Bening merengut tatkala ia melihat sosok pria yang tidak ingin ia temui. Pergi ke mall bukan ide bagus untuk mengisi liburan dan kini ditambah masalah lain pula, Bening menyesal mengapa dengan mudah menerima ajakan Nadia. Gadis itu menghela napas saat melihat Rahmadi berjalan ke arahnya.
Rahmadi tersenyum, ia sempat membuang muka hanya untuk melepas senyum yang tidak bisa ia tahan. Perjumpaan yang begitu mengejutkan, seolah takdir membimbingnya datang ke tempat ini.
Bening memandang lekat Rahmadi, dua bola matanya yang terlihat bulat semakin terlihat membulat saat Rahmadi berdiri beberapa langkah di depannya. Dari sekian banyak orang yang ia kenal, mengapa harus Rahmadi yang kini berada di hadapannya.
“Hai, Shinta.” Rahmadi tersenyum. Bening terlihat terlalu cantik sekarang. Gadis itu memakai rok dan sebuah blus sederhana namun terlihat sangat pas melekat di tubuh gadis itu. Rok putih selutut dan blus berwarna merah muda, benar-benar membingkai seorang gadis secantik Bening. Luar biasa.
Bening memandang Nadia. Ia sama sekali tidak terkejut saat mata Nadia tidak bisa melepaskan sosok Rahmadi. Secara fisik, Rahmadi tidak bisa dibilang jelek, sekalipun warna kulitnya sawo matang. Pria itu semanis gulali berbahan gula jawa, dengan senyum yang tak kalah manisnya. Membuat Bening berpikir, pria itu terlalu manis dan bisa membuatnya diabetes jika terlalu lama memandangnya.
Hanya saja keindahan fisik bukanlah sebuah hal penting bagi Bening. Selama sosok itu berjenis kelamin laki-laki dan bukan sedarah dengannya atau yang bukan ada di lingkaran bisnis Bowo, maka enyahlah dari pandangan gadis itu.
“Mau belanja? Aku juga.” Rahmadi masih belum bisa melepas pandangannya dari sosok Bening.
Sesaat Nadia terkejut dengan nama samaran Bening. Tetapi dalam bisnis Bowo, nama bukanlah hal penting. Namanya sendiri sebenarnya bukan nama asli. Nadia memandang Bening lalu memandang Rahmadi. Gadis itu dengan mudah mampu membaca situasinya.
“Shinta.” Nadia membangunkan apapun yang sempat menahan pikiran gadis itu. Bening segera menoleh lalu tersenyum kepadanya, seolah berkata maafkan aku.
“Nad. Mana Om Tulus?” Bening harus mencari tameng dari pria bernama Rahmadi dan Tulus adalah pria paling tepat untuk melakukannya.
Tidak perlu waktu lama bagi Bening untuk menunggu kedatangan pria itu. Dengan tubuh tinggi besar dan berbadan tegap layaknya seorang binaragawan, seharusnya Tulus mampu menyiutkan nyali Rahmadi. Sayangnya, Rahmadi tidak terpengaruh sama sekali.
“Ben…”
“Shinta, ayo!” Nadia menyentuh lengan Bening. Gadis itu harus menutup mulut Tulus atau pria di hadapannya akan segera tahu siapa nama asli Bening. Ia tidak peduli dengan alasannya, sebagai saudari di dunia Bowo, Nadia harus melindungi gadis itu.
Bening berpikir harus mencari alasan untuk menolak Rahmadi berjalan dengannya. Tetapi daripada memusingkan hal itu, ia merasa lebih baik menuruti Nadia. Ia pun segera melangkah bersama Nadia dan membiarkan Rahmadi yang entah apa yang akan pria itu lakukan. Bening tidak peduli.
Rahmadi menggaruk kepala belakangnya. Apakah ia baru saja dihiraukan Shinta? Atau gadis itu tidak berani melawan saudarinya? Ataukah justru algojo yang masih berdiri dengan dua tangan dilipat hingga payudaranya terlihat menggembung layaknya p******a wanita itu membuat Shinta ketakutan? Siapa pria ini?
Tulus memicingkan mata, “apa lihat-lihat?” Tulus tidak tahu ada masalah apa antara Bening dan pria ini. Tetapi siapapun yang membuat gadis itu merasa tidak nyaman, harus dijauhkan seolah ia adalah bakteri mematikan.
***
Ari mendesah, ia duduk di sebuah café sambil memikirkan tentang Bening. Ia belum terlalu yakin bahwa Bening yang ia temui di rumah sakit saat itu adalah Bening yang dicari Hardy. Namun ia tertarik dengan cara gadis itu menghilang dan terlindungi dengan baik … oleh seseorang yang masih misterius.
“Sangat menarik.” Apakah hal ini bisa dijadikan sebuah kesimpulan bahwa Bening yang itu adalah Bening yang dicari Hardy?
Yang harus Ari lakukan adalah mencari Bening dan menunjukkannya kepada Hardy. Sayangnya Bening sudah tidak ada di kota ini dan k*****t tak bernama itu membuatnya kehilangan jejak. Tetapi bukan Ari jika tidak bisa mengurai benang kusut. Ari harus memulai pencarian dari awal. Dari rumah sakit, tempat dimana Bening pernah dirawat.
***
Seandainya bukan demi Shinta, Rahmadi tidak akan rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk meladeni wanita berbelanja. Tetapi bukan salah Bening juga, karena ia sendiri yang memutuskan untuk mengekor pada rombongan kecil gadis itu.
Rahmadi tahu bukan Bening yang membuat acara belanja menjadi begitu lama. Seorang perempuan kegenitan yang ada di samping Beninglah orangnya. Bening sendiri baru membawa satu tas kecil berisi pakaian yang mereka beli di sebuah departemen store, sementara perempuan di sebelah Bening sudah membawa berkantong-kantong bahkan pria algojo itu pun harus rela mengurangi kegarangannya dengan membawakan tas belanjaan perempuan itu.
Bening merasa lelah, belanja dengan Nadia ternyata sama saja seperti saat ia belanja dengan Sherly. Perempuan itu menjelajahi setiap toko dan selalu saja ada yang dibelinya.
“Nad, aku capek,” bisik Bening. Ia ingin segera duduk di sebuah restoran untuk mengisi perutnya yang mulai keroncongan serta mengistirahatkan kedua kakinya.
Nadia sudah hampir masuk ke sebuah outlet pakaian saat ia mendengar keluhan Bening, entah ke berapa kalinya. Gadis itu juga memandang Tulus yang sedang membuang napas berat, tanda pria itu juga sudah lelah mengikutinya. Tidak lupa kepada pria yang bahkan belum ia ketahui namanya.
“Kita makan dulu deh, setelah itu kita jalan lagi.” Nadia urung memasuki outlet tersebut, ia segera melangkah menuju restoran yang tadi sempat ia lihat.
Mata Bening membulat, ia benar-benar tidak menyangka akan melalui hari seperti sekarang ini. Ia membiarkan Nadia berjalan di depan, sementara ia berjalan pelan jauh di belakang Nadia dan Tulus.
Momen itu tentu saja tidak disia-siakan oleh Rahmadi. Pria itu dengan cepat berada di sisi Bening seolah bila ia tidak segera melakukannya, maka akan ada banyak pria lain yang siap menggantikan posisinya.
“Shinta, kamu bisa belanja apapun yang kamu mau.” Ucapan Rahmadi membuat Bening kesal. Ia berpikir bahwa Rahmadi sedang merayunya dengan kemewahan. Kasihan sekali pria itu bila beranggapan uang dapat membelinya.
Bening berusaha menghiraukan Rahmadi, sekalipun ia sangat kesal dengan pria itu. Ia berjalan dengan mulut terkunci, berusaha berjalan cepat sekalipun kedua kakinya benar-benar lelah.
***
Arjuna tersenyum, memandang langit-langit kamar seolah sedang melihat sebuah rekaman yang sedang diputar. “Shinta, aku berharap besok cepat datang. Aku merindukanmu.” Arjuna sengaja mengambil jadwal libur yang sama dengan Shinta.
Serasa mendapatkan mood booster, Arjuna segera bangkit kemudian ia membuka lemari. Sesaat ia memandang deretan kemeja yang tertata rapi di gantungan lemari, berderet berdasarkan warna, hanya ada warna putih dan biru disana. Tidak ada warna lain selain itu. Ia mengambil sebuah kemeja putih yang lembut dan harum lavender menyentuh penciumannya.
“Ibu … harusnya bajuku tidak diberi wewangian perempuan seperti ini.” Arjuna mengembalikan kemeja ke tempatnya, ia membuka pintu lain lemari tersebut. Ia membutuhkan sebuah parfum berbau maskulin yang sialnya harus lebih maskulin dari parfum yang dikenakan Rahmadi.
Rahmadi sialan itu pandai memilih wewangian, dasar play boy cap rombeng. Dasar! Arjuna termakan kecemburuannya sendiri. Ia harus mencari sesuatu yang lima kali lebih baik dari Rahmadi.
***
Bening benar-benar tidak nyaman, ia berada di sebuah restoran langganan Nadia, satu meja dengan Rahmadi yang duduk di seberangnya, memandanginya seolah seekor buruan yang siap diterkam mangsanya. Bening menjadi tidak nafsu makan, ia mengaduk makanannya tanpa ada niat untuk memakannya.
Nadia heran dengan sikap Bening, mengapa gadis itu jual mahal padahal Rahmadi adalah sosok sempurna. Mata hatinya tidak buta, hanya memandang apa yang dikenakan Rahmadi serta mobil yang dikendarai pria itu, Nadia bisa menebak seberapa kaya pria itu. Bening bodoh sekali jika membuang kesempatan emas semacam ini, sudah jelas Rahmadi begitu tertarik kepadanya, bila Nadia menjadi Bening, Nadia tidak akan berpikir dua kali untuk menerima pria itu.
Aku harus membantu Bening mendapatkan tangkapan emas, bisik Nadia dalam hati.
Tulus memandang Bening, ia menjadi khawatir dengan keadaan gadis itu. “Apa kamu sakit … Shinta?” tanyanya.
Bening memandang Tulus, ia menggeleng perlahan sebelum akhirnya ia memaksakan diri untuk melahap makanannya. Sesekali ia mencuri pandang kearah Rahmadi, sayangnya mata Bening selalu bersibobrok dengan tatapan pria itu, membuat Bening harus secepatnya membuang muka.
Rahmadi tersenyum, tingkah Bening benar-benar menggemaskan. Sikap seorang gadis jatuh cinta lalu mencuri-curi pandang. Bukan hal baru bagi Rahmadi, namun tetap saja menjadi pemandangan indah bila yang melakukannya adalah Bening.
“Jadi kamu punya bengkel di dekat restoran Ramayana?” Tulus membuka obrolan, ia ingin melelehkan kebisuan diantara mereka.
Rahmadi segera berpaling dari Bening kepada Tulus, ia mengangguk sambil tersenyum. “Ya, jika anda punya masalah dengan kendaraan anda. Jangan sungkan-sungkan, saya akan member pelayanan terbaik kepada anda.” Rahmadi merogoh saku kemeja, ia mengambil sebuah kartu nama lalu menyerahkannya kepada Tulus.
Satu kesempatan sangat baik, aku tidak akan menyia-nyiakannya, kata Rahmadi dalam hati.
Melihat Tulus dengan mudah membuka jalan bagi Rahmadi, tak pelak membuat Bening melotot ke arah pria itu. Tidak seharusnya Tulus memberi kesempatan bagi Rahmadi untuk bisa mendekatinya. Tulus harus menghentikan pria itu atau ia sendiri yang akan bertindak. Siapapun tahu bagaimana sikap dingin Bening bisa membekukan hati pria manapun.
Namun Bening masih berusaha bersabar, ia hanya menghadiahi Tulus dengan tatapan tajam yang mudah terbaca baik Tulus, Nadia maupun Rahmadi. Bening meletakkan sendok makannya, ia tidak ingin menonton reality show kiat-kiat mendekatinya ala Rahmadi. Bening memutuskan bangkit dan meninggalkan mereka.
Rahmadi terkejut dengan sikap Bening, ia tidak pernah berpikir bahwa gadis itu bisa semudah itu marah kepadanya. Menurutnya apa yang ia lakukan bukanlah hal buruk, bahkan biasa saja. Rahmadi tidak ingin terlalu lama berpikir, ia memilih mengejar Bening untuk menemaninya atau meminta konfirmasi, mengapa gadis itu tiba-tiba bertindak aneh semacam itu.
Bagaimana kelanjutannya? Besok ya….