Ada Apa Dengan Hardy?

1603 Kata
Mentari mengusap peluh yang menetes dari dahinya, sekujur tubuhnya terasa gerah setelah membersihkan rumah dan kini membersihkan café. Ia kembali mengelap meja dengan penuh semangat. Hari masih pagi tetapi café sudah mulai sibuk. Rudi menyiapkan kopi di mesin kopi. Yanto sibuk memasukkan bahan masakan ke dalam kulkas dan Mentari sibuk menyiapkan meja. Rudi terus memantau Mentari, ia tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dari perempuan itu. Mentari tidak boleh terlalu lelah. Mentari tidak boleh terlalu sibuk dan Mentari tidak boleh terlalu memaksakan diri. “Tari, Kakek bisa melakukannya. Kamu istirahat saja!” Pada akhirnya sang kakek tidak bisa melihat lebih lama. Mentari harus dihentikan sekarang juga atau perempuan itu akan disiksa oleh rasa sakit luar biasa. Mentari menoleh, menghadiahi kakeknya dengan seutas senyum centil khasnya. “Aku tidak apa-apa, Kek. Aku kuat!” Ia berdiri tegap, menekuk kedua tangan bak seorang binaragawan. “Kakekmu benar, Tari. Ayah bisa melakukannya.” Yanto pun setuju dengan pendapat Rudi. Ia khawatir Mentari kembali dilanda sakit hingga membuatnya panik dan berlari sambil menggendong putrinya ke rumah sakit terdekat. Mentari mencebik,ia lelah dianggap terlalu lemah. Perempuan itu melempar lap di atas meja lalu keluar café. Ia memandang teriknya matahari yang segera menghangatkan tubuhnya … memanaskan sekujur tubuh kurusnya. Perempuan itu menoleh ke arah rumah Hardy. Ia memandang pria itu yang sedang duduk di teras rumahnya sambil memainkan sebuah laptop. Hardy sangat fokus dengan pekerjaannya hingga ia tidak menyadari apapun yang ada di sekitarnya. Orang miskin tapi punya laptop, sangat mencurigakan. Mentari mengerjap beberapa kali lalu mengerutkan dahi. Ia masih berpikir bahwa Hardy adalah pria yang sangat mencurigakan. Rumahnya terlalu reot untuk memiliki sebuah laptop. Apakah ia … teroris? Mentari berjalan cepat masuk ke halaman yang disulap menjadi café. Tiba-tiba ia menjadi khawatir jika pikirannya benar. Ia tidak ingin berkenalan dengan seorang teroris. Ah, haruskah ia meminta ayahnya untuk pindah rumah? Duduk di mini bar, Mentari membayangkan semua adegan film teroris yang pernah ia tonton bersama ayah serta kakeknya. Ia membayangkan Hardy sedang mengebom suatu tempat dengan hanya menggunakan tombol enter pada laptop sebagai detektornya. Astaga, apakah aku harus mencari beritanya di TV? Atau sebaiknya aku mulai mencarinya di internet? Mentari kembali mengerjap lalu menggeleng cepat, membuang semua pikiran negatif tentang Hardy di pikirannya. “Oh, Mas Hardy. Monggo!” Rudi melihat Hardy memasuki cafenya. Pria itu segera memberi senyum keramahan dan meminta pria itu duduk di mini barnya. Mentari terkejut sekali, sepasang mata bulatnya semakin membulat. Ia menunduk saat merasakan kehadiran Hardy di dekatnya. Pria itu berumur panjang, baru dipikirkan sudah nongol di dekatnya. Rudi tersenyum saat melihat kekonyolan Mentari. Perempuan itu duduk di sebelah Hardy sambil sesekali mencuri pandang ke arah pria itu namun saat Hardy menoleh ke Mentari, perempuan itu segera membuang muka. Astaga, Rudi tidak mampu menahan senyum saat melihat kekonyolan cucunya. “Tari!” Rudi mengkode sang cucu untuk melayani Hardy. “Apa?” Mentari kembali mengerjap dan kedua mata bulatnya masih saja membulat. Ia tidak mengerti kode yang diberikan oleh kakeknya. “Layani dia!” Rudi berbisik, dengan artikulasi jelas sehingga Mentari mengerti setiap kata yang keluar dari mulutnya. Mentari melongo, ia kembali melirik Hardy. Ia keberatan jika harus melayani pria misterius yang memiliki rahang penuh bulu dan pakaian lusuh dengan laptop bukanlah padanan yang pas. Ehm … bukankah itu ciri-ciri teroris? Mentari masih saja berpikir demikian. “Mentari….” Rudi sudah tidak bisa menahan lagi. Perempuan itu tidak bergegas, tapi justru sedang asyik memandangi Hardy. Entah sejak kapan, Mentari tidak sadar sedang bersitatap dengan Hardy. Oh sial! Perempuan itu mengerjap beberapa kali sebelum menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memulihkan semua kesadarannya. Sikap Mentari membuat Hardy tersenyum, sudah sangat lama ia tidak melihat gadis polos dengan tingkah sangat lucu sepertinya. “Nasi goreng dan telur dadar,” pesan Hardy. Mata Mentari kembali membulat sebelum ia mengerjap. Astaga, rasanya ingin memukul kepalanya sendiri karena ia masih saja terpana dengan tampilan Hardy. Mentari segera melangkah masuk ke dapur dengan langkah kecil namun ada hentakan keras di setiap langkahnya. Hardy mengamati tingkah Mentari hingga tubuh perempuan itu menghilang ke balik dapur. Tingkah kecil Mentari membuat sepasang matanya dipenuhi air mata. Hal-hal kecil yang ditunjukkan Mentari, sama persis dengan tingkah Bening. Rasa rindu itu semakin menguat dalam hatinya namun sekaligus diredakan hanya karena melihat sosok Mentari. “Anak itu. Maafkan cucuku! Dia masih remaja … ya, masih labil.” Rudi membuatkan secangkir kopi espresso untuk Hardy lalu menyerahkan cangkir itu kepada Hardy. “Tidak apa-apa. Dia lucu.” Hardy senang bisa melihat sosok selucu Mentari. Setidaknya ada penghiburan di tengah kesedihan yang melanda hidupnya selama lima belas tahun ini. *** Mentari memotong sawi sambil memikirkan Hardy. Pria itu aneh tapi entah mengapa ia suka memikirkannya. Semalam suntuk ia susah tidur karena terbayang-bayang pria itu sejak pertama kali mereka berjumpa. Hardy, nama itu entah mengapa segera merasuk ke seluruh kepala dan hatinya. Apakah ini namanya cinta? Tapi katanya kalau kita mencintai seseorang, akan ada debaran jantung aneh, tapi Mentari tidak merasakannya. Astaga, Mentari sangat penasaran dan terlalu bersemangat hingga akhirnya tanpa sengaja ia mengiris ujung jarinya sendiri. “Aargh…” Ia mengerang cukup keras hingga ayahnya yang sibuk menata bahan makanan di kulkas segera menoleh ke arahnya. Mentari menunjukkan jemarinya yang terluka sambil meringis, namun tindakan itu membuat ayahnya semakin cemas dan berlari ke arahnya. Pria itu menarik jarinya yang terluka dan menariknya ke kran air sebelum menjejalkan jari yang terluka itu ke mulut Mentari sendiri. “Makanya jangan melamun!” Yanto memandang tajam anaknya, ia marah karena Mentari melukai dirinya sendiri. “Maaf, Ayah.” Mentari menunduk, ia merasa bersalah karena sekali lagi sudah membuat ayahnya khawatir. “Kamu membuat apa?” Yanto melihat irisan sawi, irisan kubis, potongan sosis, potongan daging ayam, potongan bakso dalam jumlah terlalu banyak. “Mau membuat nasi goreng. Ada pesanan dua.” Mentari membuat huruf V dengan dua jarinya. Awalnya ia bermaksud membuatkan nasi goreng untuk Hardy, namun tiba-tiba ia ingin membuat untuk dirinya sendiri. “Ya, sudah. Kamu keluar dari sini! Biar Ayah yang melanjutkan.” Yanto segera mengambil alih tugas, ia tidak ingin bangkrut jika Mentari yang memasak pesanan. “Ayah … sebenarnya yang satu buatku. Banyakin sosis, bakso dan daging ayamnya ya!” Yanto memandang putrinya, melihat senyum centil sang putri, Yanto hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng. “Sudah sana keluar! Ayah tidak mau putri cantik Ayah bau bumbu disini,” godanya. Mentari tertawa, ayahnya memang ayah terbaik. Ia mencium pipi Yanto sebelum keluar dapur menuju mini bar dan kembali duduk di sebelah Hardy. Rudi mengernyit, “mana nasi gorengnya?” Ia memandang kedua tangan mentari, saat matanya menangkap luka di ujung jari tengah sebelah kiri, ia hanya bisa geleng-geleng. “Kamu ini. Makanya hati-hati!” ucapnya. “Ih, Kakek. Apaan sih. Kakek, aku buatkan kopi, mau?” Mentari menoleh ke Hardy namun melirik kakeknya, ia mengerjap kecil, menggoda sang kakek. “Tidak!” Rudi tidak ingin mini barnya berantakan karena ulah Mentari. Terakhir kali ia harus membersihkan mini barnya setelah kecerobohan Mentari membuat beberapa toples berisi kopinya jatuh. Mentari mengerucutkan bibir, ia memandang kakeknya lalu menghela napas berat. Tidak tahu apa yang harus ia perbuat disitu, Mentari mengedarkan pandangan ke seluruh café. Rudi kembali geleng-geleng, Mentari seperti seekor burung yang baru dilepas dari sangkarnya. Suka bertengger disana atau disini. “Daripada bengong disini. Kamu masuk saja! Makan sambil nonton TV lalu tidur siang,” sarannya. Mentari kembali melotot, kakeknya benar-benar suka sekali mengurungnya di rumah, bahkan main di café yang menyatu dengan rumahnya pun dilarang. “Ish, Kakek nih. Bosen kali di rumah terus,” protesnya. Rudi tertawa terbahak-bahak, sungguh hari yang sangat membahagiakan baginya. Pagi-pagi sudah disuguhi adegan menggemaskan dari sang cucu. Tetapi tawanya seketika berhenti saat Mentari bangkit, ia memandang kakeknya dengan muka ditekuk. Ia menghentakkan satu kakinya sebelum memilih meninggalkan sang kakek yang sudah mempermalukannya. Mentari duduk di ruang tamu sambil membolak-balik majalah wanita tanpa ada niat untuk membacanya. Ia menoleh, memandang kakek dan Hardy yang sedang tertawa bersama, entah apa yang sedang mereka berdua bahas hinga mereka tertawa seperti itu. Apakah mereka sedang menertawakannya? Mentari memutar bola mata, mengira-ngira apakah keduanya memang sedang membicarakannya? Mentari tidak bisa duduk diam disini bersama rasa penasarannya, ia pun akhirnya kembali ke mini bar dan kembali duduk di sebelah Hardy. Rudi menghela napas, memandang cucunya dengan mata menyipit. Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan perempuan ini? Rudi bertanya-tanya, apakah mungkin Mentari ingin mengenal Hardy lebih jauh? Bagaimanapun tampang lecek Hardy, pria itu tetap memiliki pesona yang mampu membuat mata wanita memandangnya untuk kali kedua. Yanto membawa nampan berisi dua piring nasi goreng. Ia menyerahkan sepiring nasi goreng untuk Hardy dan sepiring lagi untuk Mentari. Pria itu memilih duduk di sebelah Mentari sambil mengamati perempuan itu. Meski ia sibuk memasak, namun ia bisa mendengar bagaimana Mentari merajuk. “Jangan lupa minum obatnya, Tari!” Yanto mengingatkan putrinya, namun Mentari justru kembali sebal. Apaan sih, kenapa harus membahas kelemahanku di depan Kak Hardy. Ish, dasar. Ayah dan Kakek sama saja, geram Mentari dalam hati. “Kenapa, Tari?” Yanto tahu isi kepala anaknya. Ia memandang Mentari dengan senyum indahnya. “Tidak apa-apa kok. Ehm, Ayah. Kapan kita liburan?” Mentari mengalihkan pembicaraan. “Nanti, jika kamu sudah sembuh. Ayah janji akan mengajakmu jalan-jalan.” Yanto masih belum berani membawa Mentari ke tempat jauh apalagi dengan hiruk pikuk yang bisa membuat perempuan itu pusing dan mual lalu terjadi hal-hal yang tidak ia inginkan. “Aku kuat, Ayah. Berhenti memperlakukanku seperti orang lemah! Ayah dan Kakek sama saja.” Kalian tidak tahu perasaanku. Mentari tidak lagi punya nafsu makan, ia memilih turun dari kursi lalu menghentakkan satu kaki sebelum ia kembali masuk ke rumah. Kali ini ia memastikan tidak akan kembali. #Gemas dengan tingkah Mentari ya??? Besok apalagi ya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN