Enam bulan kemudian
Seorang perempuan berwajah cantik, bermuka tirus dan berambut pendek, sesaat mengingatkan akan kecantikan artis Korea, sedang asyik mematut dirinya di depan kaca. Hari ini sangat indah, mentari di pertengahan musim panas benar-benar menyengat. Cahaya yang menyilaukan itu, bukan penghalang baginya untuk menjemput ayahnya di sebuah terminal yang tidak jauh dari rumahnya.
Setelah dirasa sempurna, perempuan itu bergegas keluar kamar. Ia memandang seorang pria baya, berkepala botak sedang tersenyum hangat saat melihatnya. “Kakek ... Apa Kakek juga mau ikut?” tanya perempuan itu.
Pria yang ia panggil kakek hanya menggeleng pelan, “terminal cukup jauh. Apa kamu yakin tidak kelelahan di jalan? Sebaiknya kamu tetap disini membantu Kakek!” Pria itu tidak mau cucunya terlalu lelah.
Perempuan itu mencebik, kakek dan ayahnya selalu saja mudah khawatir kepadanya. Jarak terminal dengan rumahnya hanya sekitar lima puluh meter, seharusnya mereka tidak mengkhawatirkannya kan? “Aku kuat tahu. Terminal tidak jauh kok. Aku bahkan bisa lari bolak balik kalau aku mau.” Si perempuan menyenggol pelan lengan kakeknya. Pria itu tertawa lagi kemudian mengacak-acak rambutnya, membuat perempuan itu merengut sebal sebelum kemudian merapikan rambutnya.
“Kalau kamu memaksa, ya sudah. Tapi kalau kamu terlalu lelah, telepon Kakek! Kakek akan menjemputmu.” Sang kakek khawatir, ia tidak mau sang cucu terlalu memaksakan dirinya.
Perempuan itu nyengir kuda, kakeknya terlalu berlebihan. Ia suka sekali bergerak, menjemput ayahnya bukan hal yang sulit. Lagipula, ia sangat merindukan ayah yang telah pergi selama seminggu ini. Ayahnya memiliki sebuah usaha di Surabaya, meskipun ia belum tahu usaha yang digeluti ayahnya tetapi yang pasti ia yakin usaha ayahnya pasti sukses hingga membuat pria itu harus bolak-balik Solo-Surabaya.
Perempuan itu keluar rumah, sesaat ia memandang langit yang begitu biru dengan gumpalan awan yang menyempurnakan pemandangan langit. Hari yang sempurna untuk keluar rumah. Ia memakai topi merah muda untuk menghalau sengatan sinar matahari ke kulit wajahnya.
Terik matahari membuat orang enggan keluar rumah kecuali jika terpaksa, tetapi tidak dengan Mentari, perempuan itu justru melangkah penuh suka cita. Ia mengusap peluh, panas sekali tetapi semangatnya tidak pernah surut. Ia terlalu rindu akan ayahnya dan ia terlalu tidak sabar jika harus menunggu pria itu dengan duduk saja di rumah.
Melewati sebuah gubuk reot yang letaknya tepat di sebelah rumahnya. Perempuan itu menghentikan langkah. Dari kakek dan ayahnya, ia tahu ada seorang pria yang tinggal disana. Ia belum pernah bertatap muka dengan pemilik gubuk itu, tetapi ia yakin pasti hidup pria itu sangat malang. Ia ingin sekali mengenal pria itu, tetapi pria itu pergi pagi-pagi dan pulang sangat larut sehingga ia belum memiliki kesempatan untuk bertemu.
Perempuan itu kembali melangkah sambil bersenandung kecil. Memiliki suara yang indah membuatnya ingin mengikuti sebuah ajang pencarian bakat yang pernah ia lihat di TV, tetapi saat mengutarakan keinginannya, baik ayah maupun kakeknya melarang keras. Pada awalnya ia kesal, namun ia tidak bisa melakukan apapun selain menerima kenyataan bahwa kakek dan ayahnya tidak mau ia menjadi terlalu sibuk menjadi artis. Jadi artis memang sibuk sekali, setidaknya itu yang pernah ia dengar di salah satu infotainment di salah satu stasiun TV nasional.
Sampai di depan pintu terminal, perempuan itu melihat sosok pria tinggi besar sedang berjalan sambil tersenyum ke arahnya. Pria itu menenteng tas besar dan penuh, seharusnya itu berat, namun pria itu dengan mudah merentangkan kedua tangan, membuat perempuan itu sedikit berlari dan menubrukkan tubuhnya ke pelukan pria itu.
“Ayah…” Perempuan itu tersenyum senang, kerinduannya terobati sudah.
“Tari. Kenapa kamu ke terminal? Ayah tidak mau kamu lelah.” Sang ayah tersenyum kepada buah hatinya.
Perempuan yang bernama Mentari itu mencebik, ayah dan kakeknya selalu terlalu over protektif kepadanya. Selalu dilarang begini atau begitu bahkan baru beberapa hari ini ia dibolehkan keluar rumah, tentu saja Mentari memanfaatkan kesempatan ini untuk melihat dunia lebih dekat.
“Tari, Ayah tidak mau kamu sakit. Ayah tidak mau kamu terlalu lelah lalu kepala cantikmu pusing lagi.” Pria itu mengusap lembut kepala putrinya. Ia terlalu menyayangi perempuan itu hingga cenderung terlalu berlebihan saat menjaga anaknya.
“Ayah … aku sudah sehat. Nih lihat?” Mentari menunjukkan bisep kurusnya, seolah bisepnya setebal bisep sang ayah.
Si Ayah tertawa terbahak-bahak, Mentari adalah perempuan yang sangat ceria, membuat hidupnya begitu berwarna. “Ayah merindukanmu, Nak. Oh ya, Ayah membawa oleh-oleh untukmu.” Sang Ayah menggandeng mesra sang putri. Ingin rasanya menggendong putrinya namun tentu saja hal itu tidak ia lakukan. Ia lebih takut jika anaknya ngambek ketimbang melihat anaknya mengalami kelelahan. Anak perempuannya memiliki hati sekeras batu, namun itulah yang sangat ia banggakan.
“Oh ya? Apa?” Mentari menghentikan langkah, ia ingin segera mengetahui oleh-oleh dari ayahnya.
Sang ayah tersenyum, ia melepaskan tangan anaknya untuk merogoh saku celana. Pria itu mengeluarkan sebuah kalung berliontin matahari. Melihat oleh-oleh yang ia dapatkan, Mentari tersenyum dan merenggut kalung dari tangan ayahnya. “Bagus sekali, Ayah. Terima kasih.” Ia tertawa riang sambil memerhatikan kalungnya.
“Sini Ayah pasangkan!” Pria itu meletakkan tasnya. Ia mengambil kalung lalu memasangkannya ke leher sang putri.
Mentari menyentuh liontin, ia tidak bisa berhenti tersenyum bahkan saat ayahnya kembali melangkah melewatinya. Ia berjalan setengah melompat mengejar ayahnya dan menghentikan langkah pria itu tepat di depan gubuk reot yang ada di sebelah rumahnya.
“Ayah memang yang terbaik.” Mentari menunjukkan dua jempolnya. Ia tersenyum lebar, memamerkan dua gigi kelincinya.
Sang ayah ikut gembira, Mentari selalu menerima hadiah dengan cara luar biasa. “Ayo pulang! Kakekmu pasti cemas.” Ucapan sang ayah menghapus senyum di wajah perempuan itu.
***
Hardy keluar dari gubuk yang kini menjadi tempat tinggalnya. Ia baru saja hendak melangkah saat melihat sebuah adegan yang sangat indah sedang ada di depan mata. Seorang gadis yang sedang tersenyum senang di depan seorang pria yang ia duga adalah ayah gadis itu.
“Apa kamu suka?” tanya pria itu kepada gadis yang ada di depannya.
“Ayah … ini indah sekali. Ayah, aku sayang Ayah.” Gadis itu menjinjit untuk mencium pipi ayahnya, sementara sang ayah tertawa senang mendapatkan perlakuan dari anaknya.
Tanpa sadar Hardy ikut tersenyum, hubungan ayah anak yang sangat romantic. Seandainya Bening seberuntung gadis itu? Hardy mendongak, membuang kesedihan dengan memandang terik matahari. Sudah saatnya ia kembali berkeliling kota untuk mencari keberadaan Bening. Ini cara yang sangat tidak praktis, tetapi cara inilah yang diambil oleh Hardy.
***
Melihat sosok pria yang baru saja keluar dari gubuk reot itu, membuat Mentari mengernyit. Jadi itukah pria yang menjadi tetangganya selama ini? Pria itu tinggi dan kurus, wajahnya dipenuhi bakal janggut sehingga tampak seperti sosok yang sangat misterius. Jangan-jangan dia teroris lagi? Mentari menggeleng-geleng, mengenyahkan pikiran negative dari kepalanya.
“Kamu kenapa, Mentari?” Sang Ayah ikut memerhatikan gubuk yang kini kembali tertutup.
“Ayah, orang itu….” Mentari mengkode ayahnya, pertanda bahwa ia mencurigai pria itu sebagai orang yang jahat, mungkin saja.
“Pak Hardy.” Tanpa dinyana, ayahnya justru menyapa pria itu. Seketika muka Mentari memerah, ia bersembunyi di belakang tubuh sang ayah sambil mengintip ke sosok pria yang kini tersenyum ke arahnya.
“Baru pulang, Pak Yanto?” Hardy mendekati Yanto, nama Ayah Mentari. Ia mengulurkan tangan untuk menjabat tangan pria itu.
“Iya, nih. Oh ya, Pak Hardy. Kenalkan, putriku. Mentari.” Yanto menoleh, memandang Mentari yang mengernyit kepadanya.
Mentari terpaksa keluar dari persembunyiannya, ia memandang Hardy beberapa lama sebelum menjabat tangan pria itu. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam hatinya, ia terkejut dengan perasaan aneh itu, namun cepat-cepat ditepisnya.
“Aku Hardy, senang berjumpa denganmu.” Hardy tersenyum tipis kepada Mentari. Melihat sosok Mentari membuat Hardy teringat akan Bening. Keduanya memiliki cara berekspresi yang hampir sama. Bening pun suka mengernyit pada hal-hal baru atau pun saat gadis itu meragu.
“Aku … Mentari.” Mentari segera melepaskan jabatan tangan mereka. Ia memandang sang ayah, “ayo, Yah!” Mentari tidak ingin berlama-lama. Ia mengajak ayahnya meninggalkan Hardy secepat mungkin.
“Kapan-kapan, mainlah ke café kami! Kamu jangan sungkan-sungkan begitu. Kita tetangga kan?” Yanto menepuk pundak Hardy. Ia bukan hanya berbasa-basi saat meminta Hardy berkunjung ke café yang juga menyatu dengan rumahnya.
Hardy. Tetangga yang sangat jarang terlihat di rumah. Ia pergi pagi-pagi dan pulang setelah larut malam. Meski Yanto tidak tahu pekerjaan pria itu, namun ia yakin Hardy adalah seorang pria yang baik. Yanto ingin hubungannya dengan para tetangga terjalin baik.
“Kapan-kapan, kalau saya sudah tidak sibuk. Maaf, saya ada pekerjaan yang harus saya kerjakan.” Hardy kembali memandang Mentari, menghadiahi perempuan itu dengan sebuah senyum ramah sebelum ia melangkah pergi.
Mentari menengok kepergian Hardy, masih dengan dua alis bertaut. “Ayah, orang itu … aneh,” ucapnya.
“Hus, kamu ini. Hardy orang baik. Ayah sudah bertemu dan berbincang beberapa kali. Hanya saja, ia orang sibuk. Ayo, katanya mau pulang?” Yanto tidak ingin Mentari berpikiran buruk kepada siapapun.
Meski kakinya melangkah, Mentari masih ingin memandang Hardy. Tak disangka, Hardy pun sedang menoleh kepadanya. Sesaat tatapan keduanya bersibobrok sebelum Mentari kembali memandang ayahnya. Tadi ia sempat berpikiran buruk terhadap Hardy, namun kini tiba-tiba ia merasa sangat kasihan dengan pria itu.
“Kasihan sekali ya dia,” ucapnya sambil memandang gubuk reot, tempat tinggal Hardy. Pasti pria itu harus berjuang keras, untuk sekedar untuk mencari uang.
Sang Ayah hanya tersenyum kepada putrinya, ia memilih tidak menjawabnya dan mengajak anaknya kembali melangkah. “Makanya, kita harus bersyukur. Setidaknya, Ayah punya pekerjaan tetap dan kakekmu mempunyai café,” ucap Yanto.
***
Hardy masih mengamati Mentari dan ayahnya hingga dua orang itu masuk ke halaman rumah mereka. Mentari, ia cukup terkejut karena ternyata ada seorang gadis yang tinggal disana. Padahal selama ini, rumah itu tidak pernah terlihat ada anak perempuan.
Hardy sangat penasaran dengan gadis itu, ada perasaan yang menggebu-gebu, ingin sekali kembali berjumpa dan berbincang. Tetapi Hardy tidak bisa membiarkan keinginan itu, fokusnya hanya satu … menemukan Bening.