Bening merupakan bagian dari sindikat penjualan manusia dan sudah jelas gadis itu bukan korban. Namun jika bukan, itu artinya gadis itu merupakan anggota sindikat, karena jika bukan maka seharusnya gadis itu sudah tidak ada disini. Ataukah gadis itu baru ditangkap dan melakukan sebuah tindakan untuk melepaskan dirinya dari sindikat tersebut, sekalipun dengan cara kematian?
Ari jongkok di tepi pintu, memikirkan Bening dan hubungannya dengan sindikat ini. Wajah Ari babak belur setelah dihajar oleh orang-orang yang ia yakini merupakan bagian dari sindikat dimana Bening berada. Pelipisnya robek akibat tergesek cincin dari seseorang yang memukulnya. Bibir kanannya berdarah, juga dari pukulan yang ia dapatkan. Beberapa bagian tubuh lainnya menderita memar, setelah menjadi bulanan anak buah Tulus. Lebih buruk lagi, ia disekap di sebuah ruangan pengap, dengan luas yang hanya dua kali dua meter, berbau pesing dan bau kotoran tikus membuat perutnya bergejolak.
Baru beberapa jam yang lalu Ari dilempar ke ruangan ini namun beberapa menit yang lalu ia baru sadar dari pingsannya. Sial sekali, pria-pria itu benar-benar membuatnya terluka cukup parah. Menyangkanya antek polisi, menjadikannya tahanan entah untuk berapa lama.
Ari berusaha menepis rasa sakit yang ia rasakan di sekujur tubuhnya. Ia memandang ruangan dimana ia disekap. Ruangan itu kosong, dingin dan sebuah jendela kecil tidak akan mampu memasukkan cahaya cukup, itulah mengapa ruangan itu terasa lembab dengan bau yang menjijikkan.
Ari berdiri, ia mengitari ruangan kosong dan memaksakan matanya untuk mencari-cari sesuatu dari lantai yang hanya dari tanah. Dengan dua kaki digesek bergantian, Ari berusaha mencari sesuatu yang akan membantunya keluar dari ruangan itu, namun tidak ada apapun di tempat itu.
Ari menghela napas berat, ia memandang jendela yang sayangnya diteralis, sudah jelas tempat ini memang diciptakan untuk menyekap seseorang, tidak ada cela untuk bisa melarikan diri. Sial!
Ari kembali mendekati pintu, meski ia tahu pintu terkunci namun ia tetap memutar gagang sambil menariknya, berusaha membuka paksa pintu yang terbuat dari kayu yang sudah mulai lapuk termakan usia. Ari mengeluarkan seluruh tenaganya, urat-urat lehernya mencuat, rahangnya mengeras dan gigi-geliginya bergemelutuk. Hanya jalan ini yang bisa ia ambil, soal berapa banyak pasukan diluar, itu urusan nanti.
Tangan Ari sudah terasa panas, gagang pintu mulai mengendur hingga akhirnya bisa dibuka. Ari bernapas lega, kali ini yang harus ia lakukan adalah keluar dengan hidup-hidup. Perlahan ia melangkah tanpa suara, meninggalkan sebuah ruangan besar dengan ruangan-ruangan lain yang tertutup rapat. Dengan mengendap-endap, Ari keluar dari ruangan itu menuju ruangan lain yang terdapat satu set meja kursi dengan dua orang penjaga sedang asyik menonton dari sebuah laptop.
“Apa gadis itu bunuh diri lagi?” tanya seorang penjaga yang mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna merah putih.
“Bos hanya berkata, gadis itu kecelakaan … aku tidak tahu kenapa Bos sangat memerhatikan anak itu.” Penjaga lain heran dengan sikap bosnya sendiri. Bening tidak memiliki andil dalam bisnis bosnya, juga tidak memiliki ikatan darah namun entah mengapa bos besar dan bos kecil mereka yang tak lain Tulu situ sangat menyayangi gadis itu.
“Mungkin karena kasihan. Gadis itu … disiksa ayahnya dari kecil. Kamu masih ingat waktu mereka manggung kemarin? Pantas saja dia sering bunuh diri. Mungkin itulah yang membuat bos kasihan,” kata penjaga yang memakai kemeja kotak-kotak.
Sesaat Ari mendengarkan dua penjaga yang sedang asyik mengobrol seperti wanita hingga ia merasa lega karena Bening menemukan tempat aman di sebuah tempat yang seharusnya tidak membuatnya nyaman. Dunia benar-benar ajaib bukan?
Seorang penjaga menyadari kehadiran Ari yang pundaknya terlihat sebagian di balik pintu yang tidak tertutup rapat. Penjaga itu segera bangkit lalu mengajak penjaga lainnya untuk memeriksa. Keduanya berjalan cepat, bersiap membekuk Ari dan kembali melemparnya ke ruang pengasingan.
Setelah di depan pintu, seorang penjaga membuka pintu tersebut secara perlahan namun ia sangat terkejut karena pintu ditarik dan sebuah jotosan melayang, mematahkan tulang hidungnya hingga Ia jatuh terduduk. “Sialan!” umpatnya.
Penjaga lain terkejut namun ia segera menyerang Ari. Pria itu meninju Ari namun dengan mudah Ari mengelak pukulan itu. Ari membalas melayangkan sebuah pukulan yang ternyata juga mampu ditepis dengan mudah. Keduanya saling memukul namun sekaligus saling mengelak serangan hingga akhirnya Ari menyodok perut penjaga dengan lututnya, membuat penjaga itu menekuk badan untuk meredam sakit yang segera menyebar di seluruh bagian perutnya. Ari kembali menendang perut penjaga itu dengan lututnya dan menyikut punggung penjaga dengan sikutnya. Penjaga itu ambruk seketika.
Ari berpindah menatap pria yang kini sudah berdiri sambil menyentuh hidungnya. Ia mencengkeram leher pria itu hingga tubuh penjaga itu menubruk dinding. Penjaga menjadi kesulitan bernapas karena pasokan oksigen tertahan oleh cengkeraman kuat Ari.
“Dimana gadis itu?” Ari tidak ingin membuang waktu lama. Ia harus menemukan Bening dan membawanya kepada Hardy.
“Tidak semudah itu.” Lebih baik mati daripada membocorkan rahasia. Aturan pertama, membocorkan rahasia lalu mati tanpa warisan untuk keluarganya atau mati dengan membawa rahasia yang ia ketahui dan meninggalkan warisan yang tak sedikit untuk keluarganya.
Penjaga itu terkekeh, tanpa sadar ia memberitahu Ari bahwa apa yang ia lakukan sia-sia. Ari tidak bodoh, bahkan sebuah kelompok kecil kriminal kelas teri saja tidak akan dengan mudah membagi rahasia mereka, apalagi mereka. Ari melepas penjaga itu sebelum mendapat kejutan seperti diberondong peluru atau setidaknya dikeroyok dan dihajar sampai tidak ada sisa dari tubuhnya.
Ari masih mencengkeram leher penjaga itu sambil menggeledah saku celana. Ari merasakan sesuatu ada di dalam kantong celana pria itu, ia segera mengambilnya. Sebuah kunci mobil yang sangat ia butuhkan. Ari menghadiahi sebuah pukulan kuat di rahang penjaga itu hingga membuatnya tidak sadarkan diri lalu ia melangkah keluar begitu saja.
***
Tidak ada angin, tidak ada hujan yang menembus rumah mewah Hardy, tiba-tiba lukisan Bening yang tergantung di dinding kamarnya terjatuh. d**a Hardy pun tiba-tiba nyeri dan sesaat ia merasa mendengar jeritan Bening memanggil namanya. “Bening!” Hardy menekan dadanya, ia bahkan jatuh berlutut setelah dua kakinya tiba-tiba gemetar dan melemah seolah tidak ada tulang di dalam kedua kakinya. Ia pun merasa sebagian hatinya menghilang, pertanda apakah ini?
Keinginan untuk mencari Bening kembali menyeruak dan kini jauh lebih besar daripada sebelumnya. Seperti ada dorongan kuat untuk segera berlari keluar, mencari dengan cara apapun dan harus … harus menemukan Bening sekarang juga.
Hardy lelah menunggu orang-orang yang ia sewa untuk menemukan Bening, ia juga lelah menunggu Ari. Selebaran, iklan di berbagai media massa, polisi bahkan jasa pencarian anak hilang sudah dikerahkan, tapi tetap saja hasilnya nihil. Apakah benar Bening masuk ke sebuah sindikat perdagangan manusia, seperti yang pernah ia dengar? Lalu bagaimana cara mencari adiknya, jika kabar itu benar? Seharusnya ia bisa mempercayai Ari yang sudah tentu lebih tahu cara mencari adiknya. Tetapi ia tidak bisa berpangku tangan.
“Aku harus mencarinya dari awal.” Dimulai dari tempat dimana ia dan Bening berada.
Hardy bergegas, tidak peduli usaha yang sudah ia kembangkan di kota ini. Ia harus kembali ke Solo, ke kota yang memberinya kenangan indah sekaligus pahit. Kota kecil yang memberinya sebuah luka besar … kehilangan adiknya, sebagian jiwanya.
Ari mengepak pakaiannya, ia tidak membutuhkan banyak barang untuk pindah. Ia akan memulai hidup baru, kali ini ia hanya fokus pada pencarian Bening. Memang terlambat, tetapi setidaknya sekarang Hardy memiliki kekuatan untuk mencari adiknya. Ia memiliki uang untuk membantunya, ia bisa membeli koneksi jika diperlukan dan apa yang tidak bisa didapat dengan uang … selain adiknya. Hardy akan mempertaruhkan seluruh kekayaannya untuk menemukan gadis itu.
Hardy keluar rumahnya, meninggalkan mobil yang tetap berada di garasi. Ia memilih kendaraan umum, berharap dengan jalan ini ia bisa menelusuri jejak Bening. Walau setiap langkahnya diiringi keputus-asaan namun Hardy berusaha kuat untuk menepisnya.
Sejak lima belas tahun lalu kamu sudah melakukannya, apakah kamu menemukan adikmu dengan cara ini? TIDAK. Bisikan itu kembali terngiang di telinganya, namun dengan segera Hardy menggeleng cepat untuk menepisnya.
Hardy ke terminal Purabaya, memandang seluruh terminal dengan pandangannya. Berharap ada sosok Bening ada disana, entah seperti apa rupa gadis itu? Tetapi seharusnya ia bisa mengenali cirri fisik adiknya. Bening selalu terlihat feminim, Bening suka sedikit menelengkan kepala saat berbicara, Bening suka menautkan kedua alisnya saat berpikir. Semua hal yang mengingatkan akan gadis itu ditanam kuat oleh Hardy dalam pikirannya. Kali ini ia berusaha mengoreknya dan memadu padankan pada semua orang yang ia temui, yang selama ini selalu saja membuatnya meragu. Tidak ada orang yang memiliki gaya seperti Bening, ataukah Bening sudah berubah? Lima belas tahun, waktu yang cukup lama dan siapapun bisa berubah termasuk Bening.
Hardy memutuskan masuk ke dalam sebuah bis yang malam ini tidak terlalu ramai. Duduk di baris paling belakang, Hardy berharap ada seseorang masuk dan orang itu adalah Bening. Namun hingga bis bergerak, tidak ada siapapun yang masuk. Sementara orang-orang yang ada di dalam bis, jelas bukan Bening.
Selama perjalanan itu, Hardy terus memutar rekaman tentang Bening. Semua kisah manis bersama adiknya, membuat air matanya meleleh dengan mudah. Hardy, harus menderita di tengah kesuksesan yang ia dapatkan. Semua karena Bening, adik yang sangat ia sayangi.
Bis sudah memasuki terminal dimana lima belas tahun lalu, Hardy melihat Bening melambaikan tangan. Lambaian tangan dan senyum terakhir sebelum keduanya terpisah. Mengingat hal itu, Hardy menarik napas panjang lalu berjalan keluar dari terminal dengan sepasang mata memandang setiap orang yang ada disana. Lagi-lagi ia memadu padankan kebiasaan Bening, siapa tahu ada gadis yang memiliki kebiasaan seperti Bening dan dia benar-benar Bening yang ia cari.
Hardy melangkah pelan, menyusuri jalanan yang akan mengantarnya ke tempat yang dulu pernah ia tinggali bersama Bening. Apa kamu tidak pernah ke tempat kita, Bening? Aku sudah membelinya, aku tidak membongkarnya agar kamu bisa menungguku disana. Seperti yang kuminta sebelum kita berpisah. Bening, harusnya kamu menungguku disana!
***
Di dalam sebuah ruang oprasi, Bening dengan peralatan yang terpasang di tubuhnya, hidupnya sedang diperjuangkan. Seorang ahli bedah saraf sedang melakukan tindakan penyedotan darah yang menggenangi otak perempuan itu.
Apakah Bening dan Hardy masih memiliki harapan untuk bertemu? Baca kelanjutannya ya