15 tahun kemudian
Bunda
Engkaulah mutiara kasih dan sayangku
Apapun pasti kau lakukan
Demi anakmu yang tersayang
Bening menyanyikan lagu tersebut dengan suara merdu. Para penonton takjub kala mendengar suara Bening yang sebening namanya. Gadis berusia dua puluh dua tahun tersebut memang disebut-sebut memiliki suara emas. Apapun lagu yang ia nyanyikan selalu menyihir para penontonnya. Tanpa melenggak lenggokkan badan seperti para rekannya, Bening menunjukkan dirinya sebagai biduan dangdut dengan kualitas suara yang bagus.
Bening sendiri sedang fokus dengan lagunya, ia selalu teringat akan Hardy dan mendiang ibunya setiap kali ia menyanyikan lagu berjudul muara kasih bunda yang dinyanyikan oleh Erie Suzan tersebut. Hatinya seperti disayat pisau tajam dan itu selalu ia rasakan saat terkenang oleh kenangan masa lalu.
Pada bait terakhir, Bening tak lagi mampu menguasai emosi. Air matanya luruh begitu saja, ia tidak lagi peduli dengan penontonnya. Bening memilih meletakkan mic ke tempatnya lalu berlari turun dari panggung.
Lima belas tahun bukanlah waktu yang singkat untuk melupakan kejadian masa-masa itu. Tetapi kenangan itu membekas seolah baru kemarin ia melewatinya. Ia merasa baru kemarin ia dan Hardy makan ikan mujair goreng dan sambal tomat buatan ibunya. Ia merasa baru kemarin ia menikmati nasi rawon, makanan terakhir sebelum kehilangan Hardy. Rasanya begitu pilu, kehilangan dua orang tercinta dalam waktu yang hampir bersamaan adalah sebuah mimpi terburuk dalam hidup Bening.
“Kamu kenapa disini? Sana naik panggung! Goyangkan pantatmu seperti teman-temanmu!” Sardi menepuk p****t Bening, seketika gadis itu terkejut dengan sikap ayahnya.
Sardi terkekeh, ia suka sekali menepuk p****t anaknya. Ia tidak pernah menyangka anak gadisnya kini tumbuh menjadi gadis paling cantik di desa. Gadis itu tidak pernah memakai riasan wajah, ia juga tidak pernah sekalipun melihat Bening merawat tubuhnya. Tetapi entah mengapa gadis itu semakin lama semakin cantik saja.
Bening menatap ayahnya lekat, ia benci jika pria itu menyentuhnya. Entah saat hanya menyentuhnya, menepuknya apalagi memukul atau menamparnya. Ia membenci tangan pria itu menjamah tubuhnya, sekalipun hanya pada bagian tangan apalagi bagian lain tubuhnya. Tetapi sayangnya, Bening terlalu takut kepada sang ayah.
Bagaimana lagi cara kabur dari sang ayah? Antek-antek pria itu cukup banyak hingga membuat Bening harus kembali kepada ayahnya. Teman-teman nongkrong Sardi begitu solid sehingga mereka saling menjaga dan saling melindungi. Mereka tidak akan segan-segan melukai orang-orang yang menyakiti salah satu temannya dan tidak segan-segan mempertaruhkan nyawa untuk menjaga teman serta milik temannya. Milikku, milik kita. Begitulah prinsip mereka.
“Bening, kamu nyanyi lagi dan pastikan lagu yang bisa membuat mereka senang! Bukan lagu macam tadi.” Bowo, pemimpin OM Tresno menunjuk ke arah Bening. Ia suka Bening karena gadis itu baik, hanya saja gadis itu selalu menolak jika disuruh berjoget. Andai saja Bening tidak memiliki suara bagus, Bowo bisa saja mendepak gadis itu dari orkes musiknya. Bowo mendesah, Bening adalah penyanyi istimewa. Penyanyi yang benar-benar bernyanyi dengan suara bukan goyangan mautnya.
Bening mengembuskan napas berat ke udara. Ia benci melakukan pekerjaan ini, ia benci bernyanyi ditonton ratusan orang yang bermata jelalatan dan raut wajah mereka seolah akan melahapnya hidup-hidup. Bening tahu, sebagian dari mereka mabuk berat di tengah lautan penonton. Tak jarang terjadi adu jotos antar penonton hingga acara harus dihentikan sementara atau jika masalah terlalu pelik, acara benar-benar dihentikan.
Perlahan Bening kembali naik ke atas panggung, ia sedang memilah lagu yang akan ia bawakan sebentar lagi. Lagu-lagu dangdut lawas masih menjadi pilihannya, lagu-lagu dengan tempo tidak terlalu cepat sehingga ia tidak perlu bergerak terlalu cepat juga.
Di tepi tangga menuju panggung, Bening memandang dirinya sendiri. Dibalut pakaian sangat minim, sejujurnya Bening merasa malu. Ia sedang mengenakan baju mini berwarna merah menyala. Kulit putihnya terekspos dari lengan sampai sedikit di bawah paha sehingga jika Bening duduk maka pasti terlihat seluruh kakinya. Bening membenci pakaian yang dikenakannya.
***
Lelah, itu yang dirasakan Bening setelah menyelesaikan empat lagu. Malam sudah sangat larut saat ia ditarik paksa oleh Sardi menuju tempat tinggal mereka. Sardi terlihat geram, kedua alisnya bertaut dan gigi-giginya bergemelutuk.
Sial, Bening selalu saja membuatnya malu. Anak perempuan yang selama ini menjadi kebanggaan karena memiliki kesempurnaan secara fisik namun tidak disempurnakan dengan karakternya. Bening terlalu pemalu, terlalu pendiam dan terlalu rendah diri. Mana bisa disamakan dengan penyanyi lain yang selalu mendapat saweran setiap kali mereka bergoyang di atas panggung.
Sardi ingin memberi anaknya pelajaran, tapi pelajaran seperti apa? Sementara seluruh tubuh anaknya adalah sebuah aset berharga. Pakaian minim k*****t itu harus dikenakan Bening sehingga Sardi tidak bisa main pukul seenaknya. Sial!
Bening berusaha menarik tangannya dari cekalan Sardi, namun cekalan itu justru menguat. Bening ingin berteriak namun saat melihat tatapan orang-orang terhadapnya seolah melihat kue di meja makan. Bening sadar bahwa bersama ayahnya adalah tempat yang paling aman.
Desa yang ditinggali Sardi serta Bening adalah desa yang dipenuhi para b******n kelas teri. Mereka tidak akan segan-segan melakukan tindak kejahatan kecil dan keluar masuk penjara adalah makanan sehari-hari. Mereka berterima kasih kepada polisi yang mudah terlena oleh uang. Menyuap mereka dengan beberapa lembar ratusan ribu saja sudah bisa membuat mereka kembali bebas melakukan kejahatan lagi. Kalau toh sudah terdaftar sebagai pesakitan disana, mereka tidak perlu takut karena bisnis tetap berjalan seperti biasa. Hanya raga yang terkungkung namun yang lain, tidak.
Sardi mendorong Bening ke dalam rumah hingga gadis itu terjerembab di atas lantai. Setelah membanting pintu keras-keras, Sardi mendekati Bening dan segera menjambak rambut gadis itu.
“Kamu ini malu-maluin. Kamu ini penyanyi dangdut kampung, jangan berlagak sok!” Sardi mendorong Bening hingga kepala gadis itu menempel ke ubin.
Sardi berdiri sambil berkacak pinggang, ia berusaha meredam amarahnya sendiri dengan membuang napas berat. Sardi menendang kaki Bening sebelum akhirnya memilih keluar rumah dan menikmati hasil jerih payah sang anak.
Sementara itu Bening kembali menangis tertahan, babak kehidupan yang dilewati pasca terpisah dari Hardy benar-benar membuat Bening menderita.
***
Seorang pria pertengahan dua puluh tampak sumringah. Ia melayani pelanggannya dengan begitu ramah. Sebuah rumah makan sederhana telah dikelolanya dengan baik hingga menjadi seramai sekarang. Ia sangat bersyukur dengan keberhasilannya sekarang setelah jatuh bangun dalam melakukan usaha.
“Pak, ayam bakarnya enak sekali. Rahasianya apa sih?” tanya salah satu pelanggannya. Seorang wanita mengenakan kerudung coklat sederhana merupakan pelanggan setianya. Wanita itu sudah berkali-kali datang namun baru kali ini ia bertatap muka dengan pemiliknya.
“Tidak ada rahasia, Bu. Mungkin rahasianya cinta.” Pria itu tertawa terbahak-bahak. Wanita lawan bicaranya pun ikut tertawa. Pria itu berwajah manis dan sedap dipandang. Berkulit sawo matang, bertubuh jangkung untuk ukuran orang Indonesia pada umumnya.
Pria itu puas melihat para pelanggannya menikmati makanan yang ia sajikan. Dulu ia tidak berani bermimpi besar, namun sekarang ia yakin suatu saat bisa menjadi pengusaha rumah makan yang sukses dan menjadi orang kaya. Seperti yang ia cita-citakan sejak kecil. Bisa membuat rumah besar dengan banyak kamar dan kipas angin besar berada di setiap ruangan. Ia meralat pikirannya, ia tidak butuh kipas angin tetapi AC tentu saja lebih segar daripada hanya sebuah kipas angin sekalipun berukuran sangat besar.
***
Bening meringkuk di tempat tidurnya, ia memeluk pakaian lusuh milik Hardy seolah sedang memeluk kakaknya. Entah bagaimana nasib kakaknya sekarang, Bening sangat ingin tahu. Tetapi apakah ia memiliki kesempatan untuk melihatnya lagi, Bening sendiri tidak yakin.
Bening kembali teringat kenangan lima belas tahun lalu saat menunggu kepulangan Hardy. Ia mengamen untuk membunuh waktu, berjam-jam ia bernyanyi dan beberapa ribu rupiah ia dapatkan tetapi Hardy tidak kunjung datang sekalipun hari sudah cukup malam.
Lalu hujan tiba-tiba turun dengan sangat deras, guntur menggelegar begitu ganas dan petir saling menyambar. Yang dinanti-nanti tak kunjung datang dan yang dijauhi justru mendekat. Ia tidak tahu mengapa Sardi bisa datang ke kota itu dan mencekal lengannya erat. Bening menyesal karena kala itu ia terlalu takut hingga ia memilih menurut kepada Sardi dan bukannya berusaha melarikan diri.
Bening meneteskan air mata, lima belas tahun ia hidup bagai di neraka. Sendirian tanpa ibu dan juga tanpa Hardy. Sebuah keajaiban yang bisa membuatnya tetap hidup padahal sudah beberapa kali ia melakukan usaha bunuh diri dan sebuah mukjizat karena sampai sekarang Bening masih tetap waras.
Kak Hardy, kamu dimana? Tolong aku!
Kalimat itu bagai mantra, selalu diucapkan dalam hati di setiap malam. Bening sangat merindukan Hardy, lebih besar ketimbang merindukan ibunya. Bening sangat membutuhkan Hardy, keberadaannya akan memutar kisah pilunya menjadi kisah menyenangkan.
Bening menarik napas panjang, ia memandang baju mini yang tadi ia pakai saat manggung. Baju itu teronggok di sudut ruangan di belakang pintu kamar. Masih ada beberapa baju dengan model tidak kalah seksinya di dalam lemari yang berhadapan dengan ranjangnya.
Dulu Bening suka bernyanyi tetapi sekarang ia berharap tidak memiliki suara indah dan tidak bisa bernyanyi agar tidak menjadi tontonan warga di hampir setiap akhir pekan. Bening berharap cacat saja sehingga ia tidak perlu bekerja menjadi seorang penjual kue di setiap harinya. Bening berharap mati saja daripada harus hidup bersama Sardi sepanjang waktu.
Keinginan untuk mati kembali hadir, gadis itu terlalu kalut dengan kehidupannya sehingga mati adalah satu-satunya cara untuk lepas dari kehidupan sulit ini.
Bening membulatkan tekad, mumpung ayahnya belum pulang. Bening yakin kali ini ia bisa menyayat nadinya. Setidaknya Sardi akan pulang beberapa jam lagi dan ia berharap ayahnya melihat dirinya dalam kondisi tidak bernyawa.
“Aku harus melakukannya sekarang!” Bening segera bangkit, ia setengah berlari menuju dapur untuk mengambil pisau.
Dengan tangan gemetar, Bening mengambil pisau yang ia selipkan pada pojokan rak piring. Tanpa pikir panjang, Bening menyayat pergelangan tangan kiri bagian dalam. Darah mengalir deras bersama dengan air mata yang juga mengalir.
Rasa sakit tidak hanya dirasakan di pergelangan tangan tetapi juga di kepala seolah-olah kepalanya yang disayat bukan nadinya.
Tubuh Bening ambruk, lututnya mendarat di atas darahnya sendiri. Perlahan Bening meletakkan kepalanya di atas lantai, bersiap untuk dijemput sang malaikat maut.