Kebencian

1605 Kata
     Tidak peduli mereka ada di dekat pabrik, Sardi benar-benar tidak bisa meredam amarahnya. Ia menarik tubuh Hardy hingga bocah itu ada di sebuah gang kecil yang berada tepat di sebelah gedung pabrik. Suara deru sedan kendaraan yang lalu lalang menutupi suara Bening yang menjerit meminta pengampunan dari ayahnya.       Dengan brutal Sardi memukul hingga Hardy jatuh dengan memeluk kotaknya. Anak lelaki itu sedang berusaha menyelamatkan uang yang sengaja ia simpan di dalam kotak tersebut. Bagi Hardy tidak masalah bila harus babak belur asal Sardi tidak lagi merampas sepeser pun uang hasil jerih payahnya.       Sardi tidak sampai disitu, ia juga menendang punggung ringkih Hardy. Bocah itu menahan diri untuk tidak mengaduh, sebagai gantinya ia memeluk erat kotak. Meremasnya hingga kotak tersebut retak karena dipeluk terlalu erat.       Bening menarik tangan ayahnya, ia tidak ingin Sardi menyiksa kakaknya. Air mata berderai, genggaman tangannya kian erat. Ia menggeleng, meminta ayahnya menghentikan siksaan itu. “Sudah Ayah. Jangan sakiti Kak Hardy!” Tangisnya pecah namun suara Bening tidak digubrisnya.       “Ming ... gir, Bening!” Diantara rasa sakit yang ia rasakan di seluruh tubuh. Hardy masih berusaha melindungi Bening yang bisa saja ikut disiksa oleh Ayahnya. Biarkan dirinya yang disakiti asal adik kecilnya tidak. Dalam kelemahan, Hardy menatap benci ayahnya. Ia sangsi ayahnya adalah ayah kandungnya. Tidak mungkin pria ini adalah ayahnya.       Sardi tidak bisa berhenti, ia muak melihat Hardy menatapnya dengan tatapan mengejek. Seolah-olah menantang untuk terus disiksa. Anak itu punya nyali rupanya, Sardi harus menaklukkan bocah itu seperti saat ia menaklukkan bandar judi beberapa minggu lalu.       “Kamu benar-benar menantangku, Bocah.” Sardi menyentak tubuh Bening hingga gadis itu terpental lalu jatuh telungkup di atas paving. Tangan Bening terasa panas, telapak tangannya memerah namun hatinya jauh lebih panas hingga ia kembali bangkit dan menahan lengan Sardi namun sekali lagi tubuhnya terpental, kali ini kepalanya terbentur paving yang mencuat hingga dahi Bening memar dan berdarah.       Melihat kondisi Bening, Hardy marah besar. Ia menatap ayahnya laksana ular memandang musang. Hatinya bergejolak, ia tidak akan pernah memaafkan Sardi. Sudah cukup pria itu menyakiti dirinya serta ibunya tapi ia tidak akan memaafkan pria yang berani menyakiti adiknya. Gadis itu terlalu kecil untuk disakiti, terlalu manis untuk dilukai. “Bangun Bening!” Hardy tidak ingin melihat adiknya lemah, gadis itu tidak boleh menangis karena luka kecilnya –luka besar bagi hati Hardy—.       Airmata Bening kembali menetes, rasa nyeri ia rasakan di dahi kirinya. Ia berdiri, menyentuh luka yang terasa berdenyut-denyut.”Aahh.” Gadis itu meringis, luka di dahinya terasa nyut-nyutan saat tangannya menyentuh luka. Sebercak darah menempel di telapak tangan, Bening menangis sejadi-jadinya.       Tangis Bening memupuk amarah Hardy, seperti air yang menyirami pohon di tanah kering. Anak lelaki itu berdiri dengan tatapan siap menerkam, tanpa menunggu ia menyerang ayahnya dengan cara membabi buta. Berusaha memukul dan menendang secara asal dengan sekuat tenaga tetapi dengan mudah dihalau Sardi. Pria itu menangkap tangan Hardy lalu memuntirnya dan menabrakkan tubuh depan anaknya sendiri ke tembok gedung Polsek. Menghimpit tubuh Hardy hingga pipi anak itu menempel erat pada dinding. Mengunci dua tangan anak itu di belakang punggungnya. Hardy meronta, berusaha melepaskan diri dari Sardi namun tenaganya kalah kuat dari pria itu.       Sardi memutar badan Hardy, sebuah pukulan keras ia berikan tepat di rahang kiri anaknya. Wajah kecoklatan Hardy seketika membiru, di sudut bibirnya mengeluarkan darah. Tapi satu pukulan kurang memuaskan Sardi, sekali lagi pria itu mengepalkan tangan dan sebuah pukulan keras kembali diterima Hardy. Anak itu benar-benar tidak berdaya, meski demikian sorot matanya tetap saja memancarkan kemarahan, seolah meminta Sardi untuk terus menyiksanya.       “AYAH ... JANGAN!” Bening menarik tangan Sardi, ia tidak ingin hal buruk terjadi kepada kakaknya. Tetapi sekali lagi, tenaganya kalah kuat dan dengan mudah tubuh kecilnya ditepis hingga ia kembali jatuh di atas paving.       Bening tidak menyerah, gadis itu memeluk kaki kanan ayahnya. Menangis dan mengiba, memohon ampun untuk kakaknya. “Sudah, Ayah. Ja ... ngan. Sakiti ... Kak ... Hardy.” Gadis itu terisak namun berusaha untuk bicara secara jelas.       Sardi menekan tubuh Hardy, mendekatkan mulutnya di telinga bocah lelaki itu. Membuat Hardy ingin muntah saat mencium aroma rokok dan minuman keras yang diembuskan sang ayah. “Tidak seharusnya kamu menantangku anak begundal!” Sardi membenturkan kepala Hardy. Cukup keras hingga suara benturan itu terdengar di telinga Sardi sendiri.       Kepala Hardy berdenyut-denyut, bintang-bintang bertebaran di kepalanya. Sesaat pandangannya seolah melayang, seperti melihat sesuatu di dalam mimpi namun secepatnya ia menggeleng, memfokuskan mata dan pikirannya.       Sardi melepaskan anaknya, seketika tubuh Hardy merosot seperti jelly yang lembik. Hardy meneteskan air mata, buah kemarahan yang tidak terbalaskan. Dendam dalam hatinya kian membesar, ia berjanji selamanya akan membenci Sardi dan berharap pria itu mendapat balasan. Tidak! Suatu saat Hardy sendiri yang akan membalasnya. Hardy berjanji atas nama ibu dan adiknya, suatu saat ia akan membalas setiap tetes air mata dan darah yang mereka bertiga keluarkan.       Sardi segera mengambil uang dari dalam kotak lalu pergi begitu saja. Ia menghitung uang yang ia dapat. Totalnya lima puluh ribu rupiah, uang yang cukup untuk membeli rokok dan bir oplosan, ia bisa mabuk-mabukan bersama teman sesama pemabuk dan berjudinya.       Bening hanya menyaksikan sang ayah mengambil uang dari dalam kotak lalu pergi begitu saja. Gadis itu tidak peduli dengan uang, ia hanya ingin segera menolong Hardy. Bening berlari mendekati Hardy, ia memeluk tubuh kakaknya dan membantunya berdiri. Bening tidak kuasa memandang tubuh kakaknya selemah sekarang, sungguh Hardy saat ini berbeda jauh dari Hardy yang ia kenal.       “Aku tidak apa-apa, Bening. Kepalamu....” Hardy mengulurkan tangan, ingin menyentuh dahi Bening namun terhenti di udara. Bening tampak meringis bahkan sebelum tangannya benar-benar menyentuh luka itu.       “Kakak. Ayo pulang!” Bening tidak ingin terlalu lama di tempat ini. Ia hanya ingin pulang lalu mengadu kepada sang ibu.       Hardy meraih kotak, dengan langkah lemah. Keduanya berjalan beriringan, bergandengan tangan, saling menguatkan dalam jalinan genggaman tangan mereka.  ***       Indah kaget bukan main saat mendapati kedua anaknya berjalan gontai, bergandengan tangan. Bukan hal biasa, Indah memicingkan mata hingga akhirnya ia bisa melihat kedua anaknya terluka. Dengan tergesa-gesa ia berlari menjemput dua buah hatinya di teras. Menyentuh muka Hardy yang membiru pada bagian dahi dan rahang serta luka berdarah di dahi Bening membuat air mata sang ibu segera tumpah dari pelupuk mata.       “Ke ... kenapa dengan kalian?” Indah tidak sanggup membayangkan bagaimana kedua anaknya disiksa oleh seseorang atau oleh....       “Aku membawa uangnya, Bu. Tidak sebanyak seharusnya, tapi besok bisa dipakai jualan nasi. Polisi di Polsek pesan nasi bungkus.” Hardy berusaha tegar, ia tidak ingin membuat ibunya khawatir.       “Ayah menyakiti kami, Bu. Ayah memukuli Kak Hardy dan membuat kepalaku berdarah. Ibu, Ayah nakal.” Bening menangis tersedu-sedu sambil menunjukkan luka di dahinya.       Indah membungkam mulutnya, tidak percaya pria itu berani menyakiti anaknya diluar sana. Sardi memang suka menyiksa di dalam rumah namun tidak pernah terpikir bahwa pria itu akan menyiksa anak-anaknya di luar sana.       Hardy tidak ingin berlarut-larut, setelah ia menyerahkan uang yang ia simpan di saku celananya. Ia segera masuk ke dalam rumah, mendinginkan otak di dalam kamar mandi. Hanya ini caranya untuk meredam amarah yang masih menyala-nyala.       Berkali-kali Hardy memukul tembok kamar mandi untuk melepas amarah, rahangnya mengeras. Luka fisiknya memang perih tapi tidak seperih luka hatinya.       “Sardi. Suatu saat aku membalasmu.”  ***       Waktu telah menunjuk angka tujuh, Hardy tidak dapat menyerap pelajaran sekalipun sejak jam enam ia telah membuka buku pelajarannya. Setiap pukulan dan tendangan yang ia terima hari ini telah membekas di dalam hatinya, juga siksaan-siksaan yang ia, ibu dan adiknya terima, masih segar dalam ingatan. Hardy bertekad ingin menyudahi siksaan ayahnya, ia ingin membuat pria itu mendekam dalam penjara selama-lamanya.       Indah menghela napas, memandang anak lelakinya sejak tadi hanya duduk sambil merenung. Sementara anak gadisnya asyik menggambar seorang wanita, anak lelaki dan anak kecil. Meski gambarnya sederhana namun Indah mampu memaknai gambar putrinya. Tidak ada gambar pria dewasa disana. Ia yakin Bening tidak lagi mengharapkan sosok pria seperti ayah kandungnya.       Tetapi Indah salah, saat Bening bergerak. Bening pun menggambar pria itu tetapi cukup jauh dari gambar tiga orang yang sedang berpegangan tangan. Pria itu berwajah muram, dengan gambar lelaki memakai topi polisi di belakangnya. “Siapa itu Bening?” Indah ingin tahu apa yang digambar Bening.       Bening menoleh, ia memandang ibunya lalu kembali memandang gambarnya. “Ini Ibu, Kak Hardy dan aku.” Bening menunjuk gambarnya, menjelaskan siapa mereka. “Ini Ayah, ditangkap Pak Bimo.” Bening sudah tidak suka dengan ayahnya, ia ingin Pak Bimo menangkap ayahnya dan memasukkannya ke dalam penjara.  Harapan anak kecil itu adalah Bimo membantunya untuk menjebloskan ayahnya ke penjara. Meski Bimo hanya satpam namun dengan seragam yang mirip dengan polisi, gadis itu berpikir bahwa Bimo tak ubahnya seorang polisi yang bisa menolongnya dari kekejaman sang ayah.       Hardy terkejut, ternyata pikirannya sama seperti pikiran Bening. Jika ayahnya dipenjara maka kehidupan mereka akan jauh lebih baik. Ia harus melaporkan kekejaman ayahnya ke Pak Bimo, memintanya untuk melaporkan masalah ini ke polisi dan membuat ayahnya membusuk di dalam penjara.       Tetapi berbeda dengan pemikiran Indah, ia tidak pernah berpikir akan melaporkan masalah ini kepada pihak berwajib. Tentu saja karena ia tidak ingin menjadi aib di kampung mereka tinggal. Ia pernah mendengar Bu Lastri, tetangga yang telah pindah setahun lalu karena melaporkan suaminya yang telah selingkuh dan menelantarkan anaknya ke polisi. Masalah itu menjadi buah bibir selama berbulan-bulan hingga akhirnya Bu Lastri dan keluarganya pindah karena tidak tahan dengan omongan warga.       “Tetapi dia ayahmu, Bening.” Indah meletakkan nampan berisi dua gelas teh hangat ke atas meja lalu ikut duduk di sebelah Bening. Bocah itu masih mewarnai gambarnya sambil telungkup di atas tikar.       “Tapi dia sudah memukul Kak Hardy, Bu. Ayah harus masuk penjara.” Hati Indah bagai dirajam batu. Bagaimana bisa anak sekecil Bening mampu berpikir seperti itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN