Suara Guntur itu membuat Bening terbangun dari mimpinya. Ia segera duduk tegak dan berusaha mengembalikan seluruh kesadarannya. Namun suara Guntur kembali terdengar lebih keras, membuat gadis kembali memejamkan mata erat dan menutup kupingnya kuat-kuat.
Suara Guntur membuat Bening kembali teringat kejadian-kejadian perih yang terjadi saat hujan turun dengan derasnya, kala itu Guntur juga terdengar bersahutan seperti sebuah genderang perang. Gambaran ibu dan kakaknya sudah hampir menghilang dari ingatannya, akan tetapi kejadian itu sendiri justru masih tertanam kuat dalam ingatannya.
Kak Hardy … Ibu. Bening tidak mampu meredam kesedihannya. Masih dengan dua tangan menutup telinga dan mata terpejam, isak tangis perlahan keluar dari bibirnya.
Arjuna melepas apron sambil keluar dapur saat tiba-tiba suara Guntur bergemuruh. Hujan deras pasti akan memberinya kisah romantis bersama Shinta, setidaknya itu yang dipikirkan Arjuna. Pria itu melihat Shinta masih duduk di bawah pohon dengan dua tangan menutup telinga. Arjuna heran, mengapa gadis itu … oh sial, jangan-jangan Shinta takut suara Guntur. Arjuna segera berlari keluar dan benar dugaannya, Bening terlihat sangat ketakutan.
“Shinta. Hujan akan turun, ayo masuk!” Namun ajakan Arjuna tidak diindahkan Bening, gadis itu dikuasai perasaan takutnya.
Arjuna kembali memanggil nama Bening, namun gadis itu seolah tak mendengarnya. Arjuna pun akhirnya menyentuh kedua tangan Bening, membuat gadis itu segera membuka kedua mata.
Sesaat Bening merasa seperti melihat sosok Hardy, air mata turun dan perasaan rindu membuatnya tak mampu meredam tangis. “Kakak … Kakak.” Bening kembali membuka kedua mata, namun kali ini bukan Hardy yang ia lihat melainkan Arjuna.
Hati Bening hancur seketika, ilusi itu kembali hadir, menjadi sebuah fatamorgana yang menusuk hatinya. Mengapa ini semua harus terjadi kepadanya? Mengapa harus ia yang mengalami semua ini? Kak Hardy … sampai kapan kita terpisah seperti ini? Aku sangat merindukanmu, aku membutuhkanmu, Kakak.
Arjuna terhenyak, melihat Bening sekarang, ia yakin ada luka besar yang pernah terjadi kepada gadisnya. Air mata ikut terpupuk, namun secepatnya ia tahan. Air mata Bening ikut melukai hatinya, apakah cinta sedahsyat ini? Namun kenyataannya Arjuna ikut lara, bersama tangis tertahan perempuan yang kini sedang sangat bersedih.
“Shinta, ayo masuk! Kamu bisa kehujanan jika terus seperti ini.” Arjuna ingin menjadi penyembuh luka Bening, ia harus menjadi obat bagi lara hati Bening.
Bening terlalu kalut hingga lagi-lagi ia tidak mendengar suara Arjuna hingga kedua tangan pria itu menarik tangannya yang masih menutup kedua telinga. Bening terkejut dan lebih terkejut lagi saat Arjuna tiba-tiba menarik tangannya dan memaksanya berlari masuk ke restoran, menghindari hujan yang tiba-tiba datang tanpa gerimis terlebih dahulu.
***
Bening berdiri di balik jendela, memandangi hujan yang turun sangat deras. Air mata masih luruh, namun dengan cepat ia hapus.
Mengapa hujan selalu mengiringi kesedihannya? Mengapa hujan memberinya mimpi buruk meski ia tidak benar-benar tertidur? Kesedihan apalagi yang harus ia rasakan bersama derasnya hujan? Masih adakah kesedihan lain yang akan diiringi hujan?
Bening kembali terisak, ia benci hujan. Jika boleh, ia ingin hujan lenyap dari muka bumi ini, agar kesedihan tidak lagi hadir bersamanya.
Arjuna membawa secangkir wedang jahe yang masih panas. Bening berdiri di balik jendela kantornya, menatap hujan sambil sesekali terisak. Ia menarik napas dalam-dalam lalu segera mendekati Bening. “Minumlah! Wedang jahe bisa membuatmu hangat. Shinta, jangan menangis lagi! Kalau ada masalah, cerita saja padaku. Kalau aku bisa, aku pasti membantumu.” Arjuna menyerahkan cangkirnya kepada Bening.
Bening memandang Arjuna cukup lama, kata-kata itu mengingatkannya kepada kata-kata Hardy. Dulu saat ia bersedih, Hardy menghiburnya dengan kata-kata yang serupa dengan kata-kata yang diucapkan Hardy. “Maafkan saya … saya tidak bermaksud membuat anda….” Bening kembali terisak. Ia mencengkeram cangkir, tak peduli jika cangkir masih sangat panas.
Arjuna tersenyum, entah mengapa saat ini ia justru bersyukur bisa menjadi saksi mata kesedihan Bening. Bukan berarti ia suka Bening bersedih, namun melihat gadis itu bersedih maka ia merasa berguna. Ia kembali menetapkan hatinya untuk menjadi penyembuh luka bagi Bening. “Jika tidak keberatan, kamu bisa menceritakan masalahmu kepadaku. Tapi jika tidak, kuharap kamu tidak lagi bersedih. Shinta, kamu harus kuat! Semua masalah pasti ada jalan keluarnya,” hiburnya.
Semua masalah memang ada jalan keluarnya, selain masalahnya. Hardy menghilang dalam sekejap, entah bagaimana nasib kakaknya sekarang. Bening hanya bisa berharap, nasib kakaknya jauh lebih baik dari nasibnya. Ia berharap Hardy hidup bahagia, dimanapun ia berada.
***
Hardy memandang hujan lebat dari balik jendela rumahnya. Ruangan besar tanpa sekat dengan tiga set meja kursi untuk ruang tamu, ruang tengah dan ruang makan tersebut terasa senyap. Rumahnya berada di kawasan cukup mewah. Rumah minimalis dengan dua lantai dan empat kamar tidur itu begitu kosong, tidak bernyawa.
Pria itu melangkah menuju tangga, menaiki tangga itu satu persatu lalu ia membelok ke kanan. Ia mendekati sebuah kamar yang berada di sebelah balkon rumahnya. Sebuah kamar bernuansa pink dengan jajaran boneka besar yang memenuhi ranjang berukuran queen. Sebuah lemari berwarna pink dengan tiga pintu ada di sebelah ranjang, ada pula sebuah meja rias dengan lampu memenuhi frame yang membingkai kaca. Sebuah meja rias ala berbi, begitu Bening dulu menyebutnya.
Kamar yang ia janjikan untuk Bening namun belum pernah disentuh pemiliknya. d**a Hardy terasa nyeri setiap kali ia mengingat janji yang dulu sering ia ulang untuk menghibur Bening. Kini saat janji itu bisa dipenuhi, janji lain justru ia ingkari. Kehilangan Bening adalah hal paling ia sesalkan dalam hidupnya. Airmata kembali menggenang, Hardy hanya bisa menangis saat kerinduan itu kembali datang.
***
Bening duduk sambil menggenggam erat cangkirnya. Ia menghela napas berat saat kembali teringat bagaimana masa lalu yang sulit harus ia lewati. Setiap detil kesedihan itu masih tersimpan dan selalu terbuka saat hujan datang.
Arjuna memandang Bening tanpa bisa berkata-kata, tidak ada yang bisa ia katakana untuk menghibur hati Bening sekalipun sebenarnya ia ingin sekali melakukannya. Ia belum tahu masalah yang dihadapi gadis itu, jadi ia pun belum tahu bagaimana cara membantu wanita yang sangat ia cintai.
Bening memandang jam tangannya, sudah menunjuk angka lima sore. Sudah saatnya ia memeriksa keyboard serta peralatan lain sebelum ia tampil. Gadis itu meletakkan cangkirnya di atas meja lalu bangkit.
Arjuna terkejut hingga ia ikut bangkit, “kamu mau kemana?” tanya Arjuna.
“Saya harus siap-siap.” Bening tidak ingin menunda pekerjaannya.
“Sebenarnya kamu bisa libur dulu, Shinta.” Arjuna berpikir ia tidak mau Bening merasa terbebani padahal gadis itu sedang bersedih.
“Tidak apa-apa, Pak. Saya baik-baik saja.” Bening tersenyum, keberadaan Arjuna membuatnya merasa mudah saat harus menghadapi kegalauannya.
Arjuna mengerutkan dahi, ia benar-benar tidak ingin membuat Bening justru direpotkan oleh pekerjaan. “Tapi…”
“Perasaan saya justru lebih baik kalau ada kesibukan.” Seolah mengetahui apa yang ada dalam pikiran Arjuna, Bening berusaha tetap bekerja karena memang benar jika ia bekerja maka ingatan tentang masa lalu bisa hilang walau hanya sementara.
Arjuna tak mampu meredam perasaan bangga, gadis ini bukan gadis manja yang memilih tenggelam bersama kesedihannya. Perasaannya kepada Bening kian besar dan ia harus secepatnya mendapatkan perasaan Bening.
Bening berjalan di depan Arjuna, menuruni anak tangga hingga ke lantai bawah. Restoran masih lengang namun setelah jam tujuh malam pasti akan sangat ramai. Bening segera mendekati keyboardnya, memeriksa kondisi benda itu sebelum kemudian memeriksa pengeras suara. Tidak adanya penata suara tidak membuat Bening kebingungan, gadis itu hampir menguasai semua hal yang berhubungan dengan alat-alat pendukungnya untuk bernyanyi.
Arjuna memeriksa mikropon sambil sesekali mencuri pandang ke arah Bening yang sibuk memeriksa tombol-tombol sound system. Meski sebenarnya Arjuna tidak tahu seluk beluk tentang alat-alat ini, namun demi Bening ia akan belajar tentang semua hal yang disukai gadis itu.
Di dapur, Andra mencibir Arjuna yang kini menjadi orang sok. Ia tahu Arjuna adalah jenis pria yang tidak tahu menahu tentang alat-alat elektronik kecuali alat yang digunakan untuk memasak. Harusnya pria itu tetap bermain mixer dan blender, pria kasmaran memang luar biasa. Tapi Andra pun akhirnya mengerti, ia memiliki saingan berat. Big bos yang sok tahu itu adalah saingan dalam mengejar seorang gadis bernama Shinta. Tapi Andra yakin ia pasti bisa mendapatkan gadis itu.
Sekarang nikmati saja kemenanganmu, Bos. Karena pada akhirnya Shinta akan menjadi milikku, kata Andra dalam hati.
***
Hardy menyusuri trotoar tanpa arah tujuan pasti, seperti itulah cara Hardy menenangkan dirinya. Berjalan di sekitar bengkelnya lalu kembali setelah perasaannya tenang, untuk saat ini adalah obat mujarabnya yang terbaik. Namun rasa lapar tiba-tiba ia rasakan, membuatnya tertawa geli karena di saat seperti ini pun ia memiliki kesadaran atas kebutuhan perutnya.
Berada di depan restoran Ramayana, Hardy pun akhirnya masuk ke restoran itu dan saat melihat sosok Bening sedang duduk sambil bernyanyi. Suara gadis itu tiba-tiba memenuhi rongga pendengarannya lalu mengalir ke dalam hatinya. Suara gadis itu … indah sekali, batinnya.
***
Lagu rindu ini kuciptakan
Hanya untuk engkau hatiku tercinta
Walau hanya nada sederhana
Ijinkan ku untuk menggenggam rasa
………………
Bening melihat sosok Hardy saat ia masih sibuk memainkan keyboard sambil bernyanyi. Ia merasa seolah seorang musafir yang mendapatkan setetes air saat melepas lelah di tempat yang sangat terik dan tandus. Pria itu, mengapa membuat hatiku bergetar? Tanyanya dalah hati.
Bening ingin sekali mengenal pria itu, bagaimanapun caranya. Hanya untuk mengenalnya, bukan untuk yang lain, lanjutnya dalam hati.
Bening ingin menyelesaikan lagunya secepat mungkin. Setidaknya ia ingin berhenti beberapa saat untuk kemudian mendekati pria itu. Lagu rindu dari grup band Kerispatih menambah rasa aneh yang melingkupi seluruh perasaannya. Lagu yang mengiringi tatapan Bening yang tertumbuk pada tatapan Hardy.
Setelah nada terakhir selesai, tanpa buang waktu, Bening segera beranjak lalu berjalan cepat untuk mendekati Hardy.
Akankah keduanya akhirnya mengetahui ikatan darah mereka? Ikuti selanjutnya ya