Pria Berhati Ayah

1619 Kata
Tulus bergegas ke rumah sakit daerah dimana Bening dirawat disana. Dari salah satu anak buahnya, Tulus tahu bahwa kondisi Bening sangat kritis. Kecelakaan itu membuat gadis itu harus menjalani oprasi yang rumit dan hanya Tuhan yang bisa menyelamatkan nyawa perempuan itu. Duduk di selasar rumah sakit, di dekat pintu kamar operasi. Tulus duduk di atas lantai sambil memeluk lututnya sambil berurai air mata. Ia merasa seperti kembali ke masa-masa saat anaknya dioperasi dan meninggal di tempat itu. Tuhan, jangan ambil nyawanya! Kalimat itu bagai mantra yang terus ia ucapkan. Pria itu tiba-tiba mengingat Tuhan yang selama ini sudah ia lupakan. Bening, harus hidup. Gadis itu ada untuk menyelamatkan hidupnya. Gadis itu bagai air yang menyirami hatinya yang telah mati. Gadis itu ada untuk memberinya arti. Tulus yang pernah kehilangan semangat hidup akhirnya mendapatkan semangat dan semua itu berkat Bening yang selalu ada di saat ia kesepian. Tulus memejamkan mata, ingatan akan awal perjumpaan dengan Bening kembali terekam di ingatannya. Saat ia berada dalam jurang kesedihan. Saat-saat dimana hidup serasa tidak berarti. Beberapa tahun lalu. Tulus duduk di teras sambil memandang sebuah foto anak serta istri yang telah meninggal karena sebuah kecelakaan lalu lintas merenggut mereka beberapa hari yang lalu. d**a Tulus masih terasa sesak, kejadian itu adalah sebuah mimpi buruk yang tidak pernah ia duga sebelumnya Tulus kehilangan gairah hidup. Untuk apa ia mencari nafkah jika anak istrinya sudah tidak lagi ada bersamanya? Ia sangat menyesali atas apa yang terjadi. Selama ini, ia mengabaikan anak istrinya, tidak peduli dengan keduanya. Baginya, asalkan semua kebutuhan materi keluarganya tercukupi, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga tidak ada waktu luang untuk sekedar makan bersama ataupun sekedar bercengkerama. Saat istri dan anaknya pergi untuk selamanya, Tulus baru menyadari arti keduanya dalam hidupnya, namun sesal tiada guna. Yang meninggal tidak akan bisa hidup lagi. Andai waktu bisa diputar, Tulus tidak akan pernah menyia-nyiakan waktu hanya untuk bekerja. Tulus menarik napas dalam lalu menghapus air mata yang sudah memupuk di pelupuk matanya. Seorang gadis kecil tiba-tiba duduk di sebelahnya, ia memandang foto sambil menelengkan kepala. Pandangan gadis itu beralih kepadanya. “Kenapa, Om menangis?” tanya gadis itu. Tulus terkejut, ia memandang seorang gadis yang mungkin seusia putrinya. Anak perempuan itu terlihat manis dan menggemaskan, sama persis seperti anak perempuan yang kini telah tenang di tempatnya. “Om, tidak apa-apa.” Tulus menghapus air mata, ia tersenyum kepada gadis cilik yang kini tengah memandang foto yang ada di tangannya. “Mereka … istri dan anakku.” Tulus kembali memandang foto, air mata kembali terpupuk namun segera ia mengusap dengan punggung tangannya. “Apakah … mereka pergi? Apakah karena itu, Om menangis?” Kedua alis gadis itu bertaut, terlihat jelas bahwa gadis itu sangat penasaran. “Tidak … mereka … meninggal.” Suara Tulus parau, meski ucapannya benar, tetapi Tulus berharap kedua orang yang ia sayangi tidak benar-benar meninggal. “Ibuku juga sudah meninggal. Ibuku sudah ada di surga. Surga itu indah … sekali. Seharusnya, o*******g karena istri dan anak Om sudah ada di tempat indah.” Ucapan lugu seorang gadis itu membuat hati Tulus bergetar. Sesaat Tulus terdiam, mungkin gadis itu benar. Semasa hidup, anak dan istrinya selalu berbuat baik. Sekalipun ia pria b******k yang memilih bekerja di bawah bos besar dan Bowo, namun ia tahu betul anak istrinya tidak pernah bertingkah macam-macam. Dosa besar itu hanya ia yang menanggung, memberi makan haram bagi orang tercinta yang selama ini menganggap Tulus seorang pengusaha kecil. “Siapa namamu, Nak?” Anak itu membuat hatinya menghangat. Perasaan senang menyeruak di dalam hatinya, rasa sayang itu tumbuh begitu saja. Mungkin kehilangan orang yang ia sayangi, membuatnya mencari orang lain untuk ia sayangi. “Namaku Bening ... Nama, Om siapa?” Anak itu mengerutkan dahi, membentuk ekspresi yang sangat menggemaskan. “Nama, Om. Tulus.” Tulus menyerahkan tangan kanannya, dengan segera disambut jabatan kecil namun sangat hangat. Anak gadis yang cantik itu telah merebut hatinya. Membuat Tulus merasa memiliki secercah kebahagiaan, ia berharap selamanya bisa dekat dengan gadis kecil itu. Kembali ke masa sekarang Setelah penantian panjang, seorang dokter keluar dari ruangan operasi. Tulus segera melompat dan mendekati dokter itu. “Bagaimana kondisi anak saya, dokter?” tanyanya. Dokter yang masih mengenakan seragam operasi tersebut menepuk pundak Tulus. “Operasi berhasil, tetapi kita masih harus menunggu sampai masa kritisnya selesai. Berdoa saja, Pak. Maaf, saya masih ada pekerjaan.” Dokter itu pergi dengan meninggalkan kelegaan, walau sesaat. Tidak berselang lama, sebuah brangkar didorong dua orang berseragam operasi. Tulus melihat seorang gadis cantik dengan sebuah alat yang terpasang di mulutnya, terbaring lemah disana. Tulus mengikuti brankar Bening yang didorong cukup cepat menuju sebuah ruang ICU dimana Tulus tidak bisa masuk kesana. Sekali lagi Tulus dihadapkan pada penantian panjang yang entah berujung kemana. Berhari-hari Tulus menghabiskan waktunya di ruang tunggu yang ada di depan ruang ICU. Pria itu tidak pernah meninggalkan tempatnya, seolah tubuhnya terpaku disana. Tidak ada yang bisa menggantikan pria itu, karena memang ia tidak mau melakukannya. Bowo maupun bosnya yang lain pun tidak bisa memaksanya. Tulus, benar-benar seperti seorang ayah yang sedang menunggu putrinya. “Kepada keluarga Nona Bening, silahkan menuju lobi ICU. Sekali lagi, kepada keluarga Nona Bening, silahkan menuju lobi ICU. Terima kasih.” Tulus terkejut, ia segera berlari ke lobi ICU dan menemui petugas yang berjaga. “Saya ayahnya Bening. Bagaimana putri saya?” Tulus benar-benar tidak sabar. “Putri anda bisa dipindahkan ke ruang inap. Sekarang, mohon Bapak menandatangani surat-suratnya!” Petugas menyerahkan sebuah berkas. Kali ini Tulus bisa tersenyum lebar, ia bahagia sekali karena Bening bisa lolos dari maut. *** Seorang pria baya berjalan bersama beberapa pengawal bertubuh setegap Tulus, berada di belakangnya. Mengetahui Bening sudah dipindah ke ruang inap, ia segera ke rumah sakit untuk menjenguk perempuan yang sudah ia anggap sebagai cucunya. Pria itu hanya pernah bertemu Bening sekali di pemakaman, namun demikian hatinya telah tertambat kepadanya. Anak perempuan itu sejatinya akan diangkat anak oleh putrinya, tetapi Bowo menolak dan anaknya memilih jalan mengakhiri hidup karena tidak mampu menerima kepergian putri kandungnya. Air mata Bening yang meleleh selama proses pemakaman selalu menghantui tidurnya, membuat pria itu akhirnya menyerah setelah mengetahui ternyata Bening pun sempat memilih mengakhiri hidup seperti yang dilakukan putrinya. “Bagaimana kondisinya?” Pria itu memandang Tulus sebelum memandang gadis yang terlihat sedang shock berat. Tulus tidak membalas, hanya menggeleng lemah sambil menahan diri untuk tidak menitikkan air mata. Sungguh malang nasib Bening, hidupnya begitu susah dan semua itu karena Sardi. Pria yang seharusnya menjadi ayah justru melakukan hal paling keji kepada sang buah hati. Tulus merasa harus membuat pria itu menyesal telah menyia-nyiakan Bening. Dokter meminta Bening mengangkat tangannya, namun gadis itu sama sekali tidak bisa menggerakkan tangan kecuali jari jemarinya, itupun sangat lemah. Tubuhnya seolah memiliki pikiran sendiri, tidak mau bekerja sama dengan dirinya. Tidak hanya tangannya, tetapi kedua kakinya pun tidak bisa digerakkan. Begitu keras ia mencoba namun tetap saja ia tidak bisa bergerak. Bening menangis sesenggukan. Ia tetap memaksakan kedua tangannya bergerak, namun terasa sia-sia. Ia hanya bisa memandang Tulus sambil berurai air mata. Dosa apa yang sudah ia buat hingga harus menderita seperti ini? Bening frustasi, ia menangis sekeras yang ia bisa. Tuhan, cabut nyawaku! Cabut nyawaku! Bening merasa tidak akan bisa menjalani hidup seperti ini. Menjadi bunga ranjang adalah hal yang paling menyakitkan dan paling memalukan. “Aku … tidak bisa. Aku lumpuh.” Bening menjerit histeris, ia kesal dengan dirinya sendiri. Tulus mendekati Bening, memeluknya erat, air mata ikut luruh bersama air mata Bening. “Kamu pasti bisa sembuh. Kamu pasti bisa bergerak lagi, pasti bisa berlari lagi. Kamu harus semangat, harus yakin!” Tulus berusaha menghibur Bening, namun perempuan itu tetap menangis. Tulus melepas pelukannya, ia bangkit lalu menatap dokter yang masih memeriksa Bening. Ia mengusap wajahny, ia tidak pernah berpikir bahwa Bening harus mengalami kelumpuhan setelah dioperasi. Ia bersitatap dengan dokter, wajahnya terlihat lelah namun hatinya jauh lebih lelah daripada tubuhnya sendiri. “Mengapa anak saya tidak bisa bergerak?” Tulus menatap tajam dokter perempuan yang menangani kasus Bening. Hati Rudi ikut lara, ia mendongak untuk menyerap air mata yang sudah memupuk di pelupuk matanya. “Lakukan apapun untuk cucuku, dok! Jangan pikirkan soal biaya, berapapun pasti kubayar.” Rudi benar-benar serius dengan kata-katanya. Dokter hanya tersenyum samar, ia memaklumi pertanyaan dari keluarga pasien. “Wajar, Pak. Operasi kepala, apalagi bagian otak memang bisa membuat seseorang mengalami kondisi seperti ini,” tandas sang dokter. Dokter memandang perawat, “buatkan jadwal fisioterapi. Setiap hari!” ucap sang dokter kepada perawat. “Apakah anak saya bisa kembali bergerak? Apakah anak saya bisa kembali berjalan?” Tulus berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari Bening. “Tentu saja. –dokter memandang Bening dengan senyum penuh keramahan— Karena itu, kamu harus tetap semangat. Kamu harus melatih seluruh tubuhmu biar bisa bergerak seperti yang seharusnya!” nasehat sang dokter kepada Bening. *** Bening hanya bisa menatap langit-langit sambil memikirkan kelanjutan hidupnya. Apakah ia bisa sembuh ataukah justru menjadi lumpuh dan tidak berguna? Bayangan-bayangan buruk justru berputar di kepalanya, membuat air mata kembali leleh dan isak tangis kembali terdengar. Menyaksikan kondisi Bening, Tulus benar-benar tak tahan lagi. Ia meminta seseorang menjaga Bening sementara ia berlari keluar rumah sakit menuju mobilnya. Ia melaju dengan kecepatan tinggi, ada hal mendesak yang harus ia lakukan. Pria itu menuju kediaman Bowo, ia keluar dari mobil dengan sebuah amarah yang tidak mampu ia bendung. Tanpa banyak bicara, ia masuk dan mencari sosok Sardi. Wajahnya yang sangar, tubuhnya yang kekar, kini benar-benar harus ditakuti bahkan oleh Bowo sekalipun. Tulus melihat Sardi sedang berbicara dengan Bowo. Melihat pria itu, tanpa banyak bicara, TUlus melayangkan sebuah tonjokan keras yang mematahkan tulang hidung Sardi. Sebuah pukulan keras itu, tidak ada artinya dibandingkan dengan semua kesedihan yang dirasakan oleh … Bening. Lalu bagaimana dengan kehidupan perempuan itu selanjutnya? Besok ya….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN