ICCU

1672 Kata
     Bimo berlari mengejar Hardy, ia akui Hardy memiliki tekad terlalu kuat dan ia juga yakin tekanan emosi Hardy sedang sangat tinggi sehingga apapun bisa terjadi. Anak itu harus segera dihentikan atau apapun yang dilakukan anak itu hanya akan berbuah penyesalan. Bimo tentu saja tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi kepada Hardy.       Tidak perlu banyak tenaga bagi Bimo untuk mengejar Hardy terutama sekarang Hardy sedang terluka. Hardy memang berlari sekuat ia bisa namun dengan kondisi kaki yang kesakitan seperti sekarang, kemampuan berlarinya hanya sedikit lebih cepat dari seekor siput.       Bimo mencekal lengan Hardy, memutar tubuh anak itu dengan mudah hingga ia berdiri berhadapan dengannya. “Apa yang akan kamu lakukan?” tanyanya.       “Lepaskan aku! Aku harus menemui Ayahku,” teriak Hardy. Ia menarik lengannya agar terlepas dari cekalan Bimo.       “Untuk apa?” Sudah jelas tidak ada yang bisa dilakukan pria itu sekarang. Bimo tidak yakin, tapi melihat kondisi keluarga Hardy, sepertinya pria yang dipanggil Ayah oleh Hardy dan Bening tidak akan mau bertanggung jawab.       “Aku harus meminta uang kepadanya.” Hardy bersungguh-sungguh, tatapan matanya menceritakan betapa besar keinginannya untuk menarik tangan Sardi dan meminta pria itu membayar semua yang telah pria itu lakukan kepada ibunya.       “Daripada kamu mencarinya, lebih baik kamu disini menunggui Ibu dan adikmu!” Bimo menggerakkan dagunya ke arah pintu masuk rumah sakit.       Lalu jika aku disini, bagaimana dengan uang untuk membayar biaya rumah sakit dan obat-obatan?       Hardy tidak bisa tinggal diam sementara ia tidak memiliki cukup uang. Ia bahkan tidak tahu berapa banyak uang yang harus ia miliki untuk biaya Ibunya. Belum lagi ia dan Bening butuh makan, itu artinya ia butuh uang lebih banyak lagi untuk kehidupan dirinya, ibu dan adiknya.       “Kamu jangan memikirkan soal uang, Har! Ada aku. Kamu cukup menunggui ibumu sambil berdoa biar ibumu cepat sembuh.” Bimo ingin mengambil beban berat Hardy, ia tahu bagaimana rasanya menjadi Hardy sekarang.       Beberapa puluh tahun lalu, ia mengalami masalah seperti Hardy. Sayangnya saat itu tidak ada seseorang yang membantunya sehingga ia harus kehilangan ibunya di rumah sakit. Setiap hari rekaman kejadian itu masih berputar hingga sekarang. Inilah alasan Bimo memiliki hati yang mudah bergerak setiap kali melihat anak-anak yang memiliki kehidupan sesulit kehidupannya dahulu.       “Tunggu apalagi?” Bimo menarik tangan Hardy namun Hardy berusaha melepas cekalan tangan Bimo. Ia tidak tahu mengapa Bimo begitu baik kepadanya. Ia bukannya tidak tahu terima kasih, hanya saja apakah kebaikan Bimo benar-benar tulus atau ada niatan lain di balik kebaikannya?       Bimo tidak memberi kesempatan bagi Hardy untuk pergi. Cekalannya cukup kuat hingga membuat anak itu tidak bisa melepaskan diri, bahkan ia bisa menyeret anak itu untuk kembali ke ibunya.  ***       Malam telah larut, Bimo telah pergi dengan sebuah janji yang harus Hardy tepati. Anak itu harus tetap berada di ruang tunggu yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Ruang tunggu tersebut ada di depan sebuah gedung dengan dua lantai. Lantai pertama sebagai ruang ICCU sementara lantai dua untuk ICU dan PICU. Di ruang tunggu tersebut, terdapat beberapa keluarga pasien lain yang sedang merebahkan badan dan beberapa lagi sedang duduk sambil berdoa.       Hardy harus membuka telinga karena kapan saja pihak rumah sakit bisa memanggilnya dan memintanya membeli obat bagi ibunya dan harus segera diserahkan kepada petugas yang di pintu masuk.       Bening telah tidur di sebelahnya, meski demikian terkadang isak tangis keluar dari mulut kecil gadis itu. Sesekali gadis itu bergumam dengan dua alis mengkerut, tidurnya tidak begitu nyenyak dan mungkin saja gadis itu sedang bermimpi buruk.       “Ibu ... ibu,” rintih Bening. Gadis itu mengubah posisi tidur dengan membelakangi Hardy.       Bimo harus bekerja sementara Arini harus pulang untuk menjaga anaknya. Bimo berjanji jika sudah pulang, ia akan segera ke rumah sakit. Hardy menyentuh kantong celananya, di dalamnya terdapat lima lembar uang ratusan ribu yang ditinggalkan Bimo untuk membayar obat serta untuk makan. Tetapi Hardy tidak berani menggunakannya untuk makan. Ia tidak lapar dan sepertinya Bening pun tidak lapar. Gadis itu sama sekali tidak merengek minta makan.       Hardy menatap adiknya, ia tidak akan sanggup merawat Bening sendirian. Ia tidak bisa menjalani hidupnya tanpa Indah, tanpa seorang ibu di sisinya. Hardy menggeleng, ia berusaha menghilangkan pikiran negatif yang baru saja melintas.       Ibu tidak boleh pergi! Aku dan Bening membutuhkan Ibu. Hardy merebahkan tubuhnya di samping Bening yang tidur memunggunginya. Ia menggunakan kedua lengan sebagai bantalan kepalanya sementara bantal yang ia dapat dari Arini sedang dipakai oleh Bening. Hardy tidak tega menggeser tubuh gadis itu, ia tidak ingin Bening terbangun hanya karena ia memerlukan sebuah bantal.       “Kepada keluarga Ibu Indah diharap ke lobi gedung mawar. Sekali lagi, kepada keluarga Ibu Indah diharap ke lobi gedung mawar.” Panggilan itu memberi efek luar biasa bagi Hardy. Pikirannya berkecamuk namun dengan segera ia bangkit dan berlari ke lobi gedung tersebut.       Hardy teringat akan ucapan dokter yang memeriksa ibunya di UGD sebelum dipindah ke gedung mawar. Dokter itu berkata bahwa pasien tidak boleh dikunjungi keluarga kecuali bila kondisinya benar-benar kritis namun dokter itu juga berkata, tidak ada siapapun yang mau dipanggil masuk dan berdoa saja supaya tidak ada panggilan untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Hardy benar-benar kalut.       “Saya keluarga Bu Indah.” Hardy berdiri di depan sebuah meja dimana seorang pria memakai kemeja hitam yang merupakan seragam rumah sakit sedang menyerahkan sebuah kertas.       “Tebus resep ini di apotik yang ada disana!” Pria itu menunjukkan letak apotik. Tanpa membuang waktu, Hardy segera berlari menuju apotik untuk menebus obat bagi ibunya.       Dua hari sudah sang ibu ada di dalam ruang ICCU. Baik Hardy maupun Bening tidak tahu sampai kapan ibu mereka ada disana. Setiap kali mereka memandang ibunya melalui dinding kaca, mereka hanya melihat ibunya terbaring dengan beberapa alat yang terpasang di d**a yang tertutup piyama rumah sakit.       Di hari ketiga, seperti dua hari sebelumnya. Hardy hanya duduk di ruang tunggu sambil menunggu panggilan datang. Bening sedang menikmati segelas mi instan yang ia beli di kantin rumah sakit. Gelas mi instan Hardy sendiri telah kandas beberapa waktu lalu. Keduanya harus makan cepat sebelum Bimo datang dan memarahi mereka karena makan makanan instan.       Pria itu setiap hari menyempatkan diri untuk datang. Pria itu selalu membawa dua bungkus makanan setiap datang. Hardy juga tidak khawatir tentang uang karena Bimo selalu memberinya uang untuk menebus obat.       “Apa ibumu masih belum keluar?” Baru dipikirkan, pria itu tahu-tahu sudah duduk di sebelahnya. Hardy memandang Bimo dengan saksama sebelum ia menjawab pertanyaan itu dengan sebuah gelengan pelan.       “Bening, jangan sering makan mi! Nanti sakit perut.” Bimo memandang gelas mi instan yang dipegang Bening. Gadis itu hanya melirik sebelum kembali menyantap makanannya. “Ini, Om bawakan nasi buatan Tante Arini.” Bimo menyerahkan sebuah kotak makan susun tiga kepada Hardy.       Bening telah menghabiskan makanannya, ia mengusap mulutnya yang belepotan dengan punggung tangannya. “Kapan Ibu keluar dari ruangan itu, Om?” tanya Bening dengan nada polos.       Bimo hanya menjawab dengan sebuah senyuman, ia membelai rambut Bening perlahan. “Kita berdoa supaya ibu kalian cepat keluar dari ruangan itu,” ucapnya.       Doa yang dipanjatkan oleh dua anak kecil itu akhirnya terkabul. Pada pukul sebelas malam, sebuah pengumuman kembali terdengar. “Kepada keluarga Ibu Indah diharap ke lobi gedung mawar. Sekali lagi, kepada keluarga Ibu Indah diharap ke lobi gedung mawar.” Dengan segera, Hardy bergegas menuju lobi gedung mawar.       Senyum anak lelaki itu berkembang saat petugas berkata bahwa ibunya sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap namun petugas menunggu sampai Bimo datang karena pria itulah yang menjadi penanggung jawab Indah selama dirawat di rumah sakit ini.       Beruntung pria itu datang di saat yang sangat dibutuhkan. Pria yang masih mengenakan seragam polisi tersebut segera menandatangani berkas pemindahan pasien dan tidak perlu waktu lama saat seorang perawat menarik brankar dimana Indah terbaring lemah di atasnya.       “IBU....” Hardy segera mendekati ibunya, menciumi pipi ibunya yang membuat Indah tidak kuasa menahan tangis.       “Hardy, anakku.” Suara Indah begitu pelan namun masih bisa terdengar oleh Hardy.       “Ibu jangan sakit lagi!” Hardy kembali mencium pipi ibunya, ia memeluk tubuh sang ibu dan mencium aroma tubuh wanita itu dalam-dalam. Aromanya seperti aroma apotik, bau obat cukup menyengat namun tidak membuat Hardy mual sama sekali.       Hardy bergegas membangunkan Bening dan mengajak gadis itu mengikuti perawat yang telah mendorong brankar ibunya. Bening yang masih belum sadar betul hanya bisa mengikuti sang kakak tanpa banyak bertanya. Gadis itu terlalu mengantuk sehingga ia hanya berpikir untuk pindah lalu kembali tidur lagi.       Bening baru tahu bahwa ibunya sudah keluar dari ICCU sesaat setelah brankar wanita itu masuk ke dalam ruang inap kelas III dengan lima brankar lain yang hanya berisi dua pasien sementara tiga lainnya kosong. Begitu melihat ibunya, Bening tidak kuasa menahan kerinduan. Ia segera memeluk dan menciumi seluruh wajah Indah. “Ibu ... jangan sakit lagi!” Bening kembali memeluk tubuh ibunya dengan erat.       Indah tersenyum, ia membiarkan Bening memeluknya meski harus menahan sakit yang menyiksa di dadanya yang terluka. Mengetahui Indah meringis kesakitan, Hardy menarik tubuh adiknya. “d**a Ibu, sakit,” ucapnya.       Bening menangis keras, ia tidak tahu d**a ibunya sakit. Ia merasa sangat bersalah karena menambah rasa sakit yang dirasakan ibunya.       “Tidak apa-apa, Sayang. Ibu juga rindu sekali dengan kalian.” Indah tersenyum, pandangannya lantas beralih kepada sosok pria berseragam polisi yang sedari tadi hanya diam. “Anda, pasti Pak Bimo. Te ... terima kasih telah menolong kami.” Indah ingin duduk dan menjabat tangan Bimo namun saat sadar bahwa gerakan kecil begitu menyakitinya, ia mengurungkan niat dan kembali berbaring.       “Bukan masalah besar ... Hardy, Bening. Tolong belikan kopi di mesin kopi di bawah! Kalian bisa beli s**u hangat dan meminumnya di bawah sebelum membeli kopi untuk, Om.” Bimo merogoh saku celana untuk mengambil dompet. Pria itu menyerahkan uang sebesar dua puluh ribu kepada Hardy.       Meski berat meninggalkan ibunya, namun Hardy tidak bisa menolak perintah Bimo. Dengan malas, ia menarik tangan Bening dan mengajak adiknya ke mesin kopi yang ada di depan pintu masuk ruang inap kelas tiga tersebut.       Bimo sengaja meminta Hardy dan Bening keluar sementara ia ingin membahas masalah penting dengan Indah. Ia menunggu kedua anak itu benar-benar meninggalkan kamar sebelum ia menyeret kursi di dekat brankar dan duduk diatasnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN