Ini terlalu kekanak-kanakan, Bening pun sangat menyadarinya namun ia tidak mampu menghentikan apa yang ingin ia lakukan. Segera menghindar adalah satu-satunya pilihan sebelum mulutnya menyemburkan kata-k********r. Jika ia tidak berpikir kantor Rahmadi berdekatan dengan tempatnya bekerja, sejak awal Bening pasti sudah mengeluarkan kata-k********r.
Bening berjalan cepat, ia ingin secepatnya menjauh dari makhluk pria bernama Rahmadi. Hanya dengan melihat cara pria itu menatapnya, Bening tahu sepandai apa Rahmadi dalam menggaet wanita. Bening tidak menyukai Rahmadi, sekaya apapun dia atau setampan apapun dia.
Rahmadi mengikuti langkah Bening, ia ingin tahu kemana kaki gadis itu berakhir. Satu hal yang ia pikirkan, Bening sedang marah kepadanya namun marah untuk apa?
Rahmadi tidak bisa menunggu lagi, ia menarik pergelangan tangan dan memutar tubuh gadis itu dengan sangat mudah. Sebuah tatapan tajam tak menghalangi Rahmadi, pria itu hanya menginginkan sebuah kejujuran dari Bening. “Sebenarnya apa yang kulakukan sampai kamu semarah itu padaku?” tanyanya.
Bening terkejut walau sesaat kemudian ia mampu kembali tenang. Ia menarik tangan dari genggaman Rahmadi, gadis itu membuang muka sesaat namun kemudian ia menatap Rahmadi. Bening berpikir tentang jawaban yang akan ia berikan kepada pria itu.
“Jika aku berbuat salah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud…”
“Sudahlah, tidak ada masalah apapun. Saya hanya ingin secepatnya pulang.” Bening kembali melangkah namun tangannya kembali dicekal Rahmadi, gadis itu sudah kesal dan kini jauh lebih kesal lagi.
“Pak Rahmadi, tolong lepaskan saya!” Lepaskan saya dari ketertarikan anda!
Rahmadi segera melepaskan cekalannya, ia tahu sudah berbuat kasar dengan mencekal lengan Bening. Tetapi tidak ada cara lain untuk menghentikan gadis itu selain mencekalnya. “Tolong jelaskan padaku, kenapa kamu … menjauhiku?” Rahmadi ingin lenyap sekarang, tiba-tiba ia takut mendengar sebuah penolakan.
“Saya … tidak ingin menjauhi anda. Sudahlah, saya sedang tidak enak badan sekarang, tolong biarkan saya pulang!” Kebohongan paling buruk yang pernah dibuat Bening, tetapi Rahmadi jelas-jelas tidak memberinya kesempatan untuk berpikir jernih.
Aku benci pria seperti anda, seandainya anda tahu Pak Rahmadi. Pria-pria yang suka berbicara tegas seperti anda, membuat saya muak. Tentu saja selain Om Bowo dan Kak Hardy. Bening menarik napas panjang, di saat seperti sekarang ini, ia tidak ingin mengingat kakaknya.
Rahmadi tahu Bening berbohong, gadis itu tidak pandai berbohong, tetapi kali ini Rahmadi tidak ingin membuat Bening semakin menjauhinya. “Jadi kamu sakit? Aku antarkan pulang!” Ucapan Rahmadi bukan sebuah pertanyaan melainkan sebuah pernyataan.
“Tidak perlu. Saya bisa pulang sendiri, lagi pula saya pergi bersama Om Tulus dan Nadia. Saya akan menunggu mereka di tempat parkir.” Bening tidak membuang waktu, ia segera berlalu meninggalkan Rahmadi yang kini justru kesal dengan sikap Bening.
***
Bening menatap lekat ke arah spion yang memantulkan wajah Tulus yang sedang menyetir. Bening sangat marah kepada pria itu. Entah apa yang dipikirkan Tulus hingga pria itu dengan santai menerima Rahmadi, memberi pria itu angin segar … harapan palsu.
Bening tidak ingin memiliki hubungan lebih terhadap pria itu, tetapi bukan berarti ia bisa memberi harapan palsu. Ia tidak ingin memiliki sebuah ikatan apapun terhadap Rahmadi, ia tidak ingin memberi kesempatan sekecil apapun kepada pria itu.
Tulus merasa bulu kuduknya merinding, ia mengusap tengkuknya lalu tanpa sadar ia bertatap mata dengan Bening melalui spion mobil. Gadis itu sedang sangat marah, Tulus bisa melihatnya hanya dari cara gadis itu menatapnya.
“Kenapa, Bening?” Suara Tulus sangat rendah dan parau.
“Jangan lakukan lagi, Om.” Tidak ada yang perlu ditutupi dari Tulus. Bening memandang keluar jendela, memandangi jalanan yang mulai padat merayap.
“Memangnya apa yang kulakukan?” Sebenarnya Tulus tahu arah pembicaraan Bening, tetapi ia tidak suka Bening marah kepadanya jadi pura-pura bodoh adalah pilihan terbaik.
Bening melipat kedua tangan, ia merasa tidak ada bedanya dengan para gadis Bowo. Ia tentu saja sangat tersinggung dengan apa yang dilakukan Tulus terhadapnya. Air mata merebak di sekeliling matanya. Tulus baik kepadanya, kecuali hari ini. Ia tidak pernah berpikir bahwa ketulusan seorang Tulus bisa melemah karena sebuah kesempatan. Ia tidak perlu pandai jika hanya untuk berpikir tentang sebuah keuntungan yang bisa didapatkan Tulus setelah menyerahkannya kepada Rahmadi.
“Bening, Rahmadi bukan pria seperti itu. Percayalah padaku!” Tulus tidak tahan melihat ekspresi gadis itu. Pura-pura bodoh ternyata bukan solusi terbaiknya.
Terima kasih atas kejujurannya, tapi Bening tidak akan termakan oleh kata-kata Tulus. Ia tidak percaya pria memiliki ketulusan, terima kasih Tulus karena sudah membuka matanya. Tidak ada pria tulus di dunia ini selain Hardy, kakaknya.
Alis Nadia mengerut, apakah sikap Bening selalu seperti ini? Seorang Tulus bahkan tidak berkutik hanya karena tatapan mata itu. Kejutan yang luar biasa sekali. “Menurutku Rahmadi, pria baik. Terlihat sekali ia sangat memerhatikanmu … maksudku, mungkin ia akan membelikan apapun yang kamu mau,” ucapnya.
“Aku bukan wanita seperti itu. Sekalipun kita hidup bersama, aku berbeda denganmu,” sembur Bening, membuat mata Nadia membulat karena terkejut.
“Jaga sikapmu gadis cantik!” Tulus mulai gerah dengan sikap Bening sekarang. Sikap garang bak macan melindungi anaknya itu, sangat kontras dengan muka kalem yang dimiliki Bening.
“Rahmadi menyukaiku, aku tahu kalian tahu. Aku sudah katakan, aku tidak mau berdekatan dengan pria manapun selain Om Bowo dan Om Tulus. Bahkan kepada teman-teman musisi di tresno pun tidak,” tegas Bening.
Tulus dan Nadia bersitatap, keduanya lalu geleng-geleng dan kembali memandang jalanan. Bukan rahasia lagi seorang Bening berubah menjadi garang jika berhubungan dengan pria, hanya saja kali ini sepertinya kemarahan Bening sudah sangat parah.
Tetapi keduanya kompak berpikir bahwa sudah saatnya bagi Bening untuk membuka hati. Keduanya ingin Bening bahagia bersama seorang pria yang mencintainya dan saat ini Rahmadi adalah orang yang tepat.
***
Rahmadi boleh jadi pria berwatak keras yang bisa saja menyusahkan Bening, tetapi pria itu tidak lebih sulit daripada menghadapi Arjuna. Pemilik restoran tempatnya bekerja pun sudah jelas menunjukkan ketertarikan kepada Bening.
Gadis itu baru saja masuk restoran saat melihat Arjuna berjalan mendekatinya dengan senyum lebar. Bening mengembuskan napas berat, ia ingin sekali keluar dari tempat ini. Akan tetapi ia tidak akan melakukannya, Bowo sudah mengingatkannya sejak awal. Dulu ia berpikir masalah ini bukan hal yang sulit, mengingat bukan sekali dua kali ia membuat patah hati pria.
Bening berdiri di depan Arjuna, meski ia enggan tersenyum, namun ia tetap saja melakukannya demi basa basi. Bening tidak bisa bertindak segegabah saat menghadapi Rahmadi. Jika ia salah langkah, maka reputasi Bowo yang ia pertaruhkan dan Bening tidak ingin Bowo merasa dipermalukan olehnya.
“Bagaimana liburanmu?” Akhirnya kerinduan itu musnah sudah. Sehari tanpa Bening, hidup terasa kurang lengkap. Arjuna terlalu di mabuk kepayang hingga ia tidak pernah menyangka seorang Bening bisa membuat hari liburnya menjadi hampa.
Sesaat Bening terdiam, ia ingin bercerita bahwa liburan kemarin sangat buruk. Tetapi tentu saja hal itu tidak dilakukannya. Sebagai gantinya Bening hanya berkata, “baik.”
Arjuna tersenyum lega, setidaknya gadis ini bisa menikmati hari libur, tidak seperti dirinya yang merasa sangat tersiksa oleh rasa rindu yang merengkuh. “Apa kamu sudah makan?” Pertanyaan klise kembali keluar dari bibirnya.
Bening membuang muka, apakah bos satu ini ingin dirinya menjadi sebesar domba? Apakah tidak ada pembahasan lain selain makan?
“Shinta…” Bening mengerjap, ia tersadar dari lamunan tentang pria satu ini yang kepalanya hanya dipenuhi makanan.
“Sudah, Pak. Permisi.” Bening segera berlalu, meninggalkan Arjuna yang hanya bisa menghela napas berat.
Duduk di halaman depan restoran, di bawah sebuah pohon besar nan rindang. Bening menikmati kesendiriannya sambil menikmati air mancur berhias suara kecipak air baik dari air mancur maupun dari suara ikan di kolam. Angin sepoi-sepoi membuat Bening merasa di nina bobokkan. Ia meletakkan kedua tangan di atas meja dan menjadikannya sebagai bantalan kepala. Semilir angin dan suara air, membuat Bening tak mampu meredam rasa kantuk hingga akhirnya ia tertidur.
Hardy menangis sambil memeluk adiknya, mencegah gadis itu menahan para pelayat yang hendak memindahkan jasad Indah yang telah dibungkus kain kafan ke keranda. Mata Hardy sudah bengkak tetapi air mata masih saja menggenanginya. Wajahnya sayu, sinarnya telah hilang bersama kepergian sang ibu.
“Ibu ... jangan tinggalkan aku, Bu!” Tangis Bening seolah tak akan pernah berhenti. Suaranya menyayat hati para pelayat hingga hampir semua wanita di tempat itu turut larut dalam kesedihan, mereka menyeka air mata.
Mbok Pah menarik tubuh Bening, mendekapnya erat ke dalam pelukan. Wanita itu bisa merasakan kesedihan Bening, seperti saat anak-anaknya kehilangan ayah mereka. Tidak, keadaan Bening dan Hardy jauh lebih malang ketimbang anak-anaknya. Mbok Pah menarik pundak Hardy, memeluknya erat dan membiarkan air mata membasahi pakaiannya. “Sabar ya, Har ... Bening.” Nasehat yang tidak membantu tetapi tetap saja Mbok Pah ucapkan.
“Kamu harus menurut padaku. Pakai uangnya untuk beli makan siang! Nanti sore aku kembali.” Hardy tidak membuang waktu, ia mengacak-acak rambut Bening sebelum ia berlari ke arah bis yang hendak berangkat ke Surabaya.
Bening ingin mengejar Hardy namun bis sudah terlanjur berjalan. Bening kesal karena Hardy menipunya. Ia menghentakkan kaki kiri dengan dua tangan terkepal. Dasar Kak Hardy, nanti kubalas ya!
Bening tidak pulang ke rumah, ia memutuskan untuk menunggu Hardy tak peduli jika harus berada di terminal beberapa jam lamanya. Untuk membunuh waktu, Bening memutuskan untuk mengamen sendirian. Ia menggunakan suara emasnya tanpa diiringi alat musik apapun, namun toh ia tetap mendapatkan beberapa ribu uang.
Sore telah melahap sinar matahari, meredupkan suasana secara perlahan hingga benar-benar menjadi gelap. Bening mulai resah, kakaknya belum pulang padahal hari sudah malam.
Hujan turun dengan lebat, suara guntur bersahutan bersama petir yang menyilaukan mata. Tiba-tiba seseorang mencekal lengan Bening, gadis itu memandang orang itu. Mata gadis itu melotot dan tubuhnya segera menggigil ketakutan.
Kakak ... Kakak. “TOLONG!!!”
Suara Guntur membangunkan Bening. Gadis itu begitu terkejut hingga ia bangun dan segera duduk tegak. Suara Guntur kembali terdengar, seketika Bening menutup kedua telinga serta memejamkan kedua matanya. Kenangan masa lalu itu seolah baru saja kembali ia rasakan. Isak tangis Bening tidak mampu diredam. Namun seseorang datang, menyentuh kedua tangan yang sedang membungkam pendengarannya.
Pria itu tersenyum sangat manis, Bening melihat sosok lelaki yang sangat ia rindukan berada di hadapannya. Alih-alih senang, Bening justru berurai air mata.
Kak Hardy … Kakak