Lemah Dan Tidak Berdaya

1674 Kata
Bimo dan Indah saling bersitatap, keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Indah yang tersadar dari lamunan segera membuang muka, ia tahu ia tidak pantas memandangi pria asing terlalu lama. Bukan berarti karena ada rasa khusus, hanya saja sebagai seorang wanita yang bersuami memang tidak pantas memandang pria asing, siapapun itu. Pria itu seorang satpam sementara ia hanya seorang wanita terluka parah dengan luka memar masih terlihat di wajahnya. Entah mengapa ia yakin Bimo akan membahas luka-luka yang ia dapatkan dan Indah sama sekali tidak ingin membahas masalah ini dengan orang lain?  “Saya Bimo. Hardy berlari ke rumah saya, bertelanjang kaki, meminta bantuan kepada saya untuk menolong anda.” Bimo seorang pria yang tegas dan berwibawa. Pria itu juga tidak ingin bertele-tele. Ia ingin segera membahas masalah ini dan segera memasukkannya ke dalam laporan di kantornya. “Terima kasih sudah menolong saya,” lirih Indah. Wanita itu terlalu takut hingga suaranya bergetar. “Sudah menjadi tugas saya menolong Ibu termasuk ... menyelesaikan masalah ini di kantor.” Ia mengamati wajah Indah saksama. Wajah itu terlihat sangat buruk, meskipun bukan pertama kalinya Bimo melihat orang terluka, namun melihat luka serius dialami seorang wanita membuat hati Bimo tidak terima. Seorang wanita ada untuk dijaga dan dilindungi, bukan untuk disakiti. “Saya tidak ada masalah apapun.” Suara Indah semakin bergetar, seirama dengan detak jantung yang bekerja terlalu cepat, meski samar namun detak itu terlihat menembus piyamanya. "Saya bisa bantu anda melapor suami anda ke polisi. Maaf, bukannya ikut campur. Tapi ini sudah keterlaluan. Kasihan anak-anak," ujar Bimo, menurutnya hal ini yang seharusnya dilakukan Indah.  Indah tdak ingin masalah keluarganya sampai ke kepolisian. Masalah keluarga tidak ada sangkut pautnya dengan kepolisian. Indah tidak akan pernah mau melaporkan suaminya sendiri, bahkan seandainya jika pria itu mengancam akan membunuhnya. Bimo pun bukan sekali dua kali membantu wanita membuat laporan kekerasan dalam rumah tangga dimana korban tidak ingin melaporkan pelaku juga bukan kali pertama ia hadapi. Entah apa yang ada di dalam kepala wanita seperti Indah. Sudah disakiti separah ini, tapi tetap tidak mau menyeret suaminya ke penjara. “Ini masalah penting. Tidak seharusnya Ibu bertahan dengan pria seperti....” Bimo mengededikkan bahu, ia tidak ingin menyebut pria itu sebagai suami Indah, bahkan Bimo ingin menyebut pria itu b******n, pecundang atau apalah sebutan jelek bagi pria seperti Sardi. “Saya ... jatuh. Terpeseleset di kamar mandi, bukan di....” “Anda tidak perlu berbohong. Bukan sekali ini saya melihat luka lebam seperti itu.” Bimo kembali memandang luka lebam di pelipis Indah. Perutnya bergejolak saat membayangkan bagaimana pukulan keras itu mendarat di wajah wanita ringkih seperti Indah. Indah terdiam, ia hanya bisa menatap wajah Bimo lekat, lupakan tentang tata krama karena saat ini Indah tidak sedang berhadapan dengan pria asing tapi pria yang sedang berusaha menjadi pahlawannya. “Bu. Anak-anak anda menjadi korban kekerasan ayah mereka. Pikirkan keadaan mereka.” Bimo tidak ingin masalah seperti ini terus membayangi kehidupan Hardy dan Bimo. Masalah seperti ini sangat tidak baik bagi tumbuh kembang anak-anak itu. “Terima kasih atas bantuan, Bapak. Tapi ini masalah saya. Saya minta, anda tidak ikut campur.” Indah kembali membuang muka. Ia tahu apa yang dikatakan Bimo adalah benar tapi ia sudah bersumpah tidak akan membuat suaminya menjadi pesakitan. Ia tidak ingin anak-anaknya melihat ayah mereka mendekam di balik jeruji besi. Ia tidak ingin anak-anaknya menjadi olok-olokan teman-temannya. Semua juga demi anak-anak, pikir