Bimo membawa masuk Hardy, ia segera membaringkannya ke sofa. “Mama, bawa minyak kayu putih, revanol, perban, waslap dan air bersih!” teriak Bimo.
Mendengar suara Bimo, Arini segera menuju ke sumber suara. Saat melihat Hardy, Arini terkejut dan tanpa berbicara apapun ia mengambil benda-benda yang disebutkan oleh suaminya. Semua barang itu ia letakkan di atas nampan lalu membawanya ke ruang tamu. Ia meletakkan nampan itu di atas meja, ia membuka botol minyak kayu putih lalu menuangkannya sedikit ke telapak tangannya. Wanita itu membangunkan kesadaran Hardy sementara suaminya merawat luka di lutut dan kaki Hardy. “Astaga, Pa. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya?” Arini tidak mampu meredam emosi, tetes air mata meleleh begitu saja.
“Hardy, sadar, Nak! Ini Tante Arini, sadar Nak!” Arini mendekatkan telunjuk yang berbau minyak kayu putih ke depan lubang hidung Hardy. Ia juga mengguncang tubuh anak itu agar segera terbangun.
Perlahan Hardy membuka mata, ia segera bangun dan segera menarik lengan Bimo. “Om, tolong Ibu saya, Om! Ibu saya sakit, Om. Tolong Ibu saya.” Hardy menangis keras, ia tidak tahu lagi apa yang harus ia perbuat selain meminta pertolongan Bimo.
“Ibumu kenapa, Hardy?” tanya Arini.
“Ibu saya pingsan, Tante. Om, tolong Ibu saya!” Hardy memegang tangan kanan Bimo, meminta pertolongan dari pria itu.
“Sekarang dimana Ibumu?” tanya Bimo.
Hardy segera menurunkan dua kaki yang sudah dibalut perban oleh Bimo, bocah itu meringis saat ia hendak bangun. Kini ia baru merasakan sakit hampir di seluruh badannya, tapi Ibu dan Bening ia tinggal di rumah sendirian. Sebagai anak tertua, Hardy merasa memiliki tanggung jawab untuk melindungi dua keluarganya.
“Biar Om-mu yang kesana, Hardy. Sebaiknya kamu ke rumah sakit bersama Tante. Begitu kan Pa?” Arini meminta persetujuan Bimo.
Bimo mengangguk, tentu saja lebih baik jika mereka berbagi tugas. Bimo akan ke rumah Hardy dan menolong ibunya sementara Arini mengantar anak itu berobat ke Puskesmas.
“Dimana rumahmu? Aku akan menolong ibumu.” Hardy menyebutkan alamat rumahnya.
Setelah tahu alamat rumah Hardy, Bimo segera keluar dan segera mengeluarkan mobil. Melihat kondisi Hardy, ia takut jika ibunya Hardy sakit parah. Pria itu tidak ingin terjadi sesuatu hal buruk.
***
Bening menangis sesenggukan, sedari tadi ibunya hanya diam sekalipun ia memanggil-manggil ibunya. “Ibu ... bangun!” Isak tangis mewarnai suaranya, air mata bercucuran seperti air sungai yang mengalir.
Napas Indah teratur namun lemah, wanita itu terluka cukup parah setelah dipukul dan ditendang suaminya. Wanita yang malang, tidak ada yang menyangka bahwa pernikahannya dengan Sardi justru membuatnya menjadi bulan-bulanan suaminya.
“Ibu ... bangun! Jangan tinggalin aku, Bu.” Bening sudah mulai putus asa, ia menarik tubuh ibunya ke dalam pelukan. Ia memeluk ibunya erat, mencium dahi ibunya dan berbisik pelan. “Ibu ... Ibu.” Bening menangis sesenggukan.
***
Tidak butuh waktu lama bagi Bimo untuk sampai di depan rumah Hardy. Rumah Hardy bersebelahan dengan dua rumah kosong, di depannya hanya ada kebun pisang sementara di sisi lainnya ada kebun mangga. Pantas saja anak itu kebingungan saat meminta bantuan.
Setelah sampai di depan rumah anak itu, ia menghentikan mobil lalu mematikan mesinnya. Tanpa membuang waktu, Bimo keluar dari mobil dan mendekati Bening yang sedang memeluk seorang wanita. Itu pasti ibunya, kata Bimo dalam hati.
Saat sampai di depan Bening serta ibunya, Bimo terkejut dengan apa yang ia lihat. Wanita itu pingsan dengan luka memar di wajahnya dan mungkin saja wanita itu terluka di bagian dalam tubuhnya. Bimo segera berlutut, ia membelai puncak kepala Bening. “Om akan mengangkat ibumu dan membawanya ke rumah sakit,” katanya.
“Om, tolong Ibu saya! Ibu saya....” Bening tidak bisa melanjutkan ucapannya, ia kembali menangis histeris.
Bimo tahu Bening pasti sangat ketakutan, tetapi ini bukan saatnya bagi Bimo untuk menenangkan gadis itu. “Bening, kunci rumahmu! Kita bawa Ibumu ke rumah sakit.” Segera, Bimo mengangkat tubuh Indah lalu membawanya ke dalam mobil.
Bening duduk di dalam mobil sambil mendekap erat tubuh ibunya yang masih belum sadar. Derai air mata mewarnai perjalanan menuju rumah sakit. Bening kalut, ia takut jika ibunya pergi meninggalkannya. “Ibu, bangun! Jangan tinggalin aku!” Ucapan itu bagai mantra yang diucapkan berulang-ulang.
Bimo diam, ia fokus dengan jalanan. Mobil berpacu dengan cepat dan ugal - ugalan. Memecah kepadatan dan membuat perjalanannya menuju rumah sakit cukup lancar. Sesekali Bimo memandang Bening dan Indah melalui kaca spion, gadis yang malang itu membuat matanya berkaca-kaca.
“Ibumu pasti sembuh, Bening. Kamu tidak perlu khawatir,” hiburnya.
Mobil akhirnya sampai di pelataran Puskesmas. Setelah mobil berhenti, ia segera turun dan meminta seorang perawat menarik brankar dan membantunya mengeluarkan Indah dari dalam mobil.
Setelah Indah berada di atas brankar, Bimo menggandeng Bening segera berlari menuju UGD dimana Indah mendapatkan pertolongan pertama. Seorang dokter dengan cekatan memeriksa kondisi wanita itu, ia terkejut dengan hasil pemeriksaannya namun ia harus bersikap profesional dan wanita itu harus segera mendapat pertolongan lebih lanjut.
“Pak, saya buatkan rujukan ke rumah sakit. Kondisi ibu ini tidak memungkinkan dirawat disini.” Dokter tidak meminta persetujuan Bimo, ia segera meminta seorang perawat membawa sebuah blanko rujukan bagi Indah.
“Apakah separah itu?” tanya Bimo.
“Saya khawatir ada fraktur pada tulang rusuknya. Apakah anda suaminya?” Dokter menatap Bimo, menunggu jawaban dari pria tersebut.
“Bukan. Dia ibu anak ini.” Bimo menunjuk Bening tetapi dokter tidak ikut memerhatikannya.
“Nama Ibumu siapa?” Dokter bertanya kepada Bening.
“Bu Indah. Dokter, apakah Ibu saya bisa sembuh? Kenapa Ibu masih tidur terus?” Bening kembali menangis, wajahnya sangat sembab dan memerah.
“Ibumu pasti sembuh, Bening. Kamu berdoa saja ya!” Bimo menepuk pundak gadis itu. Bening mengangguk, ia mengucek mata dan berusaha untuk tidak kembali menangis.
Hardy dengan kaki terpincang keluar dari bilik dimana ia baru saja mendapat perawatan dokter. Saat mendapat perawatan, ia tahu ibunya telah sampai di rumah sakit. Dengan tubuh gemetar dan dipapah oleh Arini, Hardy mendekati brankar ibunya. Ia tidak kuasa menahan tangis, air mata itu luruh dengan sangat mudah. Ia mengusap lembut dahi ibunya, kemudian ia mencium pipi ibunya. “Ibu, jangan tinggalkan aku dan Bening! Kami membutuhkanmu.” Bisikan lembut itu bergetar, perlahan isak tangis mulai keluar dari bibir Hardy.
Arini tak kuasa menahan tangis penuh keharuan. Ia mengusap air mata yang luruh lalu menarik tubuh Hardy dan memeluknya.
“Yang sabar ya. Tante dan Om akan membantumu,” hiburnya.
***
Bimo terkejut dengan hasil pemeriksaan rontgen Indah yang baru saja dijelaskan oleh dokter di rumah sakit umum daerah. Indah mengalami patah tulang rusuk sebelah kanan, selain itu kondisi detak jantung Indah kurang stabil sehingga kondisi ini bisa saja mengancam jiwanya.
“Tensi darahnya sangat rendah dan saya rasa trauma psikologisnya memberi dampak jauh lebih buruk dari trauma fisik yang ia terima.” Dokter meletakkan kacamata bacanya di atas meja, ia menghela napas berat.
“Lakukan yang terbaik, dok!” Bimo tidak tahu lagi harus berbuat apa selain meminta dokter bekerja dan ia yakin dokter akan bersungguh-sungguh menolong Indah.
Apapun penjelasan medis yang dijelaskan oleh dokter, Bimo tidak terlalu mengerti kecuali bahwa kondisi Indah benar-benar lemah. Wanita itu akhirnya dilarikan ke ruang ICCU yang berupa ruang kaca yang cukup lebar. Di ruangan itu terdapat sepuluh ranjang yang enam diantaranya terisi pasien dengan peralatan yang dipasang di d**a mereka, selang oksigen berada di bawah hidung dan sebuah layar monitor berada di sisi kanan pasien. Layar monitor itu memperlihatkan grafik detak jantung, tensi darah dan kadar oksigen dalam darah.
Hardy dan Bening hanya bisa melihat ibu mereka melalui kaca, tangan keduanya menyentuh kaca seolah sedang menyentuh ibunya. Air mata luruh dari kedua mata anak itu. Bimo merangkul pundak Hardy sementara Arini memeluk Bening.
“Apa Ibu bisa sembuh, Kak?” Bening menoleh ke arah Hardy. Matanya sembab dan membengkak karena ia terlalu lama menangis.
Hardy menunduk, ia kembali memandang ibunya yang tertidur dengan tenang. Ia tidak tahu harus berbuat apa selain berdiri membeku. Terlalu banyak hal yang ada dalam pikirannya. Ia harus merawat ibunya, merawat Bening, mencari uang dan Hardy tidak tahu yang mana yang harus ia dahulukan.
“Kakak....” Bening menarik lengan Hardy, meminta jawabannya segera.
Hardy mengurai masalahnya. Ibunya sakit setelah dihajar ayahnya dan sekarang harus dirawat di rumah sakit, ia butuh banyak uang untuk membayar biayanya tapi ia tidak punya pilihan lain kecuali membiarkan ibunya meninggal dan Hardy tidak akan pernah membiarkan ibunya meninggal.
Sardi sialan, apakah ia masih pantas dipanggil dengan sebutan Ayah jika kerjaannya hanya menyiksa anak istrinya?
Hardy geram, dua tangannya mengepal. Ia tidak pernah berpikir akan melewati masa sesulit ini. Ia pikir hidupnya sudah sangat sulit sehingga Tuhan tidak akan memberinya masalah lebih berat lagi tapi kenyataannya....
Batin Hardy berteriak, ini bukan salah Tuhan, ini salah ayahnya yang sudah bertindak sekejam itu. Hardy harus menuntut pertanggungjawaban dari pria yang seharusnya sekarang ada disini bersamanya.
“Om Bimo, tolong jaga Ibu dan Bening! Aku harus....” Hardy tidak melanjutkan ucapannya. Didorong oleh amarah yang sangat kuat, ia ingin segera mencari ayahnya dan melakukan apapun untuk setidaknya mendapatkan uang demi pengobatan ibunya.
Bimo terkejut, ia menepuk pundak istrinya. “Ma, kamu disini dulu!. Aku harus menyusul Hardy!” Bimo segera berlari mengejar Hardy, ia tidak ingin sesuatu terjadi kepada anak yang mengingatkan kepada dirinya sendiri.
Apapun kesulitanmu, Hardy. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal bodoh termasuk dengan mencari ayahmu. Aku bukan orang biasa yang tidak tahu apa-apa. Aku tahu apapun yang kamu rencanakan sekarang, Nak.
Hardy berlari keluar dari rumah sakit, ia mengenyahkan rasa sakit yang ia rasakan setiap kali kakinya berpijak. Tidak ada waktu untuk meresapi rasa sakit badan yang ia rasakan. Ia tidak punya waktu untuk mengasihi dirinya sendiri. Hidupnya dan hidup Bening sedang dipertaruhkan. Tanpa ibunya, Hardy tidak tahu apa yang bisa ia lakukan.
“Sardi. Tunggu aku!