Obsesi

1604 Kata
  Sepeda itu berwarna biru dengan pita rumbai-rumbai pada ujung pegangan. Ukurannya mungkin terlalu besar bila dipakai Bening, tapi akan menjadi pas sekitar tiga-empat tahun lagi. Sadel dan kursi belakangnya empuk berwarna biru lebih terang dari warna bodinya. Secara keseluruhan sepeda ini adalah sepeda impian Bening.       “Berapa ini, Pak?” Bening memandang seorang pria Chinese memakai kaos putih dan celana pendek berwarna coklat.       “Ini satu setengah. Kalau yang ini delapan ratus sudah boleh.” Pedagang sepeda tersebut menunjuk sebuah sepeda berwarna merah. Pria tersebut tahu daya beli dua anak kecil yang masih memandang sepeda impian mereka. Ia pun tahu mereka datang hanya untuk melihat-lihat, namun demikian ia tetap melayani keduanya dengan cukup ramah.       Hardy mengangguk, ia mulai berpikir bagaimana cara mengumpulkan uang sebesar itu dengan cepat? Tetapi Hardy menggeleng pelan. Yang terpenting ia sudah tahu berapa banyak uang yang harus dikumpulkan demi sebuah sepeda.       “Ayo pulang!” Hardy menyikut lengan Bening, segera keluar tanpa memandang yang lain. Berjalan menyusuri trotoar dengan kepala menerawang, penuh dengan hitungan matematis demi uang sebesar satu juta lima ratus ribu rupiah.       Jika Hardy bisa menyisihkan uang sebesar lima ribu rupiah setiap hari maka untuk mencapai satu juta lima ratus ribu rupiah, ia membutuhkan waktu sekitar ... Hardy menggunakan jari tangan kiri untuk berhitung, sesekali menghentikan langkah lalu mendongak. “Ehm. Artinya aku bisa mengumpulkan uang selama tiga ratus hari.” Hardy menelengkan kepala, kembali melakukan perhitungan berapa bulan waktu yang ia butuhkan untuk membeli sepeda. “Sepuluh bulan.” Setelah beberapa lama berhitung, ia menemukan jawaban yang ia butuhkan.       “Apanya yang sepuluh bulan, Kak?” Bening tidak mengerti apa yang dipikirkan Hardy dan apa yang digumamkannya.       “Sepuluh bulan lagi, kita beli sepeda itu.” Jawaban singkat Hardy tak ayal membuat Bening berjalan cepat untuk kemudian merentangkan kedua tangan di hadapan Hardy. Menghentikan langkah kakaknya sebagai aksi protes.       “Maksud Kakak, kita belinya sepuluh bulan lagi? Lama sekali, Kak.” Bening sangat kecewa, sepuluh bulan bukanlah waktu sebentar. Bagaimana mungkin ia bisa beli sepeda sepuluh bulan lagi? Bisa jadi harga sepeda naik dan gagal membeli sepeda.       Hardy menggeser badannya, kembali melangkah menyusuri trotoar yang lengang. Ia sadar sang adik sedang cemberut, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain terus melangkah sambil berpikir cara lebih cepat mendapatkan uang.       Apakah sepuluh ribu per hari? Tapi itu terlalu banyak dan tidak mungkin bisa dilakukan setiap hari. Mungkin sesekali ia menabung banyak jika dagangannya ramai atau malah sesekali ia tidak menabung sebesar lima ribuan jika dagangan sedang sepi.       “Kakak serius, sepuluh bulan lagi?” Bening masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.       “Aku serius, Bening. Kalau kamu ingin lebih cepat, kita harus lebih giat bekerja.” Hardy melirik Bening, gadis itu mengerucutkan bibirnya.       “Kita minta Ibu. Mungkin bulan depan kita bisa beli. Uang Kakak dan uang Ibu dijadikan satu.” Bening tersenyum, ia sangat yakin jika uang Hardy dan ibunya dijadikan satu maka sepeda akan bisa dibeli dengan cepat.       Hardy tahu apa yang ada dalam pikiran Bening. Gadis cilik itu pasti hanya mengingat jumlah uang yang mereka kumpulkan sebelum dibagi dengan modal, keuntungan dan kebutuhan yang harus dipenuhi setiap hari. “Ayo pulang!” Hardy tidak ingin berpikir terlalu keras, sepeda bukan kebutuhan pokok baginya.  ***       Sepuluh bulan lagi baru beli sepeda? Sepuluh bulan lagi?       Berulang-ulang Bening menggemakan kata sepuluh bulan dalam hati dan pikirannya. Sepuluh bulan masih sangat lama sekali. Bening duduk di atas dipan, memandang kalender yang menempel di dinding. Tulisan bulan agustus terlihat cukup besar, beberapa hari lagi akan berganti bulan september.       September, oktober, november, desember, januari, februari, maret, april, mei, juni. Astaga, masih lama....       Bening turun dari dipan, keluar kamar dengan setengah berlari ke dapur untuk mencari ibunya. Ia ingin ibunya memberi uang secepatnya untuk membeli sepeda sebelum Hardy mempengaruhi sang ibu. Bening tahu betul watak Hardy, kakaknya pasti tidak mau ibunya ikut menabung.       Indah sedang membuat kue saat Bening tiba-tiba berdiri di sampingnya. Gadis cilik itu memandang kue lemper dengan tatapan seolah sangat menginginkannya.       “Ambil saja kalau mau, Bening!” Biasanya Bening akan segera mengambil dua kue setelah mendapat ijinnya tapi kali ini gadis itu justru menggeleng. Membuat Indah memicingkan mata.       “Ibu punya uang banyak kan?” Gelagat tidak menyenangkan dirasakan oleh Indah. Gadis cilik ini pasti sedang membahas sepeda.       “Bu, bulan depan kita bisa beli sepeda kan?” Indah menghela napas, mengetahui perkiraannya tidak meleset.       Indah berlutut, menyejajarkan tinggi badannya dengan Bening, membelai rambut anak gadisnya. Gadis itu memandangnya penuh harap, sorot matanya begitu indah, membuat Indah tidak tega untuk menolak keinginan sang putri. “Jika bulan depan uang Ibu terkumpul. Ibu janji akan membelikanmu sepeda.” Hanya sebuah janji yang bisa ia berikan, tapi Indah berharap janji ini dapat melegakan hati anaknya.       Tetapi Bening tidak seperti itu, sorot mata penuh harapnya segera memudar, berganti sorot mata kecewa karena ia yakin janji ibunya hanya tinggal janji. Bening menunduk, air matanya menetes begitu saja. Hanya keinginan sederhana tapi Ibu tidak dapat mengabulkannya. “Pasti karena Ayah suka mengambil uang Ibu,” lirihnya.       Bagai tersambar petir, hati Indah mencelos saat mendengar ucapan Bening. Sepeda dan Sardi tidak ada kaitannya tapi Bening mengaitkan keduanya. “Jangan salahkan Ayahmu, Bening!” Bagaimanapun Indah tidak suka anak perempuannya menyalahkan ayahnya.       “Ayah selalu mengambil uang Ibu dan membeli rokok, aku sering lihat Ayah nongkrong di warung Mbok Jah.” Hampir setiap hari gadis itu melihat ayahnya nongkrong sambil menikmati makanan, minuman dan rokok.       Indah terdiam, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. “Kamu mau ikut Kakakmu jualan?” Indah mengalihkan pembicaraan.       Beberapa lama Bening memandang Indah hingga akhirnya ia mendesah. Bening mengalihkan pandangan ke arah lemper yang sudah dibungkus rapi, mengambil dua dan memasukkannya ke dalam saku celana. “Aku ikut Kak Hardy saja. Malas di rumah sama Ibu.” Gadis itu sedang marah, kedua pipinya memerah, membuat Indah gemas.       “Ya sudah, maafkan Ibu ya sudah membuatmu marah.” Indah tersenyum geli membuat Bening semakin sebal.       Hardy datang dengan membawa kotak kosong, anak lelaki itu memasukkan dagangannya tanpa melirik Bening. Kepalanya dipenuhi rencana-rencana mempercepat jualannya. Teringat Pak Bimo yang berpesan agar main ke kantornya, memberi angin segar bagi Hardy.       Indah menelengkan kepala, semua kue masuk ke dalam kotak. Padahal kue-kue itu seharusnya dibagi dua dengannya. Indah menjajakan sendiri dagangannya, begitu pula dengan Hardy. “Har, kok kamu bawa semuanya, Nak?” Indah tidak mau Hardy bekerja terlalu keras.       “Aku mau jual semua kue ini ke Pak Bimo.” Hardy menutup kotaknya, menimbang seberapa berat bawaannya.       “Pak Bimo?” Indah bertanya-tanya tentang orang bernama Bimo.       “Dia orang yang kerja di pabrik roti, Bu. Orangnya baik.” Bening telah kembali ceria, ia mengingat akan sosok Pak Bimo yang ditemuinya beberapa hari yang lalu.       Mata Indah membulat, tidak menyangka dua anaknya berkenalan dengan orang yang biasa makan roti enak. Indah hanya bisa geleng-geleng sambil tersenyum. Baru sekali ini melihat Hardy memiliki semangat luar biasa. “Apa kalian menjual ke rumah Pak Bimo?”       “Ke pabrik roti, Bu. Aku yakin teman-teman Pak Bimo mau membeli semua kue kita.” Hardy sangat yakin akan hal itu.       Hardy segera mengangkat kotak kuenya, ia menarik tangan Indah dan menciumnya. Begitu pula dengan Bening, ia mencium tangan Indah dan segera mengikuti langkah Hardy. Berjalan setengah melompat keluar rumah tanpa menoleh kembali. Indah hanya bisa tersenyum sambil memandang punggung dua anaknya menghilang di balik pintu.  ***       Hardy tidak mampu meredam rasa bahagianya. Kue-kuenya laris manis hanya dalam sekali duduk di depan pabrik tempat Bimo bekerja. Semua pekerja yang bekerja disana membeli tidak hanya satu atau dua kue, sebagian besar membeli lima bahkan ada yang membeli sepuluh kue.       Duduk di bangku dekat Pos Satpam, Hardy bernapas lega. Ia belum menghitung uang hasil jualannya tetapi kepalanya telah selesai menghitungnya. Hari ini ia akan menabung dua puluh ribu rupiah dan jika besok dagangannya selaris ini, maka ia bisa menabung dua puluh ribu rupiah. Jika seterusnya seperti ini, maka sepeda impian Bening bisa dibeli dalam waktu sekitar tiga bulan lagi. Hardy melirik Bening, gadis itu sedang menyantap kue lemper sambil memandang sebuah sepeda berwarna biru, seperti sepeda impian gadis itu.       Hardy berdiri, menepuk pantatnya dari kotoran lalu mengulurkan tangan pada Bening. “Ayo pulang!” Bening menerima tangan Hardy. Satu tarikan kuat membuat Bening berdiri.       Hardy dan Bening melangkah bersama keluar dari halaman pabrik. Keduanya puas dengan hasil jualan hari ini, esok mereka telah berjanji kepada para mereka untuk kembali datang. Para pekerja di pabrik tersebut tanpa sungkan-sungkan memesan nasi bungkus untuk makan siang mereka. tentu saja tawaran itu disambut baik oleh Hardy.       Langkah kedua anak itu terhenti manakala seorang pria berdiri tegak, menghalangi langkah keduanya. Sardi dengan mata nyalang bak seekor elang melihat kelinci buruannya, berdiri sambil menadahkan tangan. Pria itu sedang sangat membutuhkan uang dan ia merasa beruntung saat melihat dua anaknya keluar dari pabrik dengan kotak kue kosong. Orang bodohpun tahu bahwa jualan Hardy telah habis diborong.      “Aku tidak punya uang, Yah.” Hardy menyembunyikan kotaknya di belakang punggung, berusaha menyelamatkan uang dari ayahnya.       “Mana uangnya!” Sardi menggerakkan telapak tangannya, ia menggeram seperti seekor serigala jadi-jadian melihat buruannya.       “Uang ini untuk jualan besok. Ayah tidak boleh mengambilnya!” Hardy mundur beberapa langkah, ia harus menyelamatkan uangnya dari Sardi, ia tidak ingin memberikan sepeserpun kepada Sardi.       “Berikan padaku atau....” Sardi menarik pundak Hardy namun Hardy tidak mudah goyah. Anak itu menyentak tubuhnya sendiri hingga lepas dari tangan Sardi.       Sardi tertawa terbahak-bahak, tidak menyangka anak lelakinya memiliki tenaga cukup untuk menepisnya. Amarahnya kian menguat, ia tidak akan mengampuni anak itu. Siapapun yang menolak Sardi harus diberi pelajaran. “Kamu berani pada Ayahmu sendiri, Hardy.” Sardi geram, ia ingin menyiksa Hardy sampai anak itu tidak lagi berani kepadanya.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN