Kring – kring,
Kring - kring
Suara bel sepeda memecah keheningan. Beberapa anak-anak tertawa riang, mengendarai sepeda mereka sambil mengganggu beberapa orang termasuk Hardy dan Bening.
Kedua bocah tersebut segera merapat di dinding pagar rumah seseorang, takut tertabrak sepeda. Wajah kaget sekaligus kesal tampak jelas di raut keduanya namun hal tersebut justru menjadi gelak tawa bagi anak-anak. Senang karena berhasil membuat orang lain terkejut oleh mereka.
“Ih, dasar!” rutuk Bening. Gadis itu menatap anak-anak menjauh dengan sepeda mereka, mengayuhnya cukup kencang hingga tidak perlu waktu lama, mereka telah hilang dari penglihatannya.
Bening mengerucutkan bibir, anak-anak itu sombong sekali, baru punya sepeda saja sudah segitunya. Nanti jika Bening sudah memiliki sepeda, ia tidak akan jahil kepada pengguna jalan lain. Ia tidak akan mengganggu orang lain seperti mereka. Bening berjanji dengan sangat tulus, terbukti dengan anggukan kecil sambil menepuk dadanya pelan.
“Ayo!” Hardy tidak ambil pusing, dalam pikirannya hanya bagaimana ia menjual kue-kuenya lebih cepat. Hari masih siang tapi mendung sudah menghiasi langit.
Hari ini ia ingin ke pasar untuk melihat sepeda dan menanyakan harganya. Jadi ia harus cepat, ia tidak ingin hujan membuat pekerjaannya tertunda.
Bening mengekor langkah Hardy, berusaha berjalan sejajar dengan saudaranya. Ia berjalan setengah melompat, semangat untuk menjajakan kue dan mendapatkan banyak uang sedang membumbung tinggi, setinggi keinginannya untuk memiliki sepeda.
“Nanti kita beli sepeda warna biru atau merah, Kak?” Bening memecahkan pikiran Hardy, membuat anak lelaki tersebut menoleh ke adiknya.
“Kita lihat nanti, Bening. Warna apapun tidak masalah,”jawab Hardy.
“Aku sih mau pink. Tapi Kakak tidak bisa pakai dong.” Bening tertawa geli membayangkan Hardy naik sepeda berwarna pink bergambar barbie, seperti sepeda yang dikendarai beberapa anak tadi.
Hardy melirik Bening, ia tahu apa yang ada dalam pikiran adiknya. Sayang sekali kedua tangannya sedang sibuk jadi ia tidak bisa menjitak kepala adik cantiknya. Sebagai gantinya, ia semakin mempercepat langkah membuat sang adik berang. Gadis itu menyentakkan kaki kirinya, pipinya menggembung dan dua alisnya mengkerut kemudian ia berlari mengejar sang kakak.
“KUE-KUE, KUE ENAK. MARI BELI!” Sepanjang berjalan, Bening dan Hardy berteriak menjajakan kue mereka.
Mendung masih menghiasi langit, membuat orang-orang masuk ke dalam rumah mereka. Angin berhembus cukup kencang, pertanda hujan akan segera datang. Orang-orang mempercepat kegiatan mereka.
Beberapa ibu-ibu nampak sedang mengangkat jemuran, seorang wanita renta memasukkan tampah berisi kerupuk basah yang dijemur di atas pagar tembok rumahnya. Beberapa pejalan kaki setengah berlari melintasi Hardy dan Bening, pasti mereka ingin secepatnya sampai di tempat tujuan sebelum hujan turun.
“KUE-KUE, KUE ENAK. MARI BELI.” Hardy berusaha tidak mengindahkan masalah hujan. Ia harus tetap menjajakan kuenya sebelum hujan benar-benar turun dan membuatnya berteduh sementara waktu, yang artinya ia harus menunda waktu mendapat keuntungan dari jualan kue.
Setetes hujan jatuh dari langit tepat di puncak kepala Hardy. Anak tersebut mengulurkan tangan, meyakinkan diri bahwa hujan benar-benar turun. Saat setetes hujan jatuh di telapak tangannya, bocah itu bersiap berlari. “Bening, ayo kesana!” Hardy bahkan tidak menunjukkan dimana mereka akan berteduh, ia segera berlari menuju sebuah warung dimana terdapat beberapa orang sedang berteduh.
Bening berlari mengikuti Hardy, hingga langkahnya berhenti di depan warung tersebut. Ia merapatkan tubuhnya pada tembok yang terbuat dari anyaman bambu. Hujan turun dengan sangat deras, guntur dan petir saling sahut menyahut, angin berhembus sangat kencang, menggoyangkan dedaunan bak tarian seorang penari profesional.
“Kuenya masih ada?” Seorang pria memakai jaket biru mencuri perhatian Hardy.
Sesaat Hardy memandang kotak kuenya, gerakan spontan setelah terbangun dari lamunan. “Masih-masih, Pak.” Hardy segera membuka kotak kue dan menunjukkan isinya kepada pria tersebut.
Lemper, lumpia, kue lumpur, pastel, lapis dan kroket masih memenuhi kotak kue. Pria itu menatapnya rakus, rasa lapar tiba-tiba menyeruak. Ia meminta tas kresek dan segera mengisinya dengan dua kue setiap jenisnya. “Berapa?” tanyanya.
“Sembilan ribu, Pak.” Pria tersebut merogoh kantong celana, mengambil dompet dan mengambil uang sepuluh ribu rupiah.
Ia menyerahkan uang tersebut kepada Hardy. Hardy mengambil uang seribu rupiah sebagai uang kembalian namun pria itu menolaknya. Hardy mengingat pesan sang ibu untuk tidak menerima belas kasih orang lain sehingga Hardy memutuskan memberikan satu kue pastel kepada pria itu sebagai gantinya.
Hujan masih sangat deras, angin berhembus sangat cepat. Beberapa plastik beterbangan di jalan terbawa angin. Jalanan tertutup kabut putih akibat derasnya hujan. Jika hujan lebih deras dan angin lebih kencang lagi maka bisa jadi pohon-pohon yang ada di tepi jalan akan tumbang.
“Kalian masih sekolah?” Pria itu kembali memecah keheningan, membuat Hardy dan Bening menoleh.
“Masih,” jawab Hardy singkat.
“Kalian tidak sekolah?” Pria itu memandang lekat Hardy dan Bening bergantian. Ada rasa iba muncul dalam hatinya. Anak-anak ini tidak seharusnya mencari nafkah seperti ini. Semiskin apa mereka berdua? Seperti apa kehidupan orangtua mereka berdua? Pertanyaan itu muncul begitu saja dalam hatinya.
“Kami sudah pulang, Om.” Bening menjawab dengan nada ceria.
Pria tersebut mengangguk, ia kembali menatap hujan dan kilat, kemudian suara guntur menggelegar membuat kejutan luar biasa untuknya. Suarany seperti suara bom meledak. “Cita-cita kalian apa?” tanyanya.
Hardy terdiam, ia tidak memiliki cita-cita sama sekali kecuali jika dagangannya terus laris merupakan sebuah cita-cita, maka itulah cita-citanya.
Lain halnya dengan Bening, gadis itu menerawang, memikirkan cita-citanya. Beberapa lama ia terdiam hingga akhirnya senyum terpahat di wajahnya. “Aku ingin jadi presiden,” jawabnya lantang.
“Presiden ya ... kenapa?”
“Ehm, biar bisa mendapat semua yang aku mau. Bukankah presiden bisa memerintah orang untuk melakukan apapun? Kak Hardy pernah cerita presiden, memerintahkan menggratiskan sekolah dan guru-guru mematuhinya.” Jawaban polos Bening tak ayal membuat pria itu tersenyum.
“Tidak seperti itu, Bening. Kamu pikir jadi presiden enak? Presiden harus mengurus negara. Banyak yang harus dilakukannya.” Hardy berusaha memberi pengertian kepada adiknya.
“Tapi presiden seperti raja kan, Kak. Tinggalnya saja di istana negara.” Bening mengira istana negara sama seperti istana-istana di negeri dongeng.
“Terserah kamulah.” Hardy malas memikirkan apa yang ada dalam pikiran Bening.
“Kalau kamu?” Pria itu ingin tahu cita-cita Hardy.
Hardy memandang pria itu saksama, sekian lama ia membisu hingga akhirnya ia menggeleng. “Entahlah,” jawabnya singkat.
Pria itu mengangkat kedua alisnya, tidak menyangka dapat bertemu dengan anak yang menggelitik hatinya. “Semua anak punya cita-cita. Masa’ kamu tidak?” desaknya.
Hardy menarik napas dalam-dalam, apakah ia pantas memiliki cita-cita? Baginya bisa makan teratur saja sudah merupakan hal baik, untuk apa ia memikirkan hal yang tidak-tidak seperti cita-cita misalnya.
“Om cita-citanya apa?” Bening memecah keheningan, gadis itu memandang pria tersebut dengan penuh minat.
“Aku?” Pria itu menunjuk dirinya sendiri, ia sudah menjadi apa yang dulu dicita-citakannya. “Om ini polisi.” Polisi berpangkat Serda yang bertugas di Polsek Taman, kecamatan dimana Hardy dan keluarganya tinggal.
“Polisi....” Bening mengulang ucapan Serda Bimo, nama pria tersebut.
Serda Bimo membuka jaketnya, menunjukkan seragam yang ia kenakan. “Masih tidak percaya?” Senyum bangga ia tunjukkan.
Bening terperangah, ini pertama kalinya ia bertemu dengan seorang polisi yang gagah. Mengamati tiap detil seragam pria itu. “Kakak, kamu jadi polisi saja.” Bening menarik kaos Hardy, meminta perhatian kakaknya.
Hardy melirik Bening, ia masih bersikukuh bahwa ia tidak pantas memiliki cita-cita apalagi menjadi seorang polisi. Harus sekolah tinggi, mungkin kuliah dulu baru bisa daftar menjadi polisi. Bisa lulus SMP saja, Hardy amat bersyukur. Cita-cita saja sangat jauh dari pikirannya apalagi menjadi polisi.
“Kakak jadi polisi seperti Om ini. Kalau Kakak jadi polisi. Ayah pasti takut memukul Kakak. Takut dimasukkan penjara,” celoteh Bening.
Mendengar suara polos Bening, menarik simpati Serda Bimo. Pria itu mengamati Hardy dan Bening. Tidak perlu berpikir lama untuk menarik kesimpulan bahwa kehidupan dua anak ini sangat keras. Ada sebuah ketulusan yang membuat pria itu kembali mengambil dompet dari celananya. Ia mengeluarkan dua puluh ribu dari dompet dan menyerahkannya kepada Hardy. “Ini untuk kalian berdua,” ucapnya.
Hardy melirik uang lalu memandang Serda Bimo dengan tatapan heran. “Untuk apa?” tanyanya penuh selidik.
“Untuk jajan,” jawab Serda Bimo.
“Kami bukan pengemis,” jawab Hardy lantang.
Serda Bimo mengangkat alis, ia memasukkan uangnya ke dalam kantong celana. Bangga rasanya bertemu dengan anak yang memiliki hati sekuat Hardy. “Maafkan sikap, Om. Om tidak bermaksud seperti itu,”
Hardy bergeming, ia menatap hujan yang telah berubah menjadi gerimis. Tidak peduli dengan polisi yang masih saja sibuk memandanginya. “Besok datang ke kantorku. Di Polsek. Teman-temanku pasti senang membeli kue-kuemu.” Hanya ini cara Serda Bimo membantu Hardy, anak ini sangat patut mendapat uluran tangannya dengan cara yang terhormat.
Hardy menoleh, menatap Serda Bimo dengan tatapan tajam. Bertanya-tanya apakah pria itu serius dengan tawarannya.
Serda Bimo ingin tertawa, kerasnya hidup pasti membuat anak itu menjadi seperti sekarang. Serda Bimo yakin, jika anak ini berjalan lurus maka bisa jadi Hardy menjadi anak yang sukses bahkan jauh lebih sukses daripada dirinya.
“Om serius. Oh ya, ngomong-ngomong nama Om. Bimo, panggil Om Bimo.” Bimo mengulurkan tangan, wajahnya menyiratkan senyum persahabatan.
Hardy menjabat tangan pria itu. Hatinya bergetar, ada rasa hangat ia rasakan setelah menjabat tangan pria tersebut. “Saya Hardy dan ini adik saya, Bening.” Hardy menggerakkan dagunya ke arah Bening.
“Senang bertemu kalian. Jangan lupa, besok datang ke kantor. Kalian tahu kan tempatnya?” Hardy menjawab pertanyaan Bimo dengan anggukan kepala.
“Mulai besok, aku dan teman-temanku jadi langganan tetap kalian. Jangan lupa ya...” pesan Bimo.
Rasanya seperti mendapat durian runtuh, hujan memberi berkah kepada Hardy. Ia tentu saja senang karena bukan hanya ikannya yang memiliki langganan tetap, kini kuenya pun memiliki langganan tetap dan pelanggannya kali ini bukan sembarang orang melainkan seorang polisi.
“Tentu saja, saya tahu tempatnya. Terima kasih, Pak.” Suara Hardy penuh percaya diri.
“Panggil aku, Om ... hujan sudah reda. Om harus kembali ngantor. Sampai ketemu besok anak-anak,”
“Sampai jumpa, Om Bimo.” Hardy tidak mampu meredam senyum, senang telah bertemu pria sebaik Bimo.
Sepeninggal Bimo, Hardy menatap kotak kuenya yang telah kosong. Hujan kali ini memberi berkah, hujan memberinya senyum dan Hardy berharap hujan akan terus menghujaninya dengan kebahagiaan.
“Bening, ayo ke pasar. Pilih sepeda yang kamu mau!”