Indah. Bimo merangkum wajahnya, wanita itu lemah tapi hatinya sekeras batu. Ia berharap tubuh wanita itu sama kerasnya dengan isi kepala itu sehingga ia mampu bertahan sekalipun jika tubuhnya dipukul serta ditendang sangat parah. Ia mendongak sambil berkacak pinggang, mengembuskan napas keras ke udara. “Anak-anak anda sangat menderita. Mereka lebih membutuhkan kehidupan tenang hanya bersama anda,” ucapnya. Anda tahu apa, jerit hati Indah. Keheningan kembali mengisi ruangan, hanya suara bincang-bincang dari pasien yang ada di sebelah kanan dan di depan Indah yang mendominasi. Indah bahkan lupa jika tempat ini adalah tempat umum. Orang-orang di sekitarnya pasti mendengar pembicaraan mereka. “Dengar baik-baik! Jangan terkejut jika suami anda kami bawa ke kantor polisi.” Bimo memberi ancaman, ia akan bertindak demi Hardy dan Bening. “Jangan ganggu keluarga kami. Saya mohon....” Mata Indah berkaca-kaca, ia tidak akan pernah bisa menghadapi masalah ini jika sampai benar-benar terjadi. “Bu, pikirkan anak-anak! Apakah mereka membutuhkan ayah yang suka main tangan? Apakah mereka harus melihat kekerasan ayah ke ibu mereka?” Persis setelah Bimo mengakhiri ucapannya, Hardy datang dengan membawa sebuah gelas kertas berisi kopi yang masih mengepul. Anak itu berdiri mematung di belakang tubuh Bimo. Melihat ekspresi terkejut Indah, Bimo membalik badan. Melihat kekakuan Hardy, Bimo yakin anak itu mendengarkan ucapannya kepada Indah. Tapi peduli setan dengan itu semua, pembicaraan ini tentang kebahagiaan Indah, Hardy dan Bening. Ia hanya ingin membantu dengan serius. Ia tidak ingin ada tambahan daftar anak-anak yang menjadi korban kekerasan rumah tangga, tidak di wilayah ia bertugas. “Hardy, jaga Ibumu! Om, harus pulang.” Bimo merebut kopi dari genggaman Hardy. Pria itu mengacak-acak rambut Hardy dan juga membelai puncak kepala Bening sebelum keluar dari ruangan itu. Sepeninggal Bimo, Hardy memandang Ibunya. Wanita itu bergerak pelan, terlalu pelan seolah ada efek slow motion seperti di film-film. Indah meringis, bergerak sedikit saja menjadi penderitaan luar biasa baginya. Sakitnya bukan hanya terasa di sekitar d**a tapi juga terasa di kepala. Hardy mendekati ibunya, ia berniat membantu ibunya mencari posisi enak, namun wanita itu mencekal lengan Hardy dengan sangat lembut. “Sudah, Nak. Kalian tidur dulu ya! Kalian terlihat lelah sekali.” Indah menyentuh wajah Hardy, tangannya menelusuri setiap inci wajah putranya lalu berhenti di lingkaran hitam di sekeliling mata Hardy. “Aku tidak apa-apa, Bu.” Hardy berusaha tabah, ia sendiri sebenarnya bukan tidak apa-apa tapi demi ibu dan adiknya ia harus bertahan. Ia seorang lelaki dan seharusnya bertindak sebagai lelaki. “Bening, kamu tidur disitu!” Hardy mengambil tikar kecil yang tadi ia letakkan di sudut ruangan dekat dengan nakas. Ia menggelar tikar itu tepat di samping brankar ibunya. Begitu tikar digelar, Bening segera merebahkan tubuhnya. Ia terlalu mengantuk meskipun tadi sudah tidur beberapa jam. Hardy geleng-geleng, pekerjaan adiknya hanya tidur, merengek dan menangis. Bukan merengek ini itu, hampir setiap menit gadis itu bertanya kapan ibunya keluar dari ruang ICCU. Namun kini setelah ibunya benar-benar keluar, Bening malah tidur dengan sangat mudah. “Hardy, anakku.” Dengan suara lemah, Indah memanggil Hardy. Wanita itu masih sangat rindu dengan anaknya, selain itu ia ingin anaknya memegang janji yang pernah ia ucapkan. “Ada apa, Bu? Apa Ibu haus?” Hardy mendekati Indah, ia menunggu apapun yang keluar dari mulut ibunya. Indah menggeleng, ia mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan Hardy. “Anakku, berjanjilah kepada Ibu, kamu tidak akan menuruti permintaan Om Bimo dengan melaporkan Ayahmu ke polisi!” pintanya. Hardy mengernyit, ia berpikir apakah tadi ibu dan Bimo sedang membahas masalah ini? Ia tidak ingin menepati janjinya, pria itu harus mendekam di penjara untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya. “Hardy, Ibu janji ini permintaan terakhir Ibu selain jaga dirimu dan juga Bening.” Indah melirik Bening. Gadis itu tidur menghadap tembok. Hardy memandang ibunya lekat, ia masih tidak ingin berjanji untuk tidak melaporkan ayahnya ke polisi. “Soal Bening, Ibu tenang saja. Aku akan menjaganya dengan baik, aku juga akan menjaga Ibu sama baiknya.” Ia menggenggam tangan ibunya, tangan itu begitu dingin dan kulitnya terlihat sangat pucat. Soal menjaga Bening, Indah yakin tanpa memintanya pun Hardy akan menjaga adiknya dengan baik tapi soal Sardi, Indah sangsi Hardy mau menurutinya. “Ibu tidak ingin ada masalah antara kamu dan ayahmu. Ibu tidak ingin meninggalkan kalian...” “Ibu!” Hardy tidak ingin mendengarkan kalimat yang terasa seperti surat wasiat baginya. Tidak ada yang boleh pergi darinya kecuali Sardi. Hanya pria itu yang boleh meninggalkannya tetapi tidak dengan ibu dan adiknya. Hardy membuang muka, ia berusaha menutupi perasaan sedih yang tiba-tiba menghampiri. Air mata sudah merebak dan sebelum jatuh, Hardy mengusap dengan lengannya seolah ia sedang mengusap peluh. Indah merasa nyeri setiap kali ia menarik napas. Secara medis, kondisinya sudah stabil sehingga dipindahkan ke kamar inap setelah dirawat di ICCU selama beberapa hari. Tetapi itu tidak membuatnya merasa sembuh, ia masih merasa sangat lemah dan terlalu sakit bahkan untuk melakukan gerakan kecil sekalipun. Entah bagaimana namun ia sadar, waktunya sudah dekat. Indah memandang wajah putranya dengan perasaan sangat terluka. Ia menyesal telah melahirkan putra seperti Hardy. Anak itu terlalu baik untuk menjadi anaknya. Indah meneteskan air mata, seandainya saja Hardy lahir dalam keluarga yang lebih baik darinya, maka saat ini Hardy pasti sedang sangat bahagia. Indah menggeleng pelan, bagaimana mungkin seorang anak bisa memilih dari rahim siapa ia dilahirkan, seperti halnya dirinya yang tidak tahu jika ia telah menjadi ibu paling beruntung karena memiliki Hardy sebagai putranya. Seharusnya ia bersyukur, bukannya merasa menyesal. Tetapi ia merasa sangat prihatin dengan kehidupan Hardy yang harus merawat adiknya seorang diri. Indah memandang Bening yang masih tidur dengan sangat nyenyak. Ia berharap kelak Hardy dan Bening bisa tumbuh dengan baik, menjadi dua anak yang bisa hidup dengan bahagia. Sesak semakin terasa sangat menyiksa, begitu sakit dan begitu sulit seolah pasokan oksigen di dunia sudah menghilang. “Hardy, Ibu hanya tidak mau kamu memiliki kesulitan karena melawan Ayahmu. Kalian berdua, pergilah ke rumah Nenek kalian! Ibu yakin Nenek kalian akan menerima kalian.” Indah tidak terlalu yakin namun cara ini masih patut dicoba. Ia ingin Hardy dan Bening pergi ke rumah ibu yang telah melahirkannya, ke rumah wanita yang dulu mengusirnya karena nekat menikahi Sardi. Hardy terkejut, ia belum pernah tahu bahwa ia masih memiliki seorang nenek dari ibunya. Selama ini ibunya tidak pernah membahas soal nenek, jadi ia hanya berpikir jika neneknya sudah meninggal dan tidak pernah menanyakannya secara langsung. Waktu itu ia berpikir untuk apa mengetahui hal yang tidak penting itu, tapi sekarang ia memiliki sejuta pertanyaan tentang neneknya. “Carikan Ibu kertas dan bulpen!” Indah ingin menulis surat untuk ibunya, ia merasa durhaka dan ia menerima neraka sebagai pembalasan atas tindakannya dulu. Tetapi neraka tidak boleh menyentuh dua anaknya, ia harus mencari tempat perlindungan lain bagi Hardy dan Bening dan satu-satunya tempat adalah ibu kandungnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN