” Bibir Bening mengkerut, dua tangannya dilipat. Tidak percaya bahwa sang kakak membandingkan dirinya dengan seekor kucing paling dekil yang pernah ia lihat.
Melihat sang adik, Hardy tertawa terpingkal-pingkal. Sementara itu Bening sudah siap menangis karena olok-olok Hardy. “Nangis-nangis,” sindir Hardy.
Bening semakin kesal, air mata yang hendak luruh akhirnya kembali masuk ke dalam rongga mata. Mata bulatnya mencari-cari sesuatu hingga saat menemukan serbet menggantung di tepi meja, Bening segera merenggutnya dan melemparkannya tepat di wajah Hardy.
Hardy terkejut, ia mendekati Bening dan mulai menyerang gadis itu dengan gelitikan di pinggang, membuat gadis itu jatuh telentang sambil tertawa terbahak-bahak, berusaha menepis tangan Hardy. “Kakak, Geli.” Tawa keras Hardy dan Bening terdengar di seluruh penjuru ruangan bahkan Indah bisa mendengar tawa kedua anaknya.