Bagai Buah Simalakama

1577 Kata
     Bimo mengajari Hardy cara bersepeda. Ia sempat terkejut saat mengetahui Hardy belum bisa bersepeda padahal biasanya anak seusia Hardy sudah bisa bersepeda. Melihat Hardy yang dengan serius belajar bersepeda, membuatnya bersemangat mengajari anak itu. “Ya, begitu. Jangan takut jatuh, Hardy!” Bimo melepas sepeda yang dikayuh Hardy, membiarkan anak itu mengendarai sepedanya sekalipun masih oleng ke kanan dan ke kiri.     Hardy dengan penuh tekat, ingin bisa bersepeda hari ini juga. Beberapa kali ia terjatuh, dua lututnya berdarah, tetapi itu sama sekali tidak menyurutkannya untuk terus bersepeda. Ia ingin saat pulang sudah bisa membonceng Bening, mengajaknya pulang melalui jalan memutar agar bisa bersepeda lebih jauh dan lebih lama.     Hardy fokus melihat jalanan, mengayuh sepeda secara perlahan, kedua tangannya berusaha menyeimbangkan diri, meski masih oleng ke kanan dan ke kiri namun Hardy mulai bisa menguasainya. Perlahan namun pasti, Hardy benar-benar bisa mengendarai sepeda tanpa terjatuh. Ia bahkan mulai mengayuh sepeda dengan cepat, melalui jalanan yang mulus tidak membuatnya puas.      Hardy bersepeda hingga ia benar-benar menjauhi rumah Bimo lalu berputar ke lapangan sepak bola. Bersepeda berkeliling lapangan tersebut sambil tertawa riang. Lalu ia melihat Sardi sedang memandangnya, pria itu duduk di sebuah pos kamling yang ada di persimpangan tepat di sebelah lapangan itu.      Perasaan Hardy segera berubah, ia tidak lagi memikirkan sepeda. Pria itu membuat amarahnya bangkit, ia terus memandang Sardi hingga akhirnya ia terjatuh saat tidak sengaja roda sepedanya menginjak batu yang cukup besar. Membuat lututnya kembali terluka dan kali ini lukanya cukup dalam hingga darah keluar cukup banyak. Tetapi luka pada lututnya tidak dirasakan oleh Hardy, pandangan anak itu tertumbuk Sardi, seperti halnya pria itu yang terus memandanginya, tanpa bicara sedikitpun.      Bimo menunggu Hardy cukup lama hingga ia menjadi khawatir. Bimo berjalan mengikuti arah Hardy mengayuh sepedanya. Bening pun ikut berjalan bersama Bimo, ia juga khawatir jika kakaknya jatuh lagi. Bimo menggandeng tangan Bening, memandangnya sambil tersenyum. Bimo tahu Bening sangat mengkhawatirkan kakaknya, ia tidak suka melihat gadis itu muram.      Melihat Hardy duduk dengan sepeda yang roboh di tengah lapangan, Bimo segera berlari mendekati bocah itu. Bening pun ikut berlari secepat yang ia bisa, perasaannya tidak enak, ia takut jika kakaknya terluka parah.      Setelah berada di dekat Hardy, Bening terkejut saat melihat lutut kakaknya dialiri darah yang cukup banyak. Ia jongkok, menyentuh lutut yang membuat Hardy mendesis dan sedetik ia memandang Bening sebelum kembali memandang ke arah Sardi.      Bening mengikuti arah pandang Hardy, melihat pria itu membuat tubuhnya menegang dan gemetar, ia bahkan terjatuh dan memeluk lengan Hardy sangat erat. Bimo pun ikut memandang ke arah Sardi sebelum kembali memandang Hardy dan Bening. Bimo menangkap kemarahan Hardy, dua tangan anak itu mencengkeram lututnya, membuat darah semakin banyak yang keluar.      Bimo bertanya-tanya, siapa pria yang membuat dua anak itu begitu ... terluka. Amarah terlihat jelas di wajah Hardy sementara Bening terlihat jelas sedang ketakutan. Bimo memicingkan mata, berusaha memfokuskan pandangannya ke arah pandang Hardy. Ia melihat seorang pria sedang memandang ke arah mereka, namun tidak terlalu jelas wajahnya.       “Hardy. Ayo pulang, Nak! Om akan mengobati lukamu.” Apapun yang sedang terjadi, Bimo tidak ingin membuat anak itu terlalu lama memandang sosok yang membuatnya se tegang sekarang.      Bimo membantu Hardy berdiri lalu menuntun sepeda, sementara Hardy berjalan tertatih dipapah oleh Bening. Langkah keduanya begitu pelan dan berat, sekali lagi keduanya menoleh sekedar untuk kembali melihat sosok Sardi di pos kamling. Saat tahu pria itu sudah tidak ada disana, keduanya menghela napas lega. ***      Sardi marah karena dua anaknya mendekati seorang polisi seperti Bimo. Apa yang sedang mereka rencanakan? Apa mereka mau melaporkanku ke polisi itu? Geramnya dalam hati.      Melangkah menjauhi pos kamling, ia hendak pulang dan menanyakan masalah ini kepada istrinya. Ia curiga jika istrinya lah yang meminta dua anaknya mendekati Bimo. Diantara sekian banyak polisi, kenapa harus Bimo? Sardi sangat menyesali hal ini.      Sardi sangat tahu sepak terjang pria yang sudah bekerja di Polsek Tawangsari cukup lama. Jika tertangkap oleh pria itu, maka sudah bisa dipastikan akan mendekam lama di penjara. Pria itu tidak bisa disuap, pria itu polisi bersih yang menjadi monster bagi ia serta teman-temannya.       Tidak terhitung berapa banyak temannya yang akhirnya harus menikmati sel tahanan yang dingin hanya karena mereka tertangkap saat Bimo sedang bertugas. Ia jauh lebih beruntung karena dua kali tertangkap namun bisa dikeluarkan dengan uang suap yang jumlahnya tidak sedikit.      Polisi k*****t! Sardi meludah, membuang kekesalan karena kepalanya dipenuhi oleh pria bernama Bimo. Ia berjalan lebih cepat, amarahnya sedang perlu pelampiasan dan hanya ada satu orang yang bisa membuatnya puas.      Melihat wanita yang telah memberinya dua anak sedang duduk santai, Sardi menyeringai. “Aku pulang, Sayang.” Dengan langkah pelan, ia mendekati Indah. Wanita itu tersentak, kaget. Tubuhnya menggigil ketakutan, seringaian itu sudah sangat dikenalnya, namun ia tidak tahu kesalahan apalagi yang telah ia lakukan.      “Mas Sardi.” Indah bangkit dengan susah payah, rasa sakit di d**a serasa membakarnya. Ia menepuk pelan dadanya, berusaha meredam rasa sakit walaupun percuma.      Tanpa aba-aba, Sardi mendekat dengan langkah cepat. Sebuah tinju segera ia layangkan. Hanya Tuhan yang menyaksikan kelakuan Sardi terhadap istrinya. ***      Bimo membersihkan lutut Hardy yang terluka, ia akui Hardy anak yang cukup kuat. Meski terluka cukup parah namun ia tidak menunjukkan rasa sakit sedikitpun. Bimo melihat dua tangan Hardy masih terkepal, begitu tegang hingga urat-uratnya tampak jelas. Bimo menghela napas berat, memandang anak laki-laki yang memiliki luka begitu dalam. Luka yang dibuat oleh seorang pria yang tadi ada di pos kamling, “apakah dia ayahmu?” tanya Bimo.      Hardy ingin membantah, ia tidak pernah berharap memiliki ayah seperti Sardi. Sayangnya, anak tidak bisa menentukan darimana orangtuanya berasal, sehingga ia hanya bisa mengangguk, mengiyakan bahwa Sardi adalah ayahnya.      “Apa kamu ingin menceritakan sesuatu kepada, Om?” Bimo berharap, Hardy bisa lebih terbuka dan ia bisa membantu anak-anak ini.      Tetapi membuat Hardy bercerita bukanlah hal yang mudah. Entah apa yang dilakukan ibunya hingga memiliki anak yang terlalu patuh. Bimo bisa membayangkan bagaimana keluarga Hardy. Ayah yang pemarah, ibu yang lemah namun sangat melindungi keluarganya adalah gambaran umum yang terjadi di banyak keluarga yang pernah masuk ke dalam daftar laporan di meja kerjanya.      Bimo menghela napas berat, ia memang polisi namun sebagai polisi bukan berarti bisa main hakim sendiri, ada kode etik yang ia pegang, belum lagi aturan-aturan sosial yang membuatnya harus berpikir masak-masak sebelum ikut campur dalam mengatasi masalah keluarga.      “Apakah ia benar-benar begitu membuatmu ... marah?” Pertanyaan Bimo bagai sebuah tinju yang mengenai rahang Hardy, begitu mengena dan begitu tiba-tiba. Hardy membuang muka, ia tidak ingin menjawab pertanyaan Bimo namun hal ini justru memberi jawaban tersendiri bagi Bimo. Ia tahu bahwa pria itu sudah sangat membuat Hardy marah.       Tidak ingin berlama-lama, Hardy segera bangkit. Ia menarik tangan Bening dan ingin bergegas pulang. Dunia tidak akan semudah itu memberinya kebahagiaan, pikir Hardy. Sudah cukup baginya bermimpi, sekarang sudah saatnya ia kembali ke dunia nyata.      Bimo merasa sangat bersalah, emosi membuatnya bertanya tanpa menimbang perasaan Hardy. Anak itu ada dalam masalah yang sangat sulit, Bimo ingin menolong anak-anak ini. Jika perlu, ia akan meminta kepada keluarga orangtuanya agar anak-anak ini ada dalam pengasuhannya.      Bimo menepuk pundak Hardy, mencengkeram erat pundak ringkih anak itu. “Maafkan, Om. Bukan maksud, Om ikut campur. Hanya saja...”      “Maafkan saya, Om. Saya...” Hardy kehilangan kata-kata. Ia sedang memegang buah simalakama. Ia tahu ia memiliki kesempatan mengakhiri masalah yang membelenggu keluarganya, namun janji kepada ibunya, membuat Hardy tidak bisa mengatakannya.      “Om, mengerti. Janji sama, Om. Besok dan besoknya lagi, kalian tetap datang kesini.” Bimo ingin memberitahu kepada kedua anak itu bahwa ada keluarga baik-baik di dunia ini dan memastikan bahwa Hardy dan Bening adalah bagian dari keluarga baik-baik itu, keluarganya.      “Saya...” Hardy tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Ia memang ingin sekali datang kembali tapi ia takut Bimo akan membuat masalah keluarganya semakin pelik, misalnya menangkap ayahnya dan memenjarakan pria itu. Itu memang yang diinginkannya tapi ia tahu ibunya pasti sangat marah jika hal itu sampai benar-benar terjadi.      “Om, berharap kalian kemari setiap hari. Bagi, Om. Kalian adalah anak-anak, Om. Bukan karena Om seorang polisi tapi sebagai seorang ... ayah. Hardy, tidak semua ayah seperti ayahmu. Maksud, Om.” Bimo tidak melanjutkan ucapannya, takut jika ia menyinggung perasaan Hardy.      “Saya mengerti, Om.” Hardy menyentuh punggung tangan Bimo yang masih ada di atas pundaknya. Ia tidak benar-benar mengerti ketulusan Bimo, ia hanya tahu ada tempat yang membuatnya bahagia dan tempat itu ada disini, di rumah ini. ***      Hardy nekat membonceng Bening, ia begitu fokus dalam mengayuh sepeda, sesekali ia oleng dan berusaha menyeimbangkan dirinya biar tidak jatuh. Bening pun nampak tegang, ia takut jatuh tapi ia tidak berani mengatakannya kepada Hardy, takut jika kakaknya marah.       Sepeda melaju pelan, melewati rumah-rumah dengan orang yang sedang asyik duduk dan bercengkerama bersama keluarga dan tetangganya. Hardy tertawa senang, bisa bersepeda seperti ini seperti sebuah mimpi baginya. “Senangkan, Bening?” tanyanya.      Bening masih tegang, wajahnya memucat, dua tangannya mencengkeram sadel. Bening takut sekali jatuh, ia bisa membayangkan lututnya terluka dan bisa saja wajahnya berdarah jika sampai terbentur batu.      “Bening, senang tidak?” Hardy mengulang pertanyaannya.      “Se ... senang, Kak.” Bening tergagap, berbohong demi menyenangkan hati Hardy.      “Kamu tidak senang?”       Bening terdiam, ia bukan tidak senang tapi ... Bening harus mencari alasan.       Sepeda mulai mendekati rumah mereka, Bening masih terdiam sampai ia melihat ayahnya berdiri di depan pagar sambil berkacak pinggang.      “Bening...” Hardy benar-benar ingin mendengar bahwa Bening senang sudah diboncengnya.      “Kakak ... Ayah.” Bening menunjuk ke arah pria itu, ia tidak lagi peduli dengan apapun kecuali ayahnya. Notes :Nama tempat, murni khayalan semata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN