Andra memandang Bening yang duduk sambil memeluk lututnya sendiri di balik selimut putih. Matanya memerah dan wajahnya sembab karena terlalu lama menangis. Seluruh tubuhnya menggigil akibat perpaduan rasa marah, benci, sedih dan kecewa dengan apa yang baru saja terjadi. Matanya bergerak menatap teman … bukan! Pria yang baru saja merenggut kesuciannya.
Pria itu telah merapikan pakaiannya, ia mengambil dompet dari celananya lalu mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dan diletakkan di tepi ranjang. Andra menyeringai, awalnya ia pikir Bening adalah gadis baik-baik. Kecantikan gadis itu membuat sesuatu bergetar dari hatinya. Sesuatu yang sangat mendamba gadis itu, memilikinya untuk direngkuh, setelah itu siapa tahu hatinya tertambat lalu menikahi gadis itu.
Tetapi setelah tahu kenyataan bahwa gadis itu hanyalah perempuan tuna susila, semua menjadi begitu mudah. Ia hanya perlu membayar gadis itu untuk memenuhi rasa penasarannya. Keinginan untuk memiliki Bening musnah sudah. Memangnya siapa yang mau menjadikan w****************a menjadi kekasih apalagi sampai dinikahi? Gila saja.
Andra pergi tanpa sepatah katapun, meninggalkan Bening seolah sepah yang telah habis disesap rasa manisnya. Ia merasa puas sudah menikmati tubuh ranum seorang perawan. Apa benar dia perawan? Bisa saja perempuan itu memasang kembali selaput daranya bukan? Jaman sekarang selaput dara pecah bisa dipasang kembali. Memalsukan keperawanan bukan hal yang sulit. Toh, Andra tidak peduli. Kecuali penyakit –tapi ia yakin tidak akan tertular penyakit, karena ia tidak bodoh dengan melakukannya tanpa alat pengaman—, ia yakin tidak ada resiko lain yang akan mempersulitnya, tidak peduli jika Bening kembali bekerja di restoran Ramayana.
Berjalan santai keluar dari sebuah hotel melati, Andra hanya geleng-geleng sambil mencibir Bening. Sudah jelas-jelas ia perempuan s****l, masih saja sok suci dengan melawan kenikmatan yang ia tawarkan. Seharusnya Bening merasa bahagia bisa menikmati malam bersamanya. Andra sang chef professional, yang tidak hanya handal dalam berjibaku dengan alat memasak tapi juga saat di atas ranjang. Semua wanita yang kenal dengannya akan berlomba-lomba menjadikannya kekasih, tapi perempuan sok suci itu … atau jangan-jangan Bening sudah terbiasa menjadi simpanan om-om miliyader sehingga ia menjadi tidak selevel dengannya? Andra tidak peduli, yang penting ia sudah puas.
***
Bening hanya bisa menangis tersedu, ia memandang ruangan yang telah menjadi saksi hilangnya harta berharganya. Kembali ia menangis sambil memandang tubuh telanjang dengan tanda merah yang bertebaran di seluruh tubuhnya. Tanda-tanda yang telah ditinggalkan Andra sebelumnya.
Hati Bening menjadi hancur, ia malu dengan apa yang baru saja terjadi. Kejadian yang tidak akan pernah ia lupakan, bukan karena perlakuan yang sangat kejam, tetapi ia tidak bisa berbohong jika ia sempat merasakan kenikmatan yang seharusnya tidak ia rasakan.
Ternyata aku tidak ada bedanya dengan perempuan-perempuan itu. Kenyataan itu menampar dirinya sendiri. Tetapi ia tidak mampu mengabaikannya. Ia menikmati lara yang ditusukkan ke dalam tubuhnya, ia menikmati hujaman yang menghancurkan hidupnya. Bening tergugu, ia benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri.
Bening memandang pakaiannya yang berceceran di hampir semua tempat. Bajunya yang koyak teronggok di atas sebuah meja yang ada di sebelah ranjang. Celana panjangnya, ada di dekat kaki ranjang dan yang paling menyedihkan adalah sepasang baju dalam yang juga sudah rusak teronggok sebelah bantalnya. Ia mengambil keduanya lalu meremasnya dan dijadikan sapu tangan untuk menghapus air mata.
Setelah merasa lebih tenang, kedua kakinya turun dari ranjang. Ia bangkit dan melepaskan diri dari balutan kain putih yang membelitnya. Memandang tubuhnya yang telanjang membuat amarah membludak tanpa bisa dicegah. Tubuhnya kotor, bahkan jauh lebih kotor daripada sampah yang ada di jalanan paling kotor sekalipun.
Bening berjalan gontai menuju kamar mandi, tidak memedulikan rasa perih yang ia rasakan di pangkal pahanya. Gadis yang kehilangan kegadisannya itu hanya ingin segera membersihkan tubuh kotornya bersama air mengalir. Berharap air bisa melunturkan noda yang telah ia terima dari seorang pria biadap yang pernah ia sangka sebagai pria baik yang tidak perlu ia khawatirkan.
Bening menyalakan shower, membiarkan air dingin menyiram tubuhnya hingga ia menggigil kedinginan. Ia mengambil sabun lalu mulai menyabuni tubuhnya. Awalnya begitu pelan dan begitu lembut namun lama kelamaan ia menggosok tubuhnya dengan brutal, hingga panas merajam kulitnya. Rasa kotor itu terlalu bandel, sabun mandi tidak cukup untuk membersihkan tubuhnya. Dengan putus asa ia terus menggosok kulitnya, hingga kulitnya memerah dan bercak-bercak merah nampak dari kulit putihnya.
Apa yang ia lakukan bukannya menghilangkan perasaan kotor, namun ia justru menghilangkan bukti atas kebiadaban seorang pria. Oh Bening yang malang, mengapa hidupnya tidak pernah lepas dari penderitaan.
Rasa perih kian terasa akibat luka baret yang ia dapat karena terlalu keras menggosok tubuhnya, hingga rasa itu menyadarkan dan menghentikan tindakan konyolnya. Noda itu tidak akan pernah bisa dihapus dengan mudah. Hanya Tuhan yang tahu, apakah noda itu benar-benar bisa dihapus atau justru meninggalkan goresan yang selamanya membekas dalam ingatannya.
Bening berjalan dengan langkah gontai, pakaiannya robek sana sini dan yang paling menyedihkan adalah sobekan besar pada baju bagian depannya. Gadis itu berjalan dengan dua tangan menyilang di depan d**a, menutupi buah dadanya yang tertutup bra yang tidak bisa dikaitkan sehingga ia harus menjaga agar tubuhnya tertutup dengan sepatutnya.
Sungguh perbuatan Andra tidak akan pernah ia maafkan. Bagaimana bisa pria itu dengan kejam, merenggut satu-satunya harta yang paling ia jaga, paling ia banggakan dan satu-satunya harta yang berharga.
Langkah Bening tertatih, terseok, luka pada pangkal pahanya tidak sebanding dengan luka yang ia rasakan di dalam hati. Bening menangis keras, suara isak tangisnya teredam bersama hujan yang sedang turun sangat lebat. Suara Guntur bersahut-sahutan, beradu bersama suara tangis gadis itu.
Jalanan sangat sepi, berjalan di trotoar yang gelap tidak membuat Bening takut. Lagipula apa yang ditakutkan gadis itu? Ia sudah bertemu dengan monster paling mengerikan. Setan bahkan raja iblis pun tidak akan membuatnya gentar.
Angin bertiup kencang, melambaikan dedaunan yang berasal dari pepohonan yang ada di sepanjang jalan itu. Ruko-ruko serta restoran yang ada di kanan kiri jalan sudah tertutup rapat. Hanya ada Bening seorang berjalan tertatih menyusuri trotoar sepi.
“Ibu … Ibu.” Bening memanggil nama ibunya berulang kali, seolah mendiang ibunya akan datang menjemput bila ia memanggil.
Bening menghentikan langkah, mendongak menantang hujan yang sedang menunjukkan kekuatannya. “AAARGGHHH….” Teriakan Bening dibalas oleh suara Guntur yang menggelegar, seolah menunjukkan siapa yang lebih kuat diantara mereka.
Bening menunduk, memandang kedua kakinya yang gemetar. Entah berapa jauh ia melangkah dan kemana ia akan pergi, Bening tidak lagi peduli.
Ibu, maafkan aku! Aku kotor, Ibu. Aku tidak bisa menjaga diriku. Ibu … bawa aku pergi bersamamu!
“Tuhan, mengapa harus aku yang mengalami semua ini? Mengapa harus aku?” Bening tergugu, serentetan kisah perih hidupnya berkelebat, menutupi setiap keeping kebahagiaan yang hanya beberapa.
Tuhan, apakah aku sudah boleh tinggal di alam kematian-Mu? Apakah aku sudah boleh meninggalkan dunia ini? Tuhan, aku benar-benar tidak sanggup lagi untuk hidup. Tuhan, sekali ini ijinkan aku mati. Aku mohon…
Bening duduk di tepi trotoar, memandang beberapa mobil yang melintas cepat menembus derasnya hujan. Ia kembali teringat Hardy, kakaknya. Meski bayangan itu samar, namun Bening masih ingat bentuk tubuh kakaknya. Hardy kala itu jangkung dan kurus, kulitnya gelap karena terbakar sinar matahari.
“Bening, nanti aku buatkan rumah yang besar dan akan kubuatkan kamar serba merah muda untukmu.”
“Bening, jangan takut! Ada aku yang akan menjagamu.”
“Kakak bohong! Kakak bohong! Kakak jahat! Kakak meninggalkan aku karena aku menyusahkan, iya kan? Aku bodoh karena percaya kamu, berharap suatu saat kita kembali bertemu. Tapi apa? Kakak menyuruhku menjaga diriku. Kakak menyuruhku jauh-jauh dari laki-laki selain Kakak. Tapi apa? TAPI APA, KAK? APA?” Bening kembali meraung, suara tangisnya begitu menyayat hati.
Bening bangkit, ia kembali memandang jalanan yang sedang lengang. Bahkan kematian seolah enggan menjemputnya, terbukti dengan beberapa kali ia mencoba membunuh diri namun toh pada akhirnya tetap selamat. Apakah Tuhan sedang mempermainkanku? Imannya yang hanya setipis kain sutra, sudah mulai koyak.
Bening yang malang, Tuhan tidak pernah membiarkan hambanya terluka tanpa ada obat yang bisa menyembuhkan. Bukankah sudah disebutkan di kitab suci-Nya, tidak ada penyakit yang tidak bisa sembuh selain kematian. Tetapi Bening hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Tetapi apakah Bening yang bersalah?
Kecantikan yang dimiliki Bening seharusnya menjadi sebuah anugerah, tetapi kecantikan itu justru seperti sebuah kutukan baginya. Kecantikan fisiknya selalu saja membuatnya bermasalah dengan makhluk bernama laki-laki, entah ke berapa kalinya ia menjadi obyek tak berharga dari makhluk itu. Entah berapa pria yang menganggapnya bisa dijadikan alat pemuas nafsu dan pada akhirnya ia benar-benar menjadi alat pemuas nafsu.
Kini, setelah apa yang ia jaga menghilang. Bening merasa sekotor sampah bau yang dibuang begitu saja. Ia sudah tidak lagi berharga. Ia sudah tidak ada bedanya dengan perempuan-perempuan pemuas nafsu yang dijajakan Bowo kepada pria-p****************g. Kini, tidak ada tempat lagi baginya selain tanah dan membusuk disana.
Sekali ini saja … sekali ini saja Bening akan kembali membunuh dirinya. Ia sedang melakukan sebuah taruhan dengan malaikat maut. Sekali ini saja, ia akan kembali membuat dirinya ada di ambang maut. Jika kematiannya tetap tidak diterima Tuhan. Ia berjanji tidak akan lagi membunuh dirinya.
Bening menunggu hingga ada kendaraan yang melintas, tidak ada debaran jantung yang kencang, tidak ada kegelisahan yang datang. Bening bertekad kuat untuk mengakhiri hidupnya.
Dua lampu terlihat kian lama kian membesar, sebuah mobil akan melintas dengan kecepatan tinggi. Bening segera melangkahkan kakinya ke tengah jalan. Tidak berselang lama kemudian, tubuh ringkihnya disambar oleh sebuah mobil van hitam dan membuat tubuh gadis itu terlempar hingga kepalanya terbentur aspal.