Seorang pria jangkung dan memiliki tubuh ideal sedang menatap sebuah bengkel mobil yang cukup besar. Seperti biasa, bengkel tersebut sangat ramai. Sementara para montir bekerja, para pemilik mobil sedang asyik duduk di ruang tunggu yang sengaja disediakan dengan fasilitas cukup nyaman.
Ruangan itu bak sebuah cafe karena menu andalan tempat itu memang secangkir kopi dengan racikan pas sehingga para penggemar kopi tidak akan melewatkan kesempatan untuk menikmatinya. Tidak sedikit pelanggan yang memilih tempat ini hanya demi kopi itu, selain tentu saja karena pelayanan dan pekerjaan bengkel ini sangat memuaskan.
Pria pemilik bengkel tersebut tidak mampu menahan diri untuk tersenyum. Sepuluh tahun ia merintis usaha ini dari mulai nol hingga menjadi sebesar sekarang, serasa sebuah mimpi menjadi nyata. Pundi-pundi uang telah terkumpul, kini sudah saatnya ia melakukan investasi dengan membeli sebuah rumah yang berada tidak jauh dari bengkelnya.
Pria itu sudah lama mengincar rumah itu, rumah yang akan menjadi tempat yang nyaman dan kelak akan menjadi hadiah paling indah untuk seseorang yang sangat ia sayangi.
Inilah buah dari kerja kerasnya selama ini. Keberhasilan ini adalah langkah awal menuju pintu keberhasilan yang lebih besar dan ia sudah siap membuka gerbang tersebut.
***
Restoran menjadi sangat ramai di jam makan siang. Tiga orang pramusaji menjadi kewalahan, para pembeli saling berebutan untuk didahulukan. Sang pemilik restoran pun tidak berhenti bekerja. Ia meracik bumbu masakan andalannya sementara dua orang koki memasak makanan sesuai dengan pesanan. Suara benturan alat masak dengan kompor terdengar riuh, pertanda keadaan benar-benar kacau di siang hari ini.
Peluh bercucuran dan harus segera diseka sebelum menetes ke makanan. Peraturan utama di dapur restoran tersebut adalah mengutamakan kualitas dan jelas kebersihan merupakan daftar pertama. Pak Bos orang yang baik namun jika berurusan dengan pekerjaan, jangan pernah coba-coba berbuat kesalahan. Pria tersebut takkan berpikir ulang untuk memotong gaji siapapun yang berbuat salah, baik sengaja atau pun tidak.
Galak bukan kata yang pas untuk disematkan kepada pria dengan tinggi seratus delapan puluh centi dan bertubuh atletis tersebut. Pria itu memberi fasilitas mess untuk seluruh karyawannya, memberi hari libur setiap seminggu sekali, memberi asuransi kesehatan dan kecelakaan serta selalu ada bonus besar bila target bulanan tercapai. Pak Bos adalah pemilik restoran yang memiliki disiplin tinggi.
Andra, salah satu koki restoran tersebut meletakkan satu poris ayam panggang ke atas piring saji. Ia memeriksa piring saji, memastikan tidak ada kotoran yang menempel dan gaya penyajian sudah pas sebelum ia menekan bel sebagai pertanda pesanan sudah siap.
Pesanan itu adalah pesanan terakhir dari estafet memasak tadi. Jam makan sudah usai, kini ia bisa beristirahat sejenak. Setelah jam makan siang, hanya ada beberapa pembeli yang datang. Pria dengan rambut dicat warna coklat tersebut berjalan menuju ruang istirahat.
Sang pemilik restoran pun melepas apronnya. Ia memiliki janji temu dengan seorang pengembang properti. Sebuah rumah cukup besar yang tidak jauh dari restoran sudah lama ia incar. Ia ingin menghadiahkan rumah itu untuk seseorang yang sangat ia sayangi.
***
Seorang pria melepaskan profesi kebanggaannya demi ambisi menjadi seseorang seperti yang ada di dalam komik suspence, bacaan favoritnya. Anggap saja ia pria sinting, susah payah masuk ke dalam kesatuan polisi. Hanya demi ambisi tidak jelasnya ia rela melepas semuanya.
Kapolsek Bimo Wiratya menatap geram ke arah anak buah kesayangannya. Ia masih saja sulit percaya kalau sekarang ia menggenggam surat pengunduran diri. “Apa kamu sudah berpikir masak-masak?” Bimo tidak ingin pria itu menyesal telah keluar dari pekerjaannya.
“Ya, Pak.” Pria itu menjawab pertanyaan dengan tegas. Jika belum berpikir masak-masak, ia tidak akan berani mengambil keputusan sebesar itu.
“Jasa pencarian anak hilang. Yang benar saja.” Bukan bermaksud meremehkan, tetapi Bimo sadar pekerjaan semacam ini tentu saja tidak mudah. Tetapi menjadi polisi pun bukan pekerjaan mudah bukan?
“Pencarian anak hilang, pembebasan korban penculikan dan pencarian barang hilang. Kami juga bisa menyelidiki kasus lain jika memang diperlukan,” ralat pria itu.
Bimo memandang pria itu saksama, pekerjaan yang disebutkan pria itu membuatnya ingat akan sebuah komik yang dulu sering ia beli untuk anaknya. Hanya saja ia benar-benar tidak menyangka bahwa ada orang yang memiliki obsesi semacam ini.
“Bagaimana dengan anggotamu. Tidak mungkin kamu melakukannya sendiri kan?” Bimo mengembuskan napas berat.
“Saya sudah merekrut beberapa orang untuk bekerja kepada saya. Tentu saja mereka orang-orang terlatih,” jawab pria itu dengan penuh percaya diri.
Bimo menggaruk dahinya, “jika yang kamu maksud Rio, Fandi dan Dedy. Masuk akal.” Tiga orang pria yang dikeluarkan dari kesatuan polisi karena tindakan agresif mereka akan sangat pas jika mereka bergabung di tim itu.
Pria itu tertawa, membenarkan ucapan Bimo. “Jangan lupa Reni, Pak.” Reni, mantan polwan yang akhirnya dikeluarkan dari kesatuan polisi serta mendekam di balik jeruji besi beberapa lama setelah melakukan tindakan heroik yang justru menyebabkan kecelakaan lalu lintas parah dengan korban meninggal lima orang.
Bimo tidak percaya, orang di depannya memang pantas disebut sinting. Untuk ke sekian kalinya, ia menarik napas panjang lalu mengembuskannya ke udara. “Jika itu pilihanmu, Nak. Aku bisa apa?” Tawa anak buah kesayangan Bimo meledak, ia tahu Bimo pasti hanya bisa pasrah dan menerima nasibnya.
“Maafkan saya karena anda harus kehilangan anak buah sebaik saya.” Ejekan berbuah tawa keras dari Bimo. Ia menunjuk ke arah pria itu, anak kurang ajar yang ia didik dengan baik.
“Kamu melukaiku, Anak muda,” kata Bimo.
“Maafkan saya, Pak ... tapi hari ini saya sudah punya janji dengan seseorang.” Pria itu harus segera pergi karena jika tidak, seseorang akan sangat marah besar kepadanya.
***
Bening membuka kedua mata, yang pertama kali ia lihat adalah langit-langit berwarna putih. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, ada dua brankar kosong berada di sisi kanannya. Bening menyadari ia sedang ada di rumah sakit. Itu artinya, sekali lagi ia selamat atau dengan kata lain, ia kembali gagal melakukan tindakan bunuh diri.
Perlahan Bening mengangkat tangan kiri. sebuah jarum menempel dengan selang yang terhubung pada infus yang tergantung di tiang. Mata Bening terpaku pada infus yang tinggal sedikit. Ia merasa heran, mengapa semua percobaan bunuh dirinya selalu berakhir sama. Ia ingin pergi dari dunia ini ... semudah itu. Ia rela terpanggang api neraka daripada tetap disini bersama ayahnya. Tapi sayangnya Tuhan belum ingin ia pergi.
“Puas kamu menghabiskan uangku disini?” Sardi melotot, seharusnya uang hasil manggung bisa ia gunakan untuk bersenang-senang. Tetapi anak tidak tahu diri ini malah membuangnya ke rumah sakit. “Apa otakmu waras? Kalau bunuh diri, lakukan dengan baik!”
Bening marah, kemarahannya menggelegak laksana sebuah petir yang mengincar korbannya. Tetapi Bening hanya berkedip beberapa kali sambil mengatur napas agar ia tidak terbawa emosi. “Harusnya Ayah biarkan aku mati. Jika Ayah tidak memperbolehkan aku pergi, setidaknya biarkan aku mati.” Sebuah tamparan mendarat di pipi Bening, membuat penglihatan gadis itu menghilang beberapa saat sebelum bintang-bintang memenuhi lapang pandangnya lalu kembali terang secara perlahan.
“Pastikan cepat keluar dari sini!” Sardi segera keluar, ia tahu jika lebih lama berada dalam satu ruangan dengan Bening maka amarahnya pasti kembali meluap.
Bening pun senang Sardi memilih pergi. Ia benar-benar tidak tahan berada dalam satu tempat dengan pria itu bahkan walau hanya satu detik saja.
Lelah, marah dan frustasi membuat otak Bening serasa mau meledak. Kehilangan ibu dan kakak bukan lagi hal yang begitu besar baginya, hidup berdua bersama ayahnya adalah mimpi terburuk yang harus ia jalani selama bertahun-tahun.
Bening mendorong tiang dengan infus yang menggantung. Perlahan ia keluar dari ruangannya untuk menghirup udara segar. Rambutnya acak-acakan dan hanya mengenakan daster merah muda bergambar beruang di bagian depannya. Gadis itu tidak seperti gadis berusia dua puluh dua tahun namun lebih terlihat seperti gadis belasan tahun yang rapuh. Kulitnya putih pucat, kurus dengan bentuk wajah mungi,l ia seperti sebuah manekin berjalan.
Pikiran gadis itu kosong, ia tidak lagi memiliki gairah untuk hidup. Jika mau bunuh diri, lakukan dengan baik! Ucapan Sardi kembali terekam. Tidak seharusnya seorang ayah berkata seperti demikian bukan? Tapi kenyataannya pria yang ia sebut ayah mampu mengatakannya.
Bening kembali menangis, tidak peduli jika ia menjadi bahan tontonan orang sekitar. Toh siapa yang memedulikan kehidupannya? orang-orang suka tontonan menarik dan Bening tahu, ia adalah tontonan yang menarik tapi apa pedulinya.
Kaki Bening berakhir di halaman belakang rumah sakit. Gadis itu memutuskan untuk duduk di sebuah bangku panjang, memandang pagar jeruji yang tertutup serta jalanan kecil yang sepi. “Mengapa untuk mati saja sulit,” desahnya.
Sekali lagi, Bening menumpahkan perasaannya dengan menangis. Mengapa untuk mati saja sangat sulit, ucapan itu berulang kali keluar dari pikirannya. Merasa kesal, Bening mencengkeram pergelangan tangannya yang terluka. Darah mengalir dari sela-sela perban, menetes ke daster merah muda yang dikenakannya.
Rasa sakit di kepala, di d**a dan di pergelangan tangannya berbaur menjadi satu. Tetapi Bening tidak peduli, ia sudah terbiasa merasakan sakit ini. Setidaknya sakit membuatnya sadar bahwa ia masih hidup di dunia yang sama dengan Sardi.
***
Seorang pria berjalan beriringan dengan seorang wanita baya, pria itu hendak menuju mobil saat melihat seorang gadis mencengkeram tangannya yang terluka hingga darah menetes di pangkuannya.
Sesaat pria itu mengamati Bening, wajah gadis itu memerah dan berurai air mata. Lengan kiri dibalut perban yang kini memerah karena darah. Ia kembali memandang wajah gadis itu, entah mengapa ia merasa tergerak untuk menolong gadis itu. “Mama pulang dulu dengan Pak Amir!” Pria itu meninggalkan Mamanya dan segera berlari mendekati Bening.
***
“Masuk ke neraka selamanya, aku rela Tuhan. Asal aku boleh mati.” Bening terus mencengkeram lengannya. Kali ini ia melakukannya dengan cara yang sangat menyakitkan. Benar-benar menyakitkan.
Sesaat pria itu memandang Bening sebelum ia mencekal lengan Bening, ia menghentikan Bening yang ia anggap begitu konyol. “Kamu tidak boleh mati semudah itu, Nona.” Pria itu membuat Bening terkejut. Bening tidak mampu menahan emosi, ia menangis keras dan sukses membuat pria itu kelabakan.