Lindungi bening!

1628 Kata
Di sebuah ruangan dengan dinding berwarna putih, seluruh interior berbahan kayu jati mulai dari meja dan kursi kerja yang ada di dekat jendela, sebuah rak berisi buku-buku bersampul coklat berjajar memenuhi rak serta sebuah jam kuno yang berada di sudut sebelah kanan ruangan. Seorang pria baya, rambutnya abu-abu keputihan sejalan dengan usianya yang tidak lagi muda, sedang duduk di kursinya sembari menatap sebuah laptop dimana deretan angka delapan digit tertera disana. Derit pintu membuat perhatian pria itu berpindah, seorang pria dengan tubuh besar dan perkasa masuk dengan langkah lebar lalu berhenti tepat di seberang meja pria tersebut. “Ada yang mencari Bening … lagi.” Lapor pria bertubuh kekar bak algojo tersebut. Pria tua itu menggerakkan bola matanya ke arah pria yang kini mengenakan kaos ketat hitam hingga tubuh kekarnya tidak tertutupi. “Kali ini siapa yang mencarinya?” Pria baya itu sangat tertarik kepada semua orang yang mencari-cari keberadaan cucu angkatnya. Anak angkat Rena, anak kandungnya. “Namanya Ari, bekas polisi.” Anak buah pria baya itu menyerahkan sebuah laporan lalu kembali menunggu perintah selanjutnya. “Biarkan saja! Lindungi gadis itu!” Sebuah perintah pendek namun dengan cepat dimengerti oleh sang anak buah. Pria berambut sangat pendek dan berkulit sawo matang tersebut hanya bisa mengembuskan napas. Bos besarnya sangat aneh. Ia membiarkan Bening disiksa ayahnya namun ia melarang keras siapapun mendekati gadis itu kecuali Bowo, ayah angkatnya. Pria yang dulu dengan setia berada di sisi anaknya, pria yang dicintai mendiang putri yang sangat ia cintai. Rena yang malang, membunuh dirinya sendiri hanya karena Bowo menolak mengangkat gadis itu menjadi anak mereka. Sebagai ayah, ia sangat marah, tentu saja. Tetapi ia tidak melakukan apapun kepada Bowo selain mengawasi pria itu. Bowo bukan orang bodoh, jika ia bertindak gegabah maka bisa saja pria itu menghancurkan bisnisnya. Bisnis yang juga diikuti oleh mantan menantunya tersebut. Selain itu, ada alasan sentimental yang membuat pria itu tetap membiarkan Bowo melakukan apapun yang disukainya. Rena mencintai Bowo, ia yakin mendiang Rena akan sedih jika ia bertindak kasar kepada pria itu. “Kudengar, Bowo mulai serius dengan usahanya. Tidak lagi menggunakan orkes music sebagai kamuflasenya?” Pria baya itu meletakkan kedua tangan di atas meja. Bowo bukan pebisnis sehandal dirinya. Bowo terlalu pengecut untuk mengambil resiko besar. Pria itu masih suka bermain aman tetapi entah mengapa akhir-akhir ini sepertinya Bowo akan meneruskan jejaknya. Bowo berubah sejak ia pindah ke pinggiran kota. Ia tidak lagi menjual anak-anaknya kepada siapapun yang memberinya uang kecil. Ia sudah beralih menjadi seseorang sepertinya. Menjadi agen bagi anak-anaknya kecuali Bening. Bening tidak boleh menjadi seperti perempuan-perempuan yang ada di sekitarnya. Bening harus tetap menjadi gadis baik-baik, tidak disentuh pria manapun kecuali yang sudah menjadi suami gadis itu. Bening harus dipisahkan dari bisnis mereka. HARUS! “Ya Bos,” jawab pria itu penuh antusias. “Bagaimana dengan Bening?” Pria baya itu sangat penasaran. “Anda tidak perlu khawatir. Bos Bowo tidak akan menyakiti Bening. Saya tidak tahu sejak kapan, tapi Bos Bowo sekarang terlihat sangat memerhatikan Bening,” lapor anak buahnya. “Apa maksudmu?” Pria baya itu menyipitkan mata, ia merasa ada yang janggal dari ucapan anak buahnya. “Sepertinya, Bos Bowo sayang sama Bening. Bos Bowo menjadikan Bening sebagai anak angkatnya.” Pria itu tersenyum lebar. Pria baya tersebut menyunggingkan senyum. Siapapun yang melihat Bening pasti akan mudah jatuh cinta atau sayang kepada gadis itu. Seperti dirinya yang dengan mudah menyayangi Bening sejak pertama kali berjumpa di pemakaman putrinya sendiri. “Awasi terus pria itu. Tulus, aku percaya padamu.” Pria baya itu kembali tersenyum sambil memandang anak buahnya yang selama ini bekerja di bawah perintah Bowo. “Tentu saja, Bos.” Tulus senang sekali bisa bekerja di bawah kepemimpinan pria berkulit putih tersebut. Pria itu mungkin terlihat garang dan bisa melakukan apapun kepada orang-orang yang memiliki niat buruk kepadanya namun terhadap seseorang yang menarik perhatiannya, pria itu bisa bertindak irasional seperti saat ia berhadapan dengan Bening. “Tapi maaf, Bos…” Tulus tidak mampu menahan diri, ia terlalu penasaran dengan alasan pria itu. Pria baya itu menepuk sandaran kursi, tahu apa yang sedang dipikirkan anak buahnya. “Aku sudah terlalu tua dan tidak punya anak untuk mengurusku. Aku perlu seseorang. Aku yakin anak itu bisa menggantikan Rena,” ucapnya. Bukan sebagai istri tetapi sebagai anak. Tulus masih belum mengerti jalan pikiran bos besarnya. Menjaga Bowo meskipun Rena sudah meninggal bertahun-tahun lalu, kemudian menjaga Bening. “Luka yang sangat perih akan membuat siapapun bisa melakukan apapun. Gadis itu bisa menjadi lembut sekaligus garang. Aku bisa melihatnya.” Pria itu mengingat cara memandang Sardi dengan tatapan siap menerkam, namun dengan cepat berubah saat melihat ke arah batu nisan Rena. Tulus garuk-garuk kepala, lebih baik ia segera kembali sebelum kepalanya meledak karena ucapan bosnya terlalu rumit untuk kepala besar dan sekeras batu miliknya. Saat Tulus keluar, ia bisa mendengarkan tawa meledak keras dari bos besar yang dulu pernah menyelamatkan hidupnya. *** Bening duduk tepi ranjang kamarnya sambil memandang foto-foto yang tertata rapi di album foto. Ia memandangi wajah para gadis yang keluar masuk orkes musik tresno. Gadis-gadis itu, menjual diri mereka demi uang yang tidak seberapa. Bening selalu membodohi keputusan mereka namun ia sendiri memilih diam. Diantara kesulitan hidupnya, Bening bersyukur karena ayahnya memilih menjadi anjing setia Bowo. Membuat Bening tidak pernah dijamah pria, menjadi aset orkes musik itu karena suara, bukan kemolekan wajah dan keseksian tubuh. Bening memandang foto Sherly, di foto itu Sherly tertawa sambil merangkul pundak Bening. Ia sangat merindukan Sherly, ia ingin kembali berfoto dengan perempuan yang sudah menjaganya dengan baik selama tiga tahun ini. Pintu tiba-tiba terbuka. Nadia dengan mengenakan tank top putih dan hot pant masuk dan segera melemparkan dirinya di atas ranjang. “Kamu gak jualan?” Biasanya Bening berjualan kue di pagi hari namun semenjak pindah ke rumah baru, Bening terlihat lebih santai dari biasanya. Bening menoleh, memandang Nadia yang kini menjadi semakin dekat dengannya. Sejujurnya Bening berjualan kue hanya untuk mencari alasan agar bisa jauh dari Sardi. Ia tidak suka tinggal di rumah terlalu lama jika ada Sardi. Namun sekarang berbeda, tinggal satu rumah dengan Bowo dan Tulus membuat Bening merasa aman. “Kamu tidak jualan?” Nadia bertanya sekali lagi. Ia memandang Bening yang kembali terpekur dengan album fotonya. Melihat halaman album berisi foto Sherly, Nadia menduga Bening merindukan gadis itu. Nadia tahu keberadaan Sherly, perempuan itu telah menjadi simpanan seseorang yang dompetnya lebih tebal dari Bowo. Kepergian Sherly membuatnya merasa menjadi anak emas baru selain Bening tentu saja. Tetapi desas desus mengatakan, Bening tidak membuat Bowo berminat menariknya ke ranjang. Gadis itu justru dijaga layaknya seorang anak, dengan kata lain gadis itu tidak mendapatkan keuntungan lain seperti uang dan kemewahan lainnya. Pendek kata, Bening bukan rivalnya. Mungkin inilah mengapa Sherly suka bersama Bening. Perempuan itu pasti merasa cocok, menjadi simpanan Bowo sekaligus menjaga anak angkat pria itu. Kini, Nadia lah yang menggantikan posisi Sherly. Bening kembali memandang Nadia, perempuan itu tidak jauh berbeda dari Sherly. Hanya saja jika Sherly hanya bersikap genit kepada Bowo, Nadia genit kepada siapapun termasuk kepada ayahnya. Tetapi itu bukan urusan Bening. Semua perempuan disini juga bersikap sama seperti Nadia, selain dirinya tentu saja. Sekali lagi Bening bersyukur karena ia masih mampu menjaga iman yang sebenarnya sudah setipis kain sutra. Ia tidak akan menyerahkan kesuciannya kepada siapapun kecuali kepada suami yang mungkin saja tidak akan ia miliki. Bening selalu membuat bola pelindung transparan di sekitar dirinya, bersikap ketus dan tidak menutupi ketidak nyamanan terhadap pria. Selama ini sikap itu selalu berhasil membuat pria-pria memilih menghindarinya. Ditambah Tulus yang siap pasang badan di hadapannya dan kini ada Bowo yang juga menjaganya. “Aku … tidak jualan lagi. Belum.” Nanti jika Bowo sudah menyewakan tempat bagi anak buahnya, Bening akan kembali berjualan lagi. Nadia mengedikkan bahu, ia tidak peduli Bening berjualan atau tidak. Ia tahu Bening sekarang bekerja di sebuah restoran, sebagai penyanyi. Toh Bening tidak memiliki banyak kebutuhan seperti dirinya. Bening terlalu cuek soal penampilan, tapi sialnya gadis itu masih saja terlihat sangat cantik. Nadia bangkit, ia duduk di sebelah Bening lalu merangkul pundaknya. “Bagaimana kalau kamu ikut aku?” Ia ingin belanja di mall, membeli berbagai kebutuhan dengan memakai uang bonus dari Bowo karena semalam ia telah menghangatkan ranjang pria itu. Bening enggan, ia ingin tiduran di kamar sampai esok tiba. Sesaat ia terpaku, memandang wajah Nadia yang terlihat pucat, dengan lingkaran hitam di sekitar matanya. “Sebaiknya kamu tidur. Kamu begadang, iya kan?” Begadang bukan hal baru, meskipun ia tidak tahu dengan siapa Nadia semalam, tetapi Bening tahu Nadia pasti sibuk semalaman. Nadia terkekeh, ternyata Bening memang orang yang menyenangkan. Ia merangkul pundak Bening lalu mengguncangnya perlahan. “Ayolah, apa kamu tidak bosan di kamar terus?” rayu Nadia. Bening menghela napas berat, ia terlalu malas untuk keluar. Ia pun menggeleng perlahan namun Nadia terus memaksanya. “Iya, aku ikut. Tapi aku minta ijin Om Bowo dulu,” ucapnya. *** Rahmadi mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Seharian pikirannya dipenuhi dengan nama Shinta. Gadis itu rupanya libur di hari kamis. Tentu saja gadis itu tidak libur di hari minggu. Restoran sangat ramai di hari libur jadi Arjuna tentu tidak meliburkan gadis itu di hari sabtu atau minggu. Setelah berkeliling Surabaya tanpa tujuan jelas. Rahmadi akhirnya memutuskan pergi ke sebuah mall bergengsi di kota ini. Ia baru saja memarkirkan mobilnya saat ia melihat sosok perempuan yang memenuhi pikirannya, keluar dari sebuah mobil van putih bersama seorang gadis lain dan seorang pria bertubuh besar laksana seorang pengawal. Persetan dengan pria seperti pengawal itu. Rahmadi tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Ia segera keluar dari mobil dan segera mendekati sang pujaan hati. “Shinta.” Suaranya membuat perhatian gadis itu tertuju kepadanya. “Pak Rahmadi.” Shinta memandangnya dengan sepasang mata bulat yang sangat ia sukai. Seperti ia yang sangat menyukai seluruh bagian tubuh Shinta. Ini hari terbaiknya, Rahmadi siap melakukan apapun demi mendapatkan hati gadis itu.          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN