Keputus-Asaan

1638 Kata
Tulus segera pergi ke restoran Ramayana setelah tahu bahwa Sardi yang menjemput gadis itu. Perasaan Tulus tidak enak, entah mengapa ia merasa Sardi akan berbuat jahat kepada anaknya. Bisa jadi pria itu memukul atau lebih buruk lagi, Sardi bisa saja mencekik gadis itu, seperti yang pernah ia lihat sebelumnya. Pria sialan itu benar-benar harus ia bunuh dengan kedua tangannya sendiri jika ketahuan telah melukai Bening. Kali ini Tulus tidak bisa bersabar lebih lama, tidak peduli Sardi adalah ayah kandung Bening, ia tetap akan membunuhnya. Lebih baik Bening tidak bersama ayah kandungnya … tidak, gadis itu lebih baik hidup bersamanya dan bos besar di suatu tempat. Bukan dengan ayah yang seharusnya menjaganya, melindunginya dari hal buruk, bukannya menjadi mimpi buruk itu sendiri. Tulus membanting setirnya hingga menyerempet ujung batas trotoar, tepat di sebelah pintu masuk menuju restoran tersebut. Tidak peduli mobilnya berhenti di dekat pintu dilarang parkir, pria itu segera mematikan mesin mobilnya. Tulus segera melompat keluar dari mobilnya lalu berlari masuk ke restoran. Jam telah menunjuk angka setengah sebelas malam saat Tulus tiba. Restoran itu sudah tutup setengah jam yang lalu. Meski demikian, para pegawai restoran masih terlihat sibuk membereskan meja. Sesaat Tulus berhenti di depan pintu, ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru restoran namun Bening tidak tampak disana. Seorang pelayan laki-laki dengan rambut pendek berwarna coklat terang melihat kedatangan Tulus. Pelayan itu belum pernah bertemu dengan Tulus, mengira pria itu akan memesan makanan, ia mendekati Tulus. “Maaf, Pak. Restoran tutup,” ucapnya. “Apakah Shinta sudah pulang?” Tulus memandang pria yang sekilas seperti tokoh film drama Korea yang sering dilihat ‘anak-anak’ di rumah. Warna kulitnya putih, dengan satu tindikan di cuping kanan, hanya saja kulit pelayan itu tidak terlalu putih, sekalipun matanya sipit seperti aktor dari negeri ginseng tersebut. “Dia sudah pulang,” jawab pelayan sambil menelengkan kepala. Berpikir mengapa ada om-om yang mencarinya. Rupanya penyanyi itu benar-benar menjadi primadona pria. Sudah berapa banyak laki-laki yang tertarik kepadanya? Bukan hanya para bos yang masih muda, bahkan om-om pun ingin mendapatkan perempuan itu. Tulus menarik napas dalam, ia harus tahu dimana Bening sekarang, hanya untuk memastikan gadis itu sudah dalam perjalanan pulang seperti yang sudah seharusnya. Ia segera merogoh kantong celana, mengambil ponsel untuk segera menghubungi Sardi. Pria itu sangat tidak sabar, emosinya sedang melonjak drastis dan bisa meledak kapan saja. “Dimana Bening?” tanya Tulus sesaat setelah sambungan teleponnya diterima Sardi. Pria itu memutar tubuh, mendengarkan suara Sardi sambil memandang kegelapan malam dari pintu. “Dia tidak bersamaku. Lagipula, untuk apa kamu mencarinya? Aku ayahnya saja, santai-santai saja. Dia sudah besar.” Suara Sardi terdengar mencemooh Tulus. Tulus tidak menyukai cara Sardi memperlakukan putrinya. Pria itu benar-benar membuang keberuntungan yang seharusnya tidak disia-siakannya. Seandainya saja Tulus masih memiliki anak, ia akan melakukan apapun untuk membahagiakannya. “Dimana Bening, b*****t?” Tulus sedang tidak ingin bermain-main. Satu tangan pria itu terkepal, ucapan Sardi sepertinya merujuk pada kalimat Bening belum pulang. Seandainya ia tidak berbicara melalui telepon, Tulus pasti sudah menghajar pria itu sampai Sardi menyesal sudah bertemu dengannya. “Gadis itu sudah dibeli seseorang. Bos sudah menjualnya.” Suara Sardi begitu tenang, seolah anak gadisnya dijual hanya untuk dimanja dengan segala kemewahan, bukan diambil sari-sarinya lalu dilempar ke jalan setelah sudah memuaskan majikannya. “Apa?” Tulus sudah tentu berang bukan kepalang. Bagaimana mungkin Sardi dengan begitu entengnya berkata bahwa Bening sudah dijual. Tulus memicingkan mata, berpikir apakah benar Bowo akhirnya melepas anak itu padahal ia masih ingat betul bagaimana Bowo bertingkah seolah seorang ayah bagi Bening. Di seberang sana, Sardi memandang layar telepon sambil mencibir. Mengapa Tulus bertingkah konyol dengan berpura-pura menjadi ayah bagi anaknya. Ia sendiri saja tidak peduli dengan kehidupan anak itu. Sardi berpikir beberapa pria kesepian bisa bertindak konyol, seperti Tulus yang begitu serius memerankan perannya, seperti seorang pria menyamar menjadi waria demi bisa menghasilkan uang dari mengamen di jalanan. Sardi enggan berbicara lebih lama lagi, ia menutup sambungan teleponnya dan kembali menikmati keindahan dunia bersama seorang wanita yang sudah memberikannya diskon untuk melakukan sesuatu selama semalam penuh. Hari yang indah bukan? “Sardi. Sardi. Sialan, b*****t, setan. Setan. Setan!” Tulus meledak, ia melempar ponselnya karena kesal. Layar ponsel itu pecah, tutup dan baterainya lepas. Ia terengah-engah, kemarahannya membuat Tulus tidak berpikir panjang. Setelah melihat ponselnya rusak, Tulus baru sadar ia masih membutuhkan ponsel tersebut. Tulus memandang pelayan yang sejak tadi berdiri terpaku, memandang Tulus yang marah seperti orang gila. “Pinjami aku HPmu!” Tulus menadahkan tangan pada pelayan laki-laki itu. Pria itu terlalu heran hingga ia masih tercenung di tempatnya, namun sebuah pelototan membuatnya segera tersadar. Dengan cepat pelayan itu merogoh saku dan sebelum ia menyerahkan ponselnya yang dengan segera direbut oleh Tulus. Tulus segera menghubungi Bowo, meski ia tak yakin akan tetapi ia berharap Bening ada bersama Bowo sekarang. Sembari menunggu sambungan teleponnya diangkat, Tulus berjalan mondar-mandir untuk meredam emosinya sendiri. “Halo, Bos. Apa Bening sudah pulang?” Tulus yang kesal sudah melupakan sopan santun yang seharusnya ia jaga. Tapi peduli setan, sekarang yang berputar di kepalanya hanyalah Bening seorang. “Seharusnya dia di rumah sekarang. Aku sudah menyuruh Sardi menjemputnya.” “JA***K.” Tulus mengumpat dengan kata paling buruk dalam bahasa Jawa-Surabaya, ia menekan kuat-kuat layar ponsel –alih-alih menutup sambungan telepon—. Tulus kembali menekan nomer sebelum menempelkan layar ponsel ke telinga. “Kepada siapa anakmu kamu jual?” Tulus langsung menodong pertanyaan itu tanpa tedeng aling-aling kepada Sardi. “Bukan aku yang jual, asal kamu tahu.” Sardi kesal tentu saja, kegiatannya kembali diinterupsi oleh makhluk kucel besar sok pahlawan bernama Tulus. “HEI, IBLIS. KAMU JUAL KEPADA SIAPA ANAKKU?” Tulus benar-benar kesetanan. Sardi tidak sadar hidupnya sedang ia pertaruhkan, jika sekali saja Sardi tidak menjawab pertanyaan Tulus, entah apa yang bisa Tulus lakukan kepada pria itu. “Aku tidak tahu. Seorang pria kaya sudah menjemputnya di restoran saat atku disana. Sekarang jangan ganggu aku!” Sardi mematikan sambungan teleponnya, tak lupa ia matikan ponselnya agar Tulus tidak kembali mengganggunya. Tulus kesal, ia hendak melempar ponsel itu namun sang pemilik ponsel sudah melotot sambil menelan ludahnya. Melihat pelayan itu, Tulus tersadar, ia melempar ponsel kepada pemiliknya, membuat sang pemilik terkejut dan segera menangkap ponselnya. “Apa kamu tahu siapa yang bersama Bening … maksudku Shinta?” tanya Tulus kepada pelayan tersebut. Pelayan itu tidak yakin, ia meminta bantuan dari teman sesama pelayan yang ada di sekitar restoran. “Tadi dia sama Andra,” ucap seorang pelayan wanita yang ada di dekat jendela. “Siapa Andra?” Bukankah Sardi sudah menjual Bening ke Rahmadi, tapi mengapa gadis itu pergi bersama Andra. Apakah Sardi berbohong kepadanya? Nanti setelah menemukan Bening, Tulus berjanji tidak akan melepaskan pria itu. Tulus menatap tajam pelayan wanita tersebut, membuat wanita itu menelan ludah susah payah hanya karena sebuah tatapan tajam dari seorang pria yang tak ubahnya seperti bos mafia. Mendengar keributan di restorannya , Arjuna segera keluar dari ruangannya. Ia melihat Tulus, pria yang sering mengantar jemput Bening selain Bowo. Ia heran, mengapa orang itu marah-marah disini. “Maaf, Pak. Apa ada yang bisa kami bantu?” Arjuna bersikap ramah, selayaknya seorang pemilik restoran kepada para pelanggannya. “Siapa Andra? Dimana aku bisa menemukannya?” Tulus yang sudah seperti singa jantan mengamuk, tidak mengindahkan ucapan Arjuna. Ia hanya ingin menemukan keberadaan Rahmadi dan membunuh pria yang sudah berani membeli Bening. “Andra? Memangnya ada apa dengan dia?” Arjuna tidak mengerti arah pembicaraan Tulus, ia mengerutkan kening karena penasaran. “Katakan saja atau kamu akan menyesal!” Arjuna terkejut dengan sikap Tulus yang tidak seperti biasanya. Ia ingin bertanya lebih banyak namun ia urungkan niat. Arjuna menuliskan alamat serta nomer telepon Andra dan menyerahkan kertas itu kepada Tulus. Tulus menarik kasar kertas itu, tak lupa menghadiahi pelototan ke arah Arjuna. “Jangan pernah macam-macam dengan Shinta. Atau kubunuh kau dengan kedua tanganku!” Sebuah ancaman keras sebelum Tulus meninggalkan restoran dengan Arjuna yang terbengong-bengong. Tulus segera kembali ke mobilnya, dengan bantuan dari Arjuna. Ia mencari keberadaan Andra di kediaman pria yang kebetulan sangat mudah dicari. Dengan kecepatan penuh, Tulus memacu kendaraannya. Jalan-jalan sudah lengang, ditambah hujan lebat membuat Tulus dengan mudah menembus jalanan hingga tidak perlu waktu lama baginya untuk menemukan sebuah gedung apartemen dimana Andra tinggal. Tidak sulit bagi Tulus untuk menerobos keamanan apartemen, hanya dengan melempar beberapa ratusan ribu, dengan mudah ia mendapatkan ijin masuk. Setelah menemukan letak apartemen Andra, pria itu menekan bel berkali-kali hingga sosok pria dengan rambut berantakan membuka pintu apartemennya. “Siapa yang…” Ucapan Andra tidak selesai. Tulus segera menerobos masuk dengan sebuah cengkeraman kuat di leher Andra. Pria itu terkejut, tubuhnya mundur beberapa langkah hingga terjerembab di sofa merahnya. “Dimana Shinta?” Tulus masih mencengkeram leher Andra, membuat pria itu kesulitan bernapas dan kulitnya seketika memerah. “Ak … aku. Tti .. ddak … aku tahu … tolling … lepas … kan.” Cengkeraman tangan Tulus membuat Andra kesulitan bicara tetapi sekaligus membuat nyali pria itu menciut. Tulus melepaskan pria itu, hanya untuk sementara. “Katakan dimana Bening?” Tulus melirik jijik ke arah Andra. Ia yakin dimana pun Bening sekarang, sudah pasti kondisi gadis itu tidak baik-baik saja. “Dia … di hotel melati.” Andra menggosok lehernya yang masih terasa panas. Hotel melati katanya? Tulus meradang, ia kembali menyerang Andra dan memukuli wajah pria itu secara membabi buta hingga Andra tidak lagi bergerak, entah apakah pingsan atau sudah mati, Tulus tidak peduli. Tulus mengambil ponsel Andra untuk menghubungi seseorang. “Kirim orang ke apartemen bintang! Urus orang ini, hilangkan jejaknya!” Setelah memutuskan sambungan telepon, Tulus kembali memukul wajah Andra yang sudah tidak berdaya. Setelah puas, Tulus meninggalkan tubuh Andra yang terkapar di atas sofa. Tidak ada hadiah yang paling pantas didapatkan pria yang sudah merusak Bening, selain kematian. Tidak peduli darah Tulus tidak mengalir di dalam tubuh gadis itu. Tulus merasa, dialah pria yang lebih pantas menjadi ayah Bening. Bening, anakku. Tunggu aku!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN