Rahasia Bening

1604 Kata
Bowo sibuk mengurus bisnisnya. Minggu ini ia benar-benar disibukkan dengan transaksi bisnis dengan nilai yang cukup menggiurkan. Menjadi pemasok gadis-gadis cantik di sebuah club malam besar, membuat Bowo harus memerintahkan salah satu anak buahnya untuk menjemput Bening. Ia hanya memiliki lima anak buah, Tulus, Sardi dan tiga anak buah lain yang harus menjaga rumahnya. Tulus, entah dimana pria itu hingga tidak menjawab teleponnya. Bowo pun tidak punya pilihan lain selain meminta Sardi untuk menjemput Bening. Duduk di loby sebuah hotel berbintang, Bowo sedang menunggu seorang kliennya. Bowo melambaikan tangan, meminta Sardi mendekatinya. Pria itu pun dengan segera mendekati Bowo lalu membungkuk untuk mendengarkan apapun yang dikatakan pria itu lalu melaksanakan perintahnya. “Jemput Bening sekarang! Kembalikan dia ke rumah, lalu cepat kemari!” Sebuah perintah yang membuat Sardi tersenyum. Awalnya Sardi menyangka Bowo menjauhkannya dari Bening. “Tentu, Bos.” Sardi mengambil kunci mobil Bowo. Ia berjalan sambil bersiul kecil, entah apa yang ada di dalam kepala kecilnya. Flash back ON Sardi duduk di kursi sambil mengamati Bening yang sedang sibuk menyapu lantai rumah mereka. Ia memandang anak gadisnya yang entah sejak kapan sudah berubah menjadi sosok seorang gadis yang cantik. Wajahnya masih terlihat polos, seperti anak-anak meski sudah berusia lima belas tahun. Dadanya sudah kian membesar, pinggulnya semakin menyempit dan p****t gadis itu terlihat berisi. Sesaat Sardi membayangkan bagaimana kenikmatan anak gadisnya, tetapi Sardi segera membuang pikiran itu. Ia boleh kejam, tapi ia tidak memangsa anaknya sendiri. Sesaat Sardi membuang muka namun pada akhirnya ia kembali memandang tubuh anaknya. Ia tidak bisa mengabaikan pemandangan indah yang sedang disuguhkan di hadapannya. Bening merasakan perasaan aneh yang kembali setiap kali ayahnya berada di rumah. Sinyal melindungi diri yang harus ia laksanakan setiap kali ia berduaan dengan Sardi. Bening menyelesaikan kegiatan bersih-bersih rumahnya lalu kemudian ia memilih berlari ke kediaman Bowo, alih-alih untuk berlatih vocal, sebenarnya Bening ingin menjauh dari Sardi. Tulus memandang heran kepada gadis itu, “kamu kenapa, Bening?” tanyanya saat melihat Bening datang dengan napas memburu, seolah habis dikejar hantu. Bening menggeleng, ia tentu saja tidak menceritakan kegelisahannya. Ia takut Tulus tidak memercayainya. Mana mungkin seorang ayah bisa bertindak tidak senonoh kepada anaknya? Tetapi entah mengapa Bening merasakan hal itu hanya dari cara Sardi memandangnya. “Cerita sama, Om! Kalau ada yang bisa Om bantu. Pasti Om bantu.” Tulus berharap gadis itu mau menceritakan apapun yang gadis itu rasakan. Bening terdiam, ia harus memikirkan jawaban yang pas untuk menjawab ucapan Tulus. Namun sebelum ia menjawab, Bowo datang bersama seorang gadis berambut merah yang sangat cantik sekali. “Ini anak baru. Tulus, urus dia!” setelah memberi perintah, Bowo segera masuk ke ruangannya. Bening memandang sosok cantik itu. Perempuan itu memakai baju mini berwarna biru muda, penampilannya nyentrik namun entah mengapa Bening merasa ingin berdekatan dengan perempuan itu. “Aku Sherly.” Perempuan itu mengulurkan tangan kepada Bening. Bening terkejut, baru sekali ini ada perempuan yang mau berdekatan dengannya. Perempuan-perempuan di orkes music biasanya memilih menghindarinya. Tapi mungkin saja Sherly juga akan menghindarinya, entah dengan alasan apa, Bening pun tidak tahu. “Aku … Bening.” Bening menjabat tangan Sherly. Perempuan itu tersenyum, begitu manis. Bening senang bisa berkenalan dengan Sherly. Flash Back OFF Sejak Sherly menjadi gundik seseorang, tidak ada lagi wanita yang menghangatkan ranjangnya. Setiap kali hasrat itu muncul, Sherly dengan segera memuaskannya. Kalaupun bukan Sherly, maka pasti ada gadis-gadis Bowo lain yang siap menemani malamnya. Tetapi kini Bowo tidak memberinya waktu membelai salah satu koleksinya. Perempuan-perempuan itu datang sebentar lalu berpindah ke tangan-tangan pria yang membayar perempuan-perempuan itu. Bisnis Bowo yang baru, benar-benar membuatnya sibuk dan tidak bisa menyenangkan dirinya. Sardi mempercepat laju kendaraannya, hasrat lelakinya tiba-tiba melambung dan kali ini ia harus mencari seseorang yang bisa meredamnya. Bening sudah tentu bisa membuatnya menikmati hidup. Sardi tahu anaknya masih sesuci saat gadis itu lahir. Pikiran Sardi kembali ke masa lalu, saat ia memandang bayi mungil yang telanjang di depan matanya. Ia ingin memandang bayi yang sudah menjadi gadis, telanjang seperti waktu itu. *** Rahmadi keluar restoran sesaat setelah Bening keluar beberapa waktu lalu. Ia ingin bergegas pulang dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Pria itu memandang sosok gadis idamannya berdiri mematung menghadap seorang pria yang sedang menyeringai. Jenis senyum yang bisa ia tebak maknanya. “Bening, ayah merindukanmu.” Tangan Sardi terangkat, hendak menyentuh pipi Bening namun gadis itu mengelak. “Ke … kenapa Ayah yang menjemputku?” Bening melirik ayahnya, ia mundur selangkah untuk menjaga jarak dari Sardi. “Ayolah, apa kamu tidak merindukanku? Bening, kemarilah, Ayah ingin memelukmu.” Sardi membuka kedua tangannya, bersiap menerima tubuh Bening dalam pelukannya. Tubuh Bening bergetar, ia tidak pernah berpikir akan merasakan perasaan seperti ini lagi. Sejak waktu itu, Bening sadar ayahnya adalah monster. Bening harus menyelamatkan dirinya sekarang atau ia akan sangat menyesal. Sardi tersenyum kecil, ia membayangkan Bening berada dalam kekuasaannya. Sepertinya nanti malam, ia akan menikmati malam yang indah dengan menyetubuhi seorang perawan. Sardi hanya sekali menikmati tubuh perawan dan itu sudah puluhan tahun lalu. Rahmadi berdiri di belakang Bening, pria itu siap memasang badan demi melindungi gadis itu. “Apa yang anda lakukan?” Rahmadi siap melayangkan beberapa jotosan kepada pria yang sudah membuat gadisnya gemetaran. “Kamu jangan ikut campur! Ini urusanku.” Sardi kesal, karena tiba-tiba ada pahlawan kesiangan yang siap mengganggu. Bening kembali mundur hingga tubuhnya menubruk tubuh Rahmadi. Gadis itu tanpa sadar mencengkeram lengan Rahmadi, mencari perlindungan dari pria itu. Jantungnya berdetak sangat cepat hingga suaranya terdengar di telinga. Ia mendongak, menatap Rahmadi untuk berkata ia ingin diselamatkan dari Sardi. Rahmadi menangkap makna tatapan Bening, “pergilah sebelum kamu menyesal!” Rahmadi kembali memandang Sardi, kali ini tatapannya seolah siap menerkam pria itu. Sardi terkekeh, mengejek ketidaktahuan Rahmadi, “aku ayahnya. Tanya saja sama … Shinta.” Sardi ingin tertawa terbahak-bahak. Jadi disini nama anaknya Shinta. Sepertinya Bowo memiliki rencana besar untuk anaknya. Mungkinkah Bowo menawarkan keperawanan anaknya dengan harga yang tinggi, disini? Kalau tidak, mengapa ada laki-laki yang mau repot-repot menentangnya demi Bening … maksudnya Shinta. Rahmadi memandang Bening, saat melihat kepala gadis itu semakin menunduk, Rahmadi tahu jawabannya. “Jadi … apa aku harus takut kepadamu hanya karena kamu … ayahnya?” Nyali Rahmadi tidak mudah menciut. Hanya karena ia berhadapan dengan ayah Shinta, bukan berarti Rahmadi harus tunduk ketakutan. Sardi terkejut, kedua matanya melotot. Pria di hadapannya benar-benar sialan, berani sekali ia menentang dirinya. Sardi mengamati sosok Rahmadi, pria itu tinggi, tubuhnya gagah dan dari penampilannya, Sardi tahu pria itu berduit, mungkin saja salah satu eksekutif muda yang suka gadis-gadis seperti Bening. “Apa kamu sudah membelinya?” Sardi hanya terbawa suasana, menanyakan sebuah hal yang tidak sepatutnya dipertanyakan. Air mata Bening menetes, perbuatan Sardi benar-benar biadab, tidak ada satu kebaikan kecil pun yang dibawa pria itu. “Dia … sudah membeliku. Tidak seharusnya Ayah menyentuhku.” Ia malu sekali, tetapi rasa itu justru memupuk keberaniannya. Rahmadi terkejut dengan jawaban Bening, apakah itu artinya Bening dijual? Apakah … Rahmadi mengusap wajahnya, saat ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan tentang penjualan gadis atau semacamnya. “Anda sudah jelas kan? Sekarang pergilah! Aku akan membawanya pulang.” Rahmadi menarik tangan Bening dan berjalan sambil menggandeng erat tangan Bening untuk menuju ke kediamannya yang tidak jauh dari restoran tersebut. Sardi masih terkejut dengan apa yang baru saja ia ketahui. Tetapi apakah itu benar? Jika benar, seharusnya Bowo tidak menyuruhnya menjemput Bening. Tapi mungkin saja Tulus yang sudah menerima transaksi ini dan belum dilaporkan kepada Bowo. Selama ini Bening dan Tulus sangat dekat, jadi bisa saja keduanya terlibat dalam kerjasama yang saling menguntungkan. Bisnis ini benar-benar membingungkan. Sardi merasa beruntung karena ia cukup cerdas dalam mengurai bagaimana Bowo dan Tulus, sama-sama punya andil dalam penjualan anaknya, tanpa melibatkannya sebagai ayah kandung gadis itu. Sardi yang sudah kehilangan gairahnya, hanya bisa kembali masuk ke mobil tanpa bisa melakukan apapun. Bening menarik tangannya dari genggaman Rahmadi. Ia ingin segera pulang ke rumah, lalu tidur sambil mengunci kamarnya. Ia menengadah, memandang malam pekat tanpa bintang. Angin berembus kencang, memainkan rambutnya yang tergerai panjang. Rahmadi memandang Bening lekat, ia tidak pernah menyangka bahwa gadis yang terlihat manis dan terlihat baik-baik itu ternyata hanyalah seorang w****************a. Wanita yang bisa diperlakukan apapun asalkan mendapatkan uang. Sungguh sebuah kejutan yang sangat mengejutkan sekaligus membuat masalah ini lebih mudah. “Berapa bayaranmu? Aku akan membayarmu dua kali lipat.” Rahmadi pastikan akan membayar Bening berapapun yang ia minta sampai ia bosan kepada wanita itu. Tetapi kini keinginan untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat Bening dengan cara menikahi perempuan itu, kandas sudah. Rahmadi bukan pria yang mau menikahi seorang tuna susila, menjadikan perempuan itu sebagai wanita simpanan, hanya itu pilihan Bening sekarang. Bagai tersambar petir, Bening tidak pernah menyangka Rahmadi yang kemarin bersikap dingin tapi manis itu kini tak ubahnya p****************g. Apakah hanya karena kata-katanya tadi, pria itu memandangnya serendah sekarang? Alih-alih Bening sedih, gadis itu justru tertawa terbahak-bahak. “Kamu salah jika menganggapku menjual diri. Aku tidak…” “Shinta.” Andra berada di dalam mobil dengan jendela terbuka, memandang ke arah Bening dan Rahmadi yang sedang adu tegang. Pria itu memberi Bening kode untuk masuk. Segera, Bening meninggalkan Rahmadi dan segera masuk ke mobil Andra. Mobil segera melaju setelah Bening sudah berada di dalamnya. Andra bersiul kecil, merasa memenangkan pertandingan dengan mudah. Shinta atau Bening, siapa yang menyangka perempuan ini … perempuan murahan. Andra melirik Bening, perempuan murahan harus diperlakukan sesuai levelnya. Andra tidak memanfaatkan gadis baik-baik, tapi ia bukan pria baik yang tidak melakukan sesuatu dengan perempuan, apalagi jika perempuan itu menjual dirinya. Kilatan petir saling menyambar, tidak berapa lama suara Guntur terdengar keras. Gerimis mulai datang, menemani perjalanan sebuah mobil yang akan membawa Bening ke babak terperih hidupnya. Bagaimana kisah selanjutnya? Silahkan baca besok ya….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN