Keluar dari ruang dokter bedah saraf, Mentari berjalan sambil mendesah. Jadwal operasi ditunda sampai seluruh ingatannya pulih sepenuhnya adalah sebuah mimpi buruk. Dengan sebagian tulang tengkorak masih bertengger di atas tulang tengkorak lainnya, membiarkan sebagian otaknya tidak terlindungi oleh benda keras itu, artinya Mentari masih harus diawasi selama dua puluh empat jam oleh ayah serta kakeknya.
“Kenapa ingatanku datang lebih cepat,” keluhnya. Seandainya ingatan itu muncul setelah operasi, sekalipun ia merasa takut menghadapi operasi itu, tapi ia ingin semua selesai lebih cepat. Mentari tidak terlalu peduli dengan ingatannya, toh hidupnya sudah sangat menyenangkan dengan keberadaan ayah dan kakek yang sebenarnya sangat memperhatikannya, tetapi terlihat lemah dan selalu membuat kedua orang itu khawatir, bukan bagian dari keinginannya.
Ini benar-benar luar biasa, Mentari bisa sembuh lebih cepat dari yang saya pikirkan. Ucapan dokter masih terngiang-ngiang di kepalanya. Tentu saja kesembuhannya bisa begitu cepat, siapa juga yang mau terus-terusan sakit. Mentari melakukan semua yang terbaik, bukan hanya dari pengobatan tapi juga sugesti yang ia buat selama fisioterapi yang menyakitkan.
“Ayah, ayo makan bakso dulu.” Setidaknya, bakso di kantin rumah sakit sangat enak. Mentari berpikir lebih baik ia ke menikmati semangkok bakso sebelum ia pulang.
Yanto tersenyum, ia pun berpikir seharusnya ingatan Mentari tidak kembali secepat ini … ah, seharusnya ingatan Mentari tidak pernah kembali agar semua menjadi lebih mudah. Tetapi seperti yang dokter katakan tadi, otak manusia itu unik, disambung dengan miliaran sel, kemampuan berpikir manusia masih belum bisa menebak apa yang bisa dilakukan otak itu. Jadi, yang bisa dilakukan hanyalah berdoa sambil menunggu ingatan Mentari pulih sepenuhnya dan berdasarkan pengakuan Mentari, dokter memperkirakan itu tidak akan lama lagi.
Yanto mengekor Mentari di belakang perempuan itu, menyusuri koridor rumah sakit menuju ke kantin yang terletak di sebelah ruang ICU. Mentari berjalan perlahan, ia merasa pernah berjalan di koridor ini dan lagi-lagi bersama seorang anak laki-laki … kakak. Mentari mengingat anak lelaki itu sebagai kakaknya, tetapi dimanakah dia?
Mentari menghentikan langkah, menoleh memandang Yanto sambil menelengkan kepala. “Ayah, aku punya kakak, kan?” tanyanya.
Yanto terkejut, ia tidak tahu apakah dulu Mentari punya kakak. Dulu sikap Mentari sangat dingin dan tertutup. Perempuan itu tidak pernah membicarakan kehidupan masa lalunya, apalagi ayah kandung perempuan itu.
“Ayah….” Mentari membangunkan lamunan Yanto. Pria itu membuang muka sesaat sebelum ia memandang Mentari. Pria itu berpikir apakah sudah saatnya Mentari tahu yang sebenarnya?
Mentari menoleh, memandang ruangan yang dipenuhi kaca yang tertutup kelambu. Ia mengingat pernah memandang ruangan itu sambil berderai air mata, tapi kenapa? Mentari pun belum tahu jawabannya.
“Ayo beli bakso! Nanti keburu habis.” Yanto merangkul pundak Mentari, mengajaknya segera melangkah menuju kantin.
Duduk di kantin, Mentari memandang semangkok bakso yang membuat produksi air liurnya bertambah. Tanpa membuang waktu, Mentari segera menikmatinya tak peduli jika makanan itu masih sangat panas. Tetapi bakso memang lebih nikmat jika disantap dalam keadaan masih panas, bukan?
“Tari, pelan-pelan!” Yanto tersenyum, tidak ada hari baik selain melihat Mentari begitu bersemangat. Tetapi ia pun masih diliputi kegelisahan, mampukah Mentari menghadapi mimpi-mimpi buruk yang sering hadir? Rasanya Yanto ingin hadir dalam mimpi Mentari dan melindungi anaknya dari siksaan kejam yang didapatkan justru dari ayah kandung Mentari sendiri.
Asap yang keluar dari semangkok bakso yang ada di hadapan Yanto mulai berkurang, sementara bakso milik Mentari sudah hampir tandas. Yanto terlalu asyik dengan pikirannya, ia menjadi enggan memakan bakso yang selalu ia beli saat berkunjung ke rumah sakit ini.
Apakah sudah saatnya Mentari mengetahui kenyataan tentang dirinya? Yanto masih menimbang-nimbang, ia tidak ingin Mentari tahu dari ingatannya sendiri. Ia tidak ingin kepercayaan yang sudah terbangun ini menjadi rusak hanya karena ingatan bodoh yang kini kembali hadir.
“Ayah, apa nanti kita kembali ke Solo?” Mentari masih ingin berkeliling Surabaya, ia ingin membeli beberapa wig dan topi. Apalagi setelah operasi, ia pasti gundul lagi. Ia tidak suka dengan rambut pendeknya. Ia ingin memiliki rambut panjang seperti wanita dalam sebuah iklan sampo yang sering ia lihat di TV.
“Kita disini beberapa hari. Ayah ada pekerjaan disini.” Jawaban Yanto adalah angin segar bagi Mentari.
“Yes.” Mentari tidak mampu menutupi rasa senangnya. Entah berapa hari mereka disini, tetapi satu hal yang pasti adalah ia bisa ke mall untuk belanja.
Seolah tahu apa yang dipikirkan anaknya, Yanto pun ikut tertawa sambil menunjuk muka anaknya. Dasar anak bandel, pasti sudah menyiapkan rencana yang akan membuatnya menghela napas nanti. Tapi apapun itu, Yanto tidak sabar untuk menunggunya.
***
City of tomorrow atau lebih dikenal dengan sebutan CITO, sebuah mall yang tidak terlalu besar di Surabaya namun menawarkan semua yang diperlukan Mentari. Tempat yang dipilih Yanto karena mall ini tidak terlalu ramai dan tidak terlalu luas.
Apapun jenis mallnya, bagi Mentari tetap saja menyenangkan. Enam bulan ia hanya mengenal rumah sakit dan rumah, membuat perempuan itu ingin sekali melihat dunia bukan hanya lewat layar kaca. Begitu semangatnya, Mentari berjalan sedikit lebih cepat, memandang pakaian yang dipakai manekin yang menghiasi toko-toko yang ada disini.
“Ayah, itu wig dan topi.” Mentari menunjuk sebuah toko yang memajang aneka wig dan topi-topi yang indah.
Yanto mengikuti Mentari, masuk ke toko tersebut. Ia hanya memandang Mentari yang asyik mencoba jenis-jenis wig serta topi yang ditawarkan disana. Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada melihat senyum dan tawa dari buah hati tercinta, itupun yang kini sedang dirasakan Yanto.
Mentari senang setelah Yanto membayar beberapa wig dan topi yang sudah ia pilih. Masih dengan semangat menggebu, Mentari menarik tangan ayahnya keluar dari toko untuk kembali berjalan mengelilingi Mall.
Mentari melihat beberapa manekin dengan pakaian yang menurutnya indah, berjajar di depan sebuah toko. Tanpa membuang waktu lagi, ia menarik tangan Yanto ke toko tersebut. Tiba-tiba ia melihat sosok Hardy yang sedang berjalan sendirian, senyum kembali merekah, ia melambaikan tangan sambil memanggil nama lelaki tersebut. “Kak Hardy,” sapanya.
Hardy terkejut melihat Mentari dan ayahnya disini. Ia tersenyum sambil berdiri menunggu Mentari dan Yanto yang sedang berjalan menghampirinya. “Tari, Pak Yanto,” sapanya.
Mentari senang bisa bertemu pria yang ia pikir tidak akan ia temui saat ini. “Kakak sendirian? Mau belanja juga?” tanyanya masih dengan penuh semangat. Mendengarnya, Hardy tertawa terbahak-bahak, Mentari benar-benar perempuan yang lucu dan menggemaskan bukan?
“Tari, jaga sikapmu!” Yanto jadi malu dengan sikap kekanak-kanakan Mentari. Namun gadis itu justru mencebik sambil melirik ayahnya dan kembali tersenyum saat melihat Hardy.
“Belanja banyak ya?” Hardy melihat dua tas belanja yang sedang dibawa Yanto.
“Ayah, ayo ke toko itu! Aku ingin beli baju merah muda yang di manekin itu … Kakak, daripada sendirian, mending sama kami saja.” Mentari menarik tangan Yanto dan Hardy, kedua pria itu saling berpandangan dan hanya bisa pasrah mengikuti kemanapun Mentari membawa mereka berdua.
Sebuah blus berwarna merah muda dengan kalung mutiara melingkari kerah dengan bawahan rok berwarna hitam, membuat Mentari berdecak kagum. Blus itu terlihat sederhana namun dengan bahan sutra, membuatnya terlihat begitu elegan dan mahal. Mata Yanto sampai tidak berkedip saat melihat harga yang berada pada label pakaian itu.
“Astaga, harganya.” Yanto menelan ludah dengan susah payah, harusnya tadi ia membiarkan Rudi ikut bersamanya. Pria itu pasti bisa membeli pakaian ini dengan mudah, tetapi Yanto sudah jelas harus berpikir ulang untuk membelinya.
Melihat ekspresi Yanto, Hardy menjadi sangat kasihan. “Ambil saja, Tari! Aku yang akan membayarnya.” Hardy tersenyum kepada Yanto, namun jelas pria itu keberatan dengan sikap Hardy.
“Jangan! Kapan-kapan kita bisa membelinya, Tari. Lebih baik kita cari makan!” Yanto tentu saja tidak enak hati jika pria seperti Hardy mau membayar pakaian yang bahkan untuknya saja sudah cukup mahal.
“Sudahlah, Pak. Kapan lagi kalian bisa disini? Toh, baju itu harganya tidak seberapa.” Hardy memang benar, baginya harga baju itu tak beda jauh seperti saat ia membeli permen lolli.
Mentari menyambut baik tawaran Hardy, perempuan itu segera meminta pramuniaga membungkus pakaian pilihannya. Tidak peduli dengan image, toh Hardy terlalu banyak tahu masalah keluarganya. Biarkan saja lelaki itu menjadi kakaknya, lagipula Hardy tidak akan mungkin mau menjadi pasangan hidupnya. Astaga, apa sih yang dipikirkan Mentari?
“Kak Hardy … Kakak.” Mentari merasa sangat familiar dengan nama itu. Seolah ia pernah hidup bersama pria bernama Hardy dalam waktu yang lama. Tanpa sadar, Mentari tersenyum. Mungkinkah anak lelaki itu bernama Hardy? Anak lelaki yang memintanya menunggu di terminal. Ah, Jika ia sudah pulang. Ada baiknya ia mulai menunggu anak lelaki itu datang. Entah mengapa, Mentari berpikir bisa bertemu anak itu disana.
Mentari menggelayut manja di lengan Yanto, seperti itulah seharusnya pasangan ayah dan anak bukan? Hardy hanya tersenyum sambil terus berjalan di belakang Yanto dan Mentari.
“Ayah, semalam aku memimpikannya lagi,” ucap Mentari, ia benci dengan mimpi yang selalu hadir setiap malam. Mimpi tentang seorang pria yang selalu menyiksanya. Wajahnya tidak terlalu jelas namun ia yakin bisa menggambarkannya dengan jelas dan bila suatu saat pria itu benar-benar ada di hadapannya, Mentari yakin bisa mengenalinya. “Laki-laki itu menyeramkan dan kenapa aku terus memanggilnya Ayah?” Mentari menyebik, sebal dengan mimpi buruknya sendiri.
Yanto tersenyum, hanya itu yang bisa ia lakukan. “Tari, apapun yang terjadi. Kamu adalah anak Ayah. Ayah dan Kakek selalu menyayangimu. Kami selalu akan menjagamu. Tidak ada setan manapun yang akan berani mengganggumu,” ucapan Yanto benar adanya, sekalipun terdengar seperti sebuah kelakar.
Mentari menghentikan langkah, ia menelengkan kepala. Sesaat ia mengernyit sebelum kembali sedikit mendongak untuk memandang wajah Ayahnya. “Ayah … ingat dengan anak lelaki yang selalu kuceritakan? … dia kakakku. Ayah, dimana dia? Kurasa semua ingatanku akan kembali jika aku bertemu dengannya.”
Yanto ingin merahasiakan masalah ini, namun sepertinya waktu untuk mengungkap jati dirinya benar-benar tidak bisa ditunda lagi. Ingatan sialan itu ternyata terus keluar dan seperti kata dokter, tidak akan lama lagi, Mentari akan mengingat siapa dirinya yang sebenarnya.
#Penasaran? Tunggu besok ya….