Semua Demi Bening

1583 Kata
Ari berada di sebuah club malam. Lampu berwarna-warni menyala berkelap-kelip. Suara musik mengalun keras memekakkan telinga. Para wanita mengenakan pakaian mini, berdansa bersama pria-pria memakai pakaian rapi, tubuh mereka saling bergesekan. Ari duduk di bar sambil memainkan gelas berisi cocktail tanpa bermaksud meminumnya. Ari bukan orang yang religius namun ia tahu agamanya mengharamkan minuman beralkohol. Jika bukan demi mencari gadis yang ia curigai sebagai Bening, adik Hardy, Ari tidak akan menjejakkan kakinya ke tempat semacam ini. Seorang DJ melambaikan satu tangan sementara tangan lainnya memainkan tombol-tombol pada mesin DJ, mencampurkan nada-nada yang membentuk music yang indah bagi penikmatnya namun bagi Ari, suara music itu justru hanya membuat kepalanya penat dan mengharuskannya lebih kuat dalam memfokuskan perhatiannya. Ari sedang mencari sosok pria yang ia curigai sebagai pria yang memberi informasi palsu di rumah sakit. Ia yakin bila ia mendapatkan pria itu maka satu atau justru beberapa petunjuk bisa ia dapatkan. Ari harus menemukan petunjuk apapun yang akan membuatnya menemukan Bening dan ini salah satu caranya. Seorang pria berambut tebal dan bergelombang, dengan tubuh kurus namun lincah. Pria itu melangkah cepat lalu berhenti tepat di depan seorang pria berotot besar bak seorang gladiator. Pria kurus itu sedang berbicara dengan seorang pria yang terlihat seperti seorang bos mafia walaupun Ari yakin, pria itu bukanlah bos yang sesungguhnya. Ari menyipitkan mata, berusaha membaca gerak bibir yang hanya mampu ia lihat sudutnya. Namun Ari segera membuang muka saat pria algojo itu memandangnya, entah sengaja atau tidak, Ari tidak peduli. Tulus mendengarkan laporan dari salah satu anak buahnya. Ia melirik Ari, pria yang sedang mencari keberadaan Bening. Pada awalnya Tulus tidak berpikir macam-macam, mengingat begitu banyak pria yang mencari keberadaan Bening lalu akhirnya mereka menyerah, Tulus pun berpikir Ari akan melakukan hal yang sama. Sebenarnya apa yang ia cari? Tulus bertanya-tanya, mengapa Ari begitu gigih mencari Bening. Apa Bening secantik itu sampai banyak pria yang mencarinya? Sialnya Tulus mengetahui jawabannya. Bening adalah cucu angkat bos besarnya, anak angkat bos satunya dan keponakan angkatnya. Anak Sardi sialan itu memiliki watak yang jauh berbeda dari ayahnya, membuatnya bak induk yang harus menjaga anaknya sejak keduanya bertemu beberapa tahun silam. “Jika dia masih bersikeras. Ringkus dia!” Tulus enggan mengotori tangannya, tetapi ia tahu jika Ari dibiarkan saja, maka keselamatan Bening jadi taruhannya. Jika Bening tidak selamat, maka hidupnya sendiri yang akan jadi taruhannya. *** Hardy masih berdiri di dekat pintu, matanya bersibobrok dengan tatapan Bening. Ia berpikir Bening sedang mencari perhatiannya dan seperti biasa, Hardy tidak akan memberi harapan apapun kepada seorang gadis, jadi ia memilih keluar dari restoran itu. Bening kecewa sekali, ia baru saja turun panggung saat melihat Hardy keluar. Bening sudah di tengah ruangan, hanya butuh beberapa langkah lagi untuk sampai di depan Hardy. Tetapi pria itu malah pergi, membuat Bening menarik napas panjang lalu kembali memutar tubuh. Andra berdiri sambil menyandarkan pundak di dinding dapur. Ia terkejut saat melihat Bening berjalan cepat dengan tatapan yang sudah jelas tertuju kepada seorang pria yang berdiri di dekat pintu. Apakah Bening menyukai pria itu? Andra bertanya-tanya. Tetapi apakah Bening tahu siapa pria itu? Desas-desusnya, pria berkulit sawo matang, berwajah sangar dengan rahang dipenuhi bakal janggut tersebut bukan hanya seorang pemilik bengkel tapi juga seorang bos mafia terkenal. Bahkan sekretaris pria itu curiga jika pria itu seorang pembunuh bayaran. Katanya lagi, saat berbicara, pria itu membuat bulu kuduk merinding. Meski nyali Andra menciut saat melihat lekuk tubuh pria itu, yang meski tertutup jas hitam namun tidak mampu menutupi kegagahannya. Andra berusaha menguatkan diri sendiri, demi mendapatkan Bening. Gadis yang sejak awal sudah mencuri hatinya. “Kamu kenapa, Shinta?” Andra mendekati Bening yang hendak kembali ke panggung. Pria itu berjalan cepat mendekati gadis itu. Bening berhenti, ia menoleh ke arah Andra. “Tidak ada apa-apa.” Jawabnya. Bening kembali mendekati panggung, diikuti Andra di belakangnya. Saat Bening hendak duduk di belakang keyboard, Andra tiba-tiba menduduki kursi tersebut, membuat Bening terkejut lalu tersenyum saat melihat cengir lucu pria yang sejak awal membuat Bening merasa memiliki seorang teman yang lucu. “Nyanyi lagu rindu lagi ya! Aku akan mengiringimu selalu (dalam arti sebenarnya, selamanya).” Andra mulai menggelutukkan ke sepuluh jarinya sebelum ia memulai menekan tuts membentuk nada-nada yang indah. Bening berdiri di belakang mic, ia mendengarkan intro yang dimainkan Andra. Entah mengapa tiba-tiba Bening merasakan kakaknya sedang berdiri di suatu tempat, mengawasinya. Suara Bening goyang, emosinya tiba-tiba lepas bersama air mata yang menetes. Kerinduan ini, kapan akan pergi? Restoran tidak cukup ramai, namun beberapa meja terisi oleh orang-orang yang sedang menikmati santap malam sambil memandang Bening. Gadis cantik yang selalu menawan hati yang mendengarkan suara beningnya. Seolah terhipnotis, mereka sampai tidak berpaling dari Bening. Rahmadi, duduk diantara orang-orang yang ada di restoran Ramayana. Duduk sendiri di meja paling pojok, Rahmadi bisa merasakan kesedihan Bening. Pria itu mengusap wajahnya, alarm penolongnya berbunyi keras. Rahmadi harus bisa menenangkan hati Bening yang bergejolak, walau pun ia tidak tahu apa yang membuat Bening menjadi sesedih itu. Bening telah menyelesaikan lagunya, namun hatinya masih diliputi kerinduan yang besar. Merasa tidak lagi sanggup bernyanyi dengan baik, Bening turun dari panggung lalu berjalan dengan kepala tertunduk. Kakak … lima belas tahun kita berpisah, tapi tak sehari pun aku bisa melewatkan hari tanpa merindukanmu. Kakak, sampai kapan kita terpisah? Kakak, kamu dimana? Aku membutuhkanmu. *** Hardy memandang langit tanpa bintang, mendung sedang bergelayut manja, menutupi sebuah bintang yang seharusnya bersinar bersama bulan. Tapi toh seandainya tidak mendung, bintang tetap saja tidak tampak karena gemerlap lampu kota menyilaukan mata, membatasi penglihatan sampai ke bintang. Bening, aku tidak pernah lelah mencarimu. Bertahanlah sebentar lagi. Aku pasti menemukanmu. Entah bagaimanapun caranya, aku pasti menemukanmu. Hardy mengeluarkan ponsel dari saku celananya, ia harus menghubungi Ari untuk mendapatkan laporan perkembangan pencarian adiknya. Hardy berjalan melewati trotoar yang gelap. Satu tangannya masuk ke kantong celana, sementara satu tangannya kembali sibuk menekan tombol panggil. Beberapa kali Hardy mencoba menghubungi Ari, namun sayangnya telepon tidak diangkat pria itu. Kemana dia? tanya Hardy dalam hati. *** Tulus duduk di kursi kebesarannya, sementara dua kakinya berada di atas meja. Ia memandang seorang pria jangkung, berkulit kuning langsat dan wajahnya cukup manis. Ia mendecih, pria semacam ini seharusnya sedang asyik tidur di ranjang bersama beberapa wanita yang melayaninya. Bukannya duduk di bar sambil mengawasinya. Ari, nama pria itu memandangnya dengan tatapan yang membuat Tulus kesal. Satu gerakan tangan dari Tulus, membuat tubuh Ari jatuh berlutut. Kedua lututnya membentur lantai cukup keras, sementara dua tangannya terikat di belakang punggung. Ari mengedarkan pandangan, selain pria yang duduk di kursi bak bos mafia. Ada seorang pria yang berdiri di sebelah pria itu dan ada dua pria lain yang ada di belakangnya, bertindak sebagai algojo sesuai perintah bos mereka. Ari mengangkat satu sudut bibirnya. Pekerjaan semacam ini baru sekali ini ia lakukan dan kejadian yang serupa dengan yang terjadi di film-film suspense yang ia tonton pun baru sekali ini ia rasakan. Sungguh luar biasa, inikah mimpi yang selama ini memenuhi kepalanya? Menjadi pencari orang yang hilang adalah pilihannya, namun menjadi tawanan seperti sekarang tidak masuk dalam semua rencananya. Hardy, kamu harus membayar mahal untuk semua ini. Bening harus menjadi milikku, kamu tidak akan bisa menolakku, saudaraku. “Apa yang sedang kamu cari, Anak muda?” tanya Tulus. Ia mengeluarkan sepuntung rokok dari saku jasnya, kemudian menyelipkannya ke bibir. Seorang pria yang berdiri di sampingnya mengeluarkan alat pemantik dan segera menyalakan rokok Tulus. Ari membuang muka, pria yang asyik duduk santai di hadapannya dengan sombong membuang asap rokok tepat di depan mukanya. Sungguh sialan pria itu! “Katakan padaku! Dimana Bening?” Ari tidak ingin membuang waktu, pria semacam ini bukanlah orang-orang yang suka bertele-tele. Baguslah! Karena Ari sendiri pun bukan tipe yang suka bertele-tele. Tulus menurunkan kedua kakinya, ia mencondongkan tubuh hingga jaraknya sedekat mungkin dengan wajah Ari. “Apa yang kamu inginkan dari gadis itu?” tanyanya. Ari menatap tajam mata Tulus, entah mengapa pria itu begitu melindungi Bening. Apa yang sudah gadis itu lakukan sampai sebuah organisasi mafia yang cukup terkenal karena kerapiannya, begitu melindungi gadis itu. Apakah Bening terlibat dalam aksi mereka? Pertanyaan itu tidak mampu ditutupi Ari. “Aku ingin…” Pintu tiba-tiba terbuka, membuat Tulus mengangkat tangan, sebuah kode yang membuat kalimat Ari terhenti, ia bahkan harus merasakan sakit luar biasa saat tubuhnya dibekuk hingga hidungnya nyaris bersentuhan dengan lantai. Seorang pria dengan memakai setelan jas hitam tiba-tiba masuk dengan tergopoh-gopoh. Pria itu berdiri di belakang Ari dengan napas terengah-engah. “Lapor Bos, Bowo mengirim Sardi menjemput gadis itu,” lapornya. Tulus terkejut, Bowo adalah penjahat kelas teri paling bodoh yang pernah ia temukan. Sudah tahu bagaimana Sardi begitu tega kepada anaknya, masih saja menyuruh setan itu menjemput Bening. Anjrit! Diantara beberapa anak buah Bowo, mengapa pria itu justru menyuruh Sardi k*****t itu. “Seret dia! Jangan lepaskan sampai aku kembali.” Tulus segera bangkit, ia keluar ruangannya meninggalkan Ari dengan dua anak buahnya. *** Sardi gembira bukan kepalang, sejak kepindahannya di tempat ini, Bowo sangat membatasi pertemuannya dengan Bening. Ia merindukan gadis itu, gadis yang kini secantik putri raja. Gadis yang membuatnya teringat pada Indah, saat wanita itu masih sangat muda dan membuatnya jatuh cinta pada kecantikan wanita itu. “Sudah lama sekali, Anakku.” Sardi terkekeh, entah sejak kapan, Sardi selalu terbayang-bayang akan keindahan tubuh anak gadisnya sendiri. Bening melotot, ia kesal bukan kepalang karena malam ini harus Sardi yang menjemputnya. “Kenapa … Ayah yang menjemputku?” tanyanya. Sardi tertawa mengejek, “Sudah lama kita tidak jalan berdua. Bening, sudah saatnya Ayah….” Bening meringsut, seluruh bulu kuduknya berdiri. Pindah ke tempat ini, Bening berpikir dirinya aman dari ayahnya tetapi mungkin ia salah, mungkin ia harus…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN