Hari indah baru saja menyambut, Hardy dan Bening berangkat ke rumah Serda Bimo dengan langkah riang. Sekotak penuh kue ada di genggaman tangan Hardy, diayun pelan mengikuti senandung nada lagu yang sedang ia lantunkan bersama Bening.
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Langkah kaki keduanya begitu ringan, begitu penuh semangat. Bagai seekor kepompong yang akan menjadi kupu-kupu, begitu antusias dengan bayangan indahnya. Hardy dan Bening, memiliki khayalan indah setelah dari rumah Serda Bimo nanti. Sebuah sepeda sedang menanti, kue-kue akan diborong setiap hari. Walaupun keuntungan penjualan harus dipotong untuk membayar cicilan sepeda, namun keduanya yakin hari tetap indah karena masih ada sisa uang untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Hardy membimbing adiknya berjalan sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Bimo kemarin. Tidak perlu bertanya kepada orang untuk menemukan letak rumah Bimo. Rumah tersebut cukup besar dan satu-satunya rumah dengan dua lantai. Rumah bercat hijau dengan pagar alumunium berwarna perak terang.
Beberapa anak lelaki seusia Hardy sedang asyik bercengkerama di teras depan, duduk melingkar di atas lantai. Beberapa anak perempuan asyik bermain masak-masakan di carport yang kosong. Hardy dan Bening berdiri di depan pagar, keduanya asyik memerhatikan kumpulan bocah-bocah yang terlihat sangat ceria.
Arini, istri Bimo, wanita berbalut busana gamis dan berjilbab merah muda memandang Hardy dan Bening dari ruang tamu rumahnya. Sesaat ia mengernyitkan dahi, bertanya-tanya mengapa ada dua anak hanya berdiri di depan pagar rumah dan tidak segera masuk ke dalam? Tetapi kemudian Arini tersadar, dua anak itu pasti anak baru yang sengaja diminta sang suami untuk datang ke rumahnya, seperti anak-anak lain yang kini sudah akrab dengan keluarganya.
Arini segera keluar, mendekati Hardy dan Bening lalu membuka pagar rumahnya. “Masuk saja, anak-anak! Kalian pasti diminta Om Bimo main kesini,” todong Arini. Ia memerhatikan kembali dua anak yang sedang berdiri kikuk di hadapannya, menilai seperti apa kira-kira kepribadian dua anak yang membuat suaminya kembali membuka pintu rumahnya.
Tatapan Arini berhenti pada kotak kue yang dibawa Hardy, ia segera tahu bahwa bocah di hadapannya adalah penjual kue. “Apa Om Bimo langganan kue kalian?” Pertanyaan yang langsung ke inti masalah membuat Hardy membelalakkan mata. Wanita yang masih memandanginya saksama sedang menunggu jawaban.
“I ... iya, Bu.” Suara Hardy begitu pelan, seolah ada hewan tersangkut di tenggorokannya. Wanita itu begitu blak-blakkan dan cara berbicaranya terlalu berterus terang, Hardy yang tidak terbiasa menghadapi wanita seperti Arini menjadi gelagapan, bingung bagaimana harus bersikap.
“Siapa nama kalian?” tanya Arini, masih menggunakan nada suara yang cukup tinggi.
“Saya ... Hardy. Ini adik saya, Bening.” Hardy menelan ludah dengan susah payah, wanita yang ada di hadapannya benar-benar ajaib.
Arini mengangguk, untuk sementara pertanyaan dasar itu saja sudah cukup baginya, soal yang lain, nanti bisa ia tanyakan.
“Masuk saja! Letakkan kuemu di meja ruang tamu!” Arini segera masuk ke dalam rumahnya, diikuti Hardy dan Bening yang masuk dengan langkah pelan serta penuh keraguan.
Tepat di depan pintu penghubung antara ruang tamu dengan ruang lain, tiba-tiba Arini berhenti. Ia segera memutar badan dan kembali memandang Hardy dan Bening. Ia tertawa lebar, merutuki kesalahannya sendiri yang dengan semudah itu mengajak dua anak baru masuk ke dalam rumah. Bukan karena ia takut dua anak itu akan berbuat jahat, akan tetapi Arini sudah terlalu sering kedatangan tamu anak-anak sehingga ia terkadang lupa tentang perasaan mereka yang baru menginjakkan kaki di rumahnya.
“Anggap saja rumah ini sebagai rumah kalian. Kalian tidak perlu takut padaku. Aku orangnya memang begini.” Senyum penuh keramahan muncul di wajah Arini, memberi perasaan lega bagi Hardy dan Bening.
Kedua anak itu duduk di kursi ruang tamu, sementara kotak kue mereka ada di atas meja. Hardy memandang seluruh pemandangan ruang tamu, berisikan foto Bimo, Arini dan sekumpulan anak-anak yang ia yakin, anak-anak itu adalah anak-anak yang sedang berada di teras rumah.
Arini kembali datang dengan membawa nampan berisi dua gelas minuman sirup berwarna merah dengan beberapa kotak es batu berukuran kecil di dalamnya. Setelah meletakkan nampan dengan dua gelas minuman tersebut di atas meja, Arini segera duduk, berhadapan dengan Hardy dan Bening.
“Karena kalian sudah datang kemari. Tante yakin kalian sudah mendapat tawaran menarik dari Om Bimo.” Arini tersenyum, memandang wajah Hardy yang menegang. Arini suka sekali membuat anak-anak baru serasa ada di sebuah planet asing bersama dirinya sebagai alien. Kira-kira begitulah kesan yang ia dapat dari anak-anak yang baru sekali datang ke rumahnya.
“Ehm. Maaf Bu...”
“Ehm-ehm. Peraturan pertama. Jangan panggil aku dengan sebutan Ibu. Aku belum cukup tua, mungkin setahun lebih muda dari ibu kalian. Anggap saja begitu.” Arini menerawang, ia sendiri belum pernah bertemu dengan ibu Hardy dan Bening, tapi nanti akan ada waktu dimana ia akan bertemu dengan kedua orangtua anak itu, yang paling penting adalah ia tidak ingin dipanggil dengan sebutan Ibu karena ia bukan ibu mereka.
“Ba ... baik. Tan ... te.” Hardy tergagap, baru sekali berbincang tetapi ia sudah kena masalah, pikir Hardy.
“Ngomong-ngomong, apakah Om Bimo menyuruh kalian membawa kue-kue ini?” Arini menunjuk kotak berisi kue.
“Ehm ... ini. Om Bimo bilang, mau beli kue ini. Jadi kami membawanya kesini, Tante.” Bening buka suara. Ia tersenyum, menunjukkan deretan giginya yang rapi.
Arini mengangguk, ia senang mendengar suara Bening yang begitu bening. “Apa kamu suka menyanyi, Bening?” Pertanyaan Arini, membuat mata Bening membulat dan dua alisnya terangkat.
Bening tidak mengerti mengapa Arini menanyakan hal itu kepadanya. Ia menoleh, memandang Hardy untuk meminta bantuan darinya. Hardy menggerakkan dagunya, meminta sang adik untuk segera menjawab pertanyaan Arini.
“Bening suka menyanyi?” Arini mengulangi pertanyaannya.
Bening menggeleng, ia jarang sekali mendengarkan musik. Hanya lagu persahabatan bagai kepompong yang ia bisa. Sesekali ia menyanyikannya bersama Hardy, namun jika Hardy tidak memulainya, maka Bening tidak akan memulainya.
“Kak Hardy suka menyanyi. Saya tidak.” Ucapan Bening membuat Arini sedikit kecewa, tetapi kekecewaannya hanya sekian detik saja. Pikir Arini, masih ada banyak waktu untuk membuat Bening sering mendengarkan musik dan bisa bernyanyi bersamanya.
Arini memiliki sanggar seni dan suka sekali mengajarkan kesenian bagi anak-anak asuhnya. Bahkan ia mengikutkan mereka ke beberapa festival baik festival bernyanyi maupun menari. Arini sudah memiliki rencana akan mengasah suara Bening dan diikutkan ke sebuah festival pada hari kemerdekaan nanti.
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Suara Bening begitu indah, membuat anak-anak yang mendengarkan takjub saat mendengarnya. Duduk bersila di teras rumah, mereka bertepuk tangan saat Bening mengakhiri nyanyiannya.
Arini tersenyum puas, benar dugaannya bahwa Bening memiliki suara sebening namanya. Ia berdiri dan ikut bertepuk tangan. Dalam kepala Arini sudah muncul ide-ide untuk memanfaatkan bakat yang dimiliki Bening.
Bimo tersenyum, memandang Bening yang sedang menjadi pusat perhatian. Ia menuntuk sebuah sepeda berwarna biru dengan keranjang berwarna putih di depannya, sebuah sepeda mini yang akan dihadiahkan kepada Hardy dan Bening.
“Assalamualaikum.” Bimo meletakkan sepeda di car port.
“Waalaikum salam,” jawab anak-anak berbarengan.
Bimo mendekati Arini, menyerahkan tangannya untuk dicium sang istri. “Wah, ramai sekali ya hari ini,” selorohnya. Pandangan matanya masih tertuju kepada Hardy dan Bening.
“Ini loh, Pa. Bening suaranya enak sekali. Mama rencananya mau mengikutkan dia ke lomba menyanyi yang diadakan di balai desa minggu depan.” Arini begitu antusias dan tidak sabar ingin mengajarkan cara bernyanyi kepada Bening.
“Memang Bening mau?” Bimo tidak yakin gadis itu punya keberanian tampil di hadapan orang banyak.
“Hadiahnya apa, Tante?” Pertanyaan polos Bening, sontak membuat Arini dan Bimo terkejut lalu keduanya tertawa.
“Hadiah utamanya uang satu juta dan piala.” Jawaban Arini membuat mata Bening membulat, jika ia memenangkan lomba itu, pasti ia bisa membeli sepeda baru.
Mata Arini menyipit, bibirnya mengkerut. Ia melihat binar gairah di sorot mata Bening, gadis itu pasti sedang membayangkan memenangkan lomba tersebut. “Tidak semudah itu bisa menang lomba, Bening. Yang suaranya bagus gak cuma kamu,” ucapnya.
Mendengar ucapan Arini membuat senyum di wajah Bening, memudar. Ah, tentu saja aku tidak bisa memenangkan hadiah itu. Mereka pasti punya guru menyanyi, jadi suaranya jelas bagus. Tingkat kepercayaan diri Bening menurun drastis.
“Tapi bisa jadi kamu bisa memenangkan lomba itu. Kalau toh bukan juara satu, kan masih ada juara dua dan tiga. Kalau masih kalah, namanya juga lomba. Bening ikut saja, buat nambah pengalaman.” Bimo berusaha kembali meningkatkan kepercayaan diri Bening. Pria itu melirik istrinya yang selalu saja berbicara lugas.
“Kamu tenang saja. Nanti Tante bantu supaya suaramu bagus,” sahut Arini.
Ekspresi Bening kembali berubah, senyum ceria kembali memancar. Bening berharap bisa memenangkan lomba dan mendapatkan hadiahnya. Satu juta rupiah, ia belum pernah sekalipun membayangkan memegang uang itu kecuali sekarang saat ia memiliki kesempatan mendapatkan uang tersebut.
“Sudah-sudah. Anak-anak, kalian siap-siap mengaji! Bening, Hardy, kesini!” perintah Bimo.
Anak-anak segera bangkit, mereka masuk ke dalam rumah sementara Hardy dan Bening mendekati Bimo. Bimo kembali mendekati sepeda, menepuk jok dan memainkan belnya. “Sepeda ini untuk kalian,” ucapnya.
Bening terkejut dan sangat senang mendapat hadiah sepeda. Impian yang besar itu ternyata ia dapat dalam waktu singkat. Ia mendekati sepeda, menyentuh dan membelainya. Ia tertawa lalu menangis tersedu-sedu. Air mata bahagia, tumpah begitu saja. Bahkan Bening tidak tahu mengapa ia menangis saat ia sangat bahagia.
“Bening kenapa menangis?” Arini mendekati Bening, memeluknya seperti anak sendiri.
“Saya bahagia, Tante. Teri ... terima ... kasih.” Bening memeluk erat Arini. Sungguh ini bagai mimpi di siang bolong.
Hardy membuang muka, menyeka air mata yang hampir tumpah. Ia tidak mau terlihat lemah, mengeluarkan air mata haru adalah kesalahan bagi Hardy. Tatapan Hardy tanpa sengaja menangkap sosok pria yang menguapkan kegembiraannya. Sosok pria yang bisa merampas kebahagiaannya. Sosok yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sardi.