Tragedi Penuh Air Mata

1678 Kata
       Ayah      Seyogyanya adalah seorang pelindung keluarga, pengayom dan orang yang akan selalu menjaga keluarganya. Tetapi bukan Sardi orangnya. Hanya karena ia menyumbang s****a ke dalam rahim istrinya, bukan berarti ia adalah sosok ayah layaknya seorang ayah bagi anak-anaknya. Secara biologis, pria itu memang ayah bagi Hardy dan Bening namun secara psikologis, ia lebih seperti orang lain yang tidak ingin dilihat oleh Hardy dan Bening.      Begitu tahu sang ayah berdiri angkuh di depan pagar rumahnya, Hardy segera menghentikan laju sepedanya, ia meminta Bening ikut turun dari sepeda. Mereka berdua bersembunyi di belakang pohon mangga yang cukup besar sehingga Sardi tidak akan bisa melihat mereka sementara mereka bisa mengawasi pria itu.Pria itu tampak marah, tegang dan mungkin saja akan menyakiti Hardy serta Bening. Hardy berpikir cepat, yang paling ia takuti adalah jika ayahnya merebut sepeda yang baru saja ia miliki.      “Bening. Ayo ke Mbok Pah!” Hardy berpikir, sepedanya akan aman jika dititipkan kepada wanita itu.      Hardy memutar sepedanya, ia harus bergegas atau bisa saja Sardi melihatnya lalu mengejar dan benar-benar merebut sepeda itu. Hardy berlari sekuat tenaga, karena terlalu panik, ia bahkan lupa kalau sudah bisa bersepeda. ***      Mbok Pah memberikan belanjaan kepada seorang wanita memakai daster batik berwarna merah. Setelah pembelinya pergi, wanita itu kemudian melihat Hardy menuntun sepeda sambil berlari ke arahnya. Peluh anak itu mengalir membasahi wajahnya, bibirnya terlihat pucat sekali. Mbok Pah hanya bisa geleng-geleng, tidak perlu berpikir panjang jika hanya untuk tahu bahwa dugaannya memang benar. “Pasti Sardi buat ulah lagi,” gumamnya.      Hardy meletakkan sepedanya di depan toko Mbok Pah, dengan tergopoh-gopoh ia mendekati wanita yang masih berdiri di belakang etalase. “Mbok, aku titip sepedaku ya!” Hardy berteriak lalu tanpa menunggu jawaban Mbok Pah, anak itu berlari kembali ke rumahnya.      Sekali lagi, Mbok Pah hanya bisa geleng-geleng, ia keluar dari tokonya untuk memasukkan sepeda Hardy ke dalam rumahnya. ***      Sardi kesal setengah mati, ia ingin membuat Hardy jera karena berani-beraninya meminta sepeda dari Bimo. Seluruh temannya tahu bahwa Bimo sok baik dengan memberikan semua yang diinginkan anak-anak yang dianggap membutuhkan. Hardy dan Bening masih punya aku, mereka tidak perlu meminta-minta dari Bimo. Sardi meludah, ia membuang kekesalan dengan menggesek kakinya di atas tanah bekas ludahannya sendiri.      Sardi menoleh ke kanan dan ke kiri, harga dirinya sebagai seorang ayah terinjak-injak. Pria itu lupa akan tabiatnya sendiri, lupa bagaimana ia bersikap kepada keluarganya, lupa betapa ia telah begitu kasar terhadap keluarganya, mengambil uang yang telah mereka kumpulkan dengan susah payah. Kini saat kedua anaknya mendapat sebuah kebahagiaan dari pria lain, hatinya terluka.       Senyum seringai muncul saat Sardi melihat dua anaknya berjalan pelan mendekatinya. Ia berkacak pinggang, bersiap memberi pelajaran kepada Hardy dan Bening. Saat kedua anak itu benar-benar berdiri di depannya dengan kepala tertunduk, Sardi tidak sanggup menahan diri. Ia menarik tangan Hardy dan melemparnya masuk ke halaman rumahnya. “APA YANG KAMU LAKUKAN, HAH!” Sardi meradang, bagai gunung vulkanik yang siap meletuskan lava.      Tubuh Hardy terlempar lalu mendarat di atas tanah berkerikil, plester yang membungkus lututnya yang terluka, mengelupas. Lukanya semakin meradang setelah terbentur kerikil yang cukup tajam, darahnya kembali mengalir, tetapi Hardy tidak memedulikan perihnya. Ia segera menoleh, memandang Sardi dengan amarah yang meletup-letup, bagai air mendidih yang masih direbus di atas kompor.      “NANTANG KAMU!” Sardi melotot, ia mendekati Hardy dan siap melayangkan sebuah pukulan. Bening berteriak histeris, ia memeluk ayahnya sambil berderai air mata.      “Jangan Ayah, kumohon!” Bening berlutut, ia menangkupkan dua tangannya, memohon kepada sang ayah untuk tidak memukul kakaknya.      “Salahku apa, Yah?” Hardy tidak terima diperlakukan sekasar ini tanpa tahu apa masalahnya. Dengan susah payah ia berusaha bangkit, ia juga menarik lengan Bening dan memaksa gadis itu berdiri. Ia tidak suka adiknya memohon seperti seorang b***k kepada tuannya.      “Salahku apa, salahku apa.” Sardi semakin berang dengan cara Hardy yang jelas sedang menantangnya. Ia menarik telinga Hardy dan menariknya dengan kencang, membuat Hardy berteriak kesakitan. “Kamu pikir kamu pengemis, hah? Malu-maluin!” Sardi kembali meludah, dipandang lekat Hardy, anak sulung yang selalu saja menantangnya. Tidak peduli seberapa berat siksaannya, bocah itu seperti tidak kenal takut kepadanya.      “Aku tidak memintanya. Aku membelinya.” Hardy menatap tajam ayahnya, seolah matanya bisa mengeluarkan sinar laser yang akan membakar tubuh ayahnya. Seandainya saja itu bisa terjadi, Hardy pasti sangat senang sekali.      “Beli? Hahahahahaha. Uangmu sebanyak apa? Jangan pikir aku percaya dengan ucapanmu.”       Hardy benar-benar tidak percaya Sardi bisa seperti ini. seharusnya pria itu senang karena anaknya punya sepeda baru tanpa harus meminta kepadanya, ayah yang seharusnya membelikannya sebuah sepeda.      “Dimana sepeda itu?” Sardi ingin mengembalikan benda yang telah menginjak harga dirinya. Ia tidak terima direndahkan seperti ini oleh orang asing seperti Bimo.      “Memangnya kenapa? Ayah mau menjualnya buat beli bir atau buat main togel?” Hardy benar-benar naik pitam, ia tidak peduli dengan sopan santun yang sering diajarkan ibunya. Kepada Sardi, Hardy tidak perlu menjaga sopan santun itu, toh orang itu akan menghajarnya baik saat ia bersopan santun atau tidak.      “Kamu berani ya?” Bagai api yang disiram bensin, Sardi segera melayangkan sebuah bogem mentah yang mendarat tepat di rahang anaknya, membuat bocah kurus itu kembali mengadu lutut dengan kerikil. “Itu hukuman untuk anak nakal sepertimu.” Entah untuk ke berapa kalinya, Sardi meludah lalu menggesek air ludahnya dengan kaki beralas sandal kulit berwarna hitam. ***      Indah mengerahkan seluruh tenaganya, luka badan dirasakan di setiap inci tubuhnya. Entah setan apa yang merasuki Sardi hingga pria itu datang-datang menyiksanya. Bahkan Indah tidak memiliki waktu untuk berpikir lebih jauh. Ia mendengar teriakan Bening, disusul suara bentakan suaminya kepada anak sulungnya.       “Oh Tuhan, jaga anak-anakku!” Perlahan ia berjalan, tertatih dengan satu tangan memegang tembok untuk menyangga tubuhnya. Setelah ia sampai di pintu, ia melihat bagaimana Sardi kembali menyakiti buah hatinya. “Mas Sardi, JANGAN! KUMOHON.” Indah ingin berlari, namun tubuhnya terlalu lemah sehingga ia justru ambruk. Meski tak lagi mampu berdiri, namun Indah berusaha mendekati anaknya dengan cara merayap.       Bening menoleh, memandang ibunya yang jatuh dan merayap dengan tubuh gemetar. “IBU....” Bening berlari mendekati ibunya, ia menangis keras saat melihat wajah ibunya kembali membiru. “Ibu.” Bening segera memeluk tubuh ibunya, begitu erat hingga Indah merintih kesakitan.      “Ibu....” Bening menyentuh lebam yang menghiasi mata kiri ibunya. Hatinya sedih sekali saat melihat wanita yang sangat disayanginya terluka seperti ini. “Apa ini karena Ayah, Bu?” tanyanya.      Indah menggeleng, ia berusaha tersenyum sekalipun sebenarnya hatinya menangis. “Bukan, Sayang. Ibu tadi jatuh,” dustanya.      “Ibu, Ayah jahat. Ayah memukuli Kak Hardy.” Bening menangis sesenggukan, ia menunjuk Sardi yang kini melangkah pergi.      “Sini, Sayang. Peluk Ibu, Nak.” Indah memeluk Bening, air mata mengalir deras. Ya Tuhan, sampai kapan Mas Sardi seperti ini? jerit hati Indah.      d**a Indah bagai dipukul godam, sakit luar biasa hingga membuat napasnya serasa putus. Pandangannya mulai menggelap, meski ia paksakan untuk tetap terjaga, namun pada akhirnya tubuh Indah lunglai lalu tidak sadarkan diri.      Bening terkejut saat tubuh ibunya ambruk tak sadarkan diri. Beberapa saat ia terpaku, meresapi sesuatu yang telah terjadi kepada ibunya. “Ibu ... Ibu.” Panggilan Bening tidak mendapat balasan, mata gadis itu kembali digenangi air mata. “Ibu ... Ibu.” Bening memandang wajah Indah, ia menepuknya pelan untuk membangunkan sang ibu, tetapi ibunya masih tetap diam membisu. “Kakak ... KAKAK!” Bening berteriak histeris, memanggil kakaknya agar membantunya membangunkan ibunya.      Mendengar suara Bening, Hardy segera bangkit. Ia berlari cepat, mendekati adik dan ibunya. Ia sangat terkejut saat melihat ibunya telentang, tidak bergerak. Ia berlutut, mengguncang bahu ibunya sambil menyebut namanya. “Ibu ... Ibu.” Hardy kebingungan, sekali lagi ia mengguncang tubuh ibunya dan berharap ibunya segera sadar.       “Kakak, bagaimana ini.” Bening sangat cemas, namun ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.      “Bening, tetap disini! Aku mencari bantuan.” Segera Hardy berdiri lalu berlari menuju ke rumah Mbok Pah, hanya wanita itu yang bisa membantunya. Hardy berlari kencang, tidak peduli lututnya terasa menyiksa setiap kali kakinya diayunkan.      Hanya butuh waktu satu menit untuk mencapai rumah Mbok Pah, Hardy tiba dengan napas terengah-engah. Mata Hardy terbelalak saat mengetahui toko Mbok Pah tutup, padahal toko Mbok Pah tidak pernah tutup kecuali saat malam hari atau saat wanita itu pergi. Sekali ini saja, Hardy berharap saat ini Mbok Pah ada di rumah meski tokonya tutup. Hardy mendekati pintu, menggedor pintu keras-keras serta memanggil nama wanita itu, “Mbok Pah. Mbok Pah. Tolong aku, Mbok Pah! Mbok Pah, tolong!” Tetapi tidak ada yang menyahut, tubuh Hardy merosot. Ia tidak sanggup menahan air mata. Sesaat Hardy kehilangan daya berpikir, ia terlalu panik hingga tidak tahu apa yang bisa ia perbuat selain ... tiba-tiba Hardy teringat seseorang, tanpa menunggu lama Hardy kembali bangkit dan kembali berlari dengan sekuat tenaga.      Tanpa alas kaki, Hardy berlari seperti orang kesetanan. Ia menginjak kerikil-kerikil yang tersebar di sekitar jalanan namun ia tidak merasa kesakitan sama sekali. Dalam hati Hardy berdoa semoga orang itu ada di rumahnya dan bisa membantu ibunya. Sesekali Hardy mengusap air mata yang sedari tadi mengalir tiada henti. Ibu jangan mati! Ibu jangan mati! Teriak Hardy dalam hati.      Tuhan, jangan ambil nyawa Ibuku! Meskipun Kau sayang Ibu, jangan ambil dia dariku! Aku dan Bening masih sangat membutuhkannya. Tuhan, kumohon berikan keajaiban untuk keluargaku. Hanya kepada-Mu, aku meminta dan memohon.      Sampai di depan gerbang rumah Bimo, Hardy memegang pintu pagar dengan erat. Ia kembali mengatur napas dan degup jantung yang seolah siap meledak. Peluh memenuhi wajah dan membasahi bajunya, kedua kakinya gemetar dan ada jejak darah setiap kali telapak kaki Hardy mendarat.      Bimo bersiap untuk bertugas, sambil berjalan keluar rumah ia merapikan seragam yang ia kenakan. Ia terkejut saat melihat Hardy sudah berdiri di depan teras rumahnya. Tubuh anak itu gemetar, wajahnya basah oleh air mata dan ada jejak kaki berdarah, membuat Bimo memandang kedua kaki Hardy. “Hardy, kamu kenapa, Nak?” Bimo segera berlutut di hadapan Hardy, menyentuh dua pundaknya dan memeriksa tubuh anak itu.      “Om, tolong Ibu saya! Tolong Ibu sa....” Tiba-tiba tubuh Hardy merosot dan ditangkap oleh Bimo. Bocah itu tidak sadarkan diri dalam pangkuan pria yang merasa sangat iba dengan keadaan Hardy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN