Tawaran menarik

1581 Kata
Bab 13       Bimo memandang dua bocah yang sedang duduk di hadapannya, di sebuah bangku depan pos satpam pabrik roti yang sedang lengang. Dengan mudah pria itu mampu membaca bagaimana luka-luka yang menghiasi wajah dua anak tersebut diterima, meski demikian Bimo masih harus mengkonfirmasinya. “Apa kalian habis berkelahi?” tanya Bimo.      Hardy mengangkat kepala, memandang Bimo secara saksama. Ia ingin menjawab dengan sebuah kejujuran namun mengingat pesan Ibu, Hardy kembali menunduk. Ia tidak ingin membuat ibunya kecewa karena melanggar janji yang telah ia buat. Tetapi Tuhan tahu sekalipun melanggar, itu juga demi ibu serta adiknya. Hardy menggeleng pelan, apapun yang terjadi, ia tidak akan melanggar janji. Dosa besar jika melanggar janji, ia bisa masuk neraka terdalam jika melakukannya.       “Om tanya. Apa kamu habis berkelahi?” Bimo menelaah setiap gerakan Hardy. Bocah itu sedang ragu dan keraguan itu membuat Bimo berpikir ada masalah lain daripada hanya berkelahi. Atau jangan-jangan ... “Dipukul Ayahmu?” terkanya. Bimo memicingkan mata, memfokuskan pandangan kepada setiap gerakan kecil yang dilakukan Hardy.      Hardy mendongak, cukup terkejut dengan pertanyaan Bimo yang sangat tepat. Bagaimana bisa pria di depannya tahu bahwa ia kemarin dihajar ayahnya. Polisi itu keren, tapi baru kali ini ia tahu kalau satpam pun sangat keren sekali, suatu saat ia ingin menjadi seorang satpam seperti Pak Bimo.      Melihat tanggapan Hardy, Bimo tahu bahwa perkiraannya benar. Bimo menghela napas berat, pandangannya dialihkan kepada Bening. Dahi kepala gadis itu membiru dan ada plester yang menutupi lukanya. “Kalau kamu, Nak?” Luka itu bukan sebuah pukulan tapi bisa jadi seseorang membenturkan kepalanya ke batu misalnya. Tapi apakah ayahnya juga berbuat sekejam itu?      Bening menyentuh dahinya, ia meringis saat sentuhannya terlalu keras. “Saya ... jatuh, Om.” Gadis itu tersenyum masam, teringat kembali bagaimana luka itu ia dapatkan.       “Karena Ayahmu?” todong Bimo. Pria itu terus mengamati gelagat dua anak di hadapannya.      Hardy dan Bening saling bersitatap, keduanya sedang berpikir jawaban apa yang harus mereka katakan kepada pria baik di depannya. Sayangnya, lagi-lagi sebuah janji membuat keduanya bungkam, diam seribu bahasa. Hanya dua pasang mata berkaca-kaca yang menjawab pertanyaan Bimo dan tentu saja Bimo sudah mendapat jawaban dari pertanyaannya, hanya dengan melihat air mata yang berusaha mereka tahan.      “Om ... kalau kami jualan terus disini, apa boleh?” Hardy tidak ingin berlama-lama membicarakan masalah ini atau ia sendiri akan melaporkan ayahnya, mengingkari janji kepada ibunya.      “Apa kamu tidak ingin cerita?” Bimo ingin menyelamatkan dua anak di hadapannya. Ia seorang ayah yang memiliki anak sebaya dengan Hardy. Nalurinya berkata ia harus melindungi dua anak lemah di hadapannya.      “Bening ingin punya sepeda. Saya harus mengumpulkan uang untuk membelinya.” Dua tangan Hardy mencengkeram erat, berusaha keras untuk tidak menceritakan perbuatan keji ayahnya. Bimo sadar dengan apa yang dirasakan Hardy, pria itu tahu pasti ibunya melarang anaknya untuk buka mulut.      Bimo mengalihkan pandangan kepada Bening, gadis itu menunduk, menatap dua tangan yang sedang bermain-main. Bimo tahu gadis itu sedang berpikir dan ada kegugupan aneh yang ia baca dari Bening. “Cerita saja kepada Om! Om janji akan merahasiakan masalah ini.” Ucapan Bimo membuat Bening mendongak, alih-alih mengeluarkan suara untuk bicara, Bening justru menangis sejadi-jadinya. Lukanya masih terlalu basah untuk diobati. Gadis itu hanya mampu menangis sebagai ekspresi betapa ia terluka.      Hardy menyentuh tangan Bening, membuat gadis itu menoleh kepada sang kakak lalu menghapus air matanya. “Sudah Bening. Jangan menangis! Ada aku.” Meski terlihat lebih tenang, namun hati Hardy juga sedang menangis tersedu-sedu.      “Kakak. Kakak....” Bening berusaha tegar, ia sudah berjanji kepada Hardy untuk tidak menjadi gadis cengeng. Tapi toh tetap saja dengan mudah ia menangis.      Mata Bimo berkaca-kaca, sungguh biadab orang yang dengan tega menyakiti dua anak baik seperti Hardy dan Bening. Dua anak ini adalah anugerah yang indah. Di kala anaknya suka merengek saat meminta sesuatu, dua anak ini harus bekerja demi melanjutkan hidup dan ... “sepeda apa yang kamu inginkan, Bening?” Meski ingin tahu, tetapi Bimo tidak ingin membuat dua anak ini mengalami hari yang sulit. Bimo sadar, ia sudah jatuh hati kepada dua anak di hadapannya. Jika hanya sepeda, ia sanggup memberikannya.      Sekali lagi Bening memandang Hardy, heran dengan pertanyaan Bimo. Gadis itu menerawang, mengkhayalkan sepeda biru yang ia lihat di toko menjadi miliknya.       Hardy memandang Bimo dengan mata penuh selidik. Hal yang membuat Bimo tergelak saat melihat Hardy. Anak ini benar-benar luar biasa, ia ingin sekali memiliki anak seperti Hardy. “Om tidak punya maksud apa-apa. Kebetulan Om punya kenalan penjual sepeda. Kalau kalian mau, Om bisa membelikan satu untuk kalian,” ucap Bimo dengan tulus.      Hardy menghela napas lega, harusnya ia tidak seenaknya mencurigai seorang Bimo. Namun ia mencatat baik-baik nasehat ibunya untuk tidak menerima pemberian orang asing. Bimo termasuk orang asing sekalipun pria itu baik, namun orang itu baru dikenalnya.      “Kenapa? ... Tidak mau?” Bimo mengunci pandangan Hardy. Bocah itu gelagapan, ia ingin menolak namun tidak tahu bagaimana caranya. Sesaat Hardy terdiam, berpikir keras tentang apa yang harus ia ucapkan.      Bimo menarik napas panjang, bocah itu tidak hanya luar biasa tapi juga memiliki keteguhan hati. Sikap patriotik yang harus dijaga baik-baik. Hardy memiliki dasar sebagai seorang penegak hukum, ia ingin sekali membantu anak itu menjadi seorang polisi, saat besar nanti. Sebuah profesi yang diidamkannya waktu kecil dulu.       Bimo terkekeh, bagaimana bisa dengan mudahnya ia jatuh hati kepada dua anak yang baru ia kenal. Ia membayangkan sang istri tercinta akan memandangnya dengan sebuah cibiran dan sebuah komentar pedas, “anak mana lagi yang kamu bawa pulang?”      “Terima kasih, Om. Saya ... sangat senang karena Om sudah membantu kami berdua. Tetapi, saya ingin...”      “Aku tahu. Aku kecewa sekali, kamu masih menganggapku orang asing. Tapi ya sudah. Begini saja, aku akan membelikan sebuah sepeda untuk kalian berdua, tapi tidak cuma-cuma.” Bimo berharap tawarannya kali ini bisa meluluhkan hati baja seorang Hardy.      Hardy menatap Bening dengan sebuah tanda tanya besar. Bimo hendak memberinya sebuah sepeda tapi tidak gratis. Apakah artinya, ia harus bekerja di rumah Bimo sebagai pembantu atau...      “Apapun yang kamu pikirkan, Hardy. Aku tahu.” Bimo menunjuk kepala Hardy sambil tersenyum, geli dengan pemandangan yang ia lihat.      “Besok datanglah ke rumahku! Bawa kue kalian! Karena mulai besok, kalian harus menyediakan kue-kue untuk keluargaku. Separuh dari hasil penjualan kue itu, untuk mencicil sepeda yang aku belikan. Paham?”       Mendengar ucapan Bimo, tak pelak membuat mata Hardy membulat. Rona ceria terpancar di pelupuk matanya. Senyum perlahan terbentuk hingga akhirnya senyum itu berubah menjadi tawa riang, begitu keras hingga menular kepada Bening. Gadis itu ikut tertawa senang karena akhirnya ia akan mendapat sebuah sepeda baru.      “Kuanggap tawaranku diterima.” Bimo ikut bahagia karena bisa memberi kebahagiaan anak-anak yang membutuhkan kasih sayang seperti Hardy dan Bening.      “Maaf, Om. Tapi ... kenapa Om baik kepada kami?” Hardy tidak bisa menyimpan pertanyaan ini tanpa tahu jawaban sebenarnya. Ia bukan siapa-siapanya Bimo, jadi tidak ada alasan bagi Bimo untuk membantunya kecuali karena kasihan. Hardy tidak suka dikasihani, ia bukan seorang pengemis yang memerlukan belas kasihan.      Bimo menarik napas panjang, ia kembali mengingat kisah masa mudanya yang sangat sulit. Bahkan Bimo berpikir, masa lalunya jauh lebih sulit dari kehidupan yang dijalani Hardy dan Bening sekarang. Dahulu, ia juga bertemu dengan orang asing baik hati yang merubahnya menjadi seperti sekarang. Kini, saatnya ia melakukan hal yang sama kepada anak-anak yang membutuhkan bantuannya. “Percayalah, anak-anak. Masih banyak orang baik di dunia ini. Aku ikhlas membantu kalian. Bukankah sesama manusia harus saling bantu membantu?”      Pertanyaan itu memberi kehangatan di hati Hardy. Jika dipikir-pikir, memang masih banyak orang baik di dunia ini. Mbok Pah, orang baik yang selalu memperbolehkan ibunya berhutang meskipun hutang yang lalu belum dibayar. Beberapa pelanggannya juga selalu membeli ikannya tanpa menawar dan tentu saja Bimo, yang memberinya bantuan yang sangat besar dan sangat berarti.      “Saya tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan, Om.” Hardy benar-benar tidak tahu caranya.      “Itu tidak perlu. Yang terpenting mulai sekarang, pikirkan apa cita-citamu untuk masa depan. Masa, anak sekolah tidak punya cita-cita.” Ucapan Bimo tak ayal membuat Hardy tertawa, sepertinya ia memang mulai hari ini ia harus memikirkan soal cita-cita.      “Malah tertawa. Memang kamu sudah punya cita-cita?” Bimo pura-pura serius, ia ingin mengenal lebih jauh sosok seorang Hardy.      Hardy memandang Bening, sorot matanya memancarkan kasih sayang yang begitu besar kepada sang adik. “Bagi saya, yang terpenting Bening tidak lapar dan semua keinginannya bisa terwujud. Saya, ingin membahagiakan Ibu dan Adik saya.” Perasaan tulus Hardy menyentuh hati Bimo. Tidak banyak anak-anak memiliki pemikiran seperti Hardy.       “Jadilah sukses, anak muda! Itu satu-satunya cara untuk membahagiakan ibumu dan tentu saja adikmu.” Bimo menepuk pundak Hardy.      Hardy termotivasi oleh ucapan Bimo, ia memang ingin menjadi orang yang sukses dan bisa membanggakan ibunya. Tetapi kehidupan sulit membuatnya tidak pernah berpikir panjang. Selama ini yang ada dalam pikiran Hardy hanya bagaimana cara menghasilkan uang untuk kebutuhan keluarganya. Hardy memiringkan kepala, memikirkan apa yang ingin ia lakukan untuk masa depannya. Memandang Bimo saksama, memerhatikan setiap detil seragam yang pria itu kenakan.      “Ingin menjadi polisi, ehm?” Bimo tergelitik dengan cara Hardy memandangnya. Setiap anak, darimanapun asalnya. Mereka memiliki kesempatan yang sama untuk meraih apapun cita-cita mereka asalkan mereka mau berusaha dengan baik.      “Saya ingin ... jadi orang kaya. Jika menjadi polisi bisa membuat saya kaya. Saya mau jadi polisi.”      Hardy membuat kedua alis Bimo terangkat lalu tawanya seketika meledak. Ternyata dugaannya meleset. Jika ingin menjadi orang kaya maka menjadi polisi bukanlah salah satu pilihannya. Tetapi Bimo tidak peduli akan hal tersebut, ia hanya ingin membantu Hardy, hanya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